Langkah pria paruh baya tiba-tiba terhenti seketika saat dia melihat sang istri yang tampak terisak itu .
Dia pun memeluk erat tubuh sang istri dan mengelus lembut pundaknya , meski sebenarnya dia sendiri tidak tahu alasan wanita itu menangis.
" mas ____
Wanita itu membuka suaranya setelah cukup lama terdiam .
" kenapa ma ? " .
" Bara mas dia____
" ada apa dengan Bara ? " .
" dia mengamuk mas , aku tidak tahu kenapa dia berubah menjadi seperti ini lagi aku takut mas " .
" tenanglah ! tidak akan terjadi apapun , ayo kita ke kamar Bara " .
Kedua orang itu menaiki undakan tangga , aroma darah menguar menelisik masuk ke indera penciuman mereka .
Mata pria paruh baya itu menatap tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat , sosok Bara saat ini tampak menatap kosong ke arah jendela kamarnya.
Dia menjadi ingat saat-saat seperti ini , ketika dulu dia mengusir keluarga Hana .
"Bar ! " .
Hening ! .
Hanya keheningan yang ada di antara mereka bertiga , pria itu melirik sang istri yang masih terus mengeluarkan air matanya itu .
" kenapa ma ? " tanyanya lirih .
Wanita itu menggeleng samar sambil sesekali menyeka air matanya yang luruh begitu saja dan sulit dia hentikan .
" pa ! " .
" ada apa Bara ? Kamu kenapa ini ? " .
" aku ingin Hana ! " ucap Bara dengan lantang sambil menatap nyalang netra hitam milik sang papa .
Degh
Suatu perkataan yang sama sekali tidak ingin dia dengar , dia sudah bersusah payah menyingkirkan keluarga Hana tapi kenapa Bara malah mengungkitnya saat ini .
Melihat sang papa yang tampak mematung , membuat Bara tersenyum sinis , dia sudah tahu jika sang papa akan menolak permintaannya itu .
" kenapa pa ? " .
" apa maksud kamu ? " .
" Bara hanya ingin Hana pa bukan yang lain ! " .
" papa tidak mengerti apa maksudh kamu saat ini Bara ! " sergah Papa Bara tajam.
" Bara tidak peduli jika papa akan melarangku , saat ini aku sudah dewasa dan tahu apa yang aku inginkan ! " ucap Bara tajam .
" tidak ! Dia tidak setara dengan keluarga kita ! " .
" persetan dengan kata setara , bagiku hanya Hana yang aku mau , jika aku tidak bisa memiliknya maka aku akan mati ! " desis Bara tajam .
" tutup mulut kamu Bara ! Hardik pria itu tajam .
" apa tutup mulut ? selama ini aku hanya diam pa melihat orang aku cintai kesakitan tapi kali ini aku tidak akan diam , aku menginginkan Farhana ! Ucap Bara dan langsung keluar dari kamarnya itu .
Wanita paruh baya itu ingin mengejar Bara tapi sang suami melarangnya.
" mas aku ___
" jangan kamu kejar dia ! " .
" tapi mas aku gak mau kehilangan Bara dia anakku ! " .
" dia juga anakku , dia tidak akan pergi jauh biarkan saja dia , seharusnya dia tahu apa yang dia inginkan tidak akan mungkin aku penuhi ! " .
" kenapa mas bukankah Hana gadis yang baik ? ".
" baik saja tidak cukup , dia tidak setara dengan kita Mira ! " .
Setelah berkata seperti itu , pria paruh baya itu meninggalkan sang istri seorang diri , bolehkah dia menyesal menikah dengan laki-laki yang begitu keras wataknya .
Bahkan dia seolah tidak merasa kasihan dengan Bara anak nya sendiri dan selalu memaksakan kehendaknya.
Tubuh wanita itu luruh begitu saja di atas lantai yang dingin , dia merasa kasihan dengan sang anak yang harus menerima sikap otoriter suaminya itu .
Sementara di sisi lain ,Hana tampak bingung karna dari tadi dia tidak mendapatkan satu pun ojek online .
" duh kenapa sih ini ? Apa aku telat pesan ya ? " gumam Hana pelan .
Dia semakin resah karena jam sudah menunjukkan pukul enam sore yang itu artinya sang bapak sudah pulang dan pasti khawatir dengannya .
Suara derungan motor sport itu berhenti tepat di depan Hana yang saat ini tengah resah menunggu pesanannya yang tak tidak kunjung diterima itu .
" Daffa " ucap Hana lirih .
Daffa membuka helm fullfacenya dan menampakkan wajah tampan Daffa hingga membuat jantung Hana berdegub kencang.
" han , belum pulang ? " .
" oh iya ini lagi nunggu ojol " .
" gak ada emang ? " .
" gak tahu nih , apa karna ponselku ya , aku dari tadi pesan tapi gak bisa masuk " keluh Hana tidak sadar.
" mau gue anterin ? " .
" g-gak usaha Daffa , aku nunggu aja " .
" ini udah sore Han , barengan sama orang pulang kantor " .
" tapi kan____
" kan gue cowok Lo Han , anggep aja gitu ! " .
" hah ? " .
" udah ayo nanti orang tua Lo khawatir " .
" gak papa ya ? " .
" sans aja " .
Hana terpaksa menerima ajak Daffa , dia kesusahan untuk naik motor itu Daffa dengan sigap membantunya naik.
Sesekali Daffa melirik Hana dari kaca spionnya , dia merasa kagum dengan dirinya sendiri Karna sudah berani maju satu langkah untuk mendekati Hana .
Tiga puluh menit berlalu , motor sport itu sampai di depan rumah sederhana milik Hana .
Daffa dengan lembut membantu Hana turun .
" makasih ya Daffa ".
" Lo gak nyaman ya naik motor ? " .
" emm enggak kok " .
" jawab aja han , kalo gak nyaman gue bisa pake mobil " .
" gak usah ngapain ? " .
" biar gue bisa bikin Lo nyaman " .
Degh
Jantung Hana memompa lebih cepat , Daffa begitu terlihat tampan saat ini apa lagi dengan suara lembutnya itu dan juga sorot mata teduh Daffa .
Hana terpaku menatap netra hitam milik Daffa yang begitu memabukkan nya saat ini , hingga dia tidak sadar jika mereka telah saling menatap lebih dari lima menit .
Suara dering ponsel milik Daffa membuat keduanya tersadar dan buru-buru mengalihkan pandangannya.
" gue pulang han " .
Hana mengangguk mengiyakan .
Seulas senyum tipis itu menghiasi wajah ayu Hana saat ini , tak bisa dia pungkiri jika dia telah jatuh dalam pesona seorang Daffa .
Daffa berjalan masuk ke dalam rumahnya itu sambil bersiul riang hingga membuat para bodyguard dan juga art di rumahnya menatap heran .
" halo bang ! Udah makan ? " tanya Daffa pada salah satu bodyguard yang setia menemaninya .
" s-sudah tuan muda " jawabnya terbata .
Daffa terkekeh pelan melihat bodyguard itu yang tampak menatapnya heran saat ini .
Seoalh tidak perduli , dia langsung masuk kedalam rumahnya dan tidak lupa menyapa satu persatu orang yang dia temui .
" bi , itu tadi ams Daffa kan ? " tanya salah satu art di rumah Daffa .
" iya lho Sri , kok jadi gitu ya ? " .
" jangan-jangan ada yang merasuki tubuh mas Daffa bi ! " .
" husst gak usah ngawur ! udah ayo kerja lagi ! " .
Keduanya pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda Karna heran melihat perubahan Daffa .
" mama ! " teriak Daffa dengan lantang .
" Daffa kamu ____
" hai mamaku sayang ! " ucap Daffa sambil mencium pipi sang mama .
Daffa kemudian masuk kamarnya dan meninggalkan sang mama yang tampak menganga tak percaya saat ini .
Apa dia tidak salah lihat ? .
" apa dia anakku ? " ucap wanita paruh baya itu lirih .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments