1
Sudah beberapa hari setelah aku melihat Efi lagi hujan-hujanan tengah malam, tidak ada kejadian penampakan lagi yang aku alami, sehingga aku berpikir kalau teror horor yang aku alami sudah selesai.
Aku menjalani kehidupan dengan lebih rileks dan mencoba untuk melupakan semua kejadian-kejadian aneh yang aku alami beberapa hari terakhir.
Saat ini sudah sore hari, sekitar waktu Maghrib, dan di luar ada orang jualan gula-kacang. Gula-kacang jajanan khas Jawa terbuat dari gula merah yang di cairkan dengan cara dipanaskan, saat sebelum dingin baru di tambah dengan kacang tanah kupas, lalu di biarkan dingin sampai mengeras. Mirip permen kalau jaman sekarang.
Karena merasa masa hukumanku sudah selesai, aku pun meminta uang jajan ke bapak, untuk beli gula-kacang tadi.
“Pak minta uang jajan, buat beli gula-kacang. Mumpung orangnya berhenti di depan rumah.” Aku berbicara ke bapak yang kebetulan saat itu dia libur ronda. Kalau dia ada jadwal ronda, mulai siang sampai malam dia tidur terus.
“Bapak belum gajian Yon.” Jawab bapak.
“Tapi sudah satu mingguan ini aku sudah ga di kasih uang jajan.!” Protes ku.
“Kalau ga ada ya ga ada.”
Aku pun ngerengek terus menerus sampai bapak hilang kesabarannya. “Kalo masih ngeyel aja. Tambah tak pukul kamu ya. Dibilangin ga ada kok ga ngerti saja. Ini ‘jembut’ pake saja buat beli jajan.” Jembut. Nama jawanya bulu kemaluan. Orang tua memang suka ngomong begitu kalau sudah naik pitam saat di mintai uang.
Selesai bicara begitu, lantas bapak masuk ke dalam kamarnya dan mulai tidur. Mungkin untuk meredakan amarahnya.
Karena merasa di anak tiri kan, aku duduk di tengah pintu depan. Sambil meratapi nasib ini. Aku mulai menangis.hehee pikiranku pun melayang ga tentu arah. Betapa, malang nasibku, setelah di tinggal babu. Eh, lho.
Oh andaikan aku anak orang kaya, pasti hidupku lebih baik. Lebih indah. Lebih bahagia. Oh andaikan aku anaknya pak lurah. Pak camat. Pak walikota. Pak gubernur. Oh andaikan saja. Oh andaikan saja. Pasti mau apa-apa langsung di turuti tanpa banyak cingcong. Sat set ga pakai drama drama segala. Oh andaikan sajaaaa.. Halah. Lanjut cerita nya. Hehee
Nex
Lama sekitar satu jam aku melamun di sana, tiba-tiba dari arah barat ada seekor ayam. Dia berjalan menuju ke arah timur. Ayamnya kecil. Mirip ayam Kate. Tapi bentuknya aneh. Ayam itu kaku, ga ada kakinya, kalo jalan loncat-loncat. Sesekali ayamnya matuk-matuk tanah. Seolah makan sesuatu.
Karena penasaran, aku lantas menuju ayam tersebut. Dan saat dari dekat, terlihat jelas bentuk ayam tersebut. Ayam tersebut bukan ayam sungguhan, tapi celengan tembikar berbentuk ayam.
Penasaran lah, kok ada celengan lompat-lompat berjalan menyusuri jalan setapak. Matuk-matuk tanah. Karena itu aku coba mengejarnya, semakin di kejar, semakin dia jauh. Aneh, kok ga kekejar-kejar juga, padahal aku jalan juga lumayan cepat. Ayam itu lanju terus berjalan, belok kanan kiri, berhenti dan mematuk-matuk. Aku sendiri tidak sadar kemana aku pergi, karena terlalu fokus mengejar ayam tersebut.
Dan akhirnya ayam tersebut berhenti di rimbunan pohon pisang, ntah dimana itu. Pokoknya aku coba kejar terus. Karena Ayam itu berhenti, aku mencoba untuk menangkapnya. Aku berjalan sepelan mungkin. Tapi sialnya, pas kurang beberapa meter saja, kakiku terantuk batu atau apalah aku sendiri juga kurang tahu.
Aku terjatuh, tersungkur, jekangkangan. Kepalaku terbentur sesuatu yang cukup empuk. Syukurlah. Sakit sih, sakit. Tapi begitu aku berdiri, aku baru tersadar kalau aku kehilangan jejak ayam itu. Dan aku juga tersadar kalau aku di tempat asing.
Astaga. Pikirku. Aku dimana ini.? Mana ayam itu? Kok menghilang. Aku masih mencoba mencari-cari ayam tersebut. Tanpa memperdulikan aku berada di mana.
