Bertemu kembali

Di pagi hari buta. Langit sudah siap dengan kemeja kerjanya, menyusuri tangga menyapa orangtuanya dan adik-adiknya yang tengah menatapnya dengan wajah kebingungan. Bagaimana tidak, tidak seperti biasanya Langit pergi ke kantor di jam se-pagi ini, biasanya Langit akan pergi jam 7 atau sekitar jam 8. Langit tak sarapan, dia hanya menyalimi tangan kedua orangtuanya bergantian dan pergi begitu saja dengan senyum yang sebisa mungkin ia tampilkan, agar yang lainnya melihat bahwa dia baik-baik saja.

Laras menatap sendu punggung Putranya yang kian menjauh, jika di perhatikan lebih seksama lagi, tubuh Langit kini terlihat kurus yang mana membuat hati Laras sakit.

Deerrttt..

"Ibu sudah selesai, kalian lanjutkan saja makannya." Ucap Laras dengan memaksakan senyumnya.

Laras memundurkan kursinya, dia beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamarnya mengakhiri sarapannya yang baru saja di makan separuh. Aiman menghela nafas panjang, begitu pun ketiga adik Langit yang langsung tak berselera makan saat jantung rumahnya pergi begitu saja.

*****

Langit tidak langsung pergi ke kantornya, melainkan ia mendatangi sebuah danau dengan banyak bunga yang mengelilinginya. melemparkan sebuah batu kecil di tangannya, melihat air danau yang bergerak begitu batu masuk ke dalamnya, setelah airnya kembali tenang. Langit kembali melemparinya dengan batu, sampai batu di tangannya habis.

"Tuan, boleh aku duduk disini?" Tanya seorang perempuan dengan pelan, Langit hanya diam tak mengalihkan pandangannya.

Berhubung hanya ada satu kursi, perempuan itu meminta izin pada Langit yang lebih dulu menempatinya.

"Duduk saja, ini tempat umum yang pastinya bukan milikku."Balas Langit datar.

Di kursi panjang berwarna hitam, perempuan itu duduk menatap lurus ke depan. Ada seekor burung yang mendarat hanya untuk meminum air danau tersebut, keduanya sama-sama melihat apa yang burung itu lakukan, sampai burung itu terbang kembali mengudara entah kemana.

Perempuan di samping Langit menatap lamat-lamat keatas udara, air matanya turun tanpa di komando. Ingin rasanya dia terbang bebas seperti itu tanpa adanya beban, padahal dia tidak tahu kalau burung yang terbang bebas juga belum tentu aman, banyak pemburu yang ingin menembaknya ataupun menangkapnya hanya untuk di masukan ke dalam sangkar.

Langit menatap kearah samping, dia melihat perempuan di sampingnya menangis, lantas ia menyodorkan sapu tangan ke hadapan gadis itu seraya bangkit dari duduknya.

"Apapun masalahmu, keluhanmu, keluarkan semuanya sampai tak bersisa. Aku tahu betul bagaimana rasanya menahan sesak yang sudah lama ku bendung, sampai akhirnya aku menderita sendirian, padahal apa yang aku tangisi saja belum tentu posisinya merasakan apa yang aku rasakan pula, atau bisa saja sebaliknya." Ucap Langit kemudian dia beranjak pergi.

Kejora, perempuan yang duduk satu kursi dengan Langit adalah Kejora. Gadis yang penah di tolong Langit beberapa hari yang lalu, dia menyembunyikan wajahnya karena tak ingin mendapat rasa iba ataupun terlihat menyedihkan di hadapan orang lain. Tangannya memang mengambil sapu tangan dari Langit, akan tetapi ia tak berani menatap wajah Langit, selain menatap punggungnya dari belakang.

"Benar katamu, Tuan. Aku terlalu lemah untuk mereka yang tak berperasaan, aku sedih dan menderita sendirian, justru apa yang ku rasakan ini sebaliknya dengan apa yang mereka rasakan." Ucap Kejora dengan senyum getirnya.

