Pelan-pelan Luna menarik pergelangannya yang ada digenggaman Scott, gadis itu bahkan menahan nafas agar tidak menganggu Scott yang masih terlelap dengan posisi dduduk diatas lantai. Sesekali menatap wajah pria itu, mengawasinya agar tidak terbangun. Luna bisa menghelai napas legah setelahnya. Lalu perlahan turun dari atas sofa. Luna berlari kecil menuju kamarnya setalah memastikan jika tuan Scott tidak terbangun karena ulahnya.
Wah Luna tidak tahu apa yang terjadi semalam, andai bukan sekertaris Don yang melihat mereka tidur berdua begitu romantis, orang itu akan berpikir jika Luna dan Scott adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Lagian seharusnya dia berlari kekamarnya untuk tidur, bukan malah setuju ditemani oleh Scott semalaman. Luna meruntuki itu sejak tadi
Lupakan kejadian semalam, anggap tidak terjadi apa-apa
Beberapa menit berlalu bergelut dengan pikiriannya, Luna keluar dari kamarnya masih dengan rambut basah yang terurai. Dia tidak sempat mengeringkannya karena harus menyiapkan sarapan. Kali ini Luna hanya membuat Roti sandwich dan secangkir teh hangat, gadis itu meletakknnya diatas meja tepat sesaat Scott baru bangun.
“Kau sudah bangun?”
Luna sedikit tersentak, terkejut. Gadis itu langsung mengalihkan perhatian, menatap Scott yang rupanya sudah bangun. Sejak kapan? Apa dia tidak mengingatnya? Pria itu terlihat santai, seolah tidak terjadi apa-apa
Luna mengangguk pelan dengan senyuman. “Maaf tuan hari ini aku hanya menyiapkan roti isi untuk anda.” Jawab Luna sangat juah dari pertanyaan Scott.
“Apa semalam…”
“Aku kehabisan bahan makanan, setelah anda sarapan aku akan membelinya.” Luna menatap dengan senyuman.
“Saya…”
“Musim hujan sudah tiba, aku membuat teh hangat dengan madu. Itu sangat bagus untuk tubuh anda.” Ucap Luna seolah menghindari percakapan dengan Scott.
Sesaat Scott melirik cangkir teh yang masih mengekuarkan asap, kemudian kembali menatap Luna dengan tatapan dingin yang mendominan.
Deg!!!
Deg!!!
Deg!!!
Jantung Luna berdebar tidak karuan, dia melihat Scott dengan penampilan acak-acakan begitu sangat memukau. Matanya terus teruju pada Luna yang gugup.
“Kenapa selalu menghidar?”
“Tt… Tuan?”
“Saya hanya ingin tahu, apa semalam tidurmu nyenyak?”
“…” Luna terdiam.
“Saya juga ingin bertanya, apa selama kau selalu tidur dengan keadaan gelisah?”
Rasa-rasanya Luna ingin mengibarkan bendera putih, dia sudah tidak sanggup jika Scott terus mendekatnianya dengan tatapn yang mampu menenggelamkannya didasar samudra.
“Tapi, kau selalu menghidar. Kenapa?” Scott bertanya dengan nada yang begitu lembut, selembut semilir angin yang menggelitik ujung hidungnya.
Diam-diam Luna menelan slivanya yang terasa lengket. “Maaf, jika itu menganggu anda.. aku… aku hanya…”
“Katamu ingin belanja, dimana?” Lagi-lagi pria itu bertanya dengan lembut. Tidak seperti biasanya, pagi ini Scott sedikit banyak berbicara.
“Di mini market, hanya beberapa kilo dari rumah.” Balas Luna masih menundukkan pandangannya.
“Kita pergi bersama…”
“Apa?” Luna tiba-tiba mengangkat pandangannya. Sepertinya bukan hanya ususnya yang bermasalah selama berkeja ditempat ini, belakangan ini telinganya pun ikut bermasalah
“Ususmu yang dipotong tapi sepertinya telingamu yang bermasalah. Saya bilang kita pergi bersama!!!”
Luna menggeleng. “Tidak, anda tidak boleh keluar dari mansion. Sekertaris Don akan membunuhku jika itu terjadi.”
“Disini siapa tuanmu nona? Saya atau Don? Yang berhak membunuhmu adalah saya, dan satu lagi…” Scott melangkah lebih dekat pada Luna. “Kau hanya perlu medengarkan apapun yang saya katakan, bukan dikatakan orang lain. Hem???” Suara berat dengan tatapan yang mendominan adalah perintah yang mutlak Scott kelurkan, Luna bahkan tak mampu berkedip atau hanya sekedar menghirup oksigen untuk bernapas.
.
.
.
“Tuan sebentar lagi hujan turun, apa tidak sebaiknya kita kembali saja?” Luna mengadah setelah mobil mereka berhenti di area parkir yang lapang, langit tiba-tiba mendung, angin berhembus cukup kencang berhasil menerbangkan rambut Luna yang panjang.
Sedangkan dalam kesadaran penuh Scott terus menatap Luna dengan tatapan yang berbeda dari tempatnya berdiri, hanya Luna. Bahkan Scott tidak perduli sekelilinya, beberapa mata terpesona dengan ketampananya.
Namun itu tidak berselang lama ketika sorot matanya menangkap sebuah objek yang mencurigakan. Beberapa orang pria bertubuh kekar tengah mengawasi mereka dari beberapa sisi.
“Tuan ada apa?” Luna hendak menoleh ke arah dimana Scott menatap namun, pria itu lebih dulu menahan pundaknya yang hendak menoleh.
“Ayo masuk! Bukannya mau belanja?” Ucap Scott dengan suara tenang.
Untuk pertama kalinya Scott lebih dulu memyentuhnya, menarik tangannya dan berjalan lebih dulu dari Luna. Mereka berdua masuk ke dalam mini market yang sepi, atau karena hujan akan turun jadi tidak seramai dari biasanya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments