Glundung Pringis

1

Karena bapak mengantar ibuku ke rumah saudaranya yang lagi sakit di kota Blitar, aku, Erni dan mas Andri sepakat untuk menginap di rumah Mbah Di. Rumah beliau seperti yang aku ceritakan sebelumnya, bertempat di desa Tebo Selatan. Jarak ke sekolah tergolong lebih dekat, daripada jarak rumahku sendiri ke sekolah. Lebih enak, lebih praktis kan? Ga takut kesiangan. Hehee

Rumahnya bergaya Belanda, dengan banyak sekali jendela-jendela, beratap tinggi, berdinding beton sangat tebal layaknya rumah-rumah peninggalan Belanda pada umumnya dan berlantai dua. Halaman rumahnya cukup luas, dan cukup untuk bermain sepak bola. Kata bapak, Mas Andri dan aku dilahirkan disana, sebelum akhirnya bapak membeli tanah dan membangun rumah sendiri di desa Mulyorejo.

Rumah itu menghadap ke utara, kanan rumah ada sawah yang tembus ke Ba’an dekat rumah Ayu. Kiri ada bentangan sawah yang luas, dan seberang rumah atau depan rumahnya ada hutan lebat. Jalan depan rumah tadi, kalau di telusuri, arahnya ke timur disana ada turunan cukup curam, lanjut lagi dan sampai ke kuburan umum desa Tebo Selatan.

Mas Andri mengajakku jalan-jalan menuju ke arah kuburan itu, kuburan itu berada di pinggir jalan. Akan tetapi kanan, kiri, dan belakangnya ada hutan belantara. Karenanya, walau pun saat itu masih siang, suasana disana sangat gelap. Kami lanjut ke arah timur, ada turunan lagi, dan di dapati disana ada proyek pembangunan yang baru saja dimulai.

“Oh, ini? Nantinya disini akan di bangun pondok pesantren.” Jawab seorang warga saat di tanya oleh Mas Andri. Dia mengobrol sangat lama dengan orang itu.

Di tengah obrolan itu, Erni adikku. Dia menyusul kami sendirian.’ Berani betul dia jalan sendrian’ kataku dalam hati. Dan kami pun bermain bersama. Mas Andri melihat kami yang mulai bermain memasuki hutan, dia lantas mengajak kami pulang.

Saat kami sampai di rumah kulihat Mbah Di sedang duduk di teras rumah, di temani secangkir kopi hitam. “Wah, dari mana cucu-cucuk kesayanganku ini?” kata dia saat melihat kami pulang.

“Dari arah kuburan, Mbah.” Jawab mas Andri. “Ternyata di sebelahnya lagi ada pembangunan pondok pesantren.” Dan mereka mengobrol kan banyak hal.

2

Malam harinya, aku dan Mbah Di duduk-duduk di teras atas yang menghadap ke arah sawah. Mas Andri sedang mengambil baju bersih di rumah sama Mbah Ti. Dan saat itu Mbah Di mulai menceritakan kisah-kisah jaman penjajahan, dari masa Belanda hingga Jepang.

Katanya, di sawah sebelah barat dulu itu tempat pembantaian para pejuang, dan kiai-kiai yang mengumandangkan kemerdekaan tanah air kala itu. Hingga cerita bagaimana beliau mendapatkan rumah tersebut.

Mbah Di tinggal berdua dengan Mbah Ti, karena bapak, seperti yang aku ceritakan sebelumnya. Memutuskan membeli tanah dan membangun rumah sendiri.

“Dulu, pas Belanda masih menguasai daerah sini. Rumah ini di miliki oleh keluarga Jansen.” Mbah Di memulai ceritanya. “Hingga masa masuknya pasukan Jepang, pemilik rumah ini, beserta keluarganya terbunuh saat terjadi perebutan kekuasaan.

Dikarenakan rumah ini pernah menjadi saksi bisu terjadinya pembunuhan, rumah ini di anggap angker oleh orang-orang sini. Tapi aku tidak takut sama hal-hal semacam itu, sehingga aku putuskan mewarisinya.”

“Kamu pernah lihat pemilik sebelumnya Mbah.?” Tanyaku .

“Bukan pernah lihat saja, aku malah kenal dengan salah satu dari keluarga Jansen. Dia bernama Mark Jansen. Walaupun dia keturunan Belanda, tapi orangnya baik, suka membela kaum pribumi. Sehingga dia banyak di sukai warga sekitar sini. Dia punya anak gadis, kalau tidak salah namanya Selly atau Serlly. Aku lupa.

Anak itu juga menjadi korban kekejaman tentara Jepang. Anak yang malang, dia seumuran kamu saat itu.

Tapi, setelah Jepang kalah perang sama pasukan sekutu, mereka satu-persatu kembali ke negaranya. Yah walaupun ada pula yang masih tinggal di Nusantara ini.”

“Tinggal di Indonesia.?”

“Iya nak, setelah Jepang kalah perang. Indonesian mengumandangkan kemerdekaan, tapi Belanda tidak terima itu. Mereka kembali ke Tanah air, dan berusaha menjajah lagi.

Beberapa tentara Jepang yang kala itu membelot ke Indonesia, mereka membantu menghalau upaya penjajahan sekali lagi dari Belanda.

Dan perang hebat pun tidak terhidarkan, terutama di Surabaya.”

“Hoo. Terus keluarga Jansen yang lain, saat ini masih ada?”

“Tidak seorangpun yang selamat dari tragedi pembantaian. Mereka terbunuh di rumah ini. Karena itu rumah ini di anggap angker.”

“Mbah sendiri pernah di tampakin setan.?” Tanyaku .

“Sering, tapi kerena tidak mengganggu. Jadi aku biasa saja.”

“Ga takut.?”

“Kita sebagai manusia, derajat kita lebih tinggi daripada setan dan sebangsanya. Dan kita punya tuhan, Allah SWT yang senantiasa menjaga kita dari godaan setan.”

“Aku sering di tampakin setan Mbah, mau ga takut gimana? Wong wajahnya nyeremin gitu.”

“Ahahahaa, kalau hati kamu yakin Allah melindungimu, setan pasti bakalan pikir-pikir mau menggoda kamu. Jangan takut, dan yakinlah bahwa kamu tidak sendiri.”

“Siap!”

Dari tempat kami duduk nongkrong, terlihat seseorang berjalan malam-malam di tengah sawah. Kami memperhatikan sosok itu, terlihat kalau dia seorang wanita. Dia membawa bajong, atau tas punggung terbuat dari anyaman bambu.

Di tengah perjalanan, pas di bawah pohon kelapa, dia membungkuk seolah mengambil sesuatu dan memasukannya ke dalam bajong itu. Akan tetapi, tak lama setelah dia berjalan beberapa meter, dia seolah tersentak kaget, melihat isi bajongnya, lalu melemparnya. Lalu dia berlari ke arah rumah Mbah Di.

3

Ternyata, sosok tadi adalah Mbah Ti, istri Mbah Di. Alias nenekku.

Dia berlari ke arah kami sambil berteriak, wajahnya pucat pasi, keringat bercucuran, dan sekujur tubuhnya gemetaran hebat.

“Ada apa teriak-teriak?” tanya Mbah Di.

“Ada setan.!” Jawab Mbah Ti.

“Walah, tak kira ada apa.” Jawab Mbah Di enteng. “Kan sudah sering lihat gituan, masa masih takut juga.?”

“Tentu saja takut, mana bisa jadi biasa karena terbiasa melihat hal yang luar biasa.”

“Bisa saja kalau kamu menanggapi hal itu biasa-biasa saja.”

Wadah, ini bertengkar apa ngelawak sih?

“Mana bisa terbiasa karena terbiasa, itu bukan hal yang biasa.”

