Sekertaris Don menyodorkan sebuah map berwana coklat diatas meja kayu yang menjadi pemisah keduanya. Dia duduk diatas sofa dengan keangkuhan yang mendominan, cukup lama setelah sekertaris Don keluar dari kamarnya,
Scott baru mengambil alih amplop coklat itu. Iya membukanya lalu mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya.
Baris demi baris dia membaca isi kertas itu, sampai pada akhirnya dia menemukan sebuah fakta yang mengejutkan. Dengan langkah tertati Scott keluar dari kamarnya, menurini anak tangga, mencari keberadaan sekertaris Don. Tepat ditangga terakhir Scott nyaris terjatuh, untung saja Luna lebih cepat dari hebusan angin menangkap pergelangan Scott.
“Tuan, hati-hati! Anda bisa terluka jika berjalan seperti itu.” Luna membawa Scott untuk duduk diatas kursi. “Tunggu disini aku akan mengambilkan anda segelas air.”
Scott tidak mengatakan apapun, dalam diam dia menatap Luna, bagaimana dia memandangnya sungguh berbeda dari sebelumnya, tatapan begitu dalam, seolah menegaskan kalau dia sangat tertarik pada gadis bermata indah itu.
Beberapa menit kemudian Luna kembali dengan segelas air ditangan kiri dan sebuah baskom ditangan kanan. Scott menerima gelas itu, meneguk air didalamnya tanpa protes. Namun, sesuatu yang jauh lebih mengejutkan saat Luna tiba-tiba berjongkok didepan Scott, gadis itu mencepol bersi rambutnya duduk didepan tuan muda dengan sebaskom air dan handuk basah.
Luna tidak mengatakan apa-apa, saat kaki Scott dia raih untuk ditaruh diatas paha, handuk kering dia rendam didalam air. Sebuah usapan lembut ditelapk kaki membuat darah Scott berdesir hebat.
“A—apa yang…”
“Aku sudah mencampurkan antiseptik didalamnya, luka anda akan membaik.”
Keduanya bergelantungan dalam keheningan, tadinya Scott ingin menarik kakinya. Setelah semua yang terjadi, bertahun-tahun lamanya. Scott dipandang hina keluarganya sendiri, dibuang oleh pria yang seharusnya menjadi super hero dalam hidupnya dan beberapa kali nyaris meregang nyawa ditangan orang terdekatnya. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam kehidupan Scott ada wanita asing dalam hidupnya yang mengusap kakinya yang terluka
“Anda dari mana, kenapa kakinya bisa terluka?” Luna bergumam sambil membalut luka tuan muda dengan kain kasa.
“Tidak usah, itu akan sembuh sendir
“Husssttt…” Luna menahan pergelangan kakin Scott dengan erat. “Sedikit lagi akan selesai. Anda bukan orang yang memiliki kesabaran ya.” Luna melanjutkan menyimpul kain kasa yang membalut kaki Scott lalu memasangkannya dengan sebuah sandal.
Diam-diam Scott tersenyum kecil menatap Luna dalam kekaguman
“Sudah.”
Sofia berdiri dan mengambil selembar kertas milik Scott yang sempat terjatuh diatas lantai. “Sekertaris Don ada urusan, dia akan kembali besok pagi. Jika anda ingin sesuatu, anda bisa memanggilku.”
Luna mengangkat baskom air dan membawanya pergi. Ya dia sudah beranjak dari sana tapi Scott masih terdiam dalam posisi yang sama, dia membayangkan bagaimana sentuhan Luna menyentuh telapak kakinya yang dingin.
.
.
.
Di pusat kota, kediaman tuan Rudolft seorang gadis cantik dengan gaun hitam dipenuhi gliter yang indah berkacak pinggang memasang wajah remeh.
“Kata ayah menikah? Aku? Haha… Bagiamana bisa ayah miminta hal konyol seperti itu?”
Beberapa minggu setelah kabar firal munculnya putra kedua tuan Nevalion meledak hingga dimuat di seluruh stasiun TV nasioanal bahkan berita internasional. Dia Diana Armeta Rudolf putri tunggal tuan Rudolf, wanita yang dipilihkan menjadi calon istri putra kedua keluarga Nevalion. Dia gadis dengan kecantikan yang diidolakan hampir diseluruh negeri, puluhan laki-laki ingin meminangnya namun tak ada satupun yang berhasil meluluhkannya.
“Aku tahu siapa Scott Nevalion. Dia adalah aib bagi keluarganya, tidak ada yang membicarakannya. Andai kisahnya dalam sebuah dongeng, maka dia adalah pangeran terbuang dan terasingkan. Scott adalah pangeran yang malang, diusianya yang mudah dia harus kehilangan kakinya karena kecelakaan hebat, tidak akan ada yang melupakan itu ayah.” Diana duduk menyilangkan kakinya dengan penuh keangkuhan diatas sofa. “Aku akui dia pria yang terlahir dari keluarga kaya raya, tapi itu tidak menjadikan dia pantas bersanding denganku ayah. Sungguh memalukan jika putri tunggal tuan Rudolf presiden grup Infix yang dihormati bersanding dengan pria cacat. Itu bisa menjatuhkan nama baik ayah. Apa ayah tidak apa-apa akan hal itu?”
Tuan Rudolf menghelai napasnya panjang, sembari menikmati sebuah ceurutu yang terbakar di ujung jemarinya. “Sejujurnya ayah tidak bisa menolak permintaan tuan Nevalion. Mereka adalah kelurga yang sangat berjasa untuk keluarga kita.”
“Ayah bisa membalas budi dengan cara apapun. Tapi, tidak menikah kan aku dengan putra keduanya.“
“Diana…”
“Ayah, jangan memaksaku. Saat ini hanya aku harapan ayah. Aku bisa menikah dengan siapapun tapi tidak dengan pria cacat.” Diana bangun dari kursinya, meletakkan secangkir teh yang ada jemarinya dengan anggun. “Katakan pada teman ayah, aku Diana Armeta Rudolf, menolak pinangan mereka.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments