Pagi ini kelas Daffa pelajaran olahraga, seperti sebelumnya Daffa dan temannya selalu bersemangat karna mereka akan melakukan kegiatan di outdoor .
Daffa dulunya memegang jabatan sebagai kapten basket , tapi karna saat ini dia sudah kelas dua belas tepaksa Daffa pun di ganti dengan adik kelasnya .
Hal itu pula yang membuat seorang Daffa cukup di kenal banyak kalangan remaja seusianya dan menjadikan dia most wanted , meski badung dan suka menindas nyatanya pesona Daffa tak terelakan.
" woy oper Daf ! " .
" yes ! " .
Daffa yang baru saja memasukkan bola ke dalam ring itu pun bertos ria dengan kedua temannya , tatapan kagum dari para kaum hawa tak pernah lepas dari gerakan gesit Daffa .
" anak anak ayo berkumpul sebentar " ucap pak guru olahraga.
Para murid IPS itu pun berdiri di tengah lapangan , dan terpaksa menghentikan pertandingan bola basket antar teman sekelas itu .
" hari ini karna anak IPA satu , tidak ada gurunya maka akan di gantikan dengan pelajaran olahraga, jadi kalian akan bergabung bersama mereka " .
Daffa yang mendengar itu pun bersorak riang di dalam hati , itu tandanya dia akan semakin puas melihat wajah ayu Hana .
Tak berapa lama kemudian , datanglah segerombolan murid kelas IPA satu , yang merupakan kelas unggulan dan hanya di huni murid genius .
Aura yang mereka pancarkan sangat kontras dengan anak IPS yang terkenal Badung dan susah di atur itu .
" Daffa maju ke depan ! " seru pak guru itu .
Daffa pun maju dengan langkah percaya dirinya , tatapan takut dari para anak IPA itu terlihat dengan jelas apalagi Dion yang selama ini Daffa bully .
" kamu pimpin mereka untuk melakukan pemanasan , bapak ada perlu sebentar " .
Guru itu pun pergi dan membiarkan Daffa berada di depan , auranya begitu berkharisma .
Daffa tersenyum miring , sesekali dia melirik Hana yang tampak menunduk itu , mungkin saja dia takut pada Daffa .
" murid cowo langsung aja pemanasan buat basket , sedangkan cewek kalian pemanasan buat volly " .
Mereka pun mengangguk , tidak ada yang berani membantah perintah Daffa saat ini termasuk Raka ketua kelas IPA satu itu .
Daffa sengaja mendekati deretan Hana , saat ini dia ingin sekali lebih dekat dengan gadis pujaannya itu.
Hana yang merasakan jika Daffa akan mendekat , semakin beringsut mundur , tubuhnya gemetar ketakutan .
" Lo siapa ? " tanya Daffa pura-pura tidak mengenal Hana .
" h -hana " ucap Hana terbata .
" Lo ikut gue ambil bola volly di gudang " .
Hana mendelik kaget , kenapa harus dia ? Bukankah banyak siswi yang lain ? .
Daffa menoleh ke arah Hana yang tak masih bergeming itu , dia pun laku berteriak memanggil Hana .
Dengan langkah ragu , Hana pun mau tidak mau harus mengikuti Daffa saat ini .
Sepanjang jalan keduanya hanya terdiam , Hana masih saja menunduk , jantung nya berdegub dengan cepat .
Tak berbeda jauh , Daffa pun merasakan hal yang sama , hanya berjalan begini saja sudah membuat dirinya kesusahan bernafas .
ceklek
Daffa membuka gudang penyimpanan bola itu , dia berjalan terlebih dahulu dan menghidupkan lampu .
" masuk ! " .
Hana pun mengikuti Daffa , netra cantik itu melirik ke sekeliling, akhirnya dia melihat bola volley , perlahan Hana pun ingin mengambilkan sebelum dia di tahan Daffa .
Hana terlonjak kaget , karna Daffa memegang tangannya, dia berdo'a di dalam hati agar Daffa tidak kerasukan iblis penunggu gudang .
" han " ucap Daffa lembut .
" i-iya " cicitnya pelan .
Terdengar helaan nafas panjang , sebelum akhirnya Daffa membuka suara .
" biar gue yang ambil " ucap Daffa akhirnya.
" oh iya " sahut Hana yang merasa lega .
Setelah mengambil bola itu , mereka berdua keluar dari gudang , dan Daffa meminta Hana untuk ke lapangan dulu Karna dia akan mengunci pintu .
" gblok , kaku banget sih gue , tinggal bilang aja Hana aku suka kamu , kamu mau gak jadi pacarku , kenapa gak bisa sih ! " gerutu Daffa yang merutuki kebodohannya sendiri .
Tadi niatnya mengajak Hana , karna dia ingin langsung menembak gadis itu , tapi dia justru merasakan gugup yang belebihan .
Hingga dia tidak mampu sekedar mengeluarkan kata kata itu .
" arrghhhhhhh gblok Lo Daffa ! " .
Setelah puas memaki dirinya sendiri , Daffa pun melangkah menuju lapangan .
Sementara di lain sisi , Sinta satu-satunya teman Hana menatap curiga padanya .
" han , eh mana si bengis ? " bisiknya .
" di belakang " sahut Hana yang ikut berbisik .
Hana pun menyerahkan bola volly itu pada teman lainnya , para siswi itu pun akhirnya bermain bola volly .
Satu jam pun berlalu , para siswi yang merasakan kelelahan itu pun menepi ketengah lapangan , pak guru pun juga sudah tiba .
Kali ini mereka sedang menyaksikan pertandingan basket antara IPA dan IPS, banyak pekikan kagum untuk ketiga most wanted yang menghuni kelas IPS itu .
Hana pun juga sama , dia menatap kagum pada Daffa yang selalu berhasil memasukkan bola basket ke ring , di balik sifatnya yang bengis ternyata Daffa memang tampan .
Rahang tegas dengan gaya rambut mullet itu menambah kesan tersendiri.
Sesekali Daffa melirik ke arah Hana , dia menatap kagum gadis itu , wajahnya yang lembut mampu membuat Daffa terpesona .
Teng teng
Bel pun berbunyi tanda jika jam olahraga sudah berakhir , para murid itu pun melangkah menuju kelas masing-masing dan bersiap ganti pelajaran.
" daf , gimana ntar malem ? " .
" aman atur aja ! " .
Ketiga anak muda itu , langsung masuk ke loker dan bersiap untuk mandi sejenak .
Malam pun tiba
" seraangggggg !!! "
Bugh bugh bugh
Suara pukulan itu pun tak terelakan , malam ini Daffa dan anggota gengnya menyerang markas the Wolf salah satu geng yang paling di takuti di jakarta .
Hal itu tak menyurutkan niat Daffa untuk balas dendam atas kematian salah satu anggotanya beberapa hari lalu .
" cabut ! " sergah Daffa setelah melumpuhkan para anggota geng itu .
" anjr mana si Bara ? " .
" gak ada dia woy ! " .
" pengecut ! " geram Daffa sembari mengepalkan tangannya.
" santai bro , besok kita kesini lagi " .
" obatin yang luka, gue ada perlu ! " .
" mau kemana Lo ? " .
" nyari angin bentar " .
Daffa pun pergi dengan wajah yang penuh luka lebam , motor sportnya memecah keheningan malam , dia melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi .
Motor itu masuk ke dalam sebuah gang , dan berhenti tepat di depan rumah sederhana.
Daffa memandang dari kejauhan , kamar seorang gadis yang tampak masih menyala lampunya , dia tersenyum tipis .
Sudah satu tahun lamanya , dia selalu mengunjungi rumah Hana secara diam-diam , bagi Daffa hanya melihat rumah itu membuatnya tenang .
" selamat malam Hana, semoga mimpi indah " gumamnya pelan .
Daffa terus memperhatikan kamar itu yang dia yakini kamar Hana , lampu dikamar itu pun padam , setelah melihat itu Daffa pun pergi dari rumah Hana .
Baginya Hana bukan hanya sekedar seseorang yang dia sukai , tapi gadis itu juga yang membuat Daffa merasakan tenang ketika dia lelah .
Seperti saat ini , Daffa duduk termenung di jembatan , tatapannya kosong masih dia ingat dengan jelas , Abdi salah satu anggota gengnya itu meninggal secara mengenaskan .
Daffa merasa tidak berguna , sebagai ketua dia merasa tidak mampu menjaga anggota nya sendiri .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Mari🧝♀️16
Thor, ini cerita adalah yang pertama kali aku baca dan membuatku ketagihan.
2024-06-06
0