Karena bisa bosan mendengar pertengkaran yang luar biasa gara-gara hal biasa tapi juga luar biasa. Aku pun pamit istirahat duluan. Bisa-bisa aku tidak bisa kerasan di rumah yang lain dari pada rumah yang biasa ini.

4

Saat aku membuka mataku, Elly duduk di dekat kakiku. Dia tersenyum ramah seperti biasanya, dia memberi isyarat agar aku mengikuti dia. Tanpa pikir panjang aku pun menurutinya. Ini mimpi, tapi seolah tidak terasa kalau ini Cuma mimpi.

Saat keluar kamar, didapati ada sebuah lorong panjang membentang. Di ujung lorong ada sebuah pintu, Elly menuju kesana dan melambai supaya aku mengikuti langkahnya.

Sisi kiri lorong hanya jejeran jendela yang menghadap hamparan luas sawah, sedangkan kiri, ada beberapa pintu, di samping kedua sisi pintu di pasang lampu templek. Lampu itu menyala temaram sehingga membuat suasan di lorong itu bagaikan jalan menuju dunia lain.

Pintu sudah dekat, dan ternyta Elly sudah menutup pintu saat dia memasukinya. Aku membukanya.

Ternyata pintu itu menuju sebuah kamar kecil yang di setiap dindingnya dihiasi wallpaper berwarnah merah dominasi emas. Kamar itu di terangi oleh lilin di meja sudut ruangan. Kasur kecil dengan empat tiang menempel di dinding seberang pintu. Elly duduk di atasnya.

Elly, membuka sebuah album foto. Membukanya halaman demi halaman. Aku menghampiri dia, dan dia pun menunjukan sebuah foto keluarga. Dua orang dewasa laki-laki dan perempuan, dan dua anak kecil perempuan. Jari Elly menutupi salah satu wajah foto anak itu, dan yang satunya bisa aku lihat. Itu adalah Elly, tapi dia terlihat lebih dewasa.

“Keluargaku.” Dia bicara kepadaku sambil tersenyum, tetapi sesaat kemudian dia menangis. “Aku merindukan mereka, tapi mereka sudah hilang entah kemana. Sekarang yang aku miliki hanya dirimu. Tapi, akhir-akhir ini kamu juga semakin menjauh dari aku. Apakah kamu juga akan menghilang seperti mereka?”

“Tidak, aku akan terus menemanimu.” Jawabku.

“Berjanjilah.”

Aku mengangguk.

Dan mimpi pun berakhir.

5

Saat bangun hri sudah cukup cerah, Mbah Ti sudah menyiapkan sarapan dan Mbah Di sudah berangkat jalan pagi rutinnya.

Setelah mandi lalu sarapan, aku berangkat sekolah. Saat keluar rumah, Mas Andri baru pulang.

“Lho, kemarin jaga tah?” tanyaku.

“Iya, Pak Santoso ga mau jaga. Dia masih trauma sama pocong kemarin lusa.”

“Kan aku sudah cerita ke mas Andri, kalau itu Cuma salah paham saja.”

“Aku lupa, jadi aku belum cerita ke dia.”

“Woalah, ya wes. Aku berangkat sekolah dulu. Assalamuallaikum.”

“Waalaikumsallam, hati-hati.”

Di sekolah, tidak ada hal yang menarik, pelajaran, istirahat, main bola di lapangan, melihat Bogel pacaran sama Ayu, dan pulang.

Karena aku masih menginap di rumah Mbah Di, aku langsung menuju timur. Karena beda dari biasanya, Udin bertanya karena penasaran.

“Mau kemana Yon?” Tanya Udin.

“Mau kerumah Mbah ku Din.” Jawabku. “Aku menginap disana sampai bapak ibuk pulang dari blitar.”

“Oohh. Nanti kumpul di sungai kayak biasanya ya.”

“Ok, sip.”

Sesampainya di rumah, kulihat Mbah Di dan Mbah Ti masih berdebat tentang kemarin. Tetapi begitu melihatku datang, mereka menghentikan perdebatannya.

Karena penasaran dengan kejadian yang di alami Mbah Ti, aku pun menanyakan hal tersebut. Seperti aku memanggil ibuku, aku memanggil Mbah TI dengan sebutan ‘emak’.

“Kemarin ada apa sih Mak? Kok tengah malam teriak-teriak?”

“Ga ada apa-apa kok nak.”

“Aku dengar sendiri kok, emak bilang ada penampakan setan. Lagian kan minta tolong Mas Andri antar pulang sebentar gitu. Malah lewat sawah sendirian.”

“Awalnya sih, Nak Andri mengantar aku, tapi sampai seberang sungai di Ba’an saja. Yah, karena aku pikir sudah dekat rumah jadi aman-aman saja, eh ga tau nya malah ada penampakan.”

“Penampakan apa?”

“Glundung Pringis.....”

Lha?

Episodes
1 Sapi Penasaran
2 Setan Kemamang
3 Itu Efi Bukan?
4 Itu Efi Bukan? 2
5 Itu Efi Bukan? 3
6 Tindihan
7 Ke kota
8 Kesurupan
9 Kesurupan. 2
10 Pramuka
11 Cerita Horor Di Perkemahan
12 Cerita Horor Di Perkemahan. 2
13 Efa Dan Sapi Penasaran Kembali Meneror. 1
14 Efa Dan Sapi Penasaran Kembali Meneror. 2
15 Glundung Pringis
16 Glundung Pringis. 2
17 Legenda Kereta Kencana
18 Tragedi
19 Bogel Menghilang
20 Bogel Menghilang. 2
21 Cerita Horor Di Perkemahan II. 1
22 Cerita Horor Di Perkemahan II. 2
23 Cerita Horor Di Perkemahan II. 3
24 Cerita Horor Di Perkemahan II. 4.a
25 Cerita Horor Di Perkemahan II. 4.b
26 Bogel Muncul!!
27 Bogel Sakti!!
28 Pulang
29 Rahasia Bogel
30 Kitab Iblis
31 Klimaks Cerita?
32 Ini Bukan Klimaks Cerita!!
33 Masih Lanjut Kok Ceritanya
34 Setan Wanita Berkebaya Merah
35 Sosok Misterius
36 Memoar
37 Teror Ghendruwo
38 Babat Alas
39 Teror Ghendruwo Lagi
40 Setan Bar-Bar
41 Setan Bar-Bar. 2
42 Cerita Horor Di Malam Syahdu. Sentong Tengah
43 Cerita Horor Di Malam Syahdu. Babi Ngepet
44 Cerita Horor Di Malam Syahdu. Pepekan
45 Cerita Horor Di Malam Syahdu. Tuyul Nyusu
46 Cerita Horor Di Malam Syahdu. Tuyul Nyusu 2
47 Cerita Horor Di Malam Syahdu. Elly
48 Cerita Horor Di Malam Syahdu. Elly 2
49 Ritual Jailangkung
50 Kuntilanak. 1
51 Kuntilanak. 2
52 Kuntilanak. 3
53 Kuntilanak. 4
