Alaska dan gengnya duduk menyaksikan pertandingan basket atau lebih tepatnya
mereka berlima hanya melihat seorang siswi yang memiliki no satu belakang bajunya.
Menyembunyikan wajah merah mereka saat melihat siswi itu minum air dengan beberapa tetes keringat membanjiri lehernya.
So seksi, pikir mereka.
Mikayla yang duduk bersama mereka berlima, terlihat kesal saat melihat calon
tunangannya bersemu merah hanya melihat kakak tirinya yang sedang bermain basket.
Apaan dia juga bisa bermain seperti itu hanya cuma lari, lompat, lempar bola aja? kok banyak yang kagum dengan kakak tirinya.
Lihat aja Mikayla akan melawan kakak tirinya itu untuk bertanding lempar bola itu!
"Ish Alaska kenapa kamu terus melihat kak Eliza sih?"keluh Mikayla.
"Gue cuma hanya melihat pertandingan basket aja, jadi wajarlah kalau gue melihat
Eliza bermain basket"jawab Alaska tanpa melihat sedikitpun calon tunangannya.
Mikayla terbelalak dengan panggilan mereka berubah dulunya hanya menggunakan aku - kamu didepannya tetapi sekarang Alaska menggunakan lo-gue.
"Alaska, kenapa kamu menggunakan gue-lo?"Mikayla terlihat sedih.
"Gue hanya bosan aja dengan panggilan seperti dulu itu dan juga terlalu lebay"jawab Alaska dengan ketus.
"Terus kenapa kamu dan kalian bersemu merah melihat kak Eliza?"tanya Mikayla
menyembunyikan suara jantungnya karena takut.
"Mika kita sebagai seorang pria wajar melihat seorang perempuan yang terlihat seksi apalgi saat Eliza minum air dengan keringat mengenai
lehernya itu tambah damagenya haha"jawab Vincent.
"Tapi aku juga bisa bermain seperti itu, cuma lempar bola aja kalian bisa bersemu merah"ucap Mikayla membuat para pria dan murid yang ada disekitarnya tertawa.
"Kenapa kalian tertawa?"
"Hahaha hei pelakor! Lo aja gak tau nama permainannya terus lo bilang bisa bermain seperti itu Hahaha itu sangat lucu!"ucap siswi mengejek Mikayla.
"Aku bisa bermain seperti kak Eliza, lihat nih."
Mikayla maju mendekati para pemain
yang sudah selesai bermain.
"Wow gue kagum dengan cara bermain lo, siapa nama lo?"
Risya mengulurkan tangannya.
"Eliza."
Aku membalas uluran tangan itu.
"Gue Risya."
"Congrats lo menang tetapi selanjutnya gue yang akan menang"ucap Risya.
"Ya, thanks."
"KAK ELIZA!"
Mikayla menghampiri Eliza dan Risya yang tengah mengobrol.
Aku menatap malas perempuan itu, aku menaikkan satu alisku dengan isyarat
"Apa?"
"Emm kak Eliza aku mau bertanding dengan kakak!"ucap Mikayla menatap Eliza dengan polos.
"Bertanding? Bertanding apa?"
"Bola itu"tunjuk Mikayla kepada bola basket yang berada digenggaman Risya.
"Basket?"
"Ya, aku mau bertanding melawan kakak bermain basket"
"Oke, tapi besok." Setujuku melangkah pergi.
"Tapi aku mau sekarang!"
Aku menatap Mikayla yang ngotot ingin bermain basket dengannya, "Kamu tau basket?"tanyaku yang melihat penampilan Mikayla.
"Tau, cuma lari terus lempar bolakan"jawab Mikayla dengan bangga.
Aku menahan tawa mendengar jawaban Mikayla sementara Risya yang mendengar jawaban Mikayla tertawa terbahak-bahak.
Jika permainannya cuma seperti itu, buat apa aku dan pemain basket internasional belajar dengan giat?
"Belajarlah dulu supaya bisa bertanding denganku karena bermain basket bukan cuma itu doang."
Aku melangkah pergi tidak perduli dengan teriakan polos hampir nangis itu.
"Kak Eliza!"
"Hei siapa nama lo?"tanya Risya.
"Mikayla, kak."
"Lo gak tau terimakasih yah?"
"Maksud kakak?"
"Eliza sudah baik loh supaya lo gak dipermalukan disini dengan pengetahuan tentang basket setumpul itu, mending belajar dulu daripada menangis kayak bocah"ujar Risya tersenyum smirk.
