"Iya. Kalau ada, aku mau yang pakai sayap," ujar Tasya.
"Hah? Emang ada pembalut yang pakai sayap?" tanggap Angga yang masih membulatkan mata.
Tasya mengangguk. "Masa kau nggak tahu sih?" balasnya.
Mendengar itu, Angga memecahkan tawa. Dia sampai terbahak-bahak. Dalam bayangannya, pembalut bersayap itu terbang dan mengepak seperti burung.
"Kau ini ada-ada saja. Masa ada pembalut pakai sayap? Terbang dong kalau dipakai. Hahaha!" ucap Angga yang masih tergelak. Dia kini bahkan memegangi perutnya karena merasa lucu.
Tasya menyipitkan matanya. Dahinya berkerut dalam. Tanpa basa-basi, dia tarik kerah baju Angga. Sontak itu membuat Angga langsung berhenti tertawa.
"Eh! Kau ini benar-benar kolot, atau sengaja mengejekku?!" timpal Tasya dengan wajah sangar.
"Aku serius loh. Aku benar-benar baru kali ini mendengar ada pembalut pakai sayap!" ungkap Angga. Dia menjauhkan tangan Tasya dari kerah bajunya. "Nggak perlu sewot juga kali!" tambahnya.
"Eh! Kau nggak tahu kalau aku sekarang dalam posisi darurat. Ini rokku bisa belepotan kalau nggak secepatnya pakai pembalut. Jadi kau punya atau tidak?!" desak Tasya.
"Enggaklah! Punyaku kebetulan juga sudah habis." Angga tentu berbohong.
"Bilang dong dari tadi! Nggak perlu pakai ketawa juga!" geram Tasya.
Bersamaan dengan itu, Luna datang. Dia baru selesai mandi. Terasa jelas dari aroma tubuhnya yang harum semerbak.
Glek!
Angga telan ludah saat melihat Luna. Apalagi saat teringat dengan penampilan cewek itu yang bertelanjang dada terakhir kali. Sekarang Luna tampak mengenakan handuk kimono berwarna pink.
'Dia benar-benar cantik sekali. Tapi sayang kelakuannya kayak iblis,' komentar Angga dalam hati. Dia segera bergerak untuk mengenakan seragam.
"Lun! Kau punya pembalut nggak? Aku tiba-tiba mens saat baru aja pakai seragam," ucap Tasya.
"Tunggu sebentar," sahut Luna sembari membuka lemarinya. Di sana dia mengambil sebuah tas berukuran sedang. Dirinya memiliki banyak persediaan pembalut.
"Kau mau pakai sayap atau nggak?" tanya Luna.
"Yang pakai sayap," jawab Tasya seraya melirik tajam Angga. Dia lalu berucap, "Tuh dengar kan? Kau nya saja yang kampungan!"
"Kenapa?" Luna lantas penasaran. Dia menyerahkan pembalut pada Tasya.
"Ini nih! Masa dia nggak tahu kalau ada pembalut yang pakai sayap," imbuh Tasya. Dia menarik Angga mendekat. Tanpa diduga, Tasya memamerkan pembalut bersayap itu ke hadapan wajah Angga.
"Nih kau lihat! Begini pembalut yang pakai sayap. Kegunaan sayapnya tuh biar--"
"Udah-udah stop! Oke, aku paham. Kau tidak perlu menjelaskannya sampai begitu," sergah Angga yang tak mau lagi membahas perihal masalah pribadi perempuan.
"Dasar anak kampung!" tukas Tasya.
Angga mendengus kasar. Tujuannya datang ke sekolah itu juga tak mau mendapat image sebagai anak kampungan.
Angga lantas sengaja memamerkan tas mahalnya ke hadapan Tasya. Lalu dia juga mengenakan jam tangan mahalnya di hadapan cewek tersebut.
Tasya tampak terkagum. Mulutnya sampai menganga hingga membentuk huruf O. Sebagai anak orang kaya, dia tentu tahu yang mana barang bermerek mahal atau tidak.
"Bukankah itu tas gucci keluaran terbaru? Luna lihat! Itu yang sangat ingin kau beli kan?" imbuh Tasya.
Luna menghampiri Angga. Dia memastikan keasliannya.
"Jadi ini milikmu?" tanya Luna.
"Kau pikir aku pinjam?" balas Angga. Padahal kenyataannya dia memang pinjam.
Luna menarik sudut bibirnya ke atas. Melihat itu, Angga juga segera menunjukkan ekspresi yang sama. Selanjutnya, Angga beranjak dari kamar tanpa sepatah kata pun.
"Menurutku dia aneh," ucap Tasya.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi aku jadi penasaran dengannya," ungkap Luna sambil melipat tangan ke depan dada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Okto Mulya D.
Waduh Angga, gimana bisa ketahuan penyamaran mu, kalau tidak hati².
2024-09-07
0
Yuli a
waduh... belum juga misi nya berhasil tapi udh dicurigai.
.
2024-08-31
2