9

Bisakah sekali saja kau menghilangkan rasa kemanusiaanmu Luna?

Gadis itu mengemasi semua pakaian miliknya yang tertata rapi didalam lemari, memasukkannya satu persatu ke dalam tas. Tidak ada alasan lagi dia untuk menetap ditempat ini setelah ketahuan.

Andai aku bisa menahan diri untuk tidak perduli, gajiku. Aahhh… 80 juta.

Gaji yang seminggu lagi akan dia terima, lenyap seperti butiran debu tersapu semilir angin malam. Luna meneteng tasnya keluar dari pintu kamar, dia mematung dengan mata yang takut, mengelilingi sekeliling bangunan dan tanah kosong yang senyap dan sunyi seperti rumah kosong yang berhantu. Belum lagi suara guntur sesekali menggetarkan bumi.

Luna punya trauma tentang guntur dalam kegelapan, dia takut hingga dalam langkahnya, tubuh gadis itu bergetar hebat.

Sebenarnya, dia ingin tidur dimansion lalu pergi sebelum matahari terbit. Tapi, sepertinya sekertaris mengerikan itu tidak akan membiarkannya. Luna menyibak rambutnnya yang bergelombang kebelakang.

Apa aku meminta Elova menjemputku. Oh tidak, gadis itu akan membuat keributan jika aku memanggilnya.

Pada akhirnya Luna memutuskan berjalan melewati halaman yang luasnya berhektar-hektar agar bisa keluar dari sana. Kemana rasa berani Luna tempo hari yang menggebu-gebu, menerobos gelapnya malam dan derasnya hujan demi menyelamatkan pria asing yang bahkan sampai detik ini Luna tidak tau.

Luna berjalan menuju gerabang utama, melewati halaman yang begitu luas. Untungnya cahaya balon sebesar bola basket masih menyala disepanjang taman.

Sunyi sekali, apa ada kendaraan umum yang lewat di area sini?

Langit semakin pekat, tidak ada sinar bulan bahkan bintang-bintang menjauh dari peredaran. Angin terus saja bertiup seolah menegaskan pada Luna sebentar lagi akan turun hujan.

Ouh Tuhan, seluas apa rumah ini. Kenapa pagar didepan sangat jauh.

.

.

DUARRRRR!!!

“Akhhh…” Luna menjerit histeris tepat sesaat suara gemuruh menggelegar di langit yang gelap, Suaranya menggetarkan bumi. “Bunda… bunda Rosa hiksss… Luna takut bunda. Tolong” Gumam gadis itu sembari menjongkok, menutup kedua telinganya begitu kencang.

Tes!

Tes!

Tes!

Hujan turun begitu derasnya, Briana Luna mengigil kedinginan. Dia masih berjongkok memeluk dirinya sendiri ditengah halaman kediaaman Scott Nevalion, kedua netranya mulai sayu meraba kegelapan tanpa ujung. Perut sisi kanan bagian bawahnya mulai sakit, mungkin karena gadis itu belum memakan apapun sedari pagi.

Bukan Briana Luna jika dia menyerah, buktinya sampai detik ini dia masih bertahan meski terombang-ambing ditengah lautan kehidupan. Luna mencoba berdiri, tidak menyerah sama sekali meski rasa sakit luar menjalar di bagian perutnya.

“Ahkkk.”

Walaupun nyaris terjatuh, Luna tidak mengeluh hanya karena rasa sakit. Phobianya yang buruk terhadap gemuruh tidak pernah sembuh, mungkin karena ras asakit, dingin, takut menjadi satu membuatnya lupa

Aku hanya perlu melewati gerbang itu, lalu pergi dari rumah ini.

Brak!!!

Luna jatuh tersungkur diatas tanah dengan genangan air tidak jauh dari gerbang utama. Dia memegangi perut bawah bagian kanan sambil mencoba bangun. Namun, Luna kehilangan keseimbangan. Tanah dan langit seolah bergerak, tas yang ia jinjing akhirnya terjatuh, Kesadaran Luna perlahan hilang.

Ketika semua yang ada didiepn Luna berubah menjadi bintang-bintang, tiba-tiba tubuh Luna terjatuh di lengan seseorang, terjatuh tepat dalam pelukannya.

Luna masih berusaha mengambil kesadarannya saat tubuhnya digendong oleh seorang pria, berlari menuju mansion yang susah payah ia tinggalkan. Luna separuh dengan kesadaran, menarik kerah baju pria yang menggendongnya hingga wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.

“Siapa kau yang berani kurang ajar padaku? Turunkan aku…!!!” Lirih Luna dalam keadaan lemah. Pria itu tak menjawab, ia menepis tangan Luna lalu kembali berdiri dengan tegap dihadapan sekertarisnya.

“Panggil Leon! Obati gadis itu.” Titah Scott tanpa menatap wajah pucat Luna yang terpejam.

“Pakaiannya basah, apa tidak sebaiknya diganti dulu?” Mata Scott jadi membesar dan dia langsung memutar badannya ke arah sekertaris Don, selanjutnya menatap gaun putih Luna yang transparan.

“Don putar badanmu!”

“Maaf.. ?”

“Berbalik Don!”

Sekertaris Don hanya menurut, dia memutar badannya kearah pintu. Sedangkan Scott langsung meraih mantel miliknya yang kebetulan ada diatas meja, menutupi badan Luna.

“Bagaimana menggantinya, tidak ada pelayan wanita dirumah ini selain dia?”

Sekertaris Don, hendak memutar badannya namun dengan cepat Scott menendang kakinya membuat pria itu sedikit meringis. “Siapa yang menyuruhmu berbalik?” Sepertinya memiliki kaki panjang tidak buruk.

“Saya hanya…”

“Scott.. Scott!!! Apa yang terluka, dimana, kapan, apa ada pendarahan hebat? Siapa yang melakukannya?” Teriakan Leon menyeruak kesegala sisi mansion membauat kedua pria bermata elang itu menoleh kearahnya. Dia Leon Felixion, seorang dokter disalah satu rumah sakit milik tuan Nevalion. Selama ini, Leon menjadi dokter panggilan hanya untuk merawat Scott.

“Dimana? Apa kakimu?” Leon seperti seorang maniak, menyentuh, memutar, memeriksa seluruh tubuh Scott. Leon yang ingin menyibak kemejanya langsung ditahan oleh Scott.

“Bakan saya tapi…” Dia menoleh pada Luna yang terbaring diatas Sofa. “Gadis itu.” Sambungnya pelan

Leon menoleh pada Don sebelum mendekati gadis Luna. “Kenapa dia?”

“Kau dokter seharusnya tau dia kenapa.” Kata Scott tajam.

“Kau tidak memukulnya sampai pingsan?”

“Saya akan melakukannya padamu jika sekali lagi kamu bertanya, saya akan membuatmu tidak bisa bertanya lagi.” Kata Scott kesal.

Leon yang gugup berusaha terlihat tenang, bagaimanapun pendiamnya Scott dia akan sangat menyeramkan jika sedang kesal. Leon menempelkan stetoskop didada Luna, sedangkan tangan lainnya menyentuh nadi Luna yang lemah. “Apa dia sudah makan?” Tatapannya mengarah pada Don.

“Tidak tau.” Kemudian menoleh pada Scott yang menggeleng.

“Saya hanya melihat dia menekan perut sisi kanan bagian bawah.”

Sesaat Leon terdiam, retina matanya menajam saat punggung tangannya menyentuh jidat Luna yang panas. “Apa dia mual? Muntah?”

“Saya tidak tau.”

“Apa pola makannya bagus? Kalian memberinya makan kan?” Leon terlihat panik, tepas setelah jemari pria itu menyentuh perut kanan bagian bawah Luna..

“Khmmm…” Gadis itu meringis bahkan saat tidak sadarkan diri.

“Gadis itu kenapa? Apa penyakitnya cukup fatal?” Scott mendekat, dia cukup khawatir dengan alasan yang tidak jelas.

“Kita bawa dia kerumah sakit, dia harus di oprasi.”

Deg!!!

Deg!!!

Deg!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!