Amy yang dilanda dengan rasa penasaran akan identitas Andrew membuat keputusan untuk mengintai Andrew setelah dia selesai bekerja. Lagi-lagi dia tidak pergi ke salon untuk memperbaiki rambutnya karena Elisa melarangnya untuk pergi.
Amy pun merasa apa yang dikatakan oleh Elisa ada benarnya. Jika dia melakukan perawatan, belum tentu ada yang meliriknya karena semua orang sudah tahu dengan rupa aslinya. Pria tampan tidak mungkin meliriknya apalagi seorang CEO. Si buruk rupa akan selamanya menjadi si buruk rupa jadi sebaiknya tidak melakukan apa pun dari pada yang dia dapatkan adalah rasa sakit hati.
Dia pergi sebelum Elisa selesai dengan pekerjaannya. Jujur saja dia tidak mau Elisa tahu apa yang akan dia lakukan lalu menganggapnya bodoh. Jika bukan karena perkataan Elisa yang mengatakan bahwa tempat itu adalah tempat terbengkalai, rasa penasarannya pada Andrew mungkin tidak akan sebesar itu.
Kali ini dia harus mendapatkan petunjuk akan identitas peramal misterius yang tampan itu. Sial, sepertinya lagi-lagi dia harus mengejar pria tampan tapi kali ini dalam keadaan yang berbeda.
Langit tidak begitu mendukung. Lagi-lagi awan gelap sudah menghiasi langit malam. Udara pun semakin dingin, Amy mempercepat langkahnya mengikuti seorang pria yang berjalan cepat di depannya. Dia tidak tahu siapa pria itu karena dia lebih fokus dengan tujuannya namun pria yang dia ikuti tiba-tiba saja berbalik.
"Penguntit, apa ini yang kau lakukan untuk menarik perhatianku?" Amy sangat terkejut, dia sampai bingung dan memandangi Alvin begitu lama karena yang dia ikuti sedari tadi rupanya Alvin.
Dia tidak berniat mengikuti Alvin, dia berjalan di belakang Alvin karena arah yang mereka tuju sama. Alvin sepertinya salah paham dan mengira jika dia mengikutinya seperti seorang penguntit tapi dia tidak berniat melakukannya.
"Lihat dirimu, jelek. Kau benar-benar tidak tahu malu. Aku sudah menolakmu tapi kau masih saja mengikuti aku. Apa kau tidak bisa berhenti? Apa perkataanku waktu itu masih kurang?"
"Tidak, aku tidak?"
"Tidak apa? Kau pasti masih mengejar aku. Lebih baik kau berhenti karena aku tidak akan pernah menyukai wanita jelek seperti dirimu sampai kapan pun dan jangan mengikuti aku lagi. Jika kau masih mengikuti aku, maka aku akan melaporkan dirimu pada polisi!" Alvin melangkah pergi setelah berkata demikian.
Amy berdiri di tempat, memandangi kepergian Alvin. Dia benar-benar tidak berniat mengikuti Alvin karena dia sudah tidak menyukai pria itu lagi. Apakah perasaan yang dia rasakan pada pria itu hanya sebatas rasa kagum saja? Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa menyukai Alvin. Sepertinya dia memang hanya mengagumi Alvin karena dia tampan.
Amy mengangkat bahu, lupakan. Sekarang dia sedang mengincar pria tampan yang lainnya. Andrew lebih tampan dari pada Alvin, bahkan jauh lebih tampan. Jika Andrew bukan peramal aneh, sepertinya dia bisa menjadi kandidat pria tampan selanjutnya yang akan dia kejar. Jika Andrew mau, lumayan untuk memperbaiki keturunan.
Tidak mau kesempatannya terlewat, Amy bergegas menuju tempat Andrew. Dia tidak langsung menghampiri tempat itu, Amy justru bersembunyi karena dia ingin mengintai. Aneh, Elisa berkata tempat itu sudah kosong lama, dia juga melihatnya tadi siang tapi kenapa lampu di ruko itu menyala dan terlihat seperti adanya aktivitas?
Rasa penasarannya semakin menjadi. Dia yakin dia tidak mungkin sedang berhalusinasi. Amy memberanikan diri melangkah mendekat, dia ingin mencoba memanggil Andrew untuk memastikan apakah pria itu ada di dalam atau tidak. Jika tidak ada maka dia akan kembali mengintai untuk melihat dari mana Andrew datang.
Amy sudah seperti pencuri saja. Dia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tempat itu sepi jadi tidak akan ada yang melihatnya. Setelah dipikir-pikir, hanya orang gila yang akan membuka usaha di tempat itu. Amy sudah menempel pada tembok, dia masih memantau situasi tanpa sadar jika ada yang mendekati dirinya.
"Sepertinya kau sedang bersenang-senang, Nona?" seorang pria berada di belakangnya dan memperhatikan apa yang sedang Amy lakukan.
"Jangan mengganggu, pergi sana!" usir Amy.
"Boleh aku bergabung denganmu? Aku juga ingin bersenang-senang denganmu."
"Sudah kau katakan jangan mengganggu!" Amy mulai kesal, dia sedang fokus tapi pria itu justru mengganggu dirinya tapi tunggu dulu, siapa pria yang sedang berbicara dengannya?
"Apa yang sebenarnya kau intip?" pria itu memajukan tubuhnya sehingga menempel pada bahu Amy. Amy terkejut, dia segera berbalik tapi wajahnya justru menabrak dada bidang pria itu.
"Si-siapa kau?" Amy memegangi hidungnya, kaca matanya pun jadi bergeser.
"Coba tebak tapi apa yang kau lakukan di sini?"
"A-Andrew?" Amy terkejut karena pria itulah yang sedang berdiri di belakangnya. Padahal dia sedang memantau Andrew tapi pria itu justru memantau bersama dengannya? Bukankah itu tampak konyol?
“Apa yang sedang kau lakukan, Amy? Kenapa kau memiliki hobi aneh seperti ini.”
“Apa? Ini bukan hobi. Jangan sembarangan berbicara!” sangkal Amy.
“Lalu, kenapa kau seperti penguntit seperti ini? Apa kau sedang mengintai pria tampan yang akan lewat di jalan ini sebentar lagi?”
“Bu-bukan!” Amy jadi gelagapan. Semoga saja Andrew tidak membaca pikirannya dan tidak tahu apa yang sedang dia lakukan saat ini.
“Hm,” Andrew memandanginya dengan serius dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Aku sedang bersembunyi dari kejaran para berandalan,” akhirnya dia mendapatkan alasan yang bagus.
“Benarkah? Aku lihat sepertinya kau tidak sedang melakukan hal itu?”
“Percayalah padaku, Andrew. Kebetulan kau ada di sini, sekarang waktunya kau meramal masa depanku!” Amy mengalihkan pembicaraan dan merangkul lengan Andrew. Sebisa mungkin dia harus mengalihkan perhatian Andrew agar pria itu tidak lagi bertanya apa yang sedang dia lakukan.
“Jangan menghindar, Amy. Aku tahu apa yang sedang kau lakukan saat ini.”
“Aku tidak sedang mengintai dirimu, percayalah!” Amy pun kelepasan. Dia segera menutup mulutnya begitu dia menyadari apa yang baru saja dia katakan.
“Oh. Rupanya kau sedang mengintai aku. Untuk apa? Kau sedang mencurigai aku?”
“Tidak, aku hanya ingin tahu saja apakah kau tinggal di sana atau tidak,” Amy berusaha tersenyum manis, dia seperti menggali lubang kuburnya sendiri.
“Kau terlalu banyak membuang waktumu dengan melakukan hal yang tidak penting, Amy. Lihat dirimu, kenapa kau tidak juga pergi ke salon seperti yang aku sarankan?” Andrew memandangi Amy dari atas sampai ke bawah. Dia sampai menggeleng melihat penampilan Amy yang tidak diurus sama sekali.
“Sahabatku berkata jika aku tidak perlu melakukannya karena hal itu akan sia-sia saja jadi aku pikir lebih baik aku tidak pergi ke salon dan membuang waktuku di sana,” Amy berpaling untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
“Bodoh. Seorang sahabat seharusnya mendukung dirimu. Seharusnya kau menjauhi sahabat seperti itu karena dia bagaikan racun yang akan menghancurkan dirimu.”
“Elisa tidak seperti itu!”
“Kau benar-benar naif!” Andrew meraih tangan Amy dan menariknya pergi.
“Kau mau membawa aku ke mana?” tanya Amy. Dia berlari di belakang Andrew karena Andrew melangkah dengan begitu cepat.
“Menyingkirkan aura gelap yang mengikuti dirimu!”
“Apa?”
Andrew masih menarik Amy pergi. Dia yakin wanita naif itu tidak akan pernah melakukan perubahan. Lingkungan yang tak mendukung serta sahabat yang sudah seperti racun, Amy tidak akan pernah bisa berubah. Sepertinya dia harus meminta Amy menjauhi sahabatnya itu karena dia bisa merasakan, sahabat Amy yang bernama Elisa itu memiliki niat terselubung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
gia nasgia
Next
2024-10-23
0
🍒⃞⃟🦅 ναℓ_ναℓ 🌸
jahat juga Ellisa itu ya
2024-08-02
0
Muh. Yahya Adiputra
nahh...aku sama seperti dirimu Andrew yg menganggap kalau eluss ini sebenarnya bukanlah sahabat buat Amy akan tetapi dia sebenarnya adalah musuh yg berkedok seorang sahabat 😏😏😏
2024-07-14
2