Amy mencoba berdandan setelah Andrew mengajarinya begitu lama karena pria itu langsung memintanya untuk mempraktikkannya secara langsung. Ternyata berdandan tidaklah mudah seperti yang terlihat padahal dia pikir melakukan hal itu adalah hal mudah.
Tangannya gemetar ketika menggambar alisnya. Andrew sedang pergi membuatkan minuman hangat untuknya. Sesungguhnya dia sudah sangat ingin pulang namun pria itu mencegah.
Jujur saja dia takut sahabat Andrew tiba-tiba kembali lalu memergoki mereka berdua. Jangan sampai mereka berdua dikira tidak tahu diri tapi Andrew justru memintanya untuk tidak mengkhawatirkan apa pun.
“Sial, kenapa begitu sulit?” Amy tidak menyerah, dia terus menggambar alisnya meskipun sudah begitu tebal melebihi bentuk alisnya yang asli. Dia harus bisa. Tekadnya begitu kuat namun semua itu tidaklah berjalan sesuai dengan keinginannya.
“Amy, aku membuatkan sup untukmu. Sebaiknya kau makan terlebih dahulu,” tidak saja membawa minuman hangat, Andrew juga membawa sup yang dapat mereka nikmati bersama.
“Sup, apa sahabatmu tidak akan marah karena kau mengambil makanan miliknya?” Amy sedang duduk membelakangi Andrew, dia masih terlihat serius menggambar alisnya.
“Tentu saja tidak. Dia sudah mengizinkan aku. Bagaimana jika berhenti sebentar dan nikmati sup ini terlebih dahulu sebelum menjadi dingin.”
“Baiklah. Aku sudah selesai, bagaimana menurutmu?” Amy berbalik dan begitu melihatnya, Andrew sangat terkejut namun pemuda itu tertawa terbahak-bahak karena Amy menggambar alisnya dengan begitu tebal.
“Ke-kenapa kau tertawa?” Amy melihat penampilannya di cermin. Jujur saja dia jadi malu.
“Apa yang kau lakukan Amy, kenapa harus setebal itu?” Andrew mendekati Amy setelah meletakkan makanan serta minuman yang dia bawa ke atas meja. Untuk seorang pemula pasti tidak mudah dan sepertinya Amy harus belajar dengan baik supaya cepat menguasainya.
“Aku gugup, sungguh!”
“Baiklah, sekarang pejamkan kedua mataku,” dagu Amy sedikit diangkat, Andrew mulai membersihkan alis Amy. Jantung Amy kembali berdegup cepat, namun dia mulai menikmatinya. Dia menikmati belaian hangat nafas Andrew serta aroma mint yang menenangkan.
“Andrew.”
“Hm?” seperti biasa, Andrew selalu menjawab singkat karena dia sedang fokus dengan alis Amy yang sedang dia bersihkan.
“Kau bilang ada yang menyukai diriku. Apa kau bisa melihat siapa orangnya?”
“Tidak. Aku hanya bisa melihat jika ada yang menyukai dirimu saja, aku tidak bisa melihat siapa orangnya.”
“Apakah yang menyukaiku adalah laki-laki?”
“Pertanyaan bodoh!” Andrew menyentil dahi Amy karena pertanyaan bodohnya itu.
“Aw, kenapa kau menyentil dahiku?” Amy memegangi dahinya.
“Tentu saja karena pertanyaan bodohmu itu. Yang menyukaimu sudah jelas laki-laki, lalu kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Hm, aku kira yang menyukaiku adalah seorang wanita. Maaf, gara-gara Elisa tidak menyukai perubahan pada diriku membuat aku jadi curiga dengannya apalagi perkataannya yang semakin membuat aku mencurigai dirinya.”
“Sudah aku katakan padamu, bukan? Sahabatmu itu seperti racun tapi kau tidak mempercayai perkataanku. Waspadalah pada dirinya. Aku bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya dan aku pun bisa melihat jika dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.”
“Benarkah?”
“Ya, kau terlalu cuek oleh karena itu kau mudah ditipu bahkan kau tidak menyadari jika aku sedang menipumu saat ini!”
“Apa? Jadi kau sedang menipu aku?” Amy terlihat tidak senang namun Andrew justru terkekeh.
“Jangan lupa, kau sudah kalah taruhan dan mulai besok kau harus menjadi pembantuku,” Edward menepuk pipinya sebelum dia melangkah pergi.
“Oh, sial!” dia lupa dengan keinginannya yang ingin berpura-pura seolah-olah Elisa tidak mempermasalahkan penampilannya tapi dia justru mengacaukan rencananya sendiri.
“Sekarang makan supnya sebelum dingin dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Aku bisa menggunakan mobil sahabatku untuk mengantarmu.”
“Terima kasih, Andrew. Entah kenapa kau begitu baik padaku. Sekarang katakan padaku berapa yang harus aku bayar untuk jasa yang telah kau berikan kepadaku,” sampai sekarang dia belum mengeluarkan uang seperes pun untuk membayar Andrew.
“Untuk saat ini jangan memikirkan hal itu. Aku akan menagihnya nanti setelah kau berhasil berubah dan setelah kau berhasil menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus.”
“Mana ada yang seperti itu?” dia tidak percaya ada pria yang akan menyukai dirinya.
“Percayalah, kau akan tahu nanti saatnya sudah tiba.”
“Hng, aku sungguh tidak mau mempercayai bualanmu yang kali ini,” hanya pria buta saja yang akan menyukai dirinya dan tidak ada pria buta sampai saat ini yang berada di dekatnya.
Amy menikmati supnya, tatapan matanya tidak lepas dari Andrew yang duduk tidak jauh darinya. Jika dilihat, pria itu seperti pemuda yang lainnya. Tidak ada yang aneh padanya kecuali profesinya yang tidak jelas.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Tentu saja. Kau boleh bertanya apa pun kecuali ukuran pakaian dalamku!”
“Apa?” Amy hampir tersedak sup yang sedang dia nikmati. Dengan cepat Amy mengambil minuman yang ada di atas meja dan segera meneguknya. Entah apa maksud Andrew berkata demikian, pria itu pasti hanya bercanda saja.
“Kenapa, apa perkataanku ada yang salah? Kau memang boleh bertanya apa pun kecuali ukuran pakaian dalamku tapi jika kau ingin tahu maka aku akan memberitahumu dengan senang hati.”
“Ti-tidak sudi!” Amy memalingkan wajahnya yang merona. Meski dia tahu Andrew mengucapkan perkataan itu tanpa maksud apa-apa tapi tetap saja dia merasa sangat malu.
“Sekarang katakan, apa yang ingin kau tahu?”
“Aku hanya ingin tahu saja, apa pekerjaan tetapmu? Tidak mungkin kau mengandalkan hidupmu dengan meramal saja, bukan? Sampai sekarang aku tidak melihat jika kau memiliki klien lain selain aku. Tidak mungkin pula kau akan menumpang di rumah sahabatmu ini untuk makan dan tidur.”
“Bagaimana jika memang iya?”
“Tidak mungkin!” kali ini dia tidak akan percaya dengan Andrew.
“Aku memang selalu menumpang dengan sahabatku, Amy. Aku akan tinggal di mana pun aku mau dan aku akan pergi ke mana pun yang aku mau. Aku bebas tapi karena kau adalah klienku saat ini maka untuk sementara waktu aku akan tinggal di sini sampai aku berhasil mengubah dirimu.”
“Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan. Kau pasti berbohong!”
“Ya, aku memang berbohong!” ucap Andrew sambil tersenyum.
“Apa?” Amy menatapnya tajam. Andrew seperti mempermainkan dirinya tapi dia juga tampak serius. Sebenarnya yang dikatakan oleh Andrew benar atau tidak? Sungguh dia jadi bingung.
Amy tidak mau bertanya lagi karena dia tahu, hasilnya akan sama. Entah mana yang benar, mana yang tipuan, kepalanya jadi pusing.
Sepertinya yang Andrew janjikan, dia mengantar Amy pulang. Dia meminta Amy berlatih lagi dan dia juga berkata jika dia ingin melihat Amy yang berbeda besok agar apa yang mereka lakukan hari ini tidak sia-sia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
gia nasgia
Selain Andrew peramal boongan Andrew jago ngelawak 😂
2024-10-24
0
Mila Milo
aku yakin Andrew bukan peramal Amy ,aku tidak percaya pasti kamu ,aku memang berbohong 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 tapi pusing Amy
2024-08-04
0
𝖉𝔬𝓶✅
setalah semua hal yg di ajarkan Andrew mudah²m km bisa berubah lebih baik Amy 🤲
2024-07-14
2