Pengorbanan dan Kesetiaan Penduduk Shang Yuan

Matahari baru saja terbenam ketika Mei Ling dan para bangsawan tiba di desa kecil yang terletak di pinggiran Kerajaan Shang Yuan.

Langit memerah, seolah-olah mencerminkan keprihatinan mereka terhadap kondisi penduduk yang sakit. Udara terasa berat, dihiasi oleh desah nafas lemah yang keluar dari rumah-rumah yang terlihat sangat sederhana, dan suara batuk yang terputus-putus.

Mei Ling seorang wanita yang dikenal dengan keteguhan dan keanggunannya, memimpin rombongan itu. Dia mengenakan jubah bangsawan berwarna biru laut dengan hiasan perak di pinggirannya, tetapi wajahnya dipenuhi dengan kecemasan yang dalam. Para bangsawan yang menyertainya mengenakan pakaian mewah, namun mereka tidak tampak seperti elit yang tidak peduli. Sebaliknya, ada kekhawatiran nyata yang tercermin di mata mereka. Mereka tahu betapa pentingnya melakukan pekerjaan ini dikerajaannya. Ini adalah perintah terakhir dari Ratu Luna sebelum ia berangkat dalam perjalanannya, dan mereka berupaya untuk melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya.

Setibanya di desa, mereka segera menuju rumah-rumah penduduk yang sakit. Setiap langkah mereka disambut dengan pandangan penuh harap dari penduduk yang masih sehat, yang berdiri di tepi jalan, menggenggam tangan anak-anak mereka yang menatap dengan mata besar dan penuh ketakutan. Mereka semua tahu bahwa penyakit ini bisa dengan mudah menyebar dan merenggut lebih banyak nyawa.

Mei Ling berhenti sejenak di tengah jalan desa, mengamati keadaan sekelilingnya. Di dekatnya, seorang wanita tua terbatuk pelan, tubuhnya yang kurus terbungkus dalam selimut tipis. Wanita itu menatap Mei Ling dengan mata yang dipenuhi dengan harapan, meskipun tubuhnya jelas sudah sangat lemah.

"Yang Mulia," kata wanita tua itu dengan suara yang serak, "Apakah Ratu Luna yang mengirimmu?"

Mei Ling berlutut di depan wanita itu, memegang tangannya dengan lembut. "Ya, Ibu. Beliau meminta kami untuk memastikan bahwa kalian semua mendapatkan perawatan yang diperlukan." Suara Mei Ling penuh dengan ketulusan, membuat air mata mengalir dari mata wanita tua itu.

"Terima kasih... Terima kasih banyak," ucapnya dengan lemah, namun penuh dengan rasa syukur.

Para bangsawan dari keluarga Wang dan Li mulai membagikan obat-obatan dan bahan makanan yang mereka bawa. Setiap botol obat yang mereka serahkan diiringi dengan kata-kata penghiburan dan dorongan, meskipun hati mereka sendiri dipenuhi dengan kekhawatiran. Mereka tahu bahwa ini adalah tugas yang berat, dan banyak dari mereka yang tidak pernah menghadapi kondisi seperti ini sebelumnya.

Di dalam salah satu rumah, Mei Ling mendapati seorang ibu muda yang terbaring lemah di tempat tidur, dikelilingi oleh tiga anak kecil. Ketiga anak itu tampak ketakutan, memegang tangan ibu mereka erat-erat. Mei Ling mendekat, menyentuh dahi ibu itu dan merasakan panas yang menyengat.

"Demamnya tinggi," bisik Mei Ling kepada salah satu bangsawan yang berdiri di dekatnya.

Bangsawan itu mengangguk dan dengan cepat menyerahkan sebotol ramuan penyembuh. "Minumkan ini padanya, dan berikan juga pada anak-anak. Kita tidak bisa membiarkan mereka jatuh sakit juga."

Mei Ling menerima botol itu, lalu menatap ibu muda yang terbaring di depannya. "Ibu harus meminum ini dan ibu harus kuat," kata Mei Ling dengan lembut, "Anak-anakmu membutuhkanmu. Ratu Luna selalu berkata padaku bahwa kekuatan seorang ibu adalah kekuatan yang paling luar biasa. Kami akan membantumu, tapi Ibu harus bertahan."

Ibu muda itu membuka matanya sedikit, air mata menetes di sudut matanya. "Terima kasih, Yang Mulia," katanya dengan suara yang hampir tak terdengar. "Aku akan berusaha... demi anak-anakku."

Mei Ling tersenyum lembut, memberikan ramuan itu kepada ibu muda tersebut. Dia melihat ketiga anak kecil itu dengan mata penuh kelembutan, menyentuh kepala mereka dengan kasih sayang. "Jaga ibu kalian baik-baik, ya. Dia membutuhkan kalian sekarang."

Anak-anak itu mengangguk patuh, meskipun ketakutan masih tampak di mata mereka. Mereka kemudian membantu ibu mereka minum ramuan itu, sementara Mei Ling berdiri kembali, merasakan beban tanggung jawab yang besar di pundaknya.

"Aku mengerti, mengapa Yang Mulia selalu memintaku melihat keadaan para penduduk," pikir Mei Ling sedikit merindukan Ratunya.

Sementara itu, di luar rumah, para bangsawan lainnya bekerja keras, membagikan bahan makanan dan obat-obatan kepada penduduk yang mengantri. Meski biasanya mereka terbiasa dengan kenyamanan dan kemewahan, malam ini mereka tidak ragu untuk menyingsingkan lengan baju mereka dan bekerja bahu-membahu dengan para penduduk yang sehat.

Bangsawan Wang, seorang pria yang terkenal dengan sifat angkuhnya, hari itu terlihat sangat berbeda. Dia bahkan tak ragu untuk memanggul karung berisi bahan makanan di pundaknya, mengantarkannya langsung ke rumah-rumah penduduk yang membutuhkan. Seorang penduduk yang melihatnya dengan heran berkata, "Tak kusangka, Yang Mulia, kau mau melakukan ini sendiri."

Bangsawan Wang menoleh dan tersenyum, meskipun peluh menetes dari dahinya. "Ini perintah Ratu Luna," katanya dengan tegas. "Dan lebih dari itu, ini adalah tanggung jawabku sebagai pemimpin bangsawan, aku tidak ingin mencemarkan nama Sang Ratu. Para bangsawan tak boleh menikmati kenyamanan sementara rakyatnya menderita, kecuali ingin menciptakan sejarah yang buruk."

Malam itu, desa kecil itu menjadi saksi dari kesetiaan dan pengorbanan yang luar biasa. Para bangsawan, yang biasanya dilihat sebagai elit yang terpisah dari rakyat biasa, menunjukkan bahwa mereka siap untuk berkorban demi kesejahteraan kerajaan.

Mei Ling, yang kelelahan namun puas dengan apa yang telah dilakukan, berjalan ke tengah desa, di mana sebuah patung kecil Ratu Luna berdiri, dikelilingi oleh bunga-bunga yang baru saja ditata oleh para penduduk sebagai tanda penghormatan. Dia menatap patung itu, merasakan kekosongan yang dalam di hatinya.

"Yang Mulia Luna," bisiknya pelan, "Aku harap, di mana pun Yang Mulia berada, Yang Mulia bisa melihat betapa besar cinta rakyat ini kepadamu. Kami akan menjaga mereka, seperti yang Nona perintahkan."

Di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, Mei Ling merasakan angin lembut yang seolah membawa pesan dari Ratu Luna. Meskipun jauh, kehadiran Luna masih terasa di setiap sudut kerajaan, dalam hati setiap rakyatnya yang merindukannya.

Malam itu, di tengah kegelapan, cahaya kesetiaan dan pengorbanan bersinar terang, menerangi jalan bagi masa depan yang lebih baik.

Episodes
1 Luna Shang Yuan (Arc 1: Seruling Perak Yueliang)
2 Teh Yui Zheng
3 Pendekar Pengembara Sunyi
4 Keputusan Sulit Sang Ratu
5 Serangan Di Hutan Jingu
6 Pertarungan Di Air Terjun Zhenlong
7 Zhengyu Shen dan Pertempuran di Lembah
8 Zhengyu Shen dan Kabar Tentang Ratu Shang Yuan
9 Perasaan Seorang Ratu
10 Pengorbanan dan Kesetiaan Penduduk Shang Yuan
11 Pendeta Misterius
12 Tugas Penting Pengembara Sunyi
13 Luna Shang Yuan & Roh Gadis Telaga Shen Hu
14 Roh Gunung VS Naga Yueliang
15 Pengembara Hitam Yingzhu
16 Kerajaan Megah Shang Yuan
17 Cincin Roh Telaga
18 Ratu & Rusa Jantan Putih
19 Desa Feng Hua
20 Perpisahan Dengan Hewan Suci
21 Serigala-serigala Menyeramkan
22 Anak Sebatang Kara Bertemu Dengan Ratu
23 Ratu Yang Melindungi Penduduk Desa
24 Hutan Bambu Di Malam Hari
25 Luna Menuju Desa Feng Hua
26 Keheningan di Balik Pegunungan Es
27 Manipulasi Dan Rencana Jahat
28 Harapan dalam Pesan Misterius
29 Takdir Yang Tak Terlihat
30 Hukuman Sang Ratu
31 Beku Dalam Kristal Abadi
32 Keberadaan Tak Terduga
33 Menjamu Sang Ratu
34 Malam Di Desa Feng Hua
35 Keterlibatan Roh Gadis Telaga Shen Hu
36 Penyerangan Desa Feng Hua - Bagian 1
37 Penyerangan Desa Feng Hua - Bagian 2
38 Penyerangan Desa Feng Hua - Bagian 3
39 Final ARC Yueliang - Kesedihan Sang Ratu (BOOK 1 END)
40 Yue Ji & Xin Ji (Arc 2: Matahari Terlarang)
41 Pengembara Putih dan Pengembara Sunyi
42 Rahasia Sang Ratu
43 Meninggalkan Desa Feng Hua
44 Pangeran Dari Kerajaan Shang 'An Xin
45 Penguasa Mutlak Dalam Kekangan Kekuatan
46 Hati Yang Terkunci Oleh Ambisi
47 Kecemasan Di Mata Penduduk Kerajaan Xin
48 Kesucian Yang Terpaku Kegelapan
49 Cinta Yang Membeku Di Kerajaan Shang' An Xin
50 Pengembara Putih Dan Pengembara Hitam
51 Tangkap Sang Ratu!
52 Yue Ji dan Xin Ji
53 Rahasia Nama "Yue Ji."
54 Jalan Menuju Artefak
55 Artefak Kuno: Seruling Yueliang VS Matahari Terlarang - Bagian 1
56 Artefak Kuno: Seruling Yueliang VS Matahari Terlarang - Bagian 2
57 Artefak Kuno: Seruling Yueliang VS Matahari Terlarang - Final
58 Cinta Antara Cahaya Dan Kegelapan
59 Kegelisahan Sang Ratu
60 Final ARC Matahari Terlarang - Meninggalkan Kerajaan Xin (BOOK 2 END)
61 Kaum Manusia Burung (Arc 3: Cermin Langit)
62 Terikat Dalam Kebebasan Angkasa
63 Yuxiao Zu, Bertemu Sang Ratu
64 Gadis Telaga Shen Hu, Dongeng Zhenyang
65 Hati Yang Tidak Sendiri
66 Jalan Menuju Negri Manusia Burung
67 Tempat Tertinggi, Lingyu Shanju
68 Helaian Yang Semerbak
69 Waspada Terhadap Sang Pengelana
70 Kemunculan Kura-Kura Dunia
71 Yuyan Dan Jejak Sang Pengkhianat
72 Cermin Yang Menyimpan Takdir
73 Perjalanan Menemukan Jati Diri Sang Ratu
74 Tugas Sang Titisan Dewi Salju
75 Dingin Yang Menguji Hati.
76 Es Yang Memecah Keraguan
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Luna Shang Yuan (Arc 1: Seruling Perak Yueliang)
2
Teh Yui Zheng
3
Pendekar Pengembara Sunyi
4
Keputusan Sulit Sang Ratu
5
Serangan Di Hutan Jingu
6
Pertarungan Di Air Terjun Zhenlong
7
Zhengyu Shen dan Pertempuran di Lembah
8
Zhengyu Shen dan Kabar Tentang Ratu Shang Yuan
9
Perasaan Seorang Ratu
10
Pengorbanan dan Kesetiaan Penduduk Shang Yuan
11
Pendeta Misterius
12
Tugas Penting Pengembara Sunyi
13
Luna Shang Yuan & Roh Gadis Telaga Shen Hu
14
Roh Gunung VS Naga Yueliang
15
Pengembara Hitam Yingzhu
16
Kerajaan Megah Shang Yuan
17
Cincin Roh Telaga
18
Ratu & Rusa Jantan Putih
19
Desa Feng Hua
20
Perpisahan Dengan Hewan Suci
21
Serigala-serigala Menyeramkan
22
Anak Sebatang Kara Bertemu Dengan Ratu
23
Ratu Yang Melindungi Penduduk Desa
24
Hutan Bambu Di Malam Hari
25
Luna Menuju Desa Feng Hua
26
Keheningan di Balik Pegunungan Es
27
Manipulasi Dan Rencana Jahat
28
Harapan dalam Pesan Misterius
29
Takdir Yang Tak Terlihat
30
Hukuman Sang Ratu
31
Beku Dalam Kristal Abadi
32
Keberadaan Tak Terduga
33
Menjamu Sang Ratu
34
Malam Di Desa Feng Hua
35
Keterlibatan Roh Gadis Telaga Shen Hu
36
Penyerangan Desa Feng Hua - Bagian 1
37
Penyerangan Desa Feng Hua - Bagian 2
38
Penyerangan Desa Feng Hua - Bagian 3
39
Final ARC Yueliang - Kesedihan Sang Ratu (BOOK 1 END)
40
Yue Ji & Xin Ji (Arc 2: Matahari Terlarang)
41
Pengembara Putih dan Pengembara Sunyi
42
Rahasia Sang Ratu
43
Meninggalkan Desa Feng Hua
44
Pangeran Dari Kerajaan Shang 'An Xin
45
Penguasa Mutlak Dalam Kekangan Kekuatan
46
Hati Yang Terkunci Oleh Ambisi
47
Kecemasan Di Mata Penduduk Kerajaan Xin
48
Kesucian Yang Terpaku Kegelapan
49
Cinta Yang Membeku Di Kerajaan Shang' An Xin
50
Pengembara Putih Dan Pengembara Hitam
51
Tangkap Sang Ratu!
52
Yue Ji dan Xin Ji
53
Rahasia Nama "Yue Ji."
54
Jalan Menuju Artefak
55
Artefak Kuno: Seruling Yueliang VS Matahari Terlarang - Bagian 1
56
Artefak Kuno: Seruling Yueliang VS Matahari Terlarang - Bagian 2
57
Artefak Kuno: Seruling Yueliang VS Matahari Terlarang - Final
58
Cinta Antara Cahaya Dan Kegelapan
59
Kegelisahan Sang Ratu
60
Final ARC Matahari Terlarang - Meninggalkan Kerajaan Xin (BOOK 2 END)
61
Kaum Manusia Burung (Arc 3: Cermin Langit)
62
Terikat Dalam Kebebasan Angkasa
63
Yuxiao Zu, Bertemu Sang Ratu
64
Gadis Telaga Shen Hu, Dongeng Zhenyang
65
Hati Yang Tidak Sendiri
66
Jalan Menuju Negri Manusia Burung
67
Tempat Tertinggi, Lingyu Shanju
68
Helaian Yang Semerbak
69
Waspada Terhadap Sang Pengelana
70
Kemunculan Kura-Kura Dunia
71
Yuyan Dan Jejak Sang Pengkhianat
72
Cermin Yang Menyimpan Takdir
73
Perjalanan Menemukan Jati Diri Sang Ratu
74
Tugas Sang Titisan Dewi Salju
75
Dingin Yang Menguji Hati.
76
Es Yang Memecah Keraguan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!