Ada jalan di sebelah rimbunan pohon pisang tadi. Dan aku menyusuri nya, cukup jauh aku berjalan sehingga terlihat di depan ada suatu gundukan tinggi. Gelap kan gaes, jadi aku tidak bisa melihatnya terlalu jelas. Aku terus kearah sana, ternyata itu bendungan. Tapi bukan bendungan kali Lanang, tapi bendungan ke dua. Tempat di temukannya tubuh Efa. Kakak Efi. Tentang kejadian itu, aku masih tidak tahu menahu. Karena tidak ada yang bercerita tentang kisah kakaknya Efi itu.
2
Di atas bendungan ada pohon Kamboja di sudut tempat aku berada. Dan ku lihat di sana ada siluet sesosok tubuh, seukuran anak-anak. Seumuran ku.
Dia memakai baju serba putih, aku jadi teringat sama Efi yang hujan-hujanan tengah malam beberapa hari yang lalu. Aku berjalan lebih mendekat lagi. Dari tempatku berada, terdengar suara isak tangis dari arah siluet tersebut. Suaranya pelan, tapi menyayat hati.
“KRAK!!.” Sialan, aku menginjak ranting. Dan saat itu juga, sosok itu menoleh ke arahku. Bagaikan di sambar petir di siang bolong, eh di tengah malam. Aku ga percaya pada penglihatan ku. Sosok itu adalah Efi.
Aku berlari ke arah dia dan berteriak memanggilnya. “Ef, ngapain kamu disini jam segini.?”
Dia tidak menyahut ku, dan hanya menangis saja.
Saat aku sudah di sampingnya, aku bertanya lagi. “Ngapain kamu disini.? Jam berapa ini, ayok pulang. Aku antar.”
Dia masih diam, menangis. Cukup lama kami berdiri di sana berdua. Pikiranku melayang layang. Ngapain anak ini disini sendirian.? Menunggu siapa.? Sama siapa.? Pertanyaan itu silih berganti di kepalaku.
Tiba-tiba dia memegang tangan ku. Aku kaget, tangannya sedingin es. Aku tatap matanya. Matanya sembab karena menangis. Dan dia menunjuk ke arah sunga di bawah tanggul. Aku pun menoleh ke arah tersebut.
Di antara dua batu besar di bawah sana, ada sosok tersangkut di sela batu-batu itu. Tanpa pikir panjang aku pun langsung turun ke sana. Karena ada jalan ke bawah dari atas tanggul.
Aku melompat di atas beberapa batu di sunga untuk sampai di mana tubuh itu tersangkut.
“Tolooongg.” Sosok itu berkata sangat lirih. “Tolong aku.”
"Iya, sabar." Jawabku.
Sesampainya di sana, aku mencoba meraih tangannya dan berhasil dalam satu tarikan. Dalam satu tarikan itu aku mengangkat dia berdiri. Tapi alangkah terkejutnya aku melihat wajahnya, wajahnya pecah sebelah. Matanya copot satu, mulutnya sobek dan menganga lebar. Tapi walaupun begitu aku tetap saja mengenali wajah itu. Itu wajah Efi.
Gemetaran seluruh tubuhku melihat wajahnya, suaraku hilang. Kakiku lemas. Dan aku berusaha sangat keras untuk berpaling dari wajah Efi itu. Sangat lama aku tertegun melihat wajahnya, sampai akhirnya aku bisa menoleh-hanya menoleh- ke arah Efi yang ada di atas tanggul. Dia sudah tidak ada.
“Tolongg. Sakit sekali kepalaku.” Suara Efi membuyarkan lamunanku. “Mana ibuku, biasanya dia selalu kesini untuk melihatku dan membelai ku.”
“Aaahhh.” Aku berkat lirih.
“Tolong. Mana ibuku. Mana. Mana. MANAAAAAAAAA.!!!!????” Tiba-tiba dia berteriak kencang. Suaranya sangat mengerikan. Saat itu pula lah aku tersadar kalau itu bukan Efi. Itu setan yang menyerupai Efi.
3
Tanpa sadar aku berlari secepat mungkin dari sana. Mana jalan pulang aku tidak tahu. Pokoknya aku terus berlari.
“MANA IBUKU.!!!!” Efi masih mengejar ku!. Ku toleh sesaat kebelakang. Hiii dia melayang di udara, terbang.!! Matanya yang tinggal satu itu menyala merah menatapku.
Ada persimpangan di depan. Aku pilih ke arah kanan. Karena mengingat tanggul ke dua itu di arah timur rumahku. Jadi rumahku pastinya berada di sebelah kiri.
“MANAA.!!!!!!” Setan, Efi atau siapapun dia. Dia masih mengejar ku.
Di depan ada gundukan lagi. Aku menambah kecepatan lari ku. Saat sampai di gundukan itu. Itu tenyata tanggul ke dua.! Aku balik lagi ke tanggul.! Astaga.! Kulihat setan Efi itu semakin mendekat. Dan tanpa pikir panjang aku langsung berlari lagi. Kudengar dia masih berteriak hal yang sama berulang kali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
/Toasted//Toasted//Toasted//Toasted/
2024-11-28
4