Setelah menyiapkan sarapan seperti biasanya, Luna keluar dari mansion tuan Scott yang belum pernah dia lihat wujudnya seperti apa. Gadis itu punya waktu cukup lama sebelum malam tiba dan harus kembali ke mansion.
Luna bertemu dengan Elova diteras supermarket, gadis itu meringis bahkan saat dia hanya ingin duduk. “Aduh…” Luna memegangi lengannya yang nyeri.
“Lova.” Pekik Luna, memanggil sahabatnya yang baru saja keluar dengan dua kantong plastik besar dari dalam supermarket. Luna terpaksa menyuruh Elova membeli kebutuhan tuan muda misterius itu.
Elova mendekat, kemudian mengeluarkan sebotol air mineral juga obat pereda nyeri, saleb, beserta dua bungkus koyo.
“Kamu kerja apa sebenarnya? Dibadan kamu banyak lebam sama goresan kecil Lun?” Omel Lova. Kesal dengan sahabatnya karena terlalu cerboh
“Nggak usah banyak nanya, cepet tempel koyo ketangan sama pundakku!!!”
Tangan Elova sangat gatal ingin menjitak kepala Luna. Tapi untung saja dia punya cukup kesadaran kalau saat ini sahabatnya sedang dalam keadaan cukup kritis.
“Apa lagi yang sakit?”
“Kaki, betis, pokoknya semuanya.”
“Ya udah angkat kakinya, biar aku periksa.” Perintah Elova
Luna mengikuti perintah Elova tanpa perdebatan panjang, kaki Luna terangkat pelan diatas paha Elova. Dia menggulung celana panjang berbahan katun itu sampi sebatas paha, agar Lova bisa leluasa melihat lukanya.
“Ya ampun Luna.” Elova dibuat tercengang dengan luka memar dibagian tungkai dan luka goresan dibetis Luna yang cukup banyak. “Kamu kerja apa sebenarnya? Baby sitter beruang, gorilla.” Luka ditelapak kaki Luna pun tak luput dari sorot mata Elova. “Ya ampun Lun, kaki kamu juga ngelupas. Lo nggak disiksakan disana?”
“Parah banget ya?”
“Iya. Mulai hari ini kamu berhenti aja kerjanya. Masalah utang kamu, pake uang aku aja dulu. Kamu bisa kenapa-napa kalau kayak gini, Aku cuman punya kamu Luna.” Ucap Elova dengan galak. Tapi sialnya berhasil mencubit hati Luna, entah bagaimana awal mula persahabatan meraka sampai menjadi sedekat ini.
“Aaaa… Pelan Elova!
“Diem, aku konsentrasi ngoles salepnya.” Omel Elova pada Luna yang sejak tadi terus menggerakkan kakinya.
*
*
*
Kejadian itu terjadi lagi, ekor mata Scott lagi-lagi melihat sebuah punggung kecil melintas didapurnya. Kali lebih jelas dari sebelumnya, pintu yang menghubungkan dapur dan taman belakang bergoyang. Tidak mungkin itu ulah semilir angin.
Bayangan itu selalu lewat sebelum waktu sarapan tiba.
“Tuan apa anda baik-baik saja?” Sekertaris Don yang baru saja tiba sedikit terkejut melihat wajah pucat tuannya, ditambah cara jalan Scott sedikit berbeda. “Apa kaki anda sakit lagi?”
Scott tidak menjawab, pria itu hanya menjatuhkan tubuhnya diatas sofa hitam dengan keangkuhan yang dominan. Sentuhan tangan orang yang menolongnya semalam terus terbayang diotaknya, jelas itu bukan sentuhan tangan seorang pria. Halus, lembut dan aroma tubuhnya berhasil membangkitkan sesuatu yang liar didalam tubuh Scott.
“Don, apa semalam kau ada di mansion ini?” Tanyanya dengan nada yang rendah.
“Tidak tuan, semalaman saya berada di kantor sampai fajar. Setelah itu saya langsung menemui anda.” Jelas Don yang tidak tahu sama sekali kejadian semalam.
Kalau bukan Don, siapa dia?
“Ada apa tuan, apa sesuatu yang buruk terjadi?” Sekertaris Don kembali beratanya sedikit menyelidik, saat ini pikirannya langsung menabrak Luna.
“Belakangan ini saya selalu melihat punggung seorang gadis melintas dibelakang. Kau juga pernah melihatnya?”
Deg!!!
Luna?
“Saya juga jarang melihatmu di mansion. Kau hanya datang saat pagi hari, setelah itu saya tidak pernah melihatmu lagi sampai malam tiba. Kamu hanya membawakan saya obat setelah itu kembali menghilang.” Scott perlahan bangun sari kursinya, mendekati sekertaris Don dengan sorot mata menajam. “Apa kau sedang merencanakan sesuatu untuk menghianati saya Don?” Tanya Scott dengan suara rendah
“Saya tidak akan pernah berani melakukannya tuan. Saat ini perusahaan yang susah payah anda bangun sedang dalam masalah. Beberapa infestor tiba-tiba membatalkan kerja samanya dengan alasan , karena meragukan keberadaan anda tuan.” Scott menoleh masih dengan wajah tenang. “Apa tidak sebaiknya anda…”
“Pergi, saya tidak ingin mendengarkan apa-apa lagi.”
“Tuan…”
Brak!!!
Scott melayangkan tinjunya diatas meja kaca, darah segar keluar menetes dari buku-buku jarinya. Tubuhnya yang kekar bergetar hebat. Trauma yang pria itu alami sejak kecil masih menghantui Scott, bertahun-tahun hidup seorang diri dalam pengawasan sang ayah membuat Scott begitu takut jika berada ditengah keramaian. Sorot lampu mengingatkannya pada sebuah insiden kecelakaan 23 tahun yang lalu. Itu kenapa sepanjang malam pria itu hanya berpeluk dengan kegelapan.
“Tinggalkan saya sendiri Don!”Ucap Scott dengan suara rendah sambil melangkah menuju kamarnya, dengan darah segar menetes sepanjang menuju kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments