Suara derungan motor itu menggema di pelataran salah satu sekolah elit di ibukota . Semua atensi para murid tertuju pada segerombolan anak muda yang seragam sekolah berbeda dengan mereka .
Bisik bisik mulai merebak , mereka semua penasaran ada apa dan kenapa sekumpulan anak muda itu menyambangi sekolah mereka .
Tampak salah satu dari mereka pun turun , dengan seragam sekolah yang terlihat begitu urakan , dengan gagahnya dia menghampiri salah satu murid yang sedang berada di parkiran sekolah itu .
Dengan garangnya dia mencekeram kuat kerah baju siswa yang tampak melongo itu .
Dengan tatapan nyalang dan suara bariton pemuda itu berkata " dimana Daffa ! " geramnya .
Glek
Siswa itu menelan ludahnya secara kasar , tubuhnya bergetar hebat dia tidak mampu untuk sekedar berbicara saja .
" bisu Lo ! " sergahnya .
" a-ampun g-gue gak tau dimana dia " jawabnya terbata .
Pemuda itu tidak terima dengan kerasa dia menghempaskan kerah milik siswa itu dengan kasar .
" bacot ! " .
Bugh bugh bugh
Dia memukul keras siswa yang tidak tau apa-apa itu , matanya menelisik ke sekeliling dan melihat jika motor Daffa memang tidak ada di tempat parkir itu .
Mata elang itu menangkap seorang gadis yang sedang berjalan menyusuri koridor tanpa ada niat ikut menonton .
" Farhana " lirihnya .
Dia ingin mengajar gadis itu , tapi belum dia mengejar tiba-tiba terdengar suara deringan motor yang menggeber di belakangnya .
Seringaian tipis itu tercetak jelas di wajahnya , dengan gagahnya dia langsung menghampirinya para anak muda yang baru saja sampai itu .
Daffa pun turun dari motornya itu , dengan senyum smirk dia membuka helm fullfacenya yang masih tampak lebam akibat pertarungan semalam .
" berani juga Lo ! " ucap Ares .
" kenapa emang nya ? " ucap pemuda itu sinis .
" apa mau Lo ? " tanya Daffa sinis .
" cih ! Lo tanya apa mau gue ? apa yang udah Lo lakuin sama anak geng gue bngsat ! " hardik nya tajam .
" apa ? Itu belum cukup untuk membayar nyawa Abdi yang udah Lo dan teman-teman laknat Lo keroyok ! " desis Daffa tajam .
" harusnya Lo yang mati brngsek ! " ucapnya sinis .
" coba aja kalo bisa ! " sahutnya tak kalah sinis .
" oke ! Ntar malem gue tunggu di arena kita buktikan siapa yang harusnya mati ! Lo atau gue ! " ucapnya menantang Daffa .
" oke ! " sahut Daffa penuh percaya diri .
" cabut ! " .
Segerombolan anak muda itu pun pergi dari sekolah elit itu , mereka pun menggeber motor mereka sembari mengacungkan jari tengah ke arah Daffa .
" anjr ! " desis Reza yang merasa tidak terima .
" daf , Lo yakin mau ngelawan dia nanti ? " tanya Ares penasaran .
" nyawa harus di balas nyawa ! " ucap Daffa penuh penekanan.
Daffa pun pergi meninggalkan kedua temannya itu yang masih tampak terpaku tak percaya , pasalnya geng the wolf itu terkenal akan kelicikan mereka .
Abdi adalah salah satu korban kelicikan geng itu , yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sebuah kata menang dan paling kuat .
" kita harus bilang ini ke bang Davin " ucap Ares .
" Lo yakin ? Daffa pasti marah kalau dia tahu kita bilang ke bang Davin " .
" Lo mau Daffa mati gitu aja ? " .
" ya gak ! Tapi gimana kalo Daffa tahu kita yang lapor bang Davin ? " .
" asal Lo tutup mulut gak akan ada yang tahu ! " .
Setelah berkata seperti itu Ares pun pergi menyusul Daffa yang tampak sudah menjauh itu , sedangkan Reza dia dilanda bimbang , antara lapor bang Davin atau tidak .
Hubungan antara Daffa dan kakak sepupunya itu tidak begitu baik , karna Davin yang seorang polisi itu selalu membubarkan acara balapan liar .
Karna hal itu pula Daffa membenci Davin yang menurutnya terlalu ikut campur dalam masalah gengnya , dan terlebih lagi sang mama juga selalu membandingkan dirinya dan Davin , hingga membuat Daffa semakin membenci Davin .
Daffa sengaja melewati kelas IPA satu , dia ingin mencari angin , angin yang dia maksud itu adalah Hana satu-satunya orang yang bisa membuat Daffa merasa lega hanya dengan melihatnya dari kejauhan.
Dilihatnya Hana yang tampak tengah menyapu di dalam kelasnya itu , seulas senyum tipis itu pun terbit .
Daffa sengaja berhenti sejenak di depan kelas Hana hanya untuk melihat Hana dari jauh, dadanya terasa sesak ketika dia mengingat Abdi yang meninggal sia-sia.
Ares pun datang menghampirinya , dia menatap Daffa heran , kenapa sedari tadi pandangan mata Daffa itu ke dalam kelas .
" bro ! " sapa Ares sambil menepuk pelan pundak Daffa .
Daffa hanya menoleh sekilas , mata elang itu menelisik ke dalam kelas IPA itu lagi , kali ini dia melihat Hana yang tampak akrab dengan Dion , siswa yang seiring dia bully itu .
" Dion ? " tanya Ares yang mengikuti arah pandang mata Daffa saat ini .
" anak mana dia ? " .
" maksud Lo ? " .
" rumahnya " .
" gak tau gue ! " sahut Ares sambil mengendikkan bahunya pelan .
Reza pun datang dengan nafas ngos-ngosan , dia berlari dari lantai satu ke lantai dua untuk mengejar keduanya .
" gila ya kalian gue di tinggal gitu aja ! " gerutu Reza .
" lelet kek cewek Lo ! " sahut Ares tajam .
" ck ...ini ngapain disini ? Kelas kita masih di ujung noh ! " ucap Reza sambil menunjuk tepat di depan wajah Daffa .
" woy ! " ucap Daffa yang tidak terima karna Reza sengaja menunjuk tepat di depan wajahnya .
Suara bariton Daffa itu membuat semua atensi ke arahnya saat ini , banyak yang takut dan menghindari tatapan elang Daffa itu .
Daffa yang sadar dengan tatapan mereka pun tampak tak perduli , dia terus menatap Hana yang saat ini terdiam dan tidak bercanda lagi dengan Dion .
Sedangkan Reza , dia menyengir kuda menunjukkan gigi ginsulnya .
" sayangggg ! " sapa dari seorang gadis berambut panjang dengan pakaian sexy .
Daffa memutar bola matanya jengah , kupingnya serasa cumpleng setiap hari harus mendengarkan suara Bella .
" cewek Lo tuh ! " sindir Reza sambil cengengesan.
Daffa hanya diam , dia masih asyik mencari angin yang saat ini terlihat tengah menghapus papan tulis mungkin hari ini adalah jadwal piket Hana .
" yang ! Ihhhh kok jawab sih ! " ucap Bella dengan nada manja .
" Lo bisa diem gak sih ! " desis Ares sambil mengusap kupingnya .
" apaan sih ! " .
" kenapa bel ? " ucap Daffa datar dan dingin .
" yang , antar aku ke mall ya nanti , habis itu kita nonton " ucapnya dengan mata berbinar menatap wajah tampan Daffa itu .
" sorry gue gak suka kencan ala anak ABG labil kayak gitu , gak level sama background gue ! " ucap Daffa tajam .
Bella pun langsung murung mendengar kata Daffa barusan , selama mereka berpacaran Daffa jarang atau bahkan tidak pernah mengajak Bella untuk jalan-jalan sekedar menghabiskan waktu berdua .
Tapi Bella tidak pernah mempersoalkan itu , karna sedari dulu yang dia inginkan hanya menjadi pacar seorang Daffa ketua geng the Tiger itu .
Setelah berkata seperti itu , Daffa langsung meninggalkan Bella dengan wajah cemberutnya, Daffa sama sekali tidak perduli itu Karna baginya Bella hanyalah mainan .
Dia saja terpaksa menerima cinta Bella karna merasa sakit hati ketika tahu jika Hana sudah berpacaran dengan Alif dulu .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments