Mata Bara mendelik ketika dia melihat sosok Daffa yang membuat dirinya sempat kritis di rumah sakit beberapa hari yang lalu .
Hana menoleh melihat Daffa dengan gagahnya berdiri tepat di belakangnya saat ini , dia bingung kenapa Daffa bisa tau kalo dia bekerja di tempat ini .
" gak usah ikut campur brngsek ! " .
Daffa menyeringai melihat Bara yang sangat emosi saat ini .
" lepasin dia ! " hardik Daffa tajam .
" Lo siapanya hah ? " ucap Bara dengan tatapan mata nyalang .
" gue cowoknya ! " ucap Daffa dengan lantang .
Suara bariton milik Daffa itu mampu memecah atensi para pengunjung cafe , mereka pun berhamburan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi saat ini .
Hana yang melihat itu merasa malu sekali , apalagi ini hari pertama dirinya bekerja .
" han , jelasin sama aku ! " ucap Bara menatap Hana saat ini yang masih saja terdiam itu .
Hana bingung dia harus menjawab apa saat ini , posisinya sulit , jika dia menjawab tidak maka Bara akan terus mengejarnya , tapi jika dia menjawab iya mungkinkah Daffa akan menolongnya pergi dari tempat itu .
" iya Daffa cowok aku ! " ucap Hana akhirnya .
Seulas senyum miring itu menghiasi wajah tampan Daffa , dia menatap Bara seolah berkata jika dirinya lah yang menang .
" apa ? terus aku ? " ucap Bara tak percaya .
Selama ini dia tidak pernah sekalipun mempunyai hubungan dengan siapapun , satu-satunya gadis yang Bara cintai adalah Hana .
Hana menatap wajah Bara yang tampak shock itu , jujur saja Hana sudah tidak mencintai Bara lagi semenjak saat itu Hana mengubur perasaanya dalam-dalam .
Dia pun juga sempat menjalin hubungan dengan Alif , meski dia tidak begitu menyukai Alif saat itu .
" maafkan aku Bara , hubungan kita sudah berakhir , aku harap kamu bisa melupakan aku " ucap Hana dan berlalu pergi dari tempat itu .
Saat ini Hana sangat malu sekali , dia masuk ke dalam cafe itu dan Daffa menyusulnya .
" tunggu ! " teriak Bara pada Daffa .
Daffa pun berhenti dan menoleh ke arah Bara yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan mata dendam .
" sejak kapan ? " .
" maksud Lo ? " .
" hubungan Lo sama Hana ! " .
" kenapa ? " .
" jawab brengsek ! " ucap Bara sambil mencengkram maut kerah baju seragam Daffa .
Daffa menepis dengan kasar .
" bukan urusan Lo ! Jauhi Hana Karna dia milik gue ! " sergah Daffa .
" gak usah mimpi ! dari awal Hana punya gue dan selamanya akan jadi milik gue ! " hardik Bara tajam .
Sorot mata keduanya sama- sama tajam dan genderang perang itu sudah di mulai saat ini .
Berawal hanya permusuhan antar geng tapi kini juga tentang seorang gadis yang mereka sukai .
Cuih
Daffa meludah tepat di samping Bara , Bara ingin menghajar nya tapi urung karna Security cafe itu memisahkan kedua anak muda itu .
Daffa pun menyeringai , meski hatinya panas saat ini , ternyata saingannya bukan Alif ataupun Dion melainkan Bara .
Darimana Hana mengenal Bara dan kenapa mereka sempat menjalin hubungan .
" apa hebatnya sih si Bara ? gantengan juga gue ! " gumam Daffa sambil berjalan menyusul Hana .
" tuan muda " sapa pria berperawakan kekar itu .
" apa ? " ucap Daffa sinis .
" apa anda yakin ingin melunasi semua biaya SPP gadis itu ? " .
" Lo pikir gue bercanda ? Udah lakuin sesuai perintah ! " .
Kata-kata Daffa memang selalu menusuk , bahkan sekelas pria berperawakan kekar itu hanya bisa mengelus dadanya sendiri .
" sabar sabar , ingat anak istri di rumah " gerutu pria itu .
Daffa masih terus mencari Hana di cafe itu , matanya melirik kesana kemari tapi tidak menemukan sosok Hana .
" mas , lihat Farhana gak ? " tanya Daffa pada seorang pramuniaga laki-laki .
" oh Hana anak baru ? " .
" iya " .
" tadi kayaknya ke arah sana deh mas " .
" makasih mas " .
Daffa segera menuju kemana Hana saat ini .
Ternyata benar saja Hana tampak sedang duduk di bawah pohon rindang sambil membawa nampan .
Dia terlihat tengah melamun saat ini , bahkan dia tidak sadar dengan kedatangan Daffa yang sudah di sampingnya itu .
Daffa menatap Hana , dia menelisik wajah ayu milik Hana , bibir mungil , bulu mata lentik hingga lesung Pipit yang menghiasai pipinya , semakin menambah kecantikan Hana .
Hana ingin bangkit dari duduknya , tapi Daffa buru-buru menahannya , hingga membuat Hana mendelik kaget .
" Daffa ! " .
Daffa tidak menjawab sama sekali , dia masih asyik menatap Hana saat ini hingga membuat jantung Hana berdegub kencang .
Sorot mata itu begitu lembut dan juga teduh hingga membuat Hana salah tingkah .
" duduk dulu , ada yang mau gue omongin " .
" apa ? " sahut Hana sambil mendudukan bokongnya .
" Lo ada hubungan apa sama Bara ? " .
" oh kenapa emang nya ? " .
" gak papa sih , Bara musuh gue dan tadi gue juga udah ngaku kalo Lo cewek gue ! Kayaknya habis ini permusuhan gue sama dia bertambah " .
" kamu kenapa musuhan sama Bara ? " .
" ceritanya panjang , jawab dulu pertanyaan gue ! " .
" tapi aku mau kerja lagi " .
" tinggal jawab aja apa susahnya sih han ? " .
" dia mantan aku ! " .
" apa ? Kok bisa ? Lo suka sama modelan kayak Bara ? " .
" kenapa ? Dia ganteng kok dan juga baik " .
" ganteng ? Baik ? "
Hana mengangguk mengiyakan .
" Daffa , aku harus kerja lagi makasih yang tadi udah bantuin aku " .
" Han soal tadi____
" soal kamu ngaku jadi pacarku ? gak papa kok Daffa , aku gak keberatan " .
" tapi han___
" apa ? " .
" gak jadi deh Lo balik kerja aja , tapi nanti kalo ketemu Bara lagi Lo bilang sama gue ! " .
" gimana caranya ? " .
" gue minta nomer ponsel Lo " .
Hana dengan polosnya memberi Daffa nomernya itu , kemudian dia berpamitan untuk bekerja kembali .
Daffa tersenyum semringah akhirnya setelah satu tahun lamanya dia bisa memiliki nomer ponsel Hana .
Sebenarnya mudah saja bagi Daffa untuk mendapatkan nomer Hana , tapi dia ingin memintanya sendiri .
Daffa memegang dadanya yang masih berdegub dengan kencang .
" Farhana , Lo punya gue ! Bukan Bara atau siapapun ! Lo punya Daffa Arsenio ! " ucap Daffa lirih .
Daffa pun beranjak dan bersiap untuk ke basecamp .
Sementara itu Bara menggeber motornya ketika sampai di rumah mewah miliknya , rumah yang menjadi saksi bisu kisah cintanya dengan Hana saat itu .
Dia merasa menyesal , karna tidak mampu melawan papa saat itu . Dia hanya diam saja ketika mengetahui fakta jika papanya lah yang menyuruh orang untuk menabrak ibu Hana hingga wanita itu cacat .
Brakk
Bara menutup pintu kamarnya dengan nyaring , dia banting apapun yang ada di dalam kamarnya saat ini .
Tangannya mengepal erat , dia begitu membenci Daffa yang menurutnya selalu menjadi batu sandungannya.
" kenapa harus dia han ? " ucap Bara sambil meninju kaca di dalam kamar mandinya itu hingga mengeluarkan darah segar .
Mama Bara yang mendengar keributan itu langsung menuju kamar sang anak .
Matanya membola melihat kamar yang begitu berantakan , dengan pecahan berbagi macam barang .
Sudah lama sekali Bara tidak mengamuk seperti ini , dulu dia sempat mengamuk dan ingin mengakhirinya hidupnya sendiri karena papanya mengusir keluarga Hana saat itu .
" astaga Bara ! " pekik wanita itu ketika melihat tangan Bara penuh dengan darah .
Bara menatap nyalang sang mama , menurutnya sang mama hanya diam saja ketika papanya mengusir keluarga Hana dulu .
" gak usah deketin gue ! " sergah Bara dengan tatapan nyalang .
" Bara kamu____
" jika bukan karna kalian , Hana masih menjadi milikku ! " .
Wanita paruh baya itu begitu terkejut mendengarnya , sudah lama sekali Bara tidak pernah menyebut nama gadis itu .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments