18

Gemuruh tiba-tiba menggelegar pada pukul tiga pagi. Luna yang terbangun setelah tidak sadar ketiduran di ruang keluarga, terkejut dan langsung membuka matanya. Dia takut gemuruh, dia takut kegelapan. Ketakutannya yang besar akan semua itu membuat jantungnya berdebar. tubuhnya menjadi pucat, dia kedinginan.

Kilatan cahaya dari langit dari langit yang gagah membuatnya meraba-raba. Seluruh lampu tiba-tiba padam, atau sengaja dipadamkan oleh tuan muda. Luna terjatuh diatas lantai dan nyaris menangis, dia berusaha menahannya dengan keras.

Hanya saja, tiba-tiba kilatan cahaya kembali menggagahi, sosok pria yang tiba-tiba menjongkok didepannya membuat mata Luna terbuka lebar. Dia bisa melihat bola mata indah didepannya sedang menatap dengan teduh.

Scott Nevalion yang masih mengenakan kemeja putih yang tipis, celana katun hitam yang sesuai porsi tubuhnya dan rambut yang basah menjutai menutupi sebagian jidatnya. Dia mengulurkan tangannya didepan Luna.

“Tuaan…?”

“Tidak apa, saya disini bersamamu.”

Scott menuntun Luna untuk kembali tidur diatas sofa. “Tidurlah kembali…”

“Tapi, anda…”

“Saya akan menunggumu disini.”

Luna mengangguk kecil, membaringkan tubuhnya diatas sofa hitam pekat yang dingin. Dia tidak langsung tertidur, sesaat menatap wajah Scott yang tengah duduk dengan keangkuhan diatas sofa. Entah mengapa, tapi rasa takutnya mendadak luntur

“Anda tidak tidur?”

“Saya tidak bisa tidur saat malam hari.”

“Sejak kapan?”

“Sudah sangat lama.”

“Hmm..” Luna hanya membalas dengan suara deheman yang lembut seiring dengan nafanya yang mulai berhembus dengan teratur, hanya beberapa hitungan detik matanya terpejam. Luna tertidur begitu damai, rambut panjangnya yang indah menjutai nyaris menyentuh lantai.

Scott Nevalion meninggalkan kursinya, berjalan dengan hati-hati dengan kaki telanjang mendekati Luna pelan-pelan. Perlahan dia membuka satu persatu kanci kemejanya yang tipis lalu melepasnya.

Kata orang, Scott Nevalion adalah seorang monster yang buas, kejam, berdarah dingin, dia sombong tak ingin disentuh oleh siapapun nyatanya memiliki hati begitu lembut. . Dia pria yang dikatakan cacat fisik dan mental nyatanya memiliki kettampan nyaris sempurnah,

Scott yang katanya tidak memiliki hati itu melepas kemejanya lalu memasangkan pada tubuh Luna yang meringkik. Dia menyingkirkan anak rambut Luna yang menutupi sebagian wajahnya. Diantara gelap dan hanya ditemani cahaya kilat, Scott perlahan bersimpuh ke atas lantai. Dia tidak pernah duduk diatas lantai untuk siapapun, tapi malam ini dia melakukan disebelah Luna yang tengah berbaring.

Scott terpesona, dia terdiam dalam waktu yang lama saat matanya tak dapat dialihkan dari wajah cantik Briana Luna yang sungguh berhasil membuat dunianya terguncang.

“Kenapa masih memilih untuk tinggal, sedangkan kau sendiri takut dengan kegelapan Nona?”

Ketika waktu terus bergerak untuk menenggelamkan, Scott menyentuh dahi Luna yang terlela0 dengan ujing jemari telunjuknya. Tangannya menyentuh dengan ragu , bergerak pelan , turun dari dahi, melewati hidung dan berakhir dibibir Luna yang cantik. Gadis itu terlihat nyeyak dan tenang, Scott merasakan napasnya pelan ditempatnya besimpuh.

.

.

.

Hujan belum juga redah sejak semalam, angin berhembus cukup kencang hingga beberapa dahan pepohonan tumbang di halaman kediaman tuan muda Scott. Sekertaris Don keluar dari mobil dengan payung hitam di tangan kiri, melangkah memasuki mansion yang terlihat cukup berantakan karena badai semalam.

Bukan cahaya atau kucauan burung yang membangunkan Luna, namun sebuah nafas lembut begitu teratur menggelitik wajahnya. Luna mengerutkan dahi dalam tidurnya, perlahan matanya terbuka dengan ringan. Di terpaku ketika melihat tuan muda tengah bersimpuh diatas masih dalam keadaan terlelap. Dan lebih terkejudnya lagi, pria itu menggenggam jemarinya dengan hangat. Otaknya memproses apa sebenarnya yang terjadi

Bukn hanya Luna, sekertaris Don yang baru saja masuk dibuat sangat khawatir, bahkan sebuah paperback yang ada digenggamanya terlepas begitu saja. Dia mendekat dengan sedikit terburu-buru.

“Kenapa dengan tuan muda? Apa dia sakit?” Guratan wajah sekertaris begitu sangat khawatir.

“Tidak, dia hanya tertidur.”

“Tidur?” Don bertanya.

“Iya, Tuan Muda tidur. Kenapa kau sangat terkejut.”

Bagaimana sekertaris Don tidak terkejut. Faktanya, Tuan Muda yang tidak pernah sekalipun tertidur disaat malam hari menjelang pagi kini terelalap diatas lantai yang dingin.

“Apa yang kau berikan padanya?”

“Hey, sekertaris Don.” Luna sontak mengigit bibir bagian bawahnya, menoleh kearah Scott, memastikan dia tidak mengganggu tidur pria itu, saat suaranya mulai melengking. “Dari pertanyaanmu, seolah aku adalah orang jahat. Tuan Muda hanya tertidur, apa itu sesuatu yang sangat fatal?”

“…”

“Dari pada kau berdiri disitu dan melontarkan pertanyaan aneh, lebih baik kau membantuku melepas genggaman ini!” Luna menyorot tangannya yang masih digenggam erat oleh Scott.

Untuk sesaat Sekertaris Don terdiam sampai pada akhirnya dia mengheelai napasnya yang semepat tertekan lalu berucap. “Tetap seperti itu… Sampai Tuan Muda bangun.”

“Apa? Hey, tanganku keram… dan aku harus menyiapkan sarapan.”

“Jangan bergerak, kau bisa menganggu tidur Tuan Muda.”

“Tapi aku harus…”

Sekertaris Don berlalu tanpa mendengarkan ucapan Luna yang terus meneriakinya dengan suara begitu minim. Sejauh langkanya meninggalkan Tuan Muda bersama Luna, Don tersenyum tipis.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!