" assalamu'alaikum " ucap Hana .
" wa'alaikumsalam nak " sahut sang ibu yang saat ini tengah duduk di atas kursi roda itu .
Hana memeluk tubuh ibunya itu , dengan pelukan hangat itu bisa membuat Hana seakan lupa dengan uang spp yang sudah menunggak dua bulan .
Dia tidak tega jika harus minta pada sang bapak yang hanya menjadi pedangang kaki lima , yang hasilnya juga belum tentu paling uang nya itu habis untuk kebutuhan sehari-hari mereka .
" kenapa nak ? Ada apa masalah ? " tanya wanita paruh baya itu dengan nada lembut .
Hana menggeleng di pelukan sang ibu , dia sama sekali tidak ingin membebani orang tuanya saat ini .
" Hana "
" aku gak papa Bu , aku hanya rindu ibu " sahut Hana lirih .
Tak mampu lagi rasanya Hana menahan masalahnya itu sendirian , ingin sekali dia bercerita tapi melihat bagaimana kondisi ibunya saat ini membuatnya urung berbicara .
" Bu Hana boleh kerja ? " ucap Hana sambil mendongak menatap wajah yang tampak sudah keriput itu .
" kenapa ? Kamu butuh apa nak ? Biar bapak akan usahakan " sahut ibunya itu sembari mengelus lembut rambut lurus Hana .
" Hana butuh pengalaman bu , sebentar lagi Hana lulus , Hana pingin cari kerjaan " .
" hana____
" Hana mohon Bu , tolong izinkan Hana , Hana hanya ingin membantu bapak Bu " .
Wanita itu menatap iba sang putri , dia merasa tidak berguna karna hanya duduk di atas kursi roda , setelah beberapa tahun dia mengalami kecelakaan dan itu membuat kakinya harus di amputasi .
" tapi nak bagiamana jika bapak ____
" bapak pasti akan mengizinkan jika ibu bilang iya " .
" baiklah , kamu mau kerja dimana ? " pungkas wanita itu karna dia tidak bisa lagi mencegah Hana .
" entahlah Bu , Hana akan minta bantuan ke Sinta , kemarin dia bilang jika cafe milik omnya itu sedang membutuhkan karyawan " .
" maafkan ibu Hana , ibu hanya menyusahkan kamu dan bapak , ibu tidak berguna ___
" Bu , jangan bicara seperti itu , ini semua musibah Bu " .
Kedua perempuan berbeda usia itu pun berpelukan dengan pikiran yang berkecamuk .
Suara pintu rumah sederhana itu terbuka menampilkan seorang pria paruh baya dengan wajah lelah nya itu .
Pria itu pun menghela nafasnya kasar , dia menatap dagangannya yang masih tersisa lumayan banyak itu .
Mendengar suara pintu itu terbuka Hana yang saat ini sedang sholat itu pun langsung berlari keluar dengan langkah riang .
" bapak ! " .
" Hana " .
Hana pun langsung takzim pada sang bapak , Hana melihat sang iba yang tampak lelah itu semakin tidak tega saja .
" sudah makan nak ? " .
Hana pun menggeleng .
" ayo makan dulu , kebetulan batagornya masih sisa banyak bisa buat kita makan malam " .
" pak ___
Pria paruh baya itu pun langsung berhenti melangkah , dia pun menoleh berusaha untuk menutupi kesedihannya saat ini .
" iya nak " .
" dagangannya gak laku lagi ya pak " .
" kata siapa gak laku ? Ini tadi laku kok hanya saja masih sisa jadi bisa kita makan nak " . Sahut pria itu kemudian dia berjalan menuju gerobak yang dia parkir di teras rumahnya itu .
Sebisa mungkin dia ingin menyembunyikan perasaannya saat ini , dia harus kuat Karna dia seorang kepala keluarga .
Istri dan anaknya juga bergantung pada pundaknya . Dia tidak mengecewakan mereka berdua .
Dengan membawa piring pria tua itu sudah selesai membuat batagor untuk Hana dan sang ibu .
" panggil ibumu nak " .
Hana pun berjalan ke kamar sang ibu yang kebetulan saat ini ibunya itu sedang membaca buku .
" bapak sudah pulang nak ? " .
" iya Bu " .
Hana pun mendorong kursi roda itu , wanita paruh baya itupun menyambut sang suami dengan senyuman hangat.
" mas " .
" kita makan dulu asih " .
Wanita itu pun mengangguk , mereka bertiga pun makan dengan lahap setelah bapak Hana itu membersihkan diri .
Suasana dirumah itu tampak begitu hangat , meski mereka hidup serba kekurangan .
Di rumah Daffa
" bi tolong panggil daffa ! " ucap wanita paruh baya itu pada sang asisten.
" baik nyonya " .
Seorang wanita dengan pakaian sedikit kebesaran itu pun menaiki undakan tangga , langkahnya terayun ke kamar dengan pintu bercat coklat tua itu .
Tok tok
" den , makan malam sudah siap " .
Hening , tak ada sahutan dari dalam sama sekali .
Dia pun tidak putus asa , wanita itu terus mengetuk pintu itu hingga sang penghuni kamar keluar dengan wajah masamnya .
Asisten rumah tangga itu pun menunduk takut , melihat raut wajah Daffa saat ini .
" den , makan malam sudah siap " ucapnya ragu .
Daffa sama sekali tidak menjawab, dia nyelonong begitu saja .
" duh kok ada ya orang kayak den Daffa , gimana itu nanti istrinya , apa betah ? " gumamnya pelan .
Wanita itu pun mengikuti langkah Daffa yang menuruni anak tangga .
" Daffa ! " ucap sang mama penuh penekanan .
" apa sih ma ? " sahut Daffa dengan malas .
" lihat kelakuan anak kamu mas , tiap hari kerjaannya kalo gak balapan , main , nongkrong terus , pusing aku mas ! " gerutu wanita itu .
" anak kamu juga itu ! " sahut pria paruh baya yang tengah asyik makan itu .
" mas ___
" makan dulu mama ku sayang " .
Dengan wajah murka wanita itu menatap Daffa yang tampak menampakkan cengiran lebarnya itu .
Sejenak hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu , mereka bertiga sama sekali tidak ada yang bersuara .
" Daffa ada yang papa ingin bicarakan dengan kamu ! " ucap pria paruh baya itu setelah selesai makan .
" iya pa " sahut Daffa lirih .
Dia sudah tahu apa yang akan sang papa bicarakan , dia melirik sang mama yang saat ini menatapnya dengan nyalang .
Daffa pun beranjak dan berjalan ke ruang kerja sang papa dengan wajah tertekuk .
ceklek
" pa " .
" duduk ! " titahnya .
Daffa pun duduk di sofa yang ada di ruang kerja megah itu . Keringat dingin itu pun membasahi keningnya , dia gugup , Daffa begitu takut dengan sang papa .
" papa sudah dengar keluhan para guru tentang kelakuan kamu ketika berada di sekolah ! " ucapnya dingin .
Glek
Daffa menelan kasar salivanya itu .
" pa ____
" papa gak mau tau dan papa juga tidak mau mendengar alasan kamu Daffa , mulai besok kamu harus bangun pagi dan berangkat sebelum jam setengah tujuh " . ucap pria itu datar .
" tapi pa ___
" atau kamu mau semua fasilitas mu papa tarik ? " .
" e-enggak pa " sahut Daffa gugup .
" jangan buat malu keluarga Arsenio Daffa , kamu ini pewaris tunggal , dan mulai saat ini bersikaplah layaknya seorang pemimpin ! " hardiknya tajam .
" Daffa kan masih delapan belas tahun pa " .
" Daffa bisa tidak kamu mendengarkan ucapan papa kali ini , dan juga kamu jangan terus membuat mamamu itu marah , dia punya riwayat darah tinggi " .
" iya pa " sahut Daffa lirih .
" kamu boleh keluar ! " .
Daffa pun keluar dari ruangan sang papa itu , gimana caranya dia bisa bangun pagi ? Dia saja selalu pulang dini hari.
Daffa merebahkan tubuh atletisnya itu , dia mental langit langit kamarnya . Bayangan wajah manis Hana itu pun terlintas dibenak nya .
" Farhana " ucapnya lirih .
Seulas senyum tipis itu menghiasai wajahnya .Hanya mengingat wajahnya saja jantung Daffa berdegub kencang .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
bb_yang_yang
Kereeeen!
2024-06-05
1