Amy sangat heran karena Andrew membawanya ke sebuah apartemen. Amy mulai terlihat takut dengan pria itu. Dia curiga jika Andrew memiliki niat jahat. Mungkin saja itu adalah tujuan Andrew, oleh karena itu Andrew baik padanya untuk mendapatkan kepercayaannya dan setelah itu dapat dia eksekusi dengan mudah.
“Tunggu!” Amy menahan tangan Andrew yang sedang menariknya.
“Kenapa? Kita akan ke apartemen sahabatku, kau tidak perlu khawatir.”
“Apartemen milik sahabatmu?” Amy mulai berpikiran buruk mengenai peramal misterius itu. Kenapa dia dibawa ke apartemen sahabatnya? Apakah ada niat terselubung?
Saat ini sedang marak kasus pemerkosaan juga mutilasi yang menimpa para wanita muda dan jujur saja dia takut hal itu justru dia alami karena peramal itu benar-benar mencurigakan.
Bagaimana jika dia sudah bersekongkol dengan para sahabatnya yang sudah menunggu kedatangan mereka? Begitu Andrew berhasil membawanya masuk ke dalam apartemen itu maka dia akan langsung dieksekusi.
“Apa yang kau pikirkan, Amy? Aku bukanlah penjahat seperti yang kau pikirkan!” Andrew berkata demikian seolah-olah dia dapat membaca pikiran Amy saat ini.
“Tapi aku takut jika kau benar-benar seorang penjahat. Sampai saat ini aku belum mengetahui identitasmu dan kau masih begitu misterius bagiku. Bagaimana jika kau memang seorang penjahat yang memiliki komplotan dan kau hendak memperkosa lalu memutilasi aku?”
Andrew memandangi Amy sejenak dan setelah itu dia tertawa terbahak-bahak. Amy jadi kesal dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Andrew padahal dia sedang takut dan sedang waspada tapi Andrew justru menertawakan dirinya.
“ Ayolah, jika aku ingin memperkosa seseorang tentu aku akan memilih yang jauh lebih cantik supaya aku menikmatinya.”
“A-apa itu berarti kau tidak akan memperkosa aku karena aku jelek?” Amy semakin kesal tapi dia memang jelek.
“Aku tidak mengatakan hal seperti itu, Amy. Aku tidak seperti yang kau pikirkan, percayalah padaku. Aku ingin membantumu, bukan ingin memperkosa dan membunuhmu.”
“Aku tidak yakin!” ucap Amy.
“Ayolah, aku tahu semua tentangmu karena aku?” ucapan Andrew terhenti. Amy memandangi pria itu dengan tatapan curiga.
“Karena kau apa? Kenapa kau bisa tahu semua tentang aku?” Amy semakin curiga saja apalagi Andrew menghentikan perkataannya.
“karena aku adalah peramal jadi aku tahu semua tentangmu.”
“Bohong. Sepertinya bukan itu yang hendak kau katakan. Terus terang saja, Andrew. Aku sangat penasaran denganmu. Apakah kau tidak mau mengatakan padaku siapa dirimu yang sebenarnya?”
“Saat waktunya tiba, kau pasti akan tahu. Sekarang ikut aku, aku akan mengajarimu cara menggunakan make up.”
“Kau bisa melakukannya?”
“Tentu saja. Apa kau meragukan aku?”
“Sungguh luar biasa. Sepertinya kau adalah peramal multi talenta. Tidak saja bisa meramal, kau juga bisa membaca pikiran. Tidak hanya itu, kau juga mantan tukang cukur. Jangan katakan kau bekas mantan seorang make up artist!” entah apa profesi tetap yang dijalani oleh Andrew, dia justru semakin terlihat mencurigakan.
“Aku bisa melakukan apa saja, percayalah!” Andrew kembali menarik Amy menuju apartemen yang diklaim sebagai apartment sahabat baiknya.
Amy pasrah mengikuti, dia harap tidak terjadi seperti yang dia takutkan walau sesungguhnya dia takut tapi dia akan mencoba bertaruh dengan mempercayai peramal misterius itu.
Andrew membawanya ke sebuah apartemen yang begitu mewah. Amy sampai menganga melihat mewahnya tempat itu. Selama ini dia belum pernah mendatangi tempat yang begitu mewah seperti itu.
“Kenapa berdiri di sana, kemarilah? Aku sudah meminta istri sahabatku untuk membelikan make up untukmu. Duduklah, aku akan mengambilnya!” Andrew sudah seperti pemilik rumah, Amy tidak percaya jika itu adalah apartemen milik sahabat baiknya namun beberapa barang milik wanita membuatnya mau tidak mau harus mempercayai apa yang Andrew katakan.
Andrew masuk ke dalam sebuah kamar, dia tampak tidak ragu sama sekali. Dia keluar lagi sambil membawa make up untuk Amy.
“Apa kau yakin jika kau bisa mengajari aku menggunakan make up?”
“Tentu saja. Sudah aku katakan jika aku akan mengajarimu maka aku akan mengajarimu!” Andrew duduk di hadapannya, hal itu membuat Amy jadi gugup.
Walau pria itu tidak meyakinkan namun Amy berusaha mempercayainya. Andrew menjelaskan kepada Amy kegunaan setiap make up yang dia tunjukkan. Dia bahkan lebih pandai daripada Amy yang buta akan hal itu.
Andrew benar-benar mengajari Amy cara menggunakan make up. Jantung Amy tidak baik-baik saja malam itu karena wajah tampan Andrew begitu dekat. Dia bisa melihatnya walaupun kacamatanya telah dilepaskan.
Nafas hangat pria itu pun bisa dia rasakan. Aroma mint yang menyegarkan juga menenangkan. Kedua mata Amy terpejam ketika Andrew menggambar alisnya. Tidak ada yang berbicara di antara mereka, hanya suara desahan nafas juga degupan jantung yang terdengar begitu kencang.
Mereka dalam keadaan seperti itu cukup lama. Amy semakin tidak tahan saja dengan situasi itu. Rasanya ingin membuka kedua matanya namun dia tahu jika dia tidak akan sanggup karena dia akan mendapati wajah tampan Andrew tepat di depan matanya.
“A-apa belum?” dia berusaha mencairkan suasana karena dia takut dia akan berakhir di rumah sakit akibat kesehatan jantungnya.
“Hm,” Andrew menjawab singkat. Amy sangat penasaran dengan ekspresi wajah pria itu dan dengan apa yang Andrew lakukan namun dia masih merasa takut untuk membuka kedua matanya.
Andrew memang sedang menggambar alisnya namun tatapan matanya petunjuk pada hal lain. Dia berusaha menahan diri dari godaan nyata yang ada di depan mata. Rasanya ingin melakukannya tapi jika dia tidak bisa mengendalikan dirinya maka Amy akan takut katanya. Jika sampai hal itu terjadi, sudah pasti Amy tidak akan mau bertemu dengannya lagi.
“Untuk apa kau memejamkan matamu, Amy? Bukankah kau ingin belajar?”
“A-aku tidak tahan karena wajahmu terlalu dekat!” Amy memalingkan wajahnya, jujur dia lemah pada pria tampan.
“Kenapa?” Andrew memegangi dagu Amy dan memalingkan wajahnya sehingga mau tidak mau mereka berdua saling pandang.
Amy tampak gugup, degupan jantungnya semakin cepat sehingga dapat dia dengar dengan jelas. Andrew pun memandangnya dengan lekat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hal itu semakin membuat Amy salah tingkah karena mereka sudah seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.
“An-Andrew?” lehernya bagaikan dicekik sehingga suaranya tercekat.
“Aku melihat sesuatu yang baru pada dirimu,” Andrew mendekatkan wajahnya, jantung Amy serasa mau melompat keluar dari dadanya.
Amy menahan nafas karena belaian nafas Andrew di telinganya membuatnya merasa geli. Dia bahkan bisa merasakan gesekan bibir pria itu di daun telinganya.
“Aku melihat ada seseorang yang jatuh hati padamu, Amy,” bisik Andrew dengan pelan.
“Be-benarkah?”
“Yeah, auranya cukup jelas. Seseorang menaruh hati padamu, apa kau tidak menyadarinya?”
Amy menggeleng. Siapa? Tiba-tiba dia justru teringat dengan Elisa. Tidak mungkin, dia tidak percaya jika ada yang menaruh hati padanya yang jelek itu.
“Kau pasti salah melihat. Tidak akan ada yang menyukai aku karena penampilanku yang jelek.”
“Aku tidak mungkin salah. Percayalah padaku, Amy. Seseorang sedang jatuh cinta padamu!” Andrew beranjak, dia melangkah pergi karena dia ingin mengambil sesuatu.
Amy memandanginya, apakah benar? Tidak mungkin, dia tidak percaya akan hal itu dan dia yakin Andrew mengucapkan perkataan itu hanya untuk membuatnya senang agar dia bersemangat untuk mengubah dirinya. Yeah, Andrew berkata demikian pasti untuk itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
gia nasgia
Dasar peramal pandai bermain kata 😁😁
2024-10-24
0
Alexandra Juliana
Dan org yg kau maksud itu adalah dirimu Andrew..😁😁
2024-09-14
0
Mila Milo
aku jga lemah Amy ,klo lihat yg ganteng 🤣🤣🤣🤣
2024-08-04
0