Andrew Charlton, Amy sedang mencari tahu siapa pria itu sebenarnya saat sedang tidak ada pekerjaan. Dia sangat penasaran dengan Andrew yang begitu misterius. Hari ini dia yakin dia bisa menemukan identitas pria itu agar dia tidak penasaran lagi.
Pria itu mungkin hanya pengangguran yang sudah tidak ada jalan lain selain menipu orang dengan pura-pura menjadi peramal. Jika bukan pengangguran berarti dia anak orang kaya yang sedang bosan lalu bermain-main menjadi peramal tapi sepertinya itu tidak mungkin.
Amy memutuskan mencari tahu supaya dia tidak tertipu. Walaupun dia belum mengeluarkan uang sepeser pun tapi dia tidak mau menjadi korban akibat orang iseng yang pura-pura menjadi peramal. Jangan sampai dia jadi bahan tertawaan untuk yang kesekian kalinya.
Amy mencarinya dengan begitu serius, walaupun Andrew seorang gelandangan dia pasti akan menemukan identitasnya tapi entah kenapa dia tak menemukan apa pun padahal dia sudah berusaha mencarinya. Daftar anak orang kaya pun tak dia lewatkan tapi tidak ada nama Andrew Carlton. Apakah itu hanya nama palsu saja?
Tidak ada data yang dia temukan sama sekali jadi kemungkinan itu hanya nama samaran yang digunakan oleh Andrew saat menjadi peramal. Wajah Andre pun tidak ada. Rasa curiga terhadap pria itu semakin besar saja. Tidak mungkin candaannya akan Alien atau siluman itu benar karena tidak ada hal seperti itu di zaman yang sudah modern ini tapi kenapa dia tidak menemukan sedikit pun petunjuk akan identitas Andrew?
“Apa yang sedang kau lakukan, Amy?” seseorang menghampiri dan dia adalah Elisa, sahabatnya yang bekerja bersama dengan dirinya.
“Aku sedang mencari tahu identitas seseorang.”
“Siapa? Jangan katakan kau kembali jatuh hati pada pria yang lain padahal kau baru saja ditolak oleh Alvin,” dia baru mendengar jika Amy ditolak oleh pria yang dia sukai karena selama beberapa hari dia tidak bisa datang ke kantor akibat sakit.
“Tidak. Aku sudah tidak mau lagi dengan pria tampan karena mereka menyebalkan!”
“Bagus. Jadilah dirimu sendiri dan jangan pedulikan kata orang. Mereka tidak tahu jika sesungguhnya kau adalah wanita yang menarik jadi kau tidak perlu memperdulikan apa kata mereka.”
“Terima kasih telah menghiburku, Lisa. Setelah pulang kantor, apakah kau mau menemani aku?” satu-satunya sahabat yang mengerti dirinya memang hanya Elisa seorang. Elisa selalu memberikan semangat untuk dirinya apalagi ketika dia berniat mengutarakan perasaannya kepada Alvin, sahabat baiknya itulah yang paling sibuk memberinya semangat.
“Boleh saja. Memangnya kau mau pergi ke mana?”
“Ke salon. Aku ingin melakukan sedikit perawatan agar wajahku tidak terlalu kusam dan aku ingin merapikan rambutmu,” mendengar apa yang dia katakan membuat Elisa terkejut. Kenapa tiba-tiba Amy ingin pergi ke salon?
Amy tidak pernah pergi ke tempat seperti itu bahkan Amy selalu sibuk dengan pekerjaannya lalu kenapa hari ini Amy ingin pergi ke salon? Amy tidak memperhatikan ekspresi wajah Elisa yang tampak tidak suka dengan niatnya karena dia sedang sibuk mencari tahu identitas Andrew.
“Untuk apa, Amy? Jangan hanya karena Alvin menolak dirimu lalu kau ingin melakukan sesuatu pada wajah juga rambutmu. Alvin sama dengan pria yang lainnya, dia tidak bisa melihat kecantikanmu yang sesungguhnya. Lebih baik kau menjadi dirimu sendiri daripada kau memaksakan diri hanya untuk dicintai oleh pria yang kau sukai!”
“Tidak, aku tidak melakukannya untuk siapa pun. Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Sudah aku katakan, aku tidak mau lagi jatuh hati apalagi pada pria tampan!”
“Tidak perlu berbohong, Amy. Sedari tadi kau mencari tahu akan identitas dari pria bernama Andrew itu. Siapa dia, apa dia pria tampan lainnya yang telah membuatmu jatuh hati?” dia melihat apa yang sedang Amy lakukan sedari tadi.
“Oh, dia memang tampan tapi aku tidak sedang jatuh hati padanya. Apa kau tahu ada sebuah tempat ramal di ruko yang berbentuk aneh itu?”
“Tempat ramal? Mana ada yang seperti itu. Bukankah dulu itu bekas tempat cukur rambut dan karena sebuah kejadian, tempat itu dibiarkan kosong begitu saja?”
“Benarkah?” Amy memandangi Lisa, dia tidak pernah tahu akan hal itu dan jika dia mengingatnya lagi, sepertinya di sana memang bekas tempat cukur rambut.
“Kenapa kau bertanya demikian, Amy? Jangan katakan setelah kau ditolak oleh Alvin, kau justru pergi ke tempat ramal untuk meramal nasibmu!”
“Tunggu.. tunggu, apa kau pernah tahu jika di ruko itu telah dibuka sebuah tempat ramal?”
“Mana ada yang seperti itu. Sepertinya kau semakin gila saja karena cintamu selalu ditolak!”
Amy diam terpaku. Apakah benar tidak ada tempat ramal di tempat itu? Jika memang seperti itu, siapa Andrew? Tempat ramal yang dia masuki, apakah itu hanyalah sebuah ilusi?
“Ada apa denganmu, Amy? Kenapa kau jadi aneh seperti ini dan menanyakan tempat ramal. Apa kau bertemu dengan seseorang di tempat itu?”
“Tidak, aku hanya bertanya saja. Kemarin ada yang mengajak aku pergi ke tempat ramal. Aku kira tempat ramal yang orang itu maksudkan berada di ruko itu tapi sepertinya bukan!” dia terpaksa berbohong dan menyembunyikan apa yang telah terjadi pada Lisa karena dia akan mencari tahu sendiri apa sebenarnya yang telah terjadi pada dirinya dan apakah Andrew nyata atau tidak.
Dia sudah berusaha keras mencari tahu identitas Andrew Carlton namun tak ada yang dia temukan. Bukankah hal ini begitu aneh? Rasa curiganya pun semakin besar terhadap pria itu apalagi ditambah dengan perkataan Lisa yang mengatakan jika tidak ada tempat ramal di ruko tersebut.
“Di zaman modern seperti ini sudah tidak ada peramal, Amy. Jangan mau tertipu oleh siapa pun apalagi dengan hal-hal seperti ini,” entah kenapa Amy bertanya demikian tapi dia tidak mau Amy tertipu dengan hal bodoh seperti itu.
“Kau benar. Aku tidak akan tertipu dan beruntungnya aku belum membuat janji dengan orang yang mengajakku kemarin. Beruntungnya aku bertanya padamu sehingga aku terhindar dari penipuan,” benar, dia beruntung tidak tertipu terlalu jauh oleh Andrew tapi rasa penasarannya terhadap pemuda itu benar-benar begitu tinggi.
“Itulah gunanya sahabat. Daripada membicarakan hal yang tidak penting, bagaimana jika kita pergi makan siang saja? Aku yang akan mentraktirmu dan kau bisa makan sampai puas.”
“Wah, boleh juga. Tapi kau mau menemani aku ke salon setelah kita pulang bekerja, bukan?”
“Sudah aku katakan, kau tidak perlu melakukan hal itu. Kau sudah cantik, Amy. Para pria itu saja yang buta sehingga tidak bisa melihat kecantikanmu. Percayalah padaku dan jadilah dirimu sendiri.”
“Apa kau yakin? Aku hanya ingin melakukan sedikit perawatan serta mengubah gaya rambutku agar terlihat lebih baik.”
“Sudah, kau tidak perlu repot-repot melakukan hal itu karena kau sudah cantik. Ayo kita pergi sekarang jika tidak kita akan kehabisan waktu,” Lisa menarik tangan Amy supaya dia segera beranjak.
“Tunggu sebentar,” Amy mematikan komputernya terlebih dahulu. Dia akan tetap mencari tahu siapa peramal misterius yang dia temui beberapa hari belakangan. Dia yakin dia pasti dapat menemukan petunjuk akan identitas Andrew Carlton. Semoga saja bagian imigrasi mencatat nama pria itu seandainya dia adalah alien yang sedang bermigrasi ke bumi.
Sepertinya pikirannya semakin kacau saja apalagi rasa penasarannya terhadap pemuda itu tak terbendung sama sekali. Amy yang penasaran pun mengajak Lisa untuk melewati ruko milik Andrew karena dia ingin memastikan namun ruko itu masih tutup dan seperti yang Elisa katakan, sepertinya tempat itu memang sudah kosong.
Jika begitu, kenapa dia bisa masuk ke tempat itu semalam? Sial, bulu romanya jadi berdiri dan rasa takut memenuhi hati. Semoga saja dia tidak lagi bertemu dengan Andrew tapi jujur saja, dia sangat penasaran dengan Andrew Carlton.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Riri Rara
eliza srigala berbulu domba....
2024-08-20
1
Fitri Mulyanto
eliza kayak ulat bullu,
2024-07-26
0
Muh. Yahya Adiputra
sepertinya Elisa tdk benar benar tulus ingin menjadi sahabat Amy karena seandainya dia tulus pastinya dia ingin agar Amy bisa tampil lebih cantik dan tdk lagi mendapatkan hinaan dari orang lain.
aku merasa kalau dia ini adalah serigala berbulu domba🤭
2024-07-14
1