Luna terus memainkan serulingnya dengan penuh kelembutan, matanya terfokus pada gadis kecil bersayap yang duduk di tepi telaga Shen Hu.
Gadis itu tersenyum manis, matanya berbinar-binar seolah-olah menikmati setiap nada yang keluar dari seruling Luna. Namun, di balik ketenangan itu, Luna merasakan getaran aneh di dalam tanah, sebuah energi yang mulai berdenyut dari kedalaman bumi.
Tiba-tiba, getaran semakin kuat, menyebabkan air telaga beriak dan burung-burung yang tadinya tenang langsung terbang ketakutan.
Luna menghentikan melodi merdu serulingnya, menatap sekeliling dengan tatapan yang sangat waspada. Gadis kecil bersayap itu melayang di udara, ekspresi keceriaannya berubah menjadi ketakutan.
"Roh Gunung Shanling... dia datang," bisik gadis kecil itu dengan nada cemas, suaranya menggema di sekitar telaga.
Luna menoleh dengan cepat ke arah gadis itu. "Roh Gunung Shanling?" tanyanya, meskipun dalam hatinya dia sudah menduga apa yang akan terjadi.
Tak lama kemudian, tanah di dekat tepi telaga mulai retak dan bergemuruh. Dari retakan tersebut, muncul sosok besar berbatu yang tampak seolah-olah terbentuk dari batuan pegunungan itu sendiri. Roh Gunung Shanling menjulang tinggi, tubuhnya terbentuk dari bebatuan besar yang terlihat seperti monster golem raksasa, sementara mata merah menyala di tengah wajah batu yang kasar. Setiap gerakannya menyebabkan tanah berguncang, menunjukkan kekuatannya yang dahsyat.
"Manusia... siapa yang memberimu izin untuk memasuki wilayahku?" Suara Shanling terdengar dalam dan menggelegar, seperti gemuruh tanah longsor. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat tanah di sekitarnya bergetar.
Luna berdiri tegak, menatap Roh Gunung dengan penuh ketenangan meski dalam hati dia tahu betapa berbahayanya lawan yang dihadapinya ini. "Aku tidak datang untuk merusak ataupun mengganggu. Aku hanya ingin menikmati keindahan alam ini," jawabnya dengan suara yang tenang namun tegas.
Namun, Shanling tidak mendengarkan. "Tidak ada yang boleh melanggar batas ini, semua manusia hanyalah perusak dan suka menghancurkan alam!" teriaknya, sebelum mengangkat tangannya yang raksasa dan menurunkannya dengan kekuatan yang menggetarkan bumi, mengirimkan gelombang energi yang menghancurkan tanah di sekitar Luna.
Dengan cepat, Luna meraih gadis telaga dan melompat mundur, menghindari serangan itu dengan kelincahan yang luar biasa. Tanah tempat dia berdiri sebelumnya kini hancur, meninggalkan kawah yang dalam. Dia menyadari bahwa pertempuran tidak bisa dihindari.
Menyadari keseriusan situasinya, Luna mulai memfokuskan energinya, merasakan aliran Qi di dalam dirinya. Udara di sekitarnya mulai berubah, menjadi lebih dingin saat kekuatannya mengalir ke seluruh tubuhnya.
Shanling, melihat Luna mempersiapkan diri, mengerang marah. Dia mengangkat kedua tangannya ke langit, memanggil batu-batu besar dari tanah yang kemudian meluncur ke arah Luna dengan kecepatan mengerikan.
Luna segera mengayunkan serulingnya, yang seketika berubah menjadi pedang Yueliang. Dengan gerakan anggun namun penuh kekuatan, dia menebas batu-batu yang menghampirinya, memotong mereka menjadi serpihan kecil. Setiap tebasan pedangnya tidak hanya memotong batu, tetapi juga menebarkan suhu dingin yang membekukan serpihan batu itu di udara.
"Kakak, berhati-hatilah!" teriak gadis telaga itu melayang dengan kemampuannya.
Shanling terus menyerang, namun setiap kali dia meluncurkan batu atau menciptakan gempa, Luna dengan cekatan menghindar dan menangkisnya. Namun, meskipun ketangguhan dan kecepatan Luna, dia tahu bahwa pertarungan ini tidak bisa hanya dimenangkan dengan teknik dasar. Kekuatan Shanling terlalu besar, dan dia mulai merasakan kebutuhan untuk mengeluarkan seluruh potensinya.
"Roh Gunung, aku menghormati kekuatanmu, tapi aku tak bisa membiarkanmu menghancurkan kedamaian ini!" teriak Luna, suaranya tegas namun tetap tenang. "Aku adalah Ratu dari kerajaan Shang Yuan, dimana aku berada, aku akan menghukum siapapun yang berani menghancurkan alam!"
Dia kemudian mengambil langkah mundur, menutup matanya, dan memfokuskan seluruh energinya. Suhu di sekitar Luna tiba-tiba turun drastis, angin dingin mulai bertiup kencang, membawa serta es dan salju yang tiba-tiba tercipta oleh kemampuan besar milik Luna. Rambut hitam panjangnya perlahan berubah menjadi putih, mata hitam halusnya kini bersinar biru cerah, dan aura dingin yang kuat menyelimuti tubuhnya.
Ketika Luna membuka matanya, dia telah memasuki mode saljunya. Pedang Yueliang di tangannya bersinar dengan kilau es, dan ketika dia mengayunkannya, sebuah gelombang es yang besar meluncur ke arah Shanling. "Rasakan, amarah Bulan!"
Shanling mencoba menangkis serangan itu dengan lengan batunya, namun es yang diciptakan oleh Luna begitu dingin dan kuat sehingga lengan batu Shanling mulai retak dan hancur. Shanling mengerang marah, tetapi Luna tidak berhenti.
Dia terus menyerang dengan kekuatan saljunya, setiap tebasan pedangnya menciptakan badai salju yang menggulung Shanling, memaksa roh gunung itu mundur.
"Bagaimana seorang manusia bisa sekuat ini!" teriak Shanling.
Dalam puncak pertempuran, Luna mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan dengan suara yang penuh kekuatan, dia berseru, "Yueliang, tunjukkan wujud aslimu!" Pedangnya berubah menjadi seruling panjang berwarna putih yang dikelilingi oleh salju.
Luna mulai memainkan melodi yang memanggil badai salju yang sangat besar, begitu kuat hingga memadamkan semua suara kecuali desingan angin dan teriakan Shanling yang tertelan oleh kekuatan badai.
Dari tengah badai, muncul Roh Kaisar Naga Salju Yueliang, terbang mengelilingi Shanling dengan kecepatan yang menakutkan. Naga salju itu mengaum dengan dahsyat, dan dengan setiap teriakan, tubuh batu Shanling mulai membeku. Shanling berusaha melawan, namun kekuatan Yueliang terlalu besar.
"Bagaimana mungkin kaisar naga tunduk kepada seorang manusia!" teriak Shanling bergema.
Dengan serangan terakhir, Luna memainkan nada tinggi yang membuat badai semakin intens, membekukan Shanling hingga menjadi patung es yang tak bisa bergerak. Luna menatap Shanling dengan ekspresi penuh belas kasih. "Maafkan aku, tapi aku harus melindungi kedamaian tempat ini," bisiknya sebelum serulingnya kembali menjadi pedang.
Setelah Shanling benar-benar membeku, Luna menurunkan pedangnya. Badai salju perlahan mereda, udara kembali tenang, dan telaga Shen Hu kembali dipenuhi dengan kedamaian. Sosok Shanling yang besar kini menjadi patung es, berdiri kokoh di tepi telaga, seolah-olah menjadi penjaga abadi tempat itu.
"Aku menghukummu, dalam keabadian kristal."
Luna, yang telah kembali ke bentuk asalnya, menatap patung es Shanling dengan perasaan campur aduk. Dia menyadari betapa kuatnya kekuatan yang dia miliki, namun dia juga tahu bahwa kekuatan tersebut harus digunakan dengan bijaksana.
Gadis kecil bersayap yang sejak tadi menghilang, kini muncul kembali, menatap Luna dengan mata yang berkilauan. "Kakak telah melindungi telaga Shen Hu," ucapnya dengan suara lembut.
Luna hanya tersenyum lembut, mengangguk sebagai balasan. Dengan langkah perlahan, dia kembali menuju telaga, mengambil airnya yang jernih dan meminumnya, merasakan kedamaian yang kembali mengisi hatinya. "Dengan kekuatan ini, aku takut. Melukai siapapun.."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments