Sudah Kalah

Amy memandangi penampilannya di depan cermin. Jujur saja dia tidak yakin, dia juga malu bertemu dengan orang-orang. Rambut hitamnya sudah berwarna coklat, rambutnya juga sudah tidak keriting lagi karena sekarang rambutnya sudah lurus namun bergelombang.

Gaya rambutnya benar-benar berubah. Dia sendiri sampai tidak percaya dengan perubahan rambutnya tapi yang jadi masalahnya saat ini adalah, wajahnya tidak mendukung karena wajahnya tampak kusam.

Dia harus membeli make up, dia juga harus membeli kontak lens agar dia tidak memakai kacamata lagi. Tiba-tiba dia jadi sangat ingin melihat penampilannya ketika dia sudah mengubah penampilannya. Rupanya menyenangkan, dia sungguh tidak menyangka jika rasanya akan seperti itu tapi saat ini dia belum memiliki kepercayaan diri untuk menunjukkan dirinya pada orang-orang.

Amy memakai sebuah masker wajah agar tidak ada yang mengenali dirinya nanti. Dia harap Elisa menyukai perubahannya. Jujur saja dia masih belum memiliki kepercayaan diri untuk bertemu dengan Elisa.

Padahal dia dan Andrew sedang melakukan taruhan tapi sepertinya dia harus menunda taruhan mereka terlebih dahulu sampai dia memiliki kepercayaan diri. Lagi pula banyak yang harus dia pelajari, dia harus belajar berdandan dan dia pun harus belajar menggunakan kontak lens.

Sepertinya dia harus mencari tempat kursus di mana dia dapat belajar memakai make up karena dia memang tidak bisa merias diri. Dia akan membuktikan kepada Andrew jika tidak akan ada yang tertarik pada dirinya meskipun dia sudah berubah menjadi cantik nanti.

Amy tampak was-was ketika beberapa orang memandangi dirinya. Bukan perubahan pada dirinya yang membuat orang memandangi dirinya melainkan tingkahnya yang aneh karena Amy terlihat mencurigakan.

“Sial, semua gara-gara peramal tampan dan misterius itu!” ucap Amy setelah dia berhasil masuk ke dalam ruangannya.

Jantungnya terasa tak baik-baik saja saat melewati para pekerja yang melihat dirinya dengan tatapan curiga. Rasanya ingin melarikan diri lalu mencari Andrew. Entah kenapa dia jadi merasa jika tempat nyamannya adalah bersama dengan pria itu.

“Amy, kenapa kau pulang tidak mengajak aku?!” Elisa masuk ke dalam ruangan Amy, dia terkejut melihat penampilan Amy yang sedikit berubah.

 Amy berusaha tersenyum, dia pun melambai ke arah Elisa. Semoga saja sahabatnya menyukai perubahan rambutnya namun reaksi yang ditunjukkan oleh Elisa benar-benar di luar perhitungannya.

“Apa yang terjadi dengan rambutmu, Amy? Apa semalam kau tidak mengajak aku pulang karena kau pergi meluruskan dan mewarnai rambutmu?” Elisa melangkah mendekat, makanan yang dia bawa untuk Amy segera dia letakkan ke atas meja.

“Maaf, Elisa. Maaf jika aku tidak mengajakmu. Aku memang pergi ke salon karena aku ingin memperbaiki penampilanku.”

“Bodoh, untuk apa kau melakukan hal ini? Rambut ini sama sekali tidak cocok untukmu!” Elisa mulai mengacak-acak rambut Amy.

“Hentikan, Elisa. Jangan hancurkan rambutku!” Amy pun berusaha menahan tangan Elisa agar tidak menghancurkan rambutnya namun Elisa tetap saja mengacak-ngacak rambutnya sampai berantakan.

“Apa sebenarnya yang terjadi denganmu? Sudah aku katakan, jadilah dirimu sendiri. Rambut seperti ini sangat tidak cocok untukmu. Kau terlihat lebih tua, dan kau seperti orang yang terpaksa untuk terlihat modis!”

“Mungkin saat ini tidak cocok karena penampilanku tapi nanti, gaya rambutku ini pasti akan cocok denganku. Aku sedang mencari tempat bagus untuk belajar make up dan aku juga ingin membeli lensa kontak supaya aku tidak memakai kacamata lagi.”

“Kau tak boleh melakukan hal itu, Amy!” teriakan Elisa membuat Amy terkejut. Elisa terlihat tidak terima dengan perubahan yang Amy lakukan.

“Kenapa, Elisa? Kenapa kau tidak mendukung aku untuk berubah lebih baik dan kenapa kau terlihat tidak senang dengan perubahan yang aku lakukan?” Amy terlihat sedih, dia juga terlihat kecewa karena sahabat baik yang selama ini dia percaya rupanya tidak memberikan dukungan sama sekali untuk dirinya.

“Aku bukannya tidak mendukung, Amy. Aku pasti mendukung dirimu tapi tidak dalam hal ini karena aku lebih suka kau menjadi dirimu sendiri. Untuk apa kau memaksakan diri dengan mengubah penampilanmu? Kau benar-benar tidak perlu melakukannya hanya karena kau ditolak oleh Alvin!” Elisa pun terlihat kecewa karena Amy tidak mendengarkan perkataannya.

“Aku melakukan hal ini bukan karena aku ditolak oleh Alvin tapi aku melakukannya karena aku ingin mengubah penampilanku. Aku sudah bosan terlihat lusuh dan kusam. Aku ingin terlihat lebih baik oleh karena itu aku melakukannya tapi kenapa kau tidak mendukung aku?” sepertinya yang Andrew katakan tentang Elisa sangat benar, sekarang dia harus mempercayai perkataan peramal itu.

“Terserah kau saja. Aku harap kau tidak bertindak terlalu jauh untuk mengubah penampilanmu. Percayalah padaku, Amy. Aku lebih menyukai dirimu apa adanya dan bagiku kau terlihat cantik dengan penampilanmu yang seperti biasanya.”

“Hah?” mulut Amy mengangga, dia cukup terkejut dengan perkataan Elisa. Apa maksudnya?

Elisa keluar dari ruangan, namun langkahnya terhenti ketika sudah berada di depan pintu. Dia berpaling sejenak, melirik ke arah Amy.

“Itu makanan untukmu jadi jangan lupa dimakan,” ucapnya dan setelah itu dia keluar.

Amy masih seperti orang linglung, kenapa Elisa berbicara seolah-olah dia memiliki perasaan padanya? Tidak, yang dia pikirkan saat ini pasti tidak benar. Elisa tidak mungkin memiliki perasaannya dan dia yakin sahabatnya itu masih normal.

Amy menyingkirkan pikiran buruknya jauh-jauh. Dia tidak mau tenggelam dalam prasangka buruk terhadap sahabat baiknya sendiri. Tidak masalah Elisa tidak menerima penampilan yang sedikit berubah tapi setelah penampilannya berubah dengan sempurna, dia yakin Elisa pasti dapat menerima perubahannya tapi yang jadi masalahnya sekarang, bukankah dia telah kalah taruhan dari Andrew?

Sial, dia benar-benar harus menjadi pembantu dari pria itu. Padahal dia begitu percaya bahwa Elisa tidak mungkin seperti yang Andrew katakan tapi rupanya, sekarang dia harus mempercayai jika Andrew memiliki kemampuan. Bagaimana jika setelah ini dia meminta Andrew meramal akan hubungan persahabatannya dengan Elisa?

Tidak, sebaiknya hari ini dia tidak menemui peramal tampan dan misterius itu karena dia tidak mau menjadi pembantu. Dia bisa berpura-pura bahwa Elisa tidak seperti yang Andrew katakan. Bukankah Andrew tidak melihatnya? Dia bisa berbohong akan hal ini. Asalkan dia tidak pergi ke tempat Andrew maka semuanya aman.

Amy tidak berani keluar dari ruangannya karena dia takut ditertawakan oleh yang lain. Elisa sepertinya benar-benar marah karena dia tidak datang lagi untuk mengajaknya makan siang seperti yang sudah-sudah.

Sungguh dia sangat kecewa namun dia juga penasaran dengan perkataan Elisa dan setelah dipikir-pikir, selama mereka bersahabat,  Elisa tidak pernah terlihat tertarik dengan pria mana pun.

Pikiran kacaunya semakin mempengaruhi dirinya. Dia yakin Elisa tidak mungkin seperti yang dia bayangkan. Mungkin saja Elisa memang tidak menyukai wanita yang berdandan terlalu berlebihan tapi jika melihat penampilan Elisa, bukankah dia juga berdandan?

Huh, pikirannya semakin kacau saja. Selain memikirkan pekerjaan, memikirkan identitas Andrew yang misterius, sekarang dia pun harus memikirkan sahabat baiknya. Jangan sampai dia jadi gila hanya karena dia ingin mengubah penampilannya.

Amy benar-benar tak bertemu dengan siapa pun sampai dia pulang bekerja. Dia menunggu semua orang pergi barulah dia memberanikan diri untuk keluar dari kantor.

Mesti dia mendapatkan tatapan yang mencurigakan dari security namun Amy bergegas melarikan diri. Dia tidak melewati tempat Andrew karena dia berniat mencari make up yang bisa dia gunakan untuk belajar.

Amy pergi ke sebuah tempat untuk mencari apa yang dia inginkan. Dia melihat make up yang berjajar rapi tanpa mengerti sama sekali apa kegunaan dari make up yang sedang dia lihat.

“Oh, akhirnya kau melirik benda-benda ini juga!” suara seorang laki-laki yang berdiri di sisinya mengejutkan Amy.

Amy berpaling, dia semakin terkejut ketika melihat Andrew berdiri di sisinya. Apa? Kedua matanya melotot, dia seperti sedang melihat hantu.

“Ka-kau?” Amy tergagap. Bagaimana peramal itu bisa berada di sana dan bisa mengetahui keberadaan dirinya?

“Aku tahu kau menghindari aku, Amy. Kau pasti kalah taruhan, bukan?” Andrew mendekatkan wajahnya, Amy buru-buru mundur. Dia pun berpaling karena dia tidak tahan melihat wajah tampan Andrew yang begitu dekat. Jantungnya saja sudah berdegup dan dia tampak gugup. Sungguh, biar dia jelek tapi dia lemah pada pria tampan.

"Ti-tidak!" Amy berusaha menghindari kontak mata dengan Andrew.

“Tidak perlu berbohong. Aku tahu jika kau sudah kalah taruhan. Sekarang ikut aku karena kau harus menjadi pembantuku!” Andrew meraih tangannya, dia akan membawa Amy ke tempatnya.

“Apa? Aku tidak kalah!” Amy masih saja berbohong namun Andrew sudah menariknya pergi.

“Tunggu, aku mau membeli make up!” teriak Amy.

“Tidak perlu, di tempatku banyak!”

“Apa?” Amy tak mengerti tapi dia hanya bisa pasrah saja ditarik pergi oleh Andrew. Padahal dia sudah menghindari Andrew tapi kenapa pria itu bisa tahu jika dia berada di sana? Sungguh. Semakin hari, dia semakin penasaran dengan peramal misterius itu.

Terpopuler

Comments

gia nasgia

gia nasgia

Andrew seperti cenayang 😂

2024-10-23

0

Alexandra Juliana

Alexandra Juliana

Andrew kek jailangkung aja datang tiba2, pergipun tiba2..

2024-09-13

0

Muh. Yahya Adiputra

Muh. Yahya Adiputra

nahhh... bagaimana???
apa yg dikatakan oleh Andrew benar adanya kan Amy.. semoga saja setelah ini kamu bisa menjaga jarak dari Elisa 😬😬😬

2024-07-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!