Crungg!!!
Brak!!!!
Tiba-tiba Luna terbangun dari tidurnya, setelah mendengar tembakan yang cukup dekat dari kamarnya . Ya faktanya, tepat dibelakang Mansion mewah ini terdapat hutan belantara, jauh dari pemukiman kota. Gadis itu segera meraih ponselnya diatas nakas dan langsung keluar dari kamar, sorot matanya meraba dibalik kegelapan, berharap mengetahui apa yang terjadi saat ini.
“Apa itu?”
Drap!!!
Drap!!!
Drap!!!
Dari kejauhan Suara langkah kaki seseorang bertubuh besar sepertinya mendekati bangunan kosong disisi kiri mansion. Langkahnya terhenti, Luna menangkap bayangan seseorang berpakaian serba hitam masuk kedalam bangunan itu.
Sejak kapan gadis itu menjadi lebih pemberani? Luna menerobos malam gelap gulita, berlari diatas rumput tanpa alas kaki. Mendekati bangunan yang pintunya sedikit terbuka, masuk kedalam sana hanya dengan pencahayaan ponselnya.
Deg!!!
Aroma ini?
Jantung Luna semakin heboh, melihat tetasan darah diatas ubin ruangan itu. Langkahnya pelan, mengikuti tetesan darah tersebut dan betapa terkejudnya tepat ketika Luna melihat seorang pria tengah memegang perutnya yang sudah basah dengan cairan merah.
Cukup lama Luna membeku ditempatnya, dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini.”
“Ahh.” Suara rintihan yang rendah menyadarkan Luna, dia langsung membuka selendang di lehernya, lalu menekan luka diperut pria itu.
“Siapa itu.. Akhhh!”
Dia berdarah.
Luna tak menjawab, hanya suara nafasnya terdengar memburu cepat namun sangat lembut menyentuh kelopak mata pria itu. Luna kemudian meraih ponselnya, berlari keluar dari bangunan itu. Luna ingat jelas saat pertama kali masuk kedalam mansion ini, dia melihat tanaman herbal untuk mengobati luka ditaman depan.
Diatas rumput dan krikil, Luna melawan rasa takut, dia berlari mengelilingi lahan mansion yang sangat luas itu.
“Aku mohon bertahan lah!” Luna terus memohon dalam hati disetiap langkah kakinya. Krikil mengoyak habis kulit kakinya namu tidak membuatnya berhenti.
“Aaakkk”
Sepertinya Dewa Zeius megayungkan tongkatnya tiba-tiba cahaya petir menyabar begitu saja dilangit yang gelap, disusul suara guntur yang keras seolah menghetarkan bumi. Luna menduk diantara bunga-bunga yang keringa, menutup kedua telingaya dengan tangan. Dia masih bisa menoleransi gelapnya malam tapi tidak dengan suara cemeti malaikat yang keras.
Hujan mendadak turun begitu lebat, tak ada cela yang kering ditubuh Luna, dia berlari menerobos bangun tersebut. Masih dengan keadaan yang sama, dia pria ber-masker masih terlentang diatas lantai menekan perutnya.
“Siapa disana? Apa aku… mengenalmu?” Tanya pria itu dengan suara berat dan rendah.
Tidak. kita tidak saling mengenal, dan sialnya aku melakukan hal gila seperti ini hanya untuk orang asing.
Untuk sesaat tangan Luna berhenti menghancurkan dedaunan herbal itu, sorot mata Luna terangkat, berusaha menembus wajah pria yang duduk dihadapannya.
Ini akan sangat perih, tahanlah!
Luna menyingkirkan tangan itu, kemudian menutup luka pria itu dengan dedaunan yang sudha hancur “Akhhhh…!!!” Erangan pria itu terdengar sangat seksi, bukannya dia sekarat tapi kenapa suaranya terdengar sangat indah ditelinga Luna?
Pelan Luna mendekati wajah pria ber-masker itu, dia hanya bisa melihat bola mata indah, bulu mata yang panjang dan tipis. Aroma tubuh yang khas.
Bertahan lah sampai ada yang menolong anda.
Luna hendak beranjak dari tempat itu, akan tetapi tangan besar begitu lembut mencengkram pergelangannya, menarik membut tubuh gadis itu tertarik mendekat padanya.
“Tanganmu kecil, tubuhmu sangat ringan, aroma badanmu begitu manis. Kau bukan seorang pria yang aku kenal. Siapa kau sebenarnya?”
DEG!!!
Tiba-tiba keadaan Luna menjadi sangat kacau. Gadis itu seolah berjalan diroda waktu yang berhenti berputar saat mereka saling berhadapan. Dia tidak berkedip selama beberapa saat, apa Luna ketahuan?
“Saya berta… Akhhh!!!”
Merasakan genggaman pria itu melemah, Luna mengambil kesempatan untuk kabur. Namun, ada sesuatu milik Luna yang tertinggal dalam genggaman pria itu.
*
*
*
Scott melepas masker juga topo miliknya, dia juga merobek baju kaosnya yang sudah bercampur keringat, air hujan dan darah miliknya.
Scott duduk diatas closet kamar mandi, kemudian merogoh bungkus rokok yang terselip disaku celananya. Dia butuh itu untuk menghangatkan tubuhnya, pria itu membakar ujung rokok dengan korek api dan menyesapnya dengan tenang. Sembari menikmati sebatang rokok Scott tiba-tiba teringat akan orang yang baru saja menolongnya, pandangan pria itu langsung tertuju pada selendang yang terikat kuat diperutnya.
“Dia seorang wanita?” Gumam Scott dan langsung mematikan rokoknya lalu membuangnya di tong sampah samping closet.
Scott beranjak dari tempatnya duduk, mencuci tanganya lalu keluar dari kamar mandi, dia langsung berbelok ke arah dapur karena tenggorokannya cukup kering karena pelariannya tadi. Tapat kakinya mendekati kulkas, ekor mata pria itu menangkap bayang seorang gadis kecil dengan rambut bergelombang sepinggang melewati pintu belakang.
Namun, hal itu tidak membuat Scott penasaran, pikrinya itu hanya sekedar halusinasi karena kelelahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments