Bab 20

☘️* NEK MILIH BOJO IKU, SING ORA PATIYO NGERTI DUNYO. MERGO ANAKMU SHOLEH SEPIRO SHOLEHA'E IBUNE.

'KALAU MILIH ISTRI ITU, YANG TIDAK BEGITU MENGERTI DUNIAWI. SEBAB ANAKMU SHOLEH, SEBERAPA SHOLEHAH IBUNYA.* ☘️

{K. H. MAIMOEN ZOEBAIR****}

🍂🍂🍂

"Aku tidak mau menaiki mobilmu.!" ucap Arum masih dingin.

"Aku tahu apa yang kamu pikirkan," Dimas pun mengeluarkan smartphone dari dalam sakunya. "Assalamualaikum, Lif kamu udah pulang?"

"Baiklah, Aku akan menuju kesekolahmu." Dimas mengakhiri percakapannya.

"Apa kamu sudah merencanakan ini?" tanya Arum.

"Aku akan menghilangkan rasa kecewamu dengan caraku." kata Dimas lembut. "Ayo, Alif sudah menunggu kita." sambung Dimas sembari membukakan pintu mobil untuk Arum.

Tetapi Arum malah melengos ke pintu belakang. Dimas yang melihatnya pun bingung. "Rum Aku bukan sopir mu duduklah didepan! Lagipula aku juga tidak akan menyentuhmu, sebelum aku menghalalkanmu dihadapan penghulu."

Mau tidak mau Arum pun masuk kedalam pintu mobil yang di bukakan Dimas, dalam perasaan dongkol.

"Kenapa dia selalu memaksakan kehendaknya." batin Arum.

Didalam mobil mereka sama-sama saling diam dan tatapan keduanya fokus pada jalanan menuju sekolah Alif. Arum memandang kearah jendela mobil sedangkan Dimas fokus menyetir. Dimas pun tidak tahan atas sikap diam Arum dan bersuara memecah keheningan. "Rum apa kamu masih suka eskrim alpukat?" Tanya Dimas hati-hati.

"Hemmm." Arum menjawab dengan deheman.

"Apa masih dengan saus cokelat dan toping kacang hazelnut?"

"Memmmm." lagi-lagi Arum hanya berdehem.

Dimas masih dengan sabar menerima perlakuan acuh Arum. Dimas pun kembali bertanya. "Rum, apakah Alfin menyukaimu?" Pertanyaan Dimas sontak membuat Arum menatap Dimas dan tatapan mereka bertemu.

Degg

Arum cepat-cepat memalingkan wajah kearah depan. "Ada apa dengan pertanyaanmu?"

"Lalu apakah kamu juga menyukainya?" Dimas yang sedang fokus menyetir melihat Arum dari sudut matanya.

Arum diam tidak menjawab. tatapannya masih fokus kejalanan. "BERHENTI.!" Hardik Arum.

Dimas pun bingung dengan sikap Arum tidak biasanya dia seperti ini. Galak. Mungkinkah isi pesannya dulu begitu menyakitinya. Sampai merubah sifat keibuannya yang lembut dan menenangkan.

"Berhenti Dimas.!" Hardik Arum lagi.

"Apakah tadi aku salah bicara Rum?" tanya Dimas was was.

Arum pun menghela nafas kasar. "Ini sudah sampai di depan sekolah Alif." ucapan Arum kembali melembut.

Kemudia Dimas pun menyadari keberadaannya. "Kamu disini aja, biar aku yang turun." Dimas pun memarkirkan mobilnya lalu membuka pintu mobil dan langsung menuju kearah keberadaan Alif yang sudah terlihat didepan gapura sekolah.

"Assalamualaikum Lif. udah lama?" Salam Dimas saat sudah berada di hadapan Alif.

"Waalaikumsalam Mas Dimas. belum terlalu lama." Jawab Alif dan menyalami tangan Dimas.

"Ayo Lif." Ajak Dimas.

Dimas pun berbalik dan hendak berjalan tapi suara Alif menghentikan langkahnya. "Mas Dimas, Apa setelah Mas Dimas menikahi Mbak Arum Mas Dimas akan pergi lagi seperti dulu?"

Dimas pun berbalik dan menatap Alif kemudian memegang kedua pundak Alif. "Lif percayalah selama ini aku hanya mencintai Mbak mu, Dan tidak akan pergi lagi." ucapan Dimas meyakinkan Alif.

"Tapi Mas, sudah ada laki-laki lain yang sepertinya menyukai Mbak Arum. Selama Mas Dimas pergi dialah yang selalu ada untuk Mbak Arum." Jelas Alif.

Dimas pun mengangguk dan mengerti atas ucapan Alif. "Aku tahu siapa lelaki itu."

"Ayo Mbak mu, sudah menunggu." ajak Dimas.

Arum melihat dua pria yang sepertinya sedang berbicara sangat serius sampai-sampai Dimas memegang pundak adiknya. "apa yang mereka bicarakan kenapa terlihat sangat serius." gumamnya.

Kemudian Dimas dan Alif berjalan beriringan ke arah mobil. Dengan Alif duduk di jok belakang.

Setelah memasuki mobil dan memegang kemudi Dimas pun menanyakan kemana tempat yang akan dituju. Alif dan Arum pun saling pandang. "Rumah." Arum pun akhirnya membuka suara.

"Tadi sebelum Aku menjemputmu, aku sudah minta izin ke ibu kalau sepulang kamu mengajar akan mengajakmu pergi." kata Dimas sambil menyunggingkan senyum.

"Kenapa? tadi kamu tidak bilang padaku akan pergi?" tanya Arum datar.

"Kalau aku mengatakannya apa kamu masih mau pergi denganku?" ucap Dimas.

"Lif Apa kamu sudah punya sepatu bola. aku masih ingat kamu suka bermain bola?" tanya Dimas sembari menengok ke arah belakang tepat di mana Alif duduk.

"Belum Mas." jawab Alif antusias.

"Baiklah, aku akan memberikanmu sepatu bola." tawar Dimas.

"Tidak! Kita akan langsung pulang lagipula terlalu banyak main bola kamu akan melupakan pelajaranmu." tegas Arum.

"Rum Apa salahnya jika itu hanya sekedar hobi?" tanya Dimas.

"Tidak.!" tegas Arum lagi.

Alif pun bingung dan. "Ayolah Mbak, aku janji tidak akan melupakan pelajaranku?" suara Alif memelas.

Akhirnya pun Arum mengalah dan mengikuti kemauan dua pria ini.

Setelah sampai di sebuah toko sepatu Alif pun memilih sepatu favoritnya. Kemudian mereka berjalan ke arah kedai es krim yang dulu biasa Dimas dan Arum datang.

Dimas pun memesan es krim favorit Arum. Arum diam-diam memperhatikan Dimas dan dalam hatinya menyanjung. "Apakah dia benar-benar mencintaiku? Dia masih ingat ice cream favoritku yang menurutku sepele, kebanyakan lelaki melupakannya atau sengaja melupakannya." batin Arum.

"Kenapa? Apa kamu mau menyanjungku, karena aku masih mengingat ice cream favoritmu, bahkan aku masih mengingat hijab yang kau kenakan saat pertama kali kita bertemu dalam keadaan ku yang basah kuyup." suara Dimas membuyarkan lamunan Arum. Saat itu pertama Dimas datang kerumah, Arum memakai hijab rumahan warna nevy.

Arum pun diam dan berjalan keluar dari kedai dan Duduk di taman yang tidak jauh dari sana.

Alif merasa seperti biasa obat nyamuk, begitu membosankan dan dan sekaligus senang karena mendapatkan sepatu bola yang dia idam-idamkan. Tiba-tiba di depan Alif duduk, lewat dua orang gadis yang mungkin seusianya memakai pakaian syar'i. Alif pun takjub. kemudian Alif menyadarkan diri 'Astagfirullah'. "Alif sadarlah." batin Alif

Dimas pun menyusul Arum dan membawa semangkuk kecil ice cream dan memberikan kepada Arum.

"Jogja adalah kota yang sangat mempesona." kata Dimas memecah keheningan. Alif yang mendengarnya pun hanya diam, Alif tahu mungki Dimas sedang mencairkan suasan dengan Mbaknya.

Selama satu setengah jam mereka menikmati kota dan karena sudah waktunya azdan ashar mereka bertiga pun sholat di Masjid setempat.

Selepas Dimas mengantar Arum dan Alif pulang, Dimas pun berpamitan kepada kedua orangtua Arum.

"Pak, Bu Kulo pamit riyen, sampun ajeng Maghrib. (Pak, Bu saya pamit dulu, sudah mau Maghrib)." ucap Dimas sembari bersalaman ke Bapak dan menankupkan tangan ke arah Ibu.

"Nggeh, ati-ati mboten susah ngebut nggeh.' (Iya, hati-hati tidak usah ngebut yah)." jawab Bapak.

"Nggeh Pak, maturnuwun. Assalamualaikum, ('iya Pak, Terimaksih, Assalamualaikum)." salam Dimas dan berjalan kearah pintu. Dimas melihat Arum yang sedang menyirami tanaman dan melambaikan tangan serta menyunggingkan senyum tulus.

"Waalaikumsalam." jawab salam keduaorangtuaArum.

Dimas melihat Arum sedang menyirami tanaman, Arum pun menoleh kearah Dimas. Dimas pun melambaikan tangan dan menyunggingkan senyuman kearah Arum.

Dimas pun berlalu meninggalkan halaman rumah Arum. Arum masih memandangi mobil Dimas dengan senyum tersungging di sudut bibirnya.

Alif yang baru yang berjalan dari samping rumahnya melihat kakaknya sedang tersenyum sambil memandangi mobil Dimas yang baru meninggalkan parkiran di halaman. Terlintas di pikiran Alif untuk meledek sang kakak.

"Hayoo, ngopo toh Mba, ngelamun wae Yen Mba kui tresno kaleh Mas Dimas kui Yo ndak usah di pendem ngono kui toh Mbak." (Hayoo, kenapa Mbak, melamun aja kalau Mba itu cinta sama Mas Dimas itu itu nggak usah dipendam gitu toh Mbak)." ucap Alif lalu mengedip-ngedipkan mata.

"Usil." seketika Arum menyemprotkan air ke Alif, Alif pun berlari meninggalkan Arum yang masih terkekeh geli dengan tingkah adiknya.

####

Sepertiga malam.

Seorang yang sedang bermunajat meninggalkan kehidupan duniawi, berpasrah atas segala yang terjadi. Memohon ampunan dan hikmah dari setiap masalah.

Malam ini Arum terbangun dari tidurnya, lagi-lagi dia bermimpi sama selama empat hari berturut-turut. Dalam mimpinya ada seorang wanita cantik bermata sipit. Dalam mimpinya wanita itu ingin Arum menjadi menantunya.

Tak jelas mengarah kemana mimpinya itu. Karena mimpi itu tidak begitu jelas. Seketika Arum mengingat bahwa Dimas keturunan China dan bermata agak sipit.

"Apakah mungkin ini petunjuk-Mu ya Rabbi?." gumam Arum lirih.

Selesai sholat Arum tidak segera melepas mukenahnya, dia pun mengambil Al-Qur'an dan melantunkan dengan hikmat nan merdu. Karena sedari kecil orangtuanya selalu mengajarkan untuk melafazkan ayat suci Al-Qur'an. Dia pun sudah fasih panjang pendek setiap ayat dalam Al-Qur'an.

Ting!!!

Terdengar bunyi pesan masuk di ponselnya, Arum pun tidak langsung membuka Smartphonenya. Dia malah terus saja melafazdkan lantunan ayat.

Ting.!!!

Bunyi kedua, pesan dari ponselnya, akhirnya Arum menghentikan lantunan dan menutup Al-Qur'an lalu menaruhnya diatas meja kecil.

"Siapa yang mengirim pesan pada jam segini?" pikir Arum.

Dia pun memencet tombol menyala dan melihat siapa nama yang tertera di layar ponselnya.. "Dimas."

"Assalamualaikum Bidadari ku." pesan Dimas yang pertama.

"Aku tahu kamu sedang sholat, aku ingin kelak akulah yang menjadi imammu Rum?" Pesan Dimas yang kedua.

Arum pun tersenyum dan membalas pesan Dimas. "Waalaikumsalam."

Tak lama Arum pun mendapat balasan dari Dimas. "Alhamdulillah dibalas."

"Memang biasanya ndak di balas?" balas Arum.

"Di balas tapi jarang.!" balas Dimas.

"Oh." Arum membalas hanya berOh ria.

"Ya udah bidadariku, besok aku akan menjemputmu, motormu masih dibengkelkan? Tenang sama Alif juga ko, tadi aku udah bilang sama dia." balasan dari Dimas

"Ya." Arum hanya membalas singkat.

"Assalamualaikum," balasan terakhir Dimas.

"Waalaikumsalam."

Dalam diam Arum selalu tersenyum membalas pesan dari Dimas apalagi dengan menyebut 'bidadariku'.

"Ya Allah apa yang harus aku putuskan. Aku tidak ingin menggantung keputusanku. Semoga keputusanku ini yang baik bagiku dan baik pula baginya." gumamnya.

#

#

#

ikuti terus cerita selanjutnya, jangan lupa teman-teman untuk selalu mendukung berupa apapun. aku tidak memaksa seikhlasnya.

#

Terimakasih kasih juga untuk yang sudah memberikan dukungan berupa like, vote, bintang 5 dan meramaikan kolom komentar serta masukan.

#

Salam sehat selalu manis ☺️

Terpopuler

Comments

Jumadin Adin

Jumadin Adin

sy yakin jodohnya di tangan authoor

2021-11-16

0

trisss

trisss

sweet

2021-07-09

0

Endang Purnama

Endang Purnama

sweet ...sms Dimas di sepertiga malam utk Arum 😍

2020-12-11

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 01
2 Bab 02
3 Bab 03
4 Bab 04
5 Bab 05
6 Bab 06
7 Bab 07
8 Bab 08
9 Bab 09
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25 •Mengungkap Ancaman•
26 Bab 26 •Menerimamu•
27 Bab 27 •Akad•
28 Bab 28 •Bersamamu•
29 Bab 29 Pertengkaran
30 Bab 30 Kecemburuan Dimas
31 Bab 31 Masih Kecemburuan Dimas
32 Bab 32 Resepsi
33 Bab 33 Acara
34 Bab 34 Acara malam
35 Bab 35 Rahasia
36 Bab 36 Kesempatan
37 Bab 37 perasaan
38 Bab 38 Rumah sakit
39 Bab 39 Syukuran
40 Bab 40 Kelahiranmu
41 Bab 41 Medina
42 Bab 42 Sebuah kenangan
43 Bab 43 Lombok
44 Bab 44 Suku Sasak Lombok
45 Bab 45 Keindahan Lombok
46 Bab 46 Positif
47 Bab 47 kejahilan Dimas
48 Bab 48 Tersenyum
49 Bab 49 Jalan Allah
50 Bab 50 Salah tingkah
51 Bab 51 Kejujuran
52 Bab 52 Uwais al-Qarni
53 Bab 53 Poligami
54 Bab 54 Saifullah Almaslul
55 Bab 55 Bubur sumsum
56 Bab 56 Bubur sumsum 2
57 Bab 57 Musibah
58 Bab 58 Ujian hidup
59 Bab 59 Rencana Pindah
60 Bab 60 Balas dendam
61 Bab 61 Melepas Rindu
62 Bab 62 Gelisah
63 Bab 63 Hati Nurani
64 Bab 64 Ikhlas
65 Bab 65 Makna Ikhlas
66 Bab 66 New Normal
67 Bab 67 Merajut asa
68 Bab 68 Gus Miftah
69 Bab 69 Panggilan Hati
70 Bab 70 Olahraga
71 Bab 71 Berbagi
72 Bab 72 Daster
73 Bab 73 Cemburu
74 Bab 74 Bucin
75 Bab 75 Lamaran
76 Bab 76 Malioboro
77 Bab 77 Cukur Kumis
78 Bab 78 Bocor Alus
79 Bab 79 Gusar
80 Bab 80 Akrofobia
81 Bab 81 Menikah Denganku
82 Bab 82 Menjadi yang kedua
83 Bab 83 Gawat
84 Bab 84 Lupakan
85 Bab 85 Meminta Restu
86 Bab 86 Sujud Syukur
87 Bab 87 Overdosis
88 Bab 88 Awan Mendung
89 Bab 89 Sunan Kalijaga
90 Bab 90 Sunan Kalijaga ²
91 Bab 91 Semur Jengkol
92 Bab 92 Panas Dingin
93 Bab 93 Fitness
94 Bab 94 Berpuasa
95 Bab 95 Putu sama Klepon
96 Bab 96 Teka Teki
97 Bab 97 Dagang Warteg
98 Bab 98 Walimatul haml
99 Bab 99 Maulid Nabi
100 Bab 100 Jagung Bakar
101 Bab 101 USG
102 Bab 102 Mengenang Tragedi
103 Bab 103 Banci
104 Bab 104 Melewati masa kritis
105 Bab 105 Khusus
106 Bab 106 Heppy Ending
107 Renungan Hari Jum'at
108 Renungan jiwa dihari Jum'at
109 Sholawat Gus Dur
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab 01
2
Bab 02
3
Bab 03
4
Bab 04
5
Bab 05
6
Bab 06
7
Bab 07
8
Bab 08
9
Bab 09
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25 •Mengungkap Ancaman•
26
Bab 26 •Menerimamu•
27
Bab 27 •Akad•
28
Bab 28 •Bersamamu•
29
Bab 29 Pertengkaran
30
Bab 30 Kecemburuan Dimas
31
Bab 31 Masih Kecemburuan Dimas
32
Bab 32 Resepsi
33
Bab 33 Acara
34
Bab 34 Acara malam
35
Bab 35 Rahasia
36
Bab 36 Kesempatan
37
Bab 37 perasaan
38
Bab 38 Rumah sakit
39
Bab 39 Syukuran
40
Bab 40 Kelahiranmu
41
Bab 41 Medina
42
Bab 42 Sebuah kenangan
43
Bab 43 Lombok
44
Bab 44 Suku Sasak Lombok
45
Bab 45 Keindahan Lombok
46
Bab 46 Positif
47
Bab 47 kejahilan Dimas
48
Bab 48 Tersenyum
49
Bab 49 Jalan Allah
50
Bab 50 Salah tingkah
51
Bab 51 Kejujuran
52
Bab 52 Uwais al-Qarni
53
Bab 53 Poligami
54
Bab 54 Saifullah Almaslul
55
Bab 55 Bubur sumsum
56
Bab 56 Bubur sumsum 2
57
Bab 57 Musibah
58
Bab 58 Ujian hidup
59
Bab 59 Rencana Pindah
60
Bab 60 Balas dendam
61
Bab 61 Melepas Rindu
62
Bab 62 Gelisah
63
Bab 63 Hati Nurani
64
Bab 64 Ikhlas
65
Bab 65 Makna Ikhlas
66
Bab 66 New Normal
67
Bab 67 Merajut asa
68
Bab 68 Gus Miftah
69
Bab 69 Panggilan Hati
70
Bab 70 Olahraga
71
Bab 71 Berbagi
72
Bab 72 Daster
73
Bab 73 Cemburu
74
Bab 74 Bucin
75
Bab 75 Lamaran
76
Bab 76 Malioboro
77
Bab 77 Cukur Kumis
78
Bab 78 Bocor Alus
79
Bab 79 Gusar
80
Bab 80 Akrofobia
81
Bab 81 Menikah Denganku
82
Bab 82 Menjadi yang kedua
83
Bab 83 Gawat
84
Bab 84 Lupakan
85
Bab 85 Meminta Restu
86
Bab 86 Sujud Syukur
87
Bab 87 Overdosis
88
Bab 88 Awan Mendung
89
Bab 89 Sunan Kalijaga
90
Bab 90 Sunan Kalijaga ²
91
Bab 91 Semur Jengkol
92
Bab 92 Panas Dingin
93
Bab 93 Fitness
94
Bab 94 Berpuasa
95
Bab 95 Putu sama Klepon
96
Bab 96 Teka Teki
97
Bab 97 Dagang Warteg
98
Bab 98 Walimatul haml
99
Bab 99 Maulid Nabi
100
Bab 100 Jagung Bakar
101
Bab 101 USG
102
Bab 102 Mengenang Tragedi
103
Bab 103 Banci
104
Bab 104 Melewati masa kritis
105
Bab 105 Khusus
106
Bab 106 Heppy Ending
107
Renungan Hari Jum'at
108
Renungan jiwa dihari Jum'at
109
Sholawat Gus Dur

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!