“Tuan apa yang anda lakukan?”
Crungkk!!!
Sebuah mangkok tiba-tiba terlepas dari genggaman Scott. Sekarang sudah siang, Luna terlambat bangun mungkin karena pengaruh resep obat dari dokter Leon yang dia minum. Luna mendekat sambil menyimpul tambutnya yang panjang lalu menyelopkannya diantara rambut lain.
“Maaf tuan aku terlambat.”
Belum sempat Scott bersua, Luna sudah lebih dulu berlari menuju kulkas, mengeluarkan beberapa potong ayam dan sayuran lainnya.
“Anda boleh pergi, aku akan memasak dengan cepat.”
Beberapa detik menggantung dalam kesunyian, sebelum Scott kembali mengambil sebuah pisau untuk memotong sayuran dia menghelai nafas panjang. “Tidak perlu, pergi!saya bisa melakukannya sendiri!”
Luna menatap meja yang berantakan, sayuran dengan potongan besar, telur dan beberapa bumbu lainnya berhamburan diatas meja.
“Anda akan menghancurkan dapurnya jika seperti ini.”
“Ini milik saya. Terserah saya mau berbuat apa.” Scott melirik kebawah, dibagian perut Luna. “Lagi pula saya tidak mau dimasakkan sama orang penyakitan sepertmu.”
Sesaat Luna membeku, dia kesal sangat kesal. Sampai ingin menjitak kepala tuan muda songong ini. Namun, Luna masih berusaha tenang dan tersenyum. Dia menoleh, mendongak agar bisa menatap wajah pria super menyebalkan yang sialnya begitu tampan.
“Tuan aku hanya menidap usus buntu bukan penyakit menular. Lagi pula yang sakit kan perut saya bukan tangan, masih jauh untuk menuliari anda dari makanan.”
Luna mulai mengambil beberapa bumbu didepan Scott. “Jika tidak mau pergi Anda bisa bergeser sedikit?!” Sesuatu yang sangat langakh, Scott yang tidak mau diperintah atau mendengar siapapun dengan patuh mengikuti perintah Luna, dia bergeser sedikit menjauh . “Ruangan ini jadi lebih sempit karena keberadaan anda.” Luna bergumam sambil mengambil beberapa potong ayam.
“Ini rahasia, Ibuku punya resep terbaik tapi aku tidak yakin akan sama persis. Dulu aku sangat suka ayam ketumbar buatannya, sampai aku mencuri sepiring ayam di toko.” Sesaat Luna menoleh menatap, pada Scott tapi dengan cepat pria itu memalingkan muka. Luna tersenyum.
“Siapa yang menyuruhmu menatap wajah saya?” Ketus Scott dengan wajah canggung dipalingkan.
“Aku hanya melihat tuan bukan menatap. Lagian kalau nggak mau aku lihat, anda bisa pergi dari sini.” Luna mengambil celemek dan mulai memakaiinya.
“Kau mengusir saya, dirumah sendiri? Yang benar saja, kau yang seharusnya pergi dari sini.”
Luna menulikan telinga, masih dengan kegiatannya menyangrai ketumbar sampai wangi. “Ayo masukkan bumbunya!” Pinta Luna.
Awalnya, Luna pikir tuan muda muda menyebalkan ini tidak tahu yang mana namanya ketumbar atau merica dari beberapa pilihan bumbun diatas meja. Namun ternyata Luna salah, Scott dengan lihai memasukkan beberapa bumbu utama untuk memarinasi ayam tersebut.
“Sambil kita tunggu sampai wangi, aku buat sup untuk anda.”
“Tidak perlu.” Tolak Scott. “Saya tidak suka sayur.”
“Serius?” Tatapan Luna langsung tertuju pada perut rata yang sangat membut gadis itu penasaran, sontak ditutupi oleh kedua tangan Scott. “Apa penceranaan anda baik-baik saja tuan?”
“Itu bukan urusanmu. Goreng ayamnya saya sudah lapar!”
“Ahh…” Luna malah menarik tangan Scott mendekat pada kompor. “Anda yang goreng, cukup 10 menit supaya lebih kriuk. Aku akan membuat sauce untuk ayamnya.”
Scott melakukannya. Dia berdiri terlalu jauh dari wajan panas sambil sesekali menghindar setiap kali terdengar suara minyak meletup-latup. Dia pria bertubuh kekar tapi ciut hanya karena sebuah minyak, diam-diam Luna tersenyum.
“Wow, anda sangat antusis. Apa sebelumnya anda sering memasak?” Ledek Luna.
Tang! Scott membanting spatula dengan kesal.
“Saya tidak mau melakuka…”
“Tuan, itu sudah bisa diangkat. Anda bisa menggorengnya kembali selama semenit.” Potong Luna benar-benar membuat Scott tidak bisa berkutip dan tetap melakukannya meski dengan perasaan kesal.
.
.
Dimeja makan yang luas dengan jejeran kursi mewah hanya ada Scott dengan hidangan makanan yang baru saja dia buat bersama Luna.
“Sekertaris Don, mau kemana? Ada makanan diatas meja kenapa pergi?” Luna meletakkan semangkuk sup didepan Scott.
“Tidak usah saya sudah…”
“Eihhhh… Tidak baik menolak makanan kalau sudah dihidangkan diatas meja.” Potong Luna, sementara sekertaris Don melirik tuan muda.
“Kau ingin diam disitu sampai saya mati kelaparan disini?”
Untuk sesaat sekertaris Don terpaku diatas tempatnya berpijak, selama bertahun-tahun melayani Tuan Muda, ini kali pertamanya dia melihat sesuatu yang berbeda. sekertaris Don mulai melangkah mendekati kursinya, duduk disisi kiri tuan muda dengan piringnya.
“Cobalah ini sangat enak sekertaris Don, aku dan tu…”
“Mana ayam saya?” Potong Scott berhasil membungkam mulut Luna yang sedikit cerewet.
“Ouh.. Ini.”
Tak! Luna meletakkan dua potong ayam diatas piring kosong tuan muda, setelah itu dia menjauh dari meja makan untuk kembali kedapur namun…
“Duduk! Kau ikut makan disini.”
Luna sedikit heran dengan sikap Scott. Dia melirik sekertaris Don yang jauh lebih heran bahkan rahangnya nyaris menyentuh lantai saking kagetnya. Itu kah tuan muda seperti yang dikatakan sekertaris Don, tuan muda yang tidak suka jika ada orang asing disekitarnya.
“Kenapa diam, duduk!”
“Baik tuan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments