Angga terpaksa turun dari tembok. Dia tentu tak mau menceburkan diri ke dalam air. Apalagi airnya tampak kotor sekali. Selain itu, dirinya juga tak mau tas ranselnya basah.
Buru-buru Angga mengenakan maskernya. Sementara sejak tadi tudung hoodienya sudah dipakai. Dia menoleh ke arah cewek yang menegurnya tadi.
Terlihat cewek dengan mengenakan tank top dan celana pendek sepangkal paha sedang merokok.
Angga hanya mengerutkan dahinya. Dia lantas mencoba mencari jalan lain untuk melarikan diri.
"Kau bisa lewat tembok samping kanan," imbuh gadis perokok itu.
"Terima kasih," sahut Angga dengan memakai suara ceweknya.
"Aneh sekali. Aku kira kau tadi cowok," komentar sang gadis perokok.
Angga tak peduli. Dia bergegas pergi melewati tembok samping. Kali ini usahanya berjalan lancar.
Kini Angga sudah menjauh dari wilayah SMA Kartini. Dia pergi ke cafe fantasy dengan menaiki ojek online.
Setibanya di tempat tujuan, Angga langsung menemui Elita. Gadis itu sudah tampak duduk menunggu.
"Apa kau menunggu lama?" tanya Angga sembari duduk.
"Lumayan. Mana barangnya?" tanggap Elita.
Angga segera membuka tas ranselnya. Dia menyerahkan semua barang pinjamannya pada Elita.
"Sebenarnya kau mau apa dengan barang-barang ini sih? Kau juga tiba-tiba berhenti sekolah," tukas Elita.
"Aku punya sesuatu yang harus diselesaikan," jawab Angga.
"Lebih penting dari sekolah?"
"Iya. Lebih penting dari segalanya."
Elita menatap lekat Angga. Cowok itu tampak memesan minuman pada pelayan. Jelas dari tatapan itu, Elita menyukai Angga. Sebenarnya alasan dia ingin menemui cowok tersebut sekarang karena rindu.
Setelah menghabiskan minuman, Angga dan Elita beranjak dari cafe. Sekarang keduanya melangkah bersama.
"Ga..." panggil Elita.
"Hmm?" tanggap Angga sambil menaikkan kedua alisnya.
"Apa kau tahu, bagiku bukanlah hal mudah meminjamkan barang-barang mahal ini pada orang lain," cetus Elita.
"Lalu? Apa kau mau aku membayarnya? Lah! Bukankah katamu sebelumnya aku tidak perlu bayar?" balas Angga. Namun Elita hanya diam sambil menunjukkan raut wajah cemberut.
"Ya sudah kalau begitu." Angga berhenti dan segera merogoh saku celananya. Dia berusaha mengambil dompet.
Tanpa diduga, Elita memegangi wajah Angga dengan dua tangan. Gadis itu lantas mendaratkan sebuah ciuman ke bibirnya.
Mata Angga membulat sempurna. Apalagi itu adalah ciuman pertamanya. Bulu kuduknya langsung dibuat meremang. Angga juga merasakan getaran aneh di perutnya.
"Dasar nggak peka!" timpal Elita, setelah selesai menempelkan mulutnya ke bibir Angga.
"Apa itu tadi?" tanya Angga. Menuntut penjelasan.
"Apa kau masih nggak peka juga?" balas Elita.
"Apa itu artinya kau menyukaiku?" Angga memastikan.
"Iya." Elita langsung mengiyakan. Dia sudah lelah memendam perasaannya pada Angga.
Angga bingung harus berkata apa. Tetapi ciuman tadi membuatnya ketagihan. Angga lantas memegangi tengkuk Elita, dan kembali menyatukan bibirnya pada bibir gadis tersebut.
Bibir Angga dan Elita perlahan saling berpagutan. Sesekali mereka akan memiringkan kepala karena sudah mulai terbawa suasana.
Lama-kelamaan ciuman Angga semakin menjadi-jadi. Bahkan sampai mengharuskan Elita melangkah mundur.
Karena sadar Angga sudah berlebihan, Elita segera menghentikannya. Dia dorong dada cowok itu dengan pelan.
"Aku kira sudah cukup. Lagi pula ki-kita ada di pinggir jalan," ucap Elita dengan wajah memerah. Dia tak kuasa menatap Angga karena merasa malu.
"Sorry. Lagian kau sendiri yang mancing," tukas Angga.
"Aku cium kamu itu karena malas ngungkapin perasaanku pakai kata-kata," kata Elita.
"Jadi sekarang kita pacaran?" Angga tersenyum senang. Dia sebenarnya cukup menyukai Elita juga. Namun perasaannya tidak terlalu dalam seperti yang dirasakan Elita.
Elita menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Angga.
"Tunggu dulu. Kau yakin mau pacaran sama orang miskin kayak aku?" tanya Angga. Mengingat Elita berasal dari keluarga kaya raya.
"Itu sama sekali bukan masalah bagiku," sahut Elita. Dia dan Angga saling tersenyum. Mereka segera pulang bersama.
Meski sudah menjadi pacar, Angga tetap merahasiakan penyamarannya pada Elita. Sekarang dia sudah berpisah dari gadis itu. Angga baru saja kembali ke sekolah dengan melompati tembok.
Sebelum masuk, Angga memakai wignya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia melangkah menuju kamarnya.
Suasana di asrama kala itu sudah sepi. Mengingat waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
Angga menggunakan kuncinya untuk membuka pintu kamar. Ketika pintu terbuka, dia berhasil memergoki Luna telentang dalam keadaan bertelanjang dada. Gadis itu hanya mengenakan celana segitiga. Sementara satu tangannya tampak masuk ke dalam celana segitiganya tersebut. Luna tampak memegangi ponselnya sambil menggunakan headset.
Saat melihat Angga muncul, Luna langsung menghentikan kegiatannya. Dia juga langsung memekik, "Dasar sialan! Kalau mau masuk, ketok dulu! Cepat tutup pintunya!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Apa yng dilakukan Luna bisa2 bikin mencuat lgi Ngga!! 🤣🤣
2025-01-16
0
linda nuraliyah
anak lugu kalo liat gtuan gimana ya prasaannya😀
2024-12-07
0
Alivaaaa
Angga dapat rejeki nomplok 🤭🤣🤣
2024-11-02
0