Kejora menatap kembali kearah Danau yang membuat hatinya tentram, sejak Kejora berada di rumah sakit. Tidak ada satupun sanak keluarga yang mencarinya atau bahkan menghubunginya karena beberapa hari tak pulang, dan esok adalah hari dimana pernikahan Kakaknya dan juga pria yang seharusnya menjadi suaminya itu tiba.

Beberapa panggilan masuk dari orangtuanya dan juga kakaknya, mereka memberikan pesan agar esok Kejora datang mendampingi mempelai wanita selama proses pernikahan itu berlangsung.

[Kejora, Ibu gak mau tahu! Besok, kamu harus pulang. Kamu harus dampingi kakak kamu, jangan merasa paling tersakiti disini, jangan juga terlalu memanjakan lukamu itu. Kakakmu berhak bahagia, kau hanya perempuan pembawa sial di rumah ini, jangan halangi cinta mereka yang saling berbalas. Dan jangan membuat onar!]

[Kejora! Berikan gaun pernikahanmu pada Kakakmu, besok dia harus memakainya karena dia yang paling cocok memakainya. Jangan berani membantah ucapan Papa lagi! Atau kaj akan mendapat hukuman yang lebih parah dari sebelumnya, camkan itu!]

[Gue harap loe serahin semuanya, loe gak pantas bahagia. So, i'm Winner! 😏 selamat menangis adikku yang paling menyedihkan]

Dada Kejora terasa sesak begitu mengingat pesan yang di kirimkan mereka untuknya, apakah salah jika dirinya ingi bahagia tanpa ada pilih kasih antara saudaranya. Mengapa hanya dia yang di perlakukan berbeda, bahkan tak segan mereka mencap Kejora sebagai pembunuh. Mengapa mereka tak membunuh Kejora saja, sakitnya sampai tak bisa di bayangkan lagi, kenapa harus dengan cara menghajar fisik dan mentalnya sekeji ini.

Kejora menangis meraung-raung di danau itu sendirian, tidak ada satu pun orang yang melihatnya karena memang masih sangat pagi. Ada orang lain pun, yakni Langit saja sudah pergi.

Tubuh Kejora bergetar hebat, ia sampai kesusahan mengatur nafasnya karena hidungnya sudah tersumbat dan dadanya pun sangat sesak. Lama menangis membuatnya tak sadarkan diri, dia terjatuh ke bawah kursi dengan tangan yang masih menggenggam sapu tangan pemberian Langit.

Langit kembali saat sadar kunci mobilnya tidak ada di dalam kantong celananya, dia mencari-cari kuncinya karena tebakannya kuncinya jatuh di sekitaran danau.

"Apes banget, mau pergi kunci malah ilang. Ceroboh amat si Langit, gimana bisa jagain orang yang di sayang, kunci aja bisa ilang." Gerutu Langit.

Langit melihat ke bawah mencari kesana kesini, tetapi ia tak kunjung menemukannya, sampai kakinya membawanya menuju kursi dimana ia duduk tadi. Alangkah terkejutnya Langit melihat gadis yang tak lain adalah Kejora tergeletak diatas rerumputan hijau, tidak ada orang lain selain dirinya, gegas Langit menghampirinya dan berjongkok memeriksa nafasnya.

"Enggak mati, kayaknya pingsan." Gumam Langit.

Beberapa kali Langit menepuk pipi Kejora, tetapi tidak ada respon sama sekali.

"Loh, bukannya kau gadis yang di pantai itu? Yang mau bunuh diri?" Tanya Langit saat ia mengingat wajah Kejora.

Dengan kebingungan, Langit pun mengangkat tubuh Kejora menunu mobilnya. Tak lupa Langit mengambil kuncinya yang tergeletak diatas kursi. Kejora Langit baringkan di belakang mobilnya, lagi-lagi dia membawa orang yang tidak di kenal, terlebih lagi gadis yang sama seperti tempo hari.

Langit melajukan mobilnya entah kemana arahnya, dia ingat betul ucapan Dokter yang menangani Kejora mengatakan bahwa keluarganya tidak akan peduli pada gadis yang berada di belakangnya.

"Bawa ke apart aja lah, kasihan juga. Di bawa ke rumah sakit bakalan makan banyak waktu, mana ada meeting penting lagi." Ucap Langit bermonolog menimang keputusan apa yang akan ia ambil untuk Kejora.

"Dah lah, nanti kan ada Bi Asih yang bisa jagain. Tinggal telpon aja si Bagelen , biar di periksa di Apart. Heran juga, kenapa ketemu pas dia pingsan? Apa Tuhan kirim gue jadi malaikat? Tapi gue banyak dosa, mana ada malaikat banyak kekurangan kek gue." Gumam Langit.

Terpopuler

Comments

Nunung Nurhayati

Nunung Nurhayati

keluarga dajal iblis berbentuk manusia keluarga kejora kayanya tak ber agama mana semua pada jahat semoga mendapatkan karma yang setimpal

2024-12-09

1

Sulis Tyawati

Sulis Tyawati

yg kuat gitu lho kejora, jgn nangis aja. air mata h nyelesain masalah. dan g akan mengubah keadaan. kamu sendiri yg bisa merubah keadaan

2024-12-09

0

LENY

LENY

INI KEL BPK IBU KAKAK MANUSIA APA BINATANG YA KEJAM BENER IBLIS KAYAKNYA😡😡

2024-12-09

0

lihat semua
Episodes
1 Kejutan yang tak terduga
2 Murkanya Galaxy
3 Memilih mati
4 Kambuh
5 Rintihan Kejora
6 Bertemu kembali
7 Kartu Identitas
8 Trauma
9 Kembali ke rumah
10 Pernikahan
11 Operasi
12 Mengharapkan Karma
13 Menjenguk Kejora
14 Awal mula kebencian itu hadir
15 Kebohongan
16 Amukan Kavindra
17 Tak sanggup Kehilangan
18 Kabar buruk
19 Pemakaman
20 Tersebarnya Berita
21 Menemui Kejora
22 Pilih-Pilih
23 Pengajian
24 Hak Mutlak
25 Amukan Hendra
26 Tawaran Zoya dan Nando
27 Gak bujang lagi
28 Mantan calon mertua
29 Melawan
30 Virus
31 Menjemput Kejora
32 Mimpi buruk
33 Terharu
34 Menyelamatkan
35 Syifa Histeris
36 Haji Raja
37 Menghadiri pesta
38 Melamar
39 Menjemput
40 Baku hantam
41 Pingsan
42 Sadar
43 Menjenguk
44 Pulang
45 Menyuapi
46 Langit kegirangan
47 Menemuinya
48 Tes DNA
49 Cemburu
50 Dibpertemukan
51 Putri Ayah
52 Permintaan Ben
53 Pindah
54 Mencabut laporan
55 Kejora cemburu
56 Murkanya Seorang Ayah
57 Bermain di pantai
58 Menonton Drama
59 Kacau
60 Perdebatan Ayah dan Anak.
61 Perihal warisan
62 Tukang pijat
63 Bertemu ulat bulu
64 Hilangnya Langit
65 Hari itu telah tiba
66 Prosesi sungkeman
67 Ayah?
68 Kemarahan Langit
69 Fitting baju
70 Pergi ke Bandung
71 Amukan Langit
72 Asing
73 Charger
74 Malam pertama
75 Lagi?
76 Resepsi
77 Noda yang membandel
78 Berita Viral
79 Membalas
80 Di buntuti
81 Semuanya hancur
82 Kemauan Langit.
83 Lesehan
84 Gundal gandul
85 Keenakan
86 mood swing
87 Dugaan Galen
88 Cebong
89 Cek cebong
90 Urgent
91 Kejutan
92 Isi pikiran Nando
93 Suntuk
94 Marinasi
95 Tukang ribut
96 Cemas
97 Mencari Langit
98 Masih terngiang
99 Kontraksi
100 Melahirkan
101 Saran nama
102 Baby
103 Berita
104 Menangkap pelaku
105 Konferensi pers
106 Konferensi pers
107 Kado
108 Menghibur Bila
109 Tingkah Bumi dan Langit
110 Kesabaran Kejora.
111 Kejutan
112 Novel baru lagi, judulnya " Kasih sayang Cahaya" jangan lupa baca ya readers
113 Hallo, guys ini novel baruku sequel dari -Langit Maheswara' versi Arzan ya.
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Kejutan yang tak terduga
2
Murkanya Galaxy
3
Memilih mati
4
Kambuh
5
Rintihan Kejora
6
Bertemu kembali
7
Kartu Identitas
8
Trauma
9
Kembali ke rumah
10
Pernikahan
11
Operasi
12
Mengharapkan Karma
13
Menjenguk Kejora
14
Awal mula kebencian itu hadir
15
Kebohongan
16
Amukan Kavindra
17
Tak sanggup Kehilangan
18
Kabar buruk
19
Pemakaman
20
Tersebarnya Berita
21
Menemui Kejora
22
Pilih-Pilih
23
Pengajian
24
Hak Mutlak
25
Amukan Hendra
26
Tawaran Zoya dan Nando
27
Gak bujang lagi
28
Mantan calon mertua
29
Melawan
30
Virus
31
Menjemput Kejora
32
Mimpi buruk
33
Terharu
34
Menyelamatkan
35
Syifa Histeris
36
Haji Raja
37
Menghadiri pesta
38
Melamar
39
Menjemput
40
Baku hantam
41
Pingsan
42
Sadar
43
Menjenguk
44
Pulang
45
Menyuapi
46
Langit kegirangan
47
Menemuinya
48
Tes DNA
49
Cemburu
50
Dibpertemukan
51
Putri Ayah
52
Permintaan Ben
53
Pindah
54
Mencabut laporan
55
Kejora cemburu
56
Murkanya Seorang Ayah
57
Bermain di pantai
58
Menonton Drama
59
Kacau
60
Perdebatan Ayah dan Anak.
61
Perihal warisan
62
Tukang pijat
63
Bertemu ulat bulu
64
Hilangnya Langit
65
Hari itu telah tiba
66
Prosesi sungkeman
67
Ayah?
68
Kemarahan Langit
69
Fitting baju
70
Pergi ke Bandung
71
Amukan Langit
72
Asing
73
Charger
74
Malam pertama
75
Lagi?
76
Resepsi
77
Noda yang membandel
78
Berita Viral
79
Membalas
80
Di buntuti
81
Semuanya hancur
82
Kemauan Langit.
83
Lesehan
84
Gundal gandul
85
Keenakan
86
mood swing
87
Dugaan Galen
88
Cebong
89
Cek cebong
90
Urgent
91
Kejutan
92
Isi pikiran Nando
93
Suntuk
94
Marinasi
95
Tukang ribut
96
Cemas
97
Mencari Langit
98
Masih terngiang
99
Kontraksi
100
Melahirkan
101
Saran nama
102
Baby
103
Berita
104
Menangkap pelaku
105
Konferensi pers
106
Konferensi pers
107
Kado
108
Menghibur Bila
109
Tingkah Bumi dan Langit
110
Kesabaran Kejora.
111
Kejutan
112
Novel baru lagi, judulnya " Kasih sayang Cahaya" jangan lupa baca ya readers
113
Hallo, guys ini novel baruku sequel dari -Langit Maheswara' versi Arzan ya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!