54 Kuntilanak. 5
55 Mati?
56 Kuntilanak. 6
57 Kuntilanak. 7
58 Kuntilanak. 8
59 Kuntilanak. 9
60 Iler Kuntilanak
61 Sapi Penasaran Reborn
62 Kuntilanak Nangis
63 Santet
64 Santet. 2
65 Kejadian Di Luar Nurul eh Na, naral. Eh anu. Mboh wes sak karep.
66 Ghendruwo
67 Hantu Rumah Belanda
68 Siluman Kucing
69 Kuntilanak Return
70 Riyono Di Culik Kuntilanak
71 Akhir Dari Sang Kuntilanak
72 Maling Katok
73 Desas-desus Pocong
74 Pocong Apa Pocong?
75 Tuh Kan, Ada Pocong Beneran
76 Wat Gawat
77 Keranda Mayat Bergoyang
78 Kuntilanak Merah
79 Teror Pocong
80 Salah Lihat?
81 Efi Kenapa?
82 Efi Kenapa? 2 (Time Skip)
83 Duet Pocong Darmadi Dan Jayadi
84 Pagebluk
85 Pagebluk. 2
86 Pagebluk. 3
87 Pagebluk. 4
88 Time Skip
89 Rumah Itu, TEERKUUTTUUKK!!
90 Rumah Itu TEERKUUTTUUKK. 2
91 Legenda Kampung Ba'an
92 Makam Keluarga
93 Tragedi Di Kampung Ba'an
94 Dukun Santet
95 Salam Terakhir Dari Angga
96 Setan Dukun Santet Meneror. 1
97 Setan Dukun Santet Meneror. 2
98 Setan Dukun Santet Meneror. 3
99 Setan Dukun Santet Meneror. 4
100 Sleep Walker Alias Ngelindur
101 Jalan-Jalan Lagi Ke Kampung Ba'an
102 Makam Keramat
103 Teror Di Rumah Belanda. 1
104 Teror Di Rumah Belanda. 2
105 Teror Di Rumah Belanda. 3
106 Teror Di Rumah Belanda. 4
107 Teror Di Rumah Belanda. 5
108 Teror Di Rumah Belanda. 6
109 Rehat Bentar Horor-hororan nya
110 Poltergeist. 1
111 Poltergeist. 2
112 Kumpulan Kisah Horor. Dewi Lanjar
113 Kumpulan Kisah Horor. Setan 'Cuih'. 1
114 Kumpulan Kisah Horor. Setan 'Cuih'. 2
115 Kumpulan Kisah Horor. Misteri Hilangnya Naya
116 Kumpulan Kisah Horor. Misteri Hilangnya Naya. 2
117 Kumpulan Kisah Horor. Misteri Hilangnya Naya. 3
118 Darah Haid Pertama. 1
119 Darah Haid Pertama. 2
120 Darah Haid Pertama. 3
121 Darah Haid Pertama. 4
122 Darah Haid Pertama. 5
123 Darah Haid Pertama. 6
124 Darah Haid Pertama. 7
125 Darah Haid Pertama. 8
126 Darah Haid Pertama. 9
127 Kenyataan Yang Menyakitkan
128 Kutukan Berakhir
129 Salam Terakhir
Episodes

