Saat Luna berjalan melewati gerbang Kerajaan Shang Yuan, sebuah struktur megah yang menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran rumit di permukaannya.
Pintu gerbang yang terbuat dari kayu kokoh itu perlahan terbuka, memperlihatkan jembatan batu yang membentang di atas sungai yang jernih.
Air sungai mengalir tenang di bawahnya, memantulkan kilauan matahari pagi yang membuat pemandangan semakin indah.
Di sepanjang jembatan, bunga-bunga berwarna-warni tumbuh subur, menambah keindahan alami tempat itu.
Penjaga gerbang yang mengenakan baju besi berkilauan menyambut Luna dengan hormat. Mereka membuka jalan dengan penuh penghormatan, mengetahui bahwa kedatangan Luna adalah sebuah kehormatan besar bagi mereka.
Luna melangkah masuk ke dalam kerajaan dengan anggun, setiap langkahnya membawa aura ketenangan yang menyebar ke sekelilingnya.
Saat Luna berjalan di sepanjang jalan-jalan kerajaan, penduduk keluar dari rumah-rumah mereka untuk menyambutnya.
Wajah mereka dipenuhi senyuman, mata mereka bersinar dengan kegembiraan. Anak-anak berlari mendekat, melambai-lambaikan tangan kecil mereka, berharap mendapat perhatian dari Luna.
Luna, dengan senyuman lembut yang selalu menghiasi wajahnya, menyapa setiap orang yang ditemuinya, memberikan sentuhan hangat yang membuat hati mereka terasa damai dan tenang. Kehadirannya membawa keceriaan dan ketenangan yang begitu dalam.
Setelah melewati jalan-jalan penuh dengan keramahan penduduk, Luna akhirnya tiba di kastilnya yang indah.
Kastil itu berdiri megah dengan dinding-dinding putih yang dihiasi oleh tanaman merambat hijau. Di sekeliling kastil, terdapat kolam-kolam yang dipenuhi oleh angsa-angsa putih yang berenang anggun di atas permukaan air.
Kolam-kolam itu dihiasi oleh bunga teratai yang bermekaran, menambah keindahan alam sekitar kastil.
Di tengah taman kastil, terdapat air mancur yang mengeluarkan suara gemericik air yang menenangkan.
Patung-patung marmer yang elegan berdiri di sekitar taman, menambah kesan megah dan artistik. Luna melangkah ke dalam taman, menghirup udara segar yang dipenuhi oleh aroma bunga-bunga yang harum.
Angsa-angsa di kolam berenang mendekat, seolah-olah menyambut kedatangannya.
Luna berdiri di tepi kolam, menatap keindahan sekitarnya dengan rasa syukur.
Tempat ini adalah simbol kedamaian dan keindahan, sebuah tempat di mana dia selalu merasa tenang dan damai.
"Aku ingin sekali semua orang merasakan hal yang sama sepertiku, tanpa memandang berbagai kasta, manusia tetaplah sama."
Luna tahu bahwa di sini, di Kerajaan Shang Yuan, dia menemukan rumah yang penuh cinta dan ketenangan, tempat di mana setiap orang yang berada di dekatnya dapat merasakan keindahan yang sama.
Kemudian. Seorang pelayan perempuan muda bernama Mei Ling mendekati Luna dengan langkah yang anggun, mengenakan pakaian tradisional berwarna merah muda dengan hiasan bordir bunga yang indah.
Di tangannya, ia membawa nampan perak yang berisi cangkir-cangkir porselen halus dan sebuah teko teh berornamen emas. Aroma harum teh yang segar menyebar di udara, menambah suasana damai di sekitar sana.
"Teh Yui Zheng, Nona Luna," kata Mei Ling dengan suara lembut, suaranya seiring dengan ketenangan taman yang mengelilingi mereka.
Dia menawarkan teh itu dengan penuh rasa hormat, menundukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda penghormatan.
Luna menatap Mei Ling dengan mata yang lembut dan penuh kasih sayang.
Senyum tipis terukir di bibirnya, membuat wajahnya semakin bercahaya. Dengan gerakan anggun, Luna mengangguk pelan, menyetujui tawaran teh hangat itu.
Anggukannya begitu indah dan penuh keanggunan, seperti anggukan seorang ratu yang bijaksana.
"Terima kasih Mei Ling, aku akan meminumnya," kata Luna dengan suara merdu yang selalu membawa ketenangan. Dia mengambil cangkir teh dari nampan dengan tangan halusnya, merasakan kehangatan yang menyebar dari porselen itu ke telapak tangannya.
Saat Luna membawa cangkir teh itu ke bibirnya, dia menutup matanya sejenak, menikmati aroma teh yang harum.
Ketika dia menyesapnya, rasa hangat dan segar dari Teh Yui Zheng memenuhi mulutnya, memberikan sensasi yang menenangkan. Luna membuka matanya kembali, menatap Mei Ling dengan rasa sayang meskipun seorang pelayan. "Mei Ling, setelah malam tiba kamu bagikan teh ini kesemua orang ya,"
"Teh ini akan membantu mereka setelah menghadapi letihnya dunia." imbuhnya halus, melebarkan senyuman yang paling manis.
Mei Ling, merasa bahagia karena bisa menyenangkan Luna, tersenyum lembut. "Baik, Nona."
