Drap!!!
Drap!!!
Drap!!!
“Tuan?”
Betapa terkejudnya Sekertaris Don, melihat pria yang sejak tadi dia pikir sedang berada didalam kamar, tiba-tiba muncul dengan sebuah senapan ditangan kirinya. Pria dengan tinggi 186 cm, bertubuh kekar melangkah melewati sekertaris Don setelah menyerahkan senapannya. Pria itu menarik longgar dasi lalu melepas dua kanci kemeja bagian atasnya.
“Sejak kapan kau tiba?”
Suara berat sedikit serak menyeruak kesegala sisi mansion mewah itu, pria. Dia Scott Diego Nevalion, Seorang pria dengan fitur wajah yang tegas, terlihat sangat-sangat tampan meski memiliki wajah dingin dan angkuh. Pria dengan sorot mata tajam, alis hitam, bulu mata yang indah, bahkan memiliki hidung yang mancung. Rambutnya yang cukup panjang sudah tidak tertata rapi namun itu membuat ketampanannya semakin bertambah beekali-kali lipat.
“Setengah jam yang lalu tuan.”
Scott melonggarkan kerah kemeja, membuka dua kanci dipergelangan kemeja, melepaskan jam tangan, dan menarik lengan kemejanya sampai siku. Melangkah mendekati meja makan, sungguh dia sangat lapar, dua hari berlalu pria itu hanya memakan sepotong apel di pagi hari. Selebihnya dia hanya tertidur dan memantau pekerjaannya dari jauh.
“Tuan apa semalaman anda tidur diluar?”
“Jangan mengomel Don, Saya hanya mencari hiburan.” Scott membeku, matanya jadi membesar, kedua alisnya terangkat naik penuh tanya. Selama ini hanya akan ada sepotong roti dan segelas susu atau secangkir kopi untuk sarapannya namun, pagi ini sedikit berbeda. Sepiring nasih goreng dengan toping telur mata sapi yang sederhana mengugah selera Scott, bukan hanya itu saja, suasana meja makan yang selama ini begitu kelam berubah sedikit hidup. Ada beberap bunga rose yang setiap hari dibiarkan melayu kini tertata rapi didalam vas emas.
Scott menoleh pada sekertaris Don. “Apa ini ulah mu Don?”
Don menoleh, mengikuti arah telujuk tuannya. Dia tidak menjawab apapun bahkan sampai Scott duduk dikursnya.
Tanpa keraguan apapun Scott mulai menikmati sarapan paginya. Saat suapan pertama pria itu terdiam dalam waktu yang lama. Makanan ini, membuatnya teringat pada seorang wanita yang selalu menunggunya setiap malam. Bahkan saat pria itu tidak memiliki sepeser uang hanya sekedar untuk membayar segelas air. Tak terasa buliran bening menetes begitu saja tanpa permisi.
“Tuan ada apa? Apa anda tidak menyukainya? Saya akan menyingkirkannya untuk an…”
“Tidak. Saya menyukainya. Sangat menyukainya.” Potong Scott kembali menggencarkan sendoknya diatas piring hingga habis.
Seksetaris Don yang menyaksikan ini hanya bisa terdiam takjub, selama melayani tuan Scott ini kali pertamanya dia melihat pria itu menghabisi makanannya hingga bersih. Tanpa ada tragedi melempar piring atau menghaburkan meja makan.
“Kau membelinya atau membuatnya Don?”
Diam-diam Don menelan slivanya, gugup, dia tidak mungkin mengatakan jika seseorang tinggal dirumah ini yang membuatnya, atau mengatkan jika dia menyewa seorang pembantu hanya untuk memastikan tuannya makan dan hidup layaknya manusia.
“Saya…” kalimat Don tersengal sedikit ragu. “Saya membelinya saat perjalan kesini tuan.” Katanya sedikit menggelitik perut Scott.
Scott mengangguk sebelum ia meninggalkan kursinya, melangkah menuju pustaka yang dimasuki Luna semalam. Satu hal sekertaris Don lupakan jika dia tidak pandai berbohong apa lagi didepan seorang Scott Diego Nevalion.
Didalam pustaka miliknya yang berantakan, Scott duduk dengan angkuh dikursi kebesarannya, menyentuh bibir bagian bawah dengan jemari telunjuk, menggeseknya pelan. Sarapan pagi ini berhasil membuat seorang Scott sibuk. Dalam diamnya Scott menangkap suatu objek menarik perhatian, sebuah gelang emas dengan leontin kepingan salju. Yang terjatuh didekat patung keadilan, Scott berjongkok, mengambil benda itu, menatapnya sejanak lalu menyimpannya kedalam laci meja.
*
*
*
Setelah berdebat dan negosiasi yang sengit dengan sekertaris Don, Luna akhirnya bisa leluasa mengitari supermarket seorang diri. Untung saja dia punya alasan untuk membeli beberapa keperluan dirinya dan stok bahan makanan. Tentu hal itu bukan tujuan utamanya, melainkan ingin bertemu Elova. Terlalu banya pertanyaan yang Luna ingin tanyakan pada sahabatnya itu.
“LUNA….”
Pemilik nama itu langsung menoleh, melemparkan daging segar kemudian melangkah mendekati gadis mamba sangat berbar itu. Membekap mulutnya, lalu menoleh kearah mobil sekertri Don yang masih menunggunya di depan supermarket
“Elova, apa kau tidak bisa merubah kebiasaanmu itu saat melihatku ha?”
“Auuu… aaanya kangen.”
Luna mengenyerit tidak mengerti, akan tetapi isyarat jemari Elova membutnya sadar, refleks melepaskan bekapan tangannya di mulut Elova.
“Ouhh Sorry.”
“Bagaimana dengan pekerjaaan barumu?” Tanya Elova penuh semangat, memeluk, mencium sahabatnya itu yang beberapa hari ini ia rindukan.
“Itu tidak penting. Sekarang aku tanya sama kamu.” Suasana tiba-tiba berubah menjadi tegang, Luna membawa Elova bersembunyi dibalik etalase sabun. “Apa kau tau siapa Scott Diego Nevalion?” Bisik Luna sedikit menekan suaranya.
“Hem? Siapa katamu?” Elova kembali bertanya, mengorek kupingnya. “Maaf, belakangan ini aku lupa mengorek telingaku.”
“Scott Diego Nevalion.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
resia
berrti luna yg masak
2025-03-03
0