10

“Kita bawa dia kerumah sakit, dia harus di oprasi.”

Deg!!!

Deg!!!

Deg!!!

Suana hening, menegangkan, panik berbaur menjadi satu. Ketiga pria itu saling menatap satu sama lain dalam diam.

“Luna hanya pingsan kenapa harus di oprasi?” Don menjadi panik, bagaimana pun Luna adalah tanggung jawabnya. Dia membawa gadis ketempat ini tanpa mengetahui apa yang gadis itu lakukan beberapa minggu terakhir ini.

“Jadi, namanya Luna?”

“Leon!!!” Panggil Scott dengan suara tegas tapi pelan.

“Okey. Diagnosaku mengatakan Luna terkena usus buntu, tindakan yang paling tepat dilakukan adalah aku membedanya.”

“Lakukan.” Tukas Scott cepat.

“Iya aku akan…” Leon yang yang bergelud dengan alat medisnya nyaris menjatuhkan sebotol infus saat menyadari arti kalimat Scott. Dia menoleh.

“Bedah gadis itu!”

“Disini maksudmu?”

Scott mengangguk dengan santai dengan wajah seriusnya itu membuat Leon menelan slivanya yang terasa kering. “Scott dia butuh rumah sakit bukan aku.”

“Tapi pada akhirnya kau yang mengoprasinya kan?”

“Iya…”

“Tunggu apa lagi? Lakukan! Bedah gadis itu disini!”

“Aku bisa gila.” Gumam Leon pelan, dia sangat frustasi. “Jika aku melakukannya disini, karirku sebagai dokter akan berakhir Scott.” Sambungnya dengan wajah panik.

”Kau sering melakukannya, kenapa sekarang tidak bisa?”

Leon menutup matanya frustasi, tubuhnya bergetar hebat. “Kasus mu berbeda Scott, aku hanya membersihka, menjahit lukamu yang robek. Gadis itu butuh alat yang lebih lengkap di rumah sakit.”

Langkah demi langkah Scott mendekati alat medis yang ada di tas Leon, memeriksanya dengan teliti. “Kau hanya kekurang obat bius.” Scott kemudian menatap ke arah sekertaris Don. “Dapatkan obat bius untuknya!”

“Baik tuan.”

Leon lebih kaget lagi melihat reaksi Don yang segera berlari menuju lantai atas, pria kaku itu seolah menyetujui rencana gila Scott.

“Scott.”

“Kau ingin melakukannya disini atau membunuh gadis itu? Jarak tempat ini dari rumah sakit butuh waktu 3 jam Leon, kau akan semakin membuat keadaan jadi lebih buruk.”

Benar kata Scott, tempat ini sangat jauh dari pusat kota. Tubuh Luna semakin melemah, keadaanya jauh akan semakin memburuk jika dia membawanya ke rumah sakit. Tapi, mengoprasinya ditempat ini jauh lebih buruk lagi. “Akhh… Jika setelah ini lisensiku sebagai dokter dicabut, aku akan membunuh mu Scott.”

“Ini tuan.”

Leon semakin tercengan-cengang tidak bisa berkedip. Tepat Don kembali dengan obat yang sangat tidak boleh dia miliki.

“Yah. Kau menyimpan obat seperti ini? Apa kau memakainya untuk…”

“Hentikan omong kosong itu, lakukan dengan cepat pekerjaanmu!!!” Potong Scott

Sekali hentak Leon menarik gorden pada jendela, Don bertugas menyingkirkan pot sebesar pilar mansion lalu menggerai gorden itu diatas meja panjang di ruang utama. Sekali hentak Leon mengangkat tubuh lemah Luna diatas meja, membaringkannya lalu menutup perut sisi kanan bagian bawah gadis itu. Leon dengan tenang membuka tasnya yang sangat lengkap dengan alat bedah oprasi bahkan didalam sana ada dua kantong darah untuk jaga-jaga jika sesuatu yang fatal terjadi pada Scott.

Dalam sekejab Leon mulai mengiris kulit perut Luna dengan sebuah pisau bedah tajam dan mengkilap.

*

*

*

“Huahh…” Leon akhirnya bisa bernafas legah setelah oprasinya berjalan lancar. Pria itu mengempaskan tubunya diatas sofa hitam yang empuk, tepat didepan Scott yang baru saja membersihakan dirinya beberapa memenit setelah oprasi Luna selesai. Scott hanya menggunakan celana panjang hitam berbahan katun, baju kaos senada memperlihatkan otot-otot lengannya yang seksi. Pria itu benar-benar sempurna, jauh dari kata cacat seperti yang Elova katakan.

“Ini pertama kalinya aku melihatmu seperti ini. Siapa gadis itu, kenapa kau begitu perduli padanya Scott?”

Scott tidak menjawab, sorot matanya hanya fokus pada Luna yang masih terbaring diatas meja dengan wajah pucat.

“Don?”

“Kenapa kau berteriak pada sekertaris saya?” Protes Scott

“Wah, setelah apa yang aku lakukan kau bersikap seperti ini padaku.” Leoan mencondongkan tubuhnya sedikit kedepan, menjadikan lututnya sebagai tumpuan. “Sadar yang kau lakukan, kau nyaris membuatku dipecat jadi seorang dokter.”

“Itu salahmu, kenapa menjadi seorang dokter?”

“Wah…” Leon menrenggankan otot-otat lehernya, yang kaku setelah sekian lama tidak berlatih boxing. Leon yang duduk cukup jauh sudah tidak tahan untuk menghajat Scott, namun Don lebih dulu menghentikannya.

Scott sungguh pandai memancing kemarahan Leon saja. Sudah jelas dokter itu tidak memilik secuil rasa sabar, tapi Scott jadi orang yang selalu memancing kemarahannya. Terkadang Scott dibuat bertanya, mengapa orang yang tidak memiliki rasa sabar memilih menjadi seorang dokter, kenapa bukan jadi tukang pukul? Kan tenaganya lebih bermanfaat untuk dia salurkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!