Risya melangkah pergi dari lapangan.
Sementara Mikayla, dia gak tau letaknya salahnya dimana tetapi dia langsung memeluk Alaska dan menangis di pelukannya.
Alaska hanya diam menerima seragamnya basah dengan air mata.
*****
"Nah sekarang aku bisa istirahat."
Aku membaringkan tubuhku diatas ranjang UKS sekolah.
Sekolah masih ada satu acara lagi yang akan diumumkan nanti, jadi para murid tidak boleh pulang terlebih dahulu.
"Hei!"
Aku membuka mataku sedikit melihat siapa yang memanggilnya seorang pria berperan sebagai antagonis pria kedua, Rafael Nellie.
Karena gak mau berurusan dengannya, jadi aku menutup mataku serta telingaku yang hampir tuli gara gara teriakan yang memenuhi UKS ini.
"Rafael Nellie."
Aku menatap tajam pria yang sudah menggangguku tidur terus juga pria itu tidak merasa bersalah sama sekali.
"Lo ternyata masih hidup juga yah?"
"Kamu pikir aku sudah mati gitu?"
"Lagian dari tadi gue panggilin kagak jawab terus thanks sudah ingat nama gue
yang handsome ini."
"Cih! Ngapain kamu disini?"
"Lo gak tau kalau gue adalah pemilik sekolah IMS ( Internasional Megantara School)"
"Oh, sekarang pergilah!"
Rafael memberikan dokumen kepadaku, aku menerimanya dan
membacanya.
Setelah membacanya, aku mengernyit
kenapa nih pria memberikannya sebuah
dokumen masuknya sekolah IMS.
"Apa ini?"
"Dokumen masuknya sekolah milik gue"jawab Rafael dengan santai sambil
memainkan handphone.
"Yah terus buat apa?"
Masih mencoba bersabar.
"Kemampuan bermain basket lo bagus, bagaimana jika lo keluar dari sekolah lo dan masuk ke sekolah milik gue Keuntungannya lo bisa bilang kepada murid kalau lo pacar gue."
Srett
Dokumen itu aku sobek melemparkannya ke wajah Rafael.
Rafael itu seorang playboy dengan banyaknya mantan dan berhenti menjadi
playboy saat mengenal sang protagonis wanita.
Jadi mana mau aku berpacaran dengan seorang pria yang suka gonta-ganti pacar seperti
berganti baju setiap harinya.
"Gak mau, sana kamu keluar!"Usirku menunjuk pintu UKS.
"Kenapa gak mau? Atau gini aja bagaimana jika lo jadi pendamping gue saat acara besok malam?"Rafael masih
berusaha mendekati pemilik mata hazel itu.
"Acara besok malam?"
"Gue mau kenalin lo sebagai kekasih gue"ucap Rafael dengan santai tanpa beban sama sekali.
BRUKK
Sudut bibir Rafael terkelupas dan pipinya memar habis di tinju oleh gadis yang
sudah pergi dari UKS.
Rafael membersihkan darahnya menggunakan ibu jari, tertawa kecil.
Ah ini sangat menarik!.
*****
"Mr Fian, pertandingannya sudah selesai. Jadi saya akan mengembalikan kapten tim basket kepada Gilla lagi yah"ucapku.
"Permainan kamu bagus, Eliza. Saya dan Gilla sudah berunding kalau kamu yang
akan menjadi kapten tim basket putri dan menjadi ketua eskul basket putri."
"Apa? Gak bisa gitu dong Mr, Gilla. Saya gak mau menjadi kapten maupun ketua
eskul!"tolakku dengan tegas.
"Apa alasannya? Jangan jangan kamu malas yah?"
"Bukan, saya ingin istirahat karena saya memiliki anemia ( penyakit kekurangan darah merah)"
"Hah sejak kapan?"tanya Mr Fian syok mengetahui faktanya.
"Sejak saya kecelakaan, Mr."
'Padahal mah kagak ada hehe!'
"Padahal permainan kamu bagus loh, bagaimana jika kamu menjadi ketua eskul basket aja nantinya hanya melakukan aktivitas ringan saja?" Saran Mr Fian.
"Aduh maaf yah, Mr. Saya gak bisa."
Aku melangkah pergi dari sana sebelum Mr Fian memaksanya untuk menjadi ketua atau kapten basket.
Anemia? Sepertinya dirinya bisa berbohong dengan itu supaya dirinya bisa beristirahat sepuasnya.
Hihi...
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Airana
pasti alaska menyesal itu
2024-06-01
0