1
Cerita Ayu.
Pagi itu, sudah terdengar suara Kokok ayam. Dan suara memanggilku dari luar. Ternyata itu Efi. Aku kaget, karena janjinya kita ketemu di gerbang sekolah, sekalian aku mau lihat-lihat bakal sekolah baruku. Dia bilang, karena aku tidak kunjung datang, dia akhirnya memutuskan untuk menyusul ke rumah.
Saat itu cuaca terlihat cerah, dan matahari sudah cukup tinggi di atas gunung Semeru. Jadi aku kira saat itu jam sudah lebih dari pukul lima pagi.
Aku menyuruh Efi menunggu di teras, setelah itu aku ke sungai sekedar untuk mencuci muka.
Aku bergegas ganti baju, dan berangkat lah kita jalan-jalan pagi.
Sudah dari kemarin tujuan kita mau kemana, jadi kita langsung kearah barat.
Di depan masjid AL-Barokah kami belok kiri menuju arah kelurahan. Dan di depan kelurahan, tepatnya pas di bawah pohon beringin kembar. Tiba-tiba suasana menjadi gelap, seolah saat itu kembali malam.
Efi yang memimpin jalan, dia biasa saja seolah tidak menyadari hal itu. Karena dia tenang-tenang saja, jadi aku tidak kawatir.
Baru beberapa meter belok ke kiri, kabut mulai turun dan suasana tambah gelap. Efi masih lanjut jalan. Tak jauh dari situ, seperti yang aku ceritakan sebelumnya. Ada beberapa pohon bambu yang tumbang, bukan tumbang sih. Tepatnya bambu itu melengkung dari akarnya -tidak patah- dan menghalangi jalan.
“Kita merangkak saja Yu.” Kata Efi. “Kalau kita melangkahinya, di kawatirkan tiba-tiba pohon bambu itu tiba-tiba berdiri tegak lagi.”
Dan seperti yang aku ceritakan tadi, bagaimana aku harus merangkak. Celana panjangku di injak sama sapi, atau apalah namanya.
Saat itu pulalah, aku melihat Efi hanya menatapku saja tanpa ada niatan untuk menolongku. Lantas, setelah itu dia melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan diriku.
Setelah berhasil berdiri, aku pun berlari mengejar Efi. Akan tetapi, walaupun aku merasa sudah berlari cukup kencang, akan tetapi langkahku.. aku seperti berlari ditempat.
Aku berteriak memanggil Efi, meminta tolong. Tapi sia-sia, Efi atau siapapun, tidak ada satu orang pun yang datang.
Semakin aku berusaha lari, langkahku semakin berat. Semakin aku berusaha melawan apapun itu, apapun namanya itu seolah semakin kuat menahanku ditempat. Hingga akhirnya aku ingat salah satu Do’a pengusir setan. Aku pun melantunkannya keras-keras.
“AUDZUBILLAHH HIMINAS SYAITON NIROJIM!!!!” belum sempat aku selesai melantunkan Do’a itu, tiba-tiba kekuatan atau apalah itu. Dia melepaskan akun. Karena sedari tadi aku berlari di tempat, dan kekuatan yang menahanku tadi seketika itu melepaskanku, aku pun terjatuh tersungkur.
Aku pusing, karena kepalaku terbentur batu jalanan. Saat aku berdiri, alangkah kagetnya aku karena Efi yang meninggalkanku. Sekarang dia sudah berdiri di depanku. Dan seplah-olah tidak terjai apa-apa dia berkata. “Kamu lamban sekali sih, ayo cepetan” dan dia pun kembali berlari meninggalkan aku.
Aku mencoba mengejarnya sambil memanggil dirinya, tapi dia tidak menghiraukan aku sama sekali.
Dia berlari begitu cepat, sehingga aku tidak berhasil mengejarnya. Hingga pas di tikungan berikutnya dia sudah hilang sama sekali dari pandanganku.
Hingga di jalan yang di samping tanggul, aku melihat Efi, dia berada disisi lain sungai dari tempat aku berdiri. Aku tidak tahu bagai mana bisa dia sudah berada di seberang sungai, padahal jarak sungai kan cukup lebar. Sekitar 20 meteran, dan tidak ada jembatan untuk sampai kesana.
Dia melambai padaku dan menunjuk ke salah satu tempat di tepian sungai. Dan disana aku melihat sebuah jalan menuju bawah. “Lompat dari batu ke batu, di sini ada jalan menuju atas.” Dan dia menunjuk ke arah yang dia maksud.
Entah apa yang salah pada diriku, aku menuruti perintahnya tanpa berpikir sama sekali. Dan singkat cerita, aku sudah berada di sisi lain sungai. Saat aku sadar, Efi sudah menghilang.
Saat aku melihat sekeliling tanggul, aku ternyata sudah berada di tengah sawah. Walau pun aku masih baru disini, kerena aku tingal di sebelah sawah juga. Aku jadi hapal betul area sana.
Karena aku kehilangan arah Efi kemana dia pergi, aku berinisiatif untuk pulang. Anehnya, walaupun aku mengenal betul jalanan di sawah itu. Aku sama sekali tidak menemukan jalan keluar, aku berputar-putar diasana hingga beberapa jam.
2
“Dan saat adzan subuh berkumandang, akhinya aku menemukan jalan yang menuju kerumah.” Cerita Ayu panjang lebar. “Kamu jadi mengerti kan, Yon? Alasan kenapa aku marah sama Efi?”
Aku diam mencerna kata demi kata dalam cerita Ayu barusan. Aneh, dia bilang Efi menjemput dia saat suasana sudah mulai terang. Itu berarti, jam sudah lebih dari jam subuh.
Dan dia bilang, saat melewati ringin kembar. Suasana tiba-tiba saja gelap, seolah-olah hari menjadi malam lagi.
Kenapa bisa Efi menjemput Ayu saat suasana sudah cerah, dan kenapa tiba-tiba saja suasana kembali gelap, seolah waktu kembali malam, dan dia berputar-putar di tengah sawah padahal dia sangat menghapal daerah sana.
Jawabannya sudah aku ketahui, misteri ini sudah terpecahkan. Jawabannya adalah. Arwah Efa dan arwah Sapi Penasaran, mereka kembali meneror. Korban pertama adalah bapaknya Udin, kedua adalah aku sendiri, dan yang terbaru korbanya adalah Ayu.
“Ok, aku mengerti alasanmu.” Jawabku akhirny. “Tapi Yu, mengenai ceritamu barusan ada hal yang perlu kamu ketahui terlebih dahulu. Nanti, kamu akan menemukan jawabannya sendiri. Dan aku berharap kamu bisa mengambil keputusan dari ceritaku yang akan aku ceritakan kepadamu.”
Aku memberi tahu bahwa Efi punya kaka kembar bernama Efa. Kisah sapi penasarn yang aku alami. Dan aku meminta sumpahnya sekali lagi untuk merahasiakan kisah yang aku alami. Dan fakta kalau Efi punya kaka kembar. Dia percaya kisahku, karena dia mengalami kejadian yang hampir mirip dengan yang aku alami. Dan dia berjanji untuk merahasiakannya. Dan dia juga berjanji akan meminta maaf kepada Efi karena telah menampar pipinya.
Dan yang pasti. Case close. Detektif-detektifannya berakir sampai disini.
3
Dua minggu setelah kejadian itu, kampung kembali tenang. Ayu dan Pak Ponijan ke rumah Efi hari itu juga untuk meminta maaf. Pak Rawi awalnya mau melabrak keluarga Ayu, tapi niat itu dia urungkan karena Ayu punya niat untuk meminta maaf. Tapi, Niatan Pak Ponijan untuk meminjam pendopo kelurahan untuk kegiatan jaranan di cabut sebagai hukuman. Dan Pak Ponijan pun memakluminya.
Hari demi hari terlewati dengan damai, terlihat juga Bogel sekarang lebih banyak mencari perhatian Ayu ketimbang Efi. Sepertinya hati Bogel telah berpaling dari Efi ke Ayu. ‘dasar cinta monyet’ pikirku.
Efi dan Ayu menjadi lebih akrab. Dan Bogel berhasil mencuri hati Ayu. Mereka pacaran.
Astaga masih SD juga sudah pacaran, sang penulis kalah gaes. Heheee. Dah lah, balik ke cerita.
Aku lupa sama sekali belum cerita tentang dimana rumah Bogel dan Dika. Setelah semua kedamaian ini dan ketentraman ini. Akan ada sebuah tragedi yang sangat memilukan yang akan membuka ingatan masa kecilku yang sedikit terlupakan. Kejadian tersebut tidak didekat rumah mereka berdua.
Namun tragedi itu membuka suatu Kisah lama.
Ya, Kisah yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang sisa hidupku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments