Aku berusaha mencerna kata- kata Sunny ke Gella. Karena sependengaran ku tadi Suny mengatakan kalau dia bisa mati jika aku mengajak nya serta waktu itu.
Apa itu artinya dia sudah tahu kalau aku akan mengalami kecelakaan? Atau jangan- jangan kecelakaan ini memang ulahnya dan Gella? Dugaanku ini tidak benar, kan???? Tidak! Tidak! Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku putuskan untuk berbalik dan mengekori Gella dan Suny yang sepertinya akan pergi ke kamar tempat ragaku di rawat.
"Ck! kita udah dekat nih! Lo harus bisa jaga bicara lo! Ntar kalau keluarga Andhine dengar, bisa panjang urusan nya. Lagian kan ini rahasia kita bertiga! TIdak ada yang boleh tahu rahasia ini selain kita bertiga." Ujar Gella dengan suara pelan tapi masih dapat aku dengar jelas karena aku memang berjalan tepat di belakang mereka.
Mereka tidak tahu saja kalau orang yang ada di belakang saat ini ada bos mereka. Tunggu saja akan aku cari tahu siapa komplotan kalian yang satu nya lagi. Jangan kira karena aku tidak sedang berada di raga ku maka nya aku tidak bisa membuat kalian membayar semua nya.
Ku hentikan langkah ku tepat saat mereka membuka pintu perawatan kamarku.
"Mungkin memang ada hikmahnya gue terperangkap di dalam tubuh Hannah ini. Gue jadi tahu yang mana kawan dan yang mana lawan. Serta yang mana lawan yang berpura- pura menjadi kawan." gumamku kemudian berlari ke kamar dan di dalam kamarku ternyata telah ada banyak sekali teman- temannya Hannah.
Kalau melihat dari jumlah mereka yang datang, hmm pasti ini adalah teman sekelasnya Hannah. Untungnya kak Arlan sudah menaikan kelas kamarku ke VIP sebagai wujud pertanggung jawabannya pada Hannah.
Karena kalau menggunakan BPJS milik Hannah, mungkin hanya dua orang saja yang bisa masuk.
"Kamu dari mana saja Hannah? Ini wali kelasmu dan juga teman- temanmu datang untuk menjenguk kamu." Ujar ibu Hannah pada ku.
Keringat dingin pun mulai membasahi tubuhku. Bagaimana tidak? Secara aku tidak tahu nama teman- teman nya Hannah. So apa yang harus aku lakukan jika keadaan seperti ini? Apa mungkin aku hanya senyam senyum saja selama mereka di sini? That's impossible!
"Aku dari luar sebentar buk cari udara segar. Bosan sendirian di kamar." Karangku, sesuka hati ku.
"Ya sudah. Kalau begitu ayo naik lagi ke ranjang kamu Hannah. Kamu masih ingat dokter bilang apa, kan? Kamu belum bisa banyak- banyak jalan ke sana kemari."
"Maaf bu." Jawabku sebisa mungkin menjawab dengan cara yang baik.
"Kami tidak bisa lama- lama buk Erina, kedatangan kami kemari adalah untuk menjenguk Hannah sekaligus memberikan uang sosial anak- anak. Mohon diterima buk, jumlahnya tidak banyak tapi mudah - mudahan dapat membantu. Selain itu kami semua berharap Hannah dapat kembali masuk sekolah. Bukan begitu anak- anak?" tanya buk Ernita pada teman- teman Hannah.
"Ini mohon diterima ya, buk. Ini dari teman- teman Hannah di kelas."
"Terima kasih banyak buk. Semoga Tuhan membalas kebaikan ibuk dan anak- anak semua." ucap ibu Hannah.
"Kami pamit ya bu."
Walasnya Hannah pun keluar dari ruangan itu diantar oleh ibuk nya Hannah. Sedangkan teman- teman Hannah yang lain masih ada di dalam ruangan itu.
"Hannah, cepat sembuh ya? Sejak lo gak masuk sekolah, Sekolah jadi sepi. Benar gak, Rangga? gak ada Hannah gak serukan pleen??! " Ucapnya sok asik.
Aku tidak tahu nama teman Hannah yang sedang berkoar- kora itu. Aku cuma sempat berpikir, apakah mungkin yang bicara denganku barusan adalah sahabatnya Hannah? Tapi kalau dilihat dari Look nya kayaknya gak mungkin mereka satu circle.
"Ya, terima kasih." Jawabku, singkat, padat dan menyelamatkan. Menyelematkanku dari obrolan panjang yang mungkin saja terjadi.
Ku pandangi satu persatu teman- teman Hannah, mana tahu ada memori ingatan Hannah yang tertinggal di dalam kepala ini. Namun sayangnya, meski sudahku pandangi semuanya, tetap saja tidak ada aku kenal. Aku hanya bisa berharap kalau mereka cepat - cepat pulang.
Setelah semua orang pergi, maka di dalam ruangan itu tersisalah aku dan ibu nya Hannah saja.
"Kamu besok udah masuk sekolah lagi kan, Hannah?" tanya ibu Hannah padaku.
"Ibuk bukannya tidak peduli dengan mu yang sakit- hanya saja kalau sudah dijenguk seperti ini perasaan ibu tidak nyaman jika kamu tidak masuk sekolah segera. Apa lagi kamu di sana karena beasiswa mu, Han. Jangan sampai karena terlalu banyak tidak masuk sekolah, itu bisa dijadikan alasan untuk mencabut beasiswa mu Hannah. Kamu paham maksud ibu kan?" tekan sang ibu, tapi bukan seperti sebuah paksaan yang menyakitkan. Aku malah merasa hatiku basah mendengar ucapannya dan melihat tatapan matanya.
Jujur saja, ingin sekali aku mengatakan aku tidak paham. Tapi melihat sorot mata ibu Hannah-, aku pun akhirnya hanya bisa mengangguk untuk suatu hal yang aku tidak begitu yakin aku pahami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ds Phone
kenapa tak ada dalam fikiran nya
2025-01-16
0
THE END.MD
ya gk bakalan ada yang inget atau nyantol tu secuil aja ingetan hana karna semuanya adalah yang mau di lupain hanah jadi siap2 jawab teka teki nya
2024-05-17
1