Updated 129 Episodes

1
Sapi Penasaran
2
Setan Kemamang
3
Itu Efi Bukan?
4
Itu Efi Bukan? 2
5
Itu Efi Bukan? 3
6
Tindihan
7
Ke kota
8
Kesurupan
9
Kesurupan. 2
10
Pramuka
11
Cerita Horor Di Perkemahan
12
Cerita Horor Di Perkemahan. 2
13
Efa Dan Sapi Penasaran Kembali Meneror. 1
14
Efa Dan Sapi Penasaran Kembali Meneror. 2
15
Glundung Pringis
16
Glundung Pringis. 2
17
Legenda Kereta Kencana
18
Tragedi
19
Bogel Menghilang
20
Bogel Menghilang. 2
21
Cerita Horor Di Perkemahan II. 1
22
Cerita Horor Di Perkemahan II. 2
23
Cerita Horor Di Perkemahan II. 3
24
Cerita Horor Di Perkemahan II. 4.a
25
Cerita Horor Di Perkemahan II. 4.b
26
Bogel Muncul!!
27
Bogel Sakti!!
28
Pulang
29
Rahasia Bogel
30
Kitab Iblis
31
Klimaks Cerita?
32
Ini Bukan Klimaks Cerita!!
33
Masih Lanjut Kok Ceritanya
34
Setan Wanita Berkebaya Merah
35
Sosok Misterius
36
Memoar
37
Teror Ghendruwo
38
Babat Alas
39
Teror Ghendruwo Lagi
40
Setan Bar-Bar
41
Setan Bar-Bar. 2
42
Cerita Horor Di Malam Syahdu. Sentong Tengah
43
Cerita Horor Di Malam Syahdu. Babi Ngepet
44
Cerita Horor Di Malam Syahdu. Pepekan
45
Cerita Horor Di Malam Syahdu. Tuyul Nyusu
46
Cerita Horor Di Malam Syahdu. Tuyul Nyusu 2
47
Cerita Horor Di Malam Syahdu. Elly
48
Cerita Horor Di Malam Syahdu. Elly 2
49
Ritual Jailangkung
50
Kuntilanak. 1
51
Kuntilanak. 2
52
Kuntilanak. 3
53
Kuntilanak. 4
54
Kuntilanak. 5
55
Mati?
56
Kuntilanak. 6
57
Kuntilanak. 7
58
Kuntilanak. 8
59
Kuntilanak. 9
60
Iler Kuntilanak
61
Sapi Penasaran Reborn
62
Kuntilanak Nangis
63
Santet
64
Santet. 2
65
Kejadian Di Luar Nurul eh Na, naral. Eh anu. Mboh wes sak karep.
66
Ghendruwo
67
Hantu Rumah Belanda
68
Siluman Kucing
69
Kuntilanak Return
70
Riyono Di Culik Kuntilanak
71
Akhir Dari Sang Kuntilanak
72
Maling Katok
73
Desas-desus Pocong
74
Pocong Apa Pocong?
75
Tuh Kan, Ada Pocong Beneran
76
Wat Gawat
77
Keranda Mayat Bergoyang
78
Kuntilanak Merah
79
Teror Pocong
80
Salah Lihat?
81
Efi Kenapa?
82
Efi Kenapa? 2 (Time Skip)
83
Duet Pocong Darmadi Dan Jayadi
84
Pagebluk
85
Pagebluk. 2
86
Pagebluk. 3
87
Pagebluk. 4
88
Time Skip
89
Rumah Itu, TEERKUUTTUUKK!!
90
Rumah Itu TEERKUUTTUUKK. 2
91
Legenda Kampung Ba'an
92
Makam Keluarga
93
Tragedi Di Kampung Ba'an
94
Dukun Santet
95
Salam Terakhir Dari Angga
96
Setan Dukun Santet Meneror. 1
97
Setan Dukun Santet Meneror. 2
98
Setan Dukun Santet Meneror. 3
99
Setan Dukun Santet Meneror. 4
100
Sleep Walker Alias Ngelindur
101
Jalan-Jalan Lagi Ke Kampung Ba'an
102
Makam Keramat
103
Teror Di Rumah Belanda. 1
104
Teror Di Rumah Belanda. 2
105
Teror Di Rumah Belanda. 3
106
Teror Di Rumah Belanda. 4
107
Teror Di Rumah Belanda. 5
108
Teror Di Rumah Belanda. 6
109
Rehat Bentar Horor-hororan nya
110
Poltergeist. 1
111
Poltergeist. 2
112
Kumpulan Kisah Horor. Dewi Lanjar
113
Kumpulan Kisah Horor. Setan 'Cuih'. 1
114
Kumpulan Kisah Horor. Setan 'Cuih'. 2
115
Kumpulan Kisah Horor. Misteri Hilangnya Naya
116
Kumpulan Kisah Horor. Misteri Hilangnya Naya. 2
117
Kumpulan Kisah Horor. Misteri Hilangnya Naya. 3
118
Darah Haid Pertama. 1
119
Darah Haid Pertama. 2
120
Darah Haid Pertama. 3
121
Darah Haid Pertama. 4
122
Darah Haid Pertama. 5
123
Darah Haid Pertama. 6
124
Darah Haid Pertama. 7
125
Darah Haid Pertama. 8
126
Darah Haid Pertama. 9
127
Kenyataan Yang Menyakitkan
128
Kutukan Berakhir
129
Salam Terakhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!