1
Acara pemakaman selesai tepat habis isya, semua orang pulang satu demi satu. Ku lihat Bogel sedang duduk termenung di bangunan tempat menaruh penduso. Dia hanya diam saja saat Pak Bejo mengajaknya segera pulang.
Lampu petromax yang di pakai untuk penerangan saat menguburkan jenazah Ayu sudah di matikan untuk menghemat minyak. Kini pemakaman tersebut hanya di terangi oleh obor di depan gerbang dan obor yang di bawa oleh para pelayat.
Aku berniat menyapa Bogel, namun di cegah oleh Mbah Di. Alasannya, Bogel masih Syok atas tragedi yang terjadi di depan matanya. Padahal aku ingin bertanya tentang hal itu. Tetapi, karena alasan Mbah Di sangat masuk akal, aku pun mengurungkan niatku.
Karena bapak ibu belum pulang, aku masih menginap di rumah Mbah Di. Ntah sampai kapan aku menginap disana.
Jujur, aku memang merasakan kesedihan saat kematian Ayu. Akan tetepi, aku mengingat kesedihan yang lebih. Aku mengingat perasaan sedih itu, tapi aku tidak bisa mengingat sedih karena apa.
Efa. Tadi siang aku jelas-jelas melihat dia, berdiri di salah satu dahan, menatap Bogel dan Ayu secara bergantian.
Apa hubunganya Efa dengan kematian Ayu? Apakah arwah Efa menghantui mereka? Atau bahkan sampai membunuh salah satunya yaitu Ayu?
Tidak, itu tidak mungkin. Pasti ada penjelasan di balik semua ini. Dan yang pasti aku harus tahu apa penyebab kecelakaan tersebut. Atau memang itu benar-benar hanya sebuah kecelakaan saja. Saat semua kembali normal, aku akan bertanya kepada Bogel kronologinya.
Saat memikirkan semua itu, Erni masuk ke kamarku, seperti biasa. Tatapannya selalu sayu, dan masih berbicara sendiri. Walaupun agak aneh, aku tetap menyayangi dia, adik perempuanku satu-satunya.
Aku memeluknya, dan kembali menangis. Aku tidak bisa membayangkan kalau Erni yang berada di posisi Ayu. Membayangkannya saja membuat hatiku sesak dan sakit tak tertahankan. Aku tidak mau kehilangan Erni, tidak. Kupeluk dia lebih erat lagi.
“Mas riyon kenapa?” Tanya Erni.
“Tidak kenapa-napa.” Jawabku.
“Tapi mas Riyon menangis, apa ada yang jahat sama mas Riyon?”
“Tidak ada kok, teman-teman mas Riyon anaknya baik-baik.”
“Terus kenapa mas Riyon menangis?”
“Temanku ada yang meninggal...” Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Dan Erni pun tidak bertanya lebih jauh lagi. Aku tetap menangis.
Tiba-tiba aku teringat ibuku yang belum pulang aku merindukan dia, aku ingin menangis dalam pelukannya, aku ingin dia membelai rambutku. Saat ini, malam ini.
“Belum tidur?” tanya Mbah Di saat masuk kamar yang aku tempati. Saat dia melihatku menangis, dia langsung memelukku. Yah, walaupun bukan ibu. Setidaknya masih ada seseorang yang bisa membantu meringankan beban ini.
2
Elly menunjukan sebuah buku di salah satu laci meja di sudut kamar kecil itu.
“Apa ini?” Tanyaku.
“Buku harian, bacalah.” Dia secantik biasanya.
“Apaan ini? Tulisannya ga karu-karuan. Aku ga bisa membacanya.”
“Hihii, itu bahasa Belanda. Aku sudah membacanya, sekarang aku ingat, siapa aku, kenapa aku mati dan bagaimana. Dan alasan kenapa aku sangat rindu kepadamu pada saat-saat kita ketemu.”
“Bukan kah kemarin kamu menunjukan aku bagaimana kamu mati? Dan ngajakin aku ngerasain tenggelam juga.”
“Ah, maaf maaf. Memang benar aku mati tenggelam. Tapi ada alasannya kenapa aku tenggelam.”
“Kamu bohong kalau bisa berenang sama temanmu kan? Teru..ss..”
“Sudahlah, kamu baca aja itu. Nanti kamu akan tahu sendiri.” Dia memotong kata-kataku. Dan aku terbangun dari mimpiku.
3
Saat aku terbangun, ternyata saat itu masih tengah malam. Mbah Di terlelap di sampingku, Erni, dia tidak ada. Pintu kamar terbuka sedikit, dan ada seberkas cahaya masuk dari celah pintu.
“duk, duk, duk” ada suara seseorang berjalan di depan kamar. “Kriyeek-blam” sesaat kemudian suara pintu di buka dan di tutup.
Siapa juga tengah malam begini berkeliaran di dalam rumah. Maling kah? Mbah Ti kah? Atau bahkan Erni?. Pertanyaan itu silih berganti. Karena penasaran, aku memutuskan untuk memeriksanya.
Tanpa pikir panjang pun aku langsung keluar kamar, dan kudapati pintu kamar di ujung lorong tersebut sedikit terbuka. Ada seberkas cahaya dari sana, akan tetapi warna cahaya itu sedikit aneh, yaitu kuning sedikit kehijauan. Aku melangkah kesana.
Didalam kamar itu, lilin-lilin di meja sudut menyala, ternyata cahaya tersebut dari lilin itu. Di atas kasur, ada Erni sedang duduk manis sambil memegang sebuah buku. Buku itu terlihat sangat tua, di sampulnya terdapat tulisan ‘Het Dagboek Van Mark Jansen’.
Aku mengenal buku itu. Benar, buku di dalam mimpiku. Dan seketika itu pula aku mengingat semua mimpi tentang Elly.
3
Sekolahan sedang berkabung, terutama di kelasku, kelas Ayu. Walau Cuma sehari menjadi murid disana, tetap saja banyak yang merasakan kehilangan Ayu. Ayu yang malang.
Bogel tidak masuk sekolah, masih trauma mungkin. Nanti atau kapan lah aku tanya bagaimana kejadian kemarin.
Malamnya aku dan Mbah Di tahlilan di rumah Pak Ponijan. Banyak teman sekelas ikut datang, namun Bogel tidak terlihat.
Besoknya, hari berikutnya, dan berikutnya lagi sampai hari ke tujuh meninggalnya Ayu. Bogel sama sekali tidak terlihat. Angga dan Dika yang bertetangga dengan Bogel pun tidak bisa menjawab kenapa dia tidak terlihat seminggu ini.
Ok lah, sepulang sekolah nanti aku kerumahnya dia saja. Melihat sendiri bagaimana keadaan Bogel.
Hari ini pas hari ke tujuh, dan nanti akan ada tahlilan terakhir tujuh harian orang meninggal. Yah pas sekali sekalian mengajak Bogel untuk hadir mendoakan Ayu. Alasan tersebut tidak buruk kan?
“Keluarga Bogel hari ini akan pindah ke Ponorogo.” Kata Pak Nur membuyarkan lamunanku.
Hah? Ciyus, ni apa?
“Dia ikut Pak Ponijan kesana, untuk membantu usaha beliau. Mungkin keluarga Bogel merasa bersalah atas meninggalnya Ayu. Saat itu, Bogel sedang bermain dengan Ayu saat kejadian naas itu.”
“Lho, masa sih pak?” Tanya Efi. “Kok Bogel ga kabar-kabar ke kami kalau mau pindah.”
“Riyon, maaf. Mungkin ini akan sedikit menyinggung perasaanmu. Tapi, ini juga bisa menjawab pertanyaan Efi.”
“Iya, tidak apa-apa Pak.” Jawabku
“Bagaimana perasaan kamu saat kesurupan beberapa waktu lalu?”
Mak jleb rasanya gess pertanyaan itu. Tapi gapapa, “yang aku rasakan, aku tidak ingat apa-apa, selain ketakutan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Bayangkan saja. Setiap orang, siapapun itu, saat mengajak aku bicara. Wujud orang itu aku lihat adalah sesosok pocong. Coba di bayangin sendiri deh, bagaimana rasanya.”
“Saat ini, Bogel mengalami hal seperti itu.” Kata Pak Nur. “Siapapun dia, yang dia lihat dalah Ayu.”
“Bogel mau di bawa ke Ponorogo dalam keadaan seperti itu?”
“Ya,”
“Kenapa tidak di panggilkan orang yang menyembuhkan aku dulu?”
“Pak Ponijan punya alasan sendiri, dia berjanji akan menyembuhkan Bogel. Dan itu hanya bisa di lakukan beliau di Ponorogo.”
“Kalau begitu, aku minta ijin pulang lebih awal.” Kata Efi. “Aku ingin melihat dan mengantar Bogel.”
“Tidak.”
“Kenapa Pak, Bogel temanku.”
“Tidak kamu saja, kita semua kesana. Kita antar perjalanan Bogel, dan mendoakan dia agar cepat sembuh.”
4
Sesampainya di rumah Bogel, kami dikejutkan dengan sebuah kabar. Bogel Menghilang dari kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments