Suasana menjadi sedikit tegang, Agus hanya diam dan menyimak saja.
Sejujurnya, jika dinilai dari segi finansial dan ekonomi, yang paling unggul adalah Nibiru, gaji yang yang sesuai UMR itu bisa dia atur dengan baik bahkan sampai punya tabungan sendiri padahal harus membiayai sekolah Devi dan kebutuhan rumah.
Berbeda jauh dengan Devi yang hidupnya Hedon, boros dan tidak pikir panjang kalau mau keluarkan uang. Tapi apa gunanya kalau uang banyak tapi gak tahu merawat diri dan menikmati hidup, lebih baik Agus memilih Devi yang memang butuh modal besar tapi memberikannya kenikmatan daripada Nibiru yang pelit, bodoh, kampungan dan terlalu polos.
"Pokoknya kamu pikir sendiri gimana cari biayanya, Mama gak mau ambil pusing!" Tegas Nyonya Widia.
"Gak mau!" Pekik Devi dengan tatapan tajam menatap keduanya.
Dia sangat egois, " kalau kalian gak mau bantu, Devi akan bunuh diri!" Ancam perempuan itu sambil menatap ayah dan ibunya dengan nyalang.
" Loh Dev, jangan ngomong gitu, gak baik!" Tegur Agus sambil menarik tangan Devi dan memeluknya.
"Jangan memikirkan hal bodoh seperti itu Dev! Nibiru memang membawa petaka, setiap ada hal yang berhubungan dengannya, pasti akan jadi masalah!" Kesal Agus.
Dia menatap nyonya Widia dan tuan Robin," Om, Tan untuk masalah acara dan resepsi, serahkan pada Agus, kalian hanya perlu menyumbang sekitar 10 persen saja dari total acara, jangan khawatir, Agus akan siapkan acara yang layak untuk Devi! Dan lagi, minta pada saudara Devi untuk memberikan sumbangsih mereka dalam pernikahan adik mereka, itu baru etikanya punya saudara!" Tegas Agus yang memilih mengambil semua tanggungjawab.
" Kak... Kakak beneran mau lakukan itu!?" Tangis Devi pecah, dia menatap Agus dengan mata berbinar-binar.
" Iya sayang, kakak ini orang berada, kakak bisa memberimu segala yang kamu mau, Ingat kan siapa kakak, dan setelah menikahi kakak, kamu gak akan hidup melarat, bahkan bekerja pun kamu nggak perlu!" Ucap Agus dengan sombongnya.
"Baiklah, kami tunggu, untuk masalah lamaran akan diatur oleh saya, dan biayanya akan pakai dana saya," tegas tuan Robin.
"Loh pa kok gitu, kan Agus sudah bilang dia yang mendanai," ucap nyonya Widia.
"Ma.. mau taruh di mana muka papa di depan calon besan!? Bisa dihina habis papa kalau menyiapkan lamaran saja harus pakai uang pihak pria, nggak boleh! Pokoknya lamarannya harus papa yang siapkan!" Tegas Tuan Robin.
"Baiklah, terserah Papa, tapi Mama gak ada uang!" Ucap wanita itu dengan wajah ditekuk bak ujung teluk!
Sementara itu, Bumi yang kini berada di kamar Nibiru terdiam dengan mulut menganga menatap ke arah luar di mana pintu terbuka. Dia terkejut bukan main mendengar semua percakapan yang sangat di luar nalar galaksi itu.
"Nibi... Seburuk ini!?" Ucapnya tak percaya, dia sampai mengusap kasar wajahnya setelah mendengar fitnah, tuduhan, ejekan bahkan pembelaan kedua orangtua Nibiru yang tak masuk di akal.
"Kamu sudah dengar kan!? Menyedihkan bukan,?" Ucap Daisy sambil tertawa remeh.
Gadis itu tengah merapikan barangnya, dia berniat pindah hari ini, sudah tidak betah rasanya dia tinggal di kediaman yang penuh dengan kepalsuan itu.
"Jadi..." Nibiru menatap Bumi dengan tatapan datar.
"Kamu masih ada niat buat menikahi sampah yang tidak diperlukan ini?" Tanyanya dengan nada merendahkan diri sendiri.
Bumi segera berdiri, dia menatap tegas ke arah Nibiru," jangan mengatai dirimu seperti itu!"
"Kamu bukan sampah, mereka yang sampah Nibiru!" Ucap Bumi.
"Kalau aku bukan sampah, kenapa aku diperlakukan bagai sampah Bumi? Aku punya orangtua tapi rasanya lebih seperti tinggal dengan ibu dan ayah tiri, apa aku anak kandung mereka!?" lirih Nibiru.Wajahnya terlihat begitu sendu, menggambarkan suasana hatinya yang mendung hari ini.
"Rasanya aneh sekali, kehadiran ku bahkan tidak dianggap, tapi kamu lihat tadi, Hanya karena aku tidak pulang semalam padahal sudah jelas ku beritahu, aku ditampar dan dicap sebagai perempuan nakal!" Ucapnya sambil menahan rasa sesak yang teramat sakit di dadanya.
Dia menangis, ya... Dia kembali menangis. Rasanya sangat sakit, sudah bertahun-tahun dia mencoba bertahan, tapi sepertinya Nibiru tidak akan sanggup lagi jika terus melanjutkan hidup bersama keluarga Subroto.
Terkadang dia berpikir apa dia ini anak pungut, tapi pernah sekali dia merasa curiga, dia melakukan tes DNA dengan ayah dan ibunya, hasilnya dia adalah anak kandung.
Tapi mengapa anak kandung diperlakukan bagai kacung tak dianggap, dan kadang kala lebih seperti anak tiri!
Rasanya dada Bumi sesak melihat perempuan itu menangis, haruskah dia sudahi sandiwaranya dan mengatakan dirinya siapa pada dunia?
Tapi Bumi tidak akan mengambil tindakan impulsif itu, apalagi dua kacung di depan adalah karyawan di perusahaan yang dia pimpin.
Takdir memang aneh, kebetulan sekali Devi dan Agus adalah karyawan yang bekerja di grup Sekala, jadi Bumi bisa membalas mereka dengan cara yang tak terlupakan.
"Nibiru kamu boleh marah, atau pukul aku saja untuk melepaskan rasa sakitnya, tapi tolong jangan menangis, kau membuatku ingin menangis juga!" Ucapnya sambil mengusap air mata Nibiru dengan lembut. Dia paling tidak bisa melihat perempuan menangis.
"Hahahahha.... Kamu ini aneh!" Nibiru tertawa meski terasa hambar, tapi dia berusaha menghibur dirinya sendiri.
"Aku serius, nih pukul aku, ayo kamu bisa, rasa sakit kamu bagi ke aku, ayo!" Ucap Bumi sambil menunjuk dadanya .
Nibiru menatapnya serius dia memang butuh samsak tinju," beneran?" Tanya Nibiru.
Bumi mengangguk dengan polosnya," benar, silahkan pukul aku!" Ucap Bumi.
Nibiru menatapnya tak yakin, tapi dia sangat ingin marah dan memukuli sesuatu saat ini juga.
"Pukulanku keras loh, aku latihan boxing soalnya, kamu tetap yakin!?" Tanya Nibiru.
Bumi sekali lagi mengangguk tanpa tahu sesakit apa pukulan gadis itu.
" Baiklah, kamu yang minta, aku tidak akan segan!" Ucap Nibiru.
Dengan penuh kekuatan dia mengepalkan tangan kanannya, lalu ditariknya nafasnya dalam-dalam dan diayunkannya tangan kanannya ke arah dada Bumi dan...
Bughh!!!
Uhuk!!
"Arkhhh.... Uhuk... Uhuk!! Ni-nibiru... Tenagamu benar-benar gi-gila!!" Bumi terhuyung ke belakang dengan rasa panas yang membekas di dada atas.
"Eh... Bu-Bumi!!" Dengan panik Nibiru mencoba menarik pria itu tapi sialnya, tubuh Bumi berat, akhirnya keduanya jatuh ke atas kasur dalam posisi Nibiru di atas tubuh kekar pria itu.
"arrkhhhh.... sakit juga Nib!" Ucap Bumi dengan wajah semerah tomat kukus.
"Prrffft..... Hahahahahahaha..." Tawa Nibiru lepas, gadis itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah menahan sakit pria itu, dia segera berdiri dan membantu Bumi bangkit juga.
" Hahaha... Kamu sih sok nantangin aku, kerasa kan sakitnya hahahah... Tenaga kamu kayak babon gila, kuat banget Nibi... Gila ya, kamu tuh latihan boxing atau angkat barbel, ngeri kamu mah!" Celetuk Bumi yang masih mengusap-usap dadanya karena sakit dan nyeri yang menusuk dari kepalan tangan Nibiru.
"Hehehehe, kamu sih nantangin,.maaf ya hahahah..." balasnya sambil nyengir kuda, tapi masih tampak cantik di mata Bumi.
Tanpa mereka ketahui, dari luar kamar, Devi mendengar percakapan mereka yang terdengar begitu bahagia.
" Sial... Kok dia masih bahagia sih!? Aku kan udah ambil semuanya, pacar nya, ayah, ibu dan bahkan rumah ini juga, tapi kenapa dia masih bisa ketawa!? Aku gak mau, pokoknya kak Nibiru harus hidup menderita!" Tekadnya sudah bulat untuk membuat Nibiru menderitanya.
Tapi satu yang dia tidak ketahui adalah, dia telah memilih target yang salah, karena pawang Nibiru adalah seorang Bumi yang tahu segalanya.
"Coba saja membuat Nibiru menangis lagi, baik kau maupun ikan teri kepala helm itu akan habis di tanganku!" Batin Bumi yang mengetahui keberadaan Devi di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Naila Sakielaputri
ko berduan di kamar
2024-09-11
0
Ainisha_Shanti
Devi ni sakit jiwa ke apa?
2024-08-12
0