17

Crankkkk!!

Panci yang Scott pegang lepas begitu saja diatas lantai. Pria itu sangat terkejut ketika seorang gadis mengenakan piama berwarna putih dengan rambut terurai tiba-tiba muncul dari balik pintu.

“Tuan? Apa yang anda lakukan, di tengah kegelapan seperti ini?” Suara khas bangun tidur menyapa pendengaran Scott. Dia menghelai napasnya panjang setelah melihat Luna yang berjalan mendekati sambil mencepol bersih rambutnya yang panjang. “Anda seperti hantu.”

“Entah siapa yang lebih mirip hantu disini.” Gumam Scott. “Kamu sendiri ngapain berkeliaran dengan gaun putih seperti itu?” Ujar Scott balik bartanya

Luna menunduk melihat gaun tidur miliknya yang berwana putih, berjalan meraih sebuah gelas berada didepan Scott lalu mengambil sebotol air mineral didalam kulkas, menuangnya ke dalam gelas kemudian meminumnya hingga tandas.

“Aku kehabisan air didalam kamar tuan.” Pandangan Luna kemudian tertuju pada panci kecil ditangan Scott lalu menoleh pada jam di didinginh. Pukul tiga dini hari. “Anda lapar?”

“Tidak, saya…”

“Tunggu disini!” Kalimat Scott terpotong ketika Luna langsung berlari kecil seperti hantu, karena gaun tidurnya benar-benar kebesaran ditubuhnya yang kecil.

Dalam sekejab Luna kembali dengan dua bungkus mie instan di tangannya. Dia tersenyum begitu lebar.

“Hey, apa yang kau bawah?”

Luna mengangkat salah satu tangannya yang menggenggam mie instan. “Apa lagi? Makan mie saat tengah malam adalah sesuatu yang nikmat.” Padahal hanya sebungkus mie instan itu membuat Luna begitu bersemangat.

“Tapi itu sangat bahaya untuk tubuh.”

Tiba-tiba pergerakan Luna berhenti, dia memutar kepalanya menatap tajam kearah Scott. “Siapa yang mengatakan?” Luna kembali menyibukkan tangannya, membuka satu persatu pembungkus mie setelah merebus beberapa mil air bersih. “Aku tidak setuju jika ada yang mengatakan mie instan itu bahaya, kalau mereka mengatakan mie instan tidak memiliki gizi aku setuju.”

Sesaat Luna menoleh ke arah Scott yang hanya diam melihat kegiatan Luna. “Tidak usah khawatir, hanya untuk malam ini. Lagi pula sebungkus mie instan tidak akan membunuh anda kok tuan. Buktinya aku masih hidup sampai sekarang.”

Scott menarik mundur langkahnya, dia menyandar di depan kulkas, menyilangkan kedua tangan didepan dadanya. Menatap Luna dengan sorot mata yang lembut. Dan hanya memandang Luna dengan cara itu.

“Apa aku boleh bercerita?” Dia menoleh pada tuan muda yang begitu tampan deterpa cahaya yang menyilaukan. Scott benci dengan cahaya namun saat bersama Luna, perlahan dia mulai menyukainya. “Saat usiaku belasan tahun dan ibuku meninggalkanku dalam waktu yang lama. Aku pernah berlari kerumah sakit karena memakan makanan basih. Aku berteriak pada dokter namun tidak ada yang mendengar anak kecil sepertiku, sampai aku terus muntah dan kehilangan kesadaran di atas lantai yang dingin.“ Luna tersenyum. “Aku pikir hari itu aku tidak akan selamat. Nyatanya Tuhan masih berpihak padaku.”

“Apa karena itu kau sangat sulit untuk memakan sesuatu?”

Jemari Luna tiba-tiba berhenti menganduk mangkoknya. Dia menoleh pada tuan muda dengan tatapan bertanya.

“Kau terkena usus buntu karena kau sangat takut memakan apapun, setiap hari didalam perutmu hanya ada kumpulan mie instan.”

Diam-diam Luna menelan Slivanya yang terasa lengket, bibirrnya kering, tiba-tiba tubuhnya seperti diserang musim dingin maha dahsyat, jantungnya mulai berdebar tidak karuan karena ketakutan. Bagaimana bisa tuan Muda tahu tentang ketakutannya? Sendok emas dalam genggamannya terjatuh bebas diatas lantai, ketika Luna menarik langkahnya tepat sesaat Tuan Muda Scott perlahan mendekatinya.

“Siapa orang yang memberimu makanan basih?” Katanya seiring dengan langkah kakinya semakin mendekati Luna

“Siapa orang yang begitu keji membuatmu tersiksa selama ini?” Scott masih bertanya

“Apa karena itu tubuhmu sangat kurus?” Luna bisa melihat kemarahan di sorot mata pria itu.

Kedua mata Luna terpejam saat kakinya sudah tidak lagi mengambil langkah mundur, jarak diantara keduanya sangat dekat hingga Luna bisa mencium aroma tubuh dan nafas Scott.

Luna memalingkan wajahnya, dia tidak mampu menatap wajah tuan dalam waktu yang lama. Dia memiliki bola mata yang sangat indah dan mampu menenggelamkan siapapun yang menatapnya, hidung yang mancung, rahang yang tegas ditumbuhi bulu-bulu tipis yang pekat, hidung mancung selaras dengan bibirnya yang berisi yang merah. Bukan hanya itu, ketampanan seorang Scott makin bertambah seribu kalilipat saat pria itu berpenampilan acak-acakan, rambut yang menjutai bebas menutupi jidatnya yang seksi.

“Itu bukan urusan anda.” Luna hendak melewati Scott namun tangan yang dipenuhi urat-urat seksi itu lebih dulu mencengkram lengannya.

“Jawab pertanyaan saya!”

“Semua yang aku alami tidak ada hubungannya sama anda, aku hanya seorang pelayan yang hanya akan melayani anda, anda melewati batas jika bertanya tentang kehidupan pribadi aku.” Sesuatu aneh terjati, Scott merasa merah ketika Luna berkata demikan, matanya memerah dengan rahang yang mengeras.

Luna meringis “Akhh.. Tuan anda menyakiti saya. Tolong…” Luna memukul pergelangan Scott dengan sekuat tenaga. “Tuan…”

Scott sontak melepas cengkaramannya, dia menyentuh lembut lengan Luna yang memerah karena ulahnya. ”Apa itu menyakitimu?” Sesaat dia menatap Luna. “Maaf, saya tidak sengaja.”

Luna semakin dibuat tidak mengerti, dia pria yang baru saja menatapnya dengan tatapan tajam diselimuti kemarahan, kini berubah begitu lembut dalam satu waktu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!