Besok paginya, sebelum matahari terbit, Luna bangun dari tidurnya. Ruangan tidurnya masih remang-remang, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar di sisi ruangan.
Dengan langkah ringan, Luna mengenakan jubah panjang berwarna putih yang terbuat dari sutra lembut. Rambut hitamnya yang panjang tergerai bebas di punggungnya, memberikan kesan anggun dan penuh kedamaian.
Luna keluar dari kamarnya dan berjalan menyusuri koridor kastil yang panjang.
Koridor itu dihiasi dengan lampu-lampu minyak yang memberikan cahaya lembut, membuat bayangan Luna tampak melayang di dinding-dinding batu yang dingin. Langkahnya hampir tidak terdengar, seperti hembusan angin pagi yang lembut.
Di ujung koridor, Luna melihat seorang penjaga yang tengah berdiri tegak di posnya. Penjaga itu mengenakan baju besi yang berkilauan di bawah cahaya lampu, dengan ekspresi wajah yang tegas dan penuh tanggung jawab.
Luna menghampirinya dengan senyum lembut yang selalu membuat siapa pun merasa tenang.
"Selamat pagi, Yang Mulia," sapa penjaga itu dengan suara rendah namun penuh rasa hormat, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat.
Luna membalas dengan senyum penuh kelembutan. "Selamat pagi. Terima kasih atas dedikasimu menjaga kastil ini sepanjang malam," ucapnya dengan suara yang menenangkan.
Penjaga itu mengangguk, wajahnya tetap menunjukkan keseriusan. Namun, Luna bisa melihat kelelahan di matanya, tanda bahwa dia telah berjaga sepanjang malam tanpa istirahat.
"Sudah saatnya kamu beristirahat," kata Luna dengan penuh perhatian. "Istirahatlah sekarang, dan biarkan dirimu pulih."
Penjaga itu tampak terkejut dan sedikit ragu. "Tetapi, Yang Mulia, tugasku adalah menjaga keselamatan Anda dan kastil ini."
Luna mengangguk dengan penuh pengertian. "Aku menghargai dedikasimu. Namun, istirahat juga penting agar kamu bisa tetap kuat dan waspada. Istirahatlah dengan tenang, dan biarkan yang lain melanjutkan tugasmu untuk sementara."
Mendengar kata-kata penuh perhatian dari Luna, penjaga itu akhirnya mengangguk dan tersenyum tipis. "Terima kasih, Yang Mulia," katanya dengan rasa terima kasih yang tulus. Dia kemudian berjalan meninggalkan posnya, merasa lega dan bersyukur atas perhatian yang diberikan oleh Luna.
Luna menatapnya pergi, merasa puas karena telah memberikan perhatian yang dibutuhkan. Dia kemudian melanjutkan perjalanannya di sepanjang koridor, menantikan fajar yang sebentar lagi akan menyingsing.
Luna berjalan menuju ruang utama kastil, langkah-langkahnya menggema lembut di lantai marmer yang dingin.
Ruang utama itu luas dan megah, dihiasi dengan pilar-pilar tinggi dan jendela-jendela besar yang memancarkan cahaya pagi yang lembut.
Di dinding-dindingnya tergantung berbagai lukisan keluarga dan pemandangan alam yang indah, menceritakan sejarah panjang Kerajaan Shang Yuan.
Di salah satu dinding, terdapat sebuah lukisan besar yang menampilkan orang tua Luna. Mereka berdiri berdampingan, dengan senyum hangat yang menghiasi wajah mereka.
Lukisan itu adalah peninggalan yang sangat berharga bagi Luna, mengingatkannya pada kasih sayang dan kebijaksanaan yang selalu mereka berikan kepada Luna.
Luna memperhatikan bahwa lukisan itu sedikit miring. Dengan lembut, dia mengangkat tangannya untuk membenarkannya, sentuhan jarinya yang halus mengatur posisi bingkai kayu yang besar.
Ketika lukisan itu kembali tegak sempurna, Luna memandanginya sejenak, mengenang masa-masa indah bersama orang tuanya.
Sementara Luna masih tenggelam dalam pikirannya, seorang pelayan bernama Mei Ling mendekatinya dengan langkah ringan. Mei Ling, yang selalu siap melayani dengan penuh dedikasi, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat sebelum berbicara.
"Yang Mulia, apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu?" tanya Mei Ling dengan suara lembut.
Luna menoleh dan tersenyum lembut. "Mei Ling, aku ingin kamu menyebarkan berita penting nanti siang di depan kastil. Beritahukan kepada semua penduduk bahwa akan ada pengumuman penting."
Mei Ling mengangguk dengan penuh semangat. "Tentu, Yang Mulia. Saya akan memastikan semua orang tahu dan berkumpul tepat waktu."
Luna menatap Mei Ling dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Mei Ling."
Mei Ling tersenyum senang, merasa bangga bisa membantu Luna. Dia segera berbalik dan berjalan dengan cepat untuk melaksanakan perintahnya, memastikan bahwa berita penting tersebut akan disampaikan kepada semua orang di Kerajaan Shang Yuan.
Luna berdiri sejenak di ruang utama, memandang ke arah lukisan orang tuanya sekali lagi.
Dia menarik napas dalam-dalam, pikiran mengatakan bahwa hari ini Luna harus membuat keputusan penting untuk berkelana sendirian sebagai seorang Ratu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments