Aku membuka mataku melihat sekeliling dinding berwarna putih, ruangan bau obat-obatan, dan tangan di infus.
Aku langsung tau kalau ini adalah rumah sakit, apa aku selamat dari kecelakaan itu?
Padahal aku sangat yakin kalau kecelakaan itu membuatku mati.
Tapi jika aku selamat, yah tidak masalah. Ah rasanya ingin kembali tidur.
Belum sempat aku memejamkan mata seorang dokter masuk dengan stetoskop di lehernya.
Dokter itu sangat tampan dan wajahnya dingin, sepertinya dokter itu tidak terkejut dengan bangunnya aku.
"Bagaimana keadaan anda?"tanya dokter tampan itu.
Aku ingin menjawab tapi tenggorokanku kering aku butuh air.
Aku mengambil air yang ada ditangan dokter dan meminumnya hingga tandas.
"Apa yang terjadi?"
Pertanyaan pertama yang keluar setelah tenggorokanku sudah basah kembali dengan air yang kuminum.
"Nona anda koma selama tiga hari."
"Nona apa anda ingat siapa nama anda?"tanya Dokter itu.
"Tentu saja ingat, dok. Saya Elisabeth Veronica Louie."
Jawabku dengan yakin.
Aku melihat dokter itu mengeitkan keningnya.
Aku memutar mataku mencari keluargaku yang memberiku cinta dan kasih sayang, tapi tidak ada sama sekali mereka.
"Nama anda bukan Elisabeth Veronica Louie tapi Elizabeth Annabelle Britania."
Aku membulatkan mataku mendengarnya.
Siapa tadi dokter itu bilang? Elizabeth?
Hei namaku bukan Elizabeth tapi Elisabeth.
Aku memalingkan pandanganku melihat dua perempuan masuk kedalam ruangannya.
Siapa mereka berdua? Tampaknya tidak asing.
Aku mengangkat bahuku acuh malas mengingatnya.
Tiba tiba kepalaku sangat sakit, banyak ingatan dan memory yang bukan milikku.
Pandanganku menjadi gelap dan pingsan.
*****
Aku membuka mataku dan kembali melihat ruangan yang sama seperti tadi.
Sial sekarang aku tau, ini bukan tubuhku ataupun duniaku.
Ini adalah dunia novel yang direkomendasikan kak Bella yang berjudul 'The Love Kiss'.
Dan sialnya aku masuk ke tokoh antagonis yang selalu punya masalah saat dia berjalan saja.
Elizabeth Annabelle Britania.
Nama tokoh yang aku rasuki.
Namanya hampir sama denganku 'Elisabeth' dengan Elizabeth', bedanya S dan Z nya saja.
Elizabeth yang asli adalah seorang putri dari keluarga Spectre.
Aku dan Elizabeth memiliki sedikit perbedaan.
Aku hidup dengan kasih sayang yang lebih dari cukup dari keluargaku sedangkan Elizabeth hidup tanpa kasih sayang dari keluarganya.
Di novel tertulis bahwa Elizabeth menjadi penyebab kematian ibunya dan kembarannya.
Ibunya meninggal setelah melahirkan
Elizabeth dan kembarannya, mereka berdua hidup dengan tatapan benci dari keluarganya.
Elina nama kembaran Elizabeth.
Elina yang tidak tahan dengan tatapan benci dari keluarga kandungnya dan memilih mengakhiri hidupnya diusianya yang kesepuluh tahun.
Elizabeth kala itu ingin bermain dengan Elina dan terkejut melihat Elina melompat dari lantai tiga dari jendela yang sama dengan Elizabeth bunuh diri.
Tangan yang posenya seperti mendorong dan akhirnya Elizabeth dituduh menjadi orang yang telah membunuh kembarannya.
"Dasar novel sialan! Harusnya tadi aku bisa masuk surga dan malas malasan disana, bukan masuk kedalam novel apalagi aku harus menjadi si tokoh antagonis yang penuh dengan masalah."
Pintu terbuka kedua perempuan masuk, aku ingat kalau mereka adalah sahabat dari si pemilik asli tubuh ini.
Kalau gak salah namanya Karen Hendita dan Jessica Veranda.
"Eliza lo benar benar gak ingat kami?"tanya Jessica duduk disampingku.
"Siapa kalian?"Aku harus pura pura seperti orang amnesia.
"Gue Jessica dan dia Karen. Kita sahabat kecil lo."
Aku mengganguk dengan malas rasanya ingin tidur lagi walaupun agak menyebalkan tidur dengan bau obat obatan disekelilingnya.
Aku memejamkan mataku.
"Ayolah Eliza jangan tidur lagi!"ujar Karen yang tidak ingin sahabatnya tertidur lagi.
"Aku lelah."
"Baik baiklah sana tidur. Nanti lo harus bangun karena lo harus pulang sebelum si sok polos itu menguasai rumah lo!"ucap Jessica dengan nada yang benci mengingat si perempuan sialan itu.
"Kita pulang dulu nanti kita kesini lagi."
Jessica dan Karen keluar dari ruang inapnya.
Sedangkan aku menatap malas untuk pulang ke rumahnya, ah biarlah lagian
aku juga malas hirup udara yang penuh obat obatan disini.
Menyebalkan!!
***
Disinilah aku melihat rumah besar tapi masih lebih besar rumahku yang dulu,
maklumlah dulunya aku adalah anak dari pengusaha no 2 di negeriku dan sekarang aku gak tau anak dari pengusaha no berapa tapi yang lebih penting sekarang aku ingin segera berbaring di ranjang Elizabeth.
"Lo yakin gak mau gue sama Karen temanin lo masuk kedalam?"tanya Jessica.
"Gak. Kalian pulanglah dan terimakasih sudah mengantarku."
Aku merenggangkan badanku yang kaku berjalan masuk kedalam rumah ini.
Aku mendengar suara ketawa yang sangat kencang dari dalam dan suara perempuan yang ketawa dengan lembut.
Aku hanya melirik sekilas mereka bertujuh
dan kembali berjalan masuk kedalam lift menekan tombol angka 3.
Aku membuka kamar yang ada tulisan didepannya.
'Elizabeth'
kamarnya sangat girly sekali warna pink hampir memenuhi kamar ini.
Aku yang melihatnya itu sangat membuat mataku sakit sepertinya perlu di ganti semua yang ada disini.
"BI...BIBI!"teriakku.
*****
Sedangkan di lantai pertama, mereka bertujuh menatap bingung dengan cueknya Eliza.
Biasanya jika mereka berkumpul pasti Eliza akan menempeli Alaska, tunangan Eliza.
Mereka juga terkejut mendengar suara teriakan dari atas.
"Sepertinya aku harus keatas karena mama dan lainnya sedang pergi berbelanja"
"Tapi Kayla..."Seorang pria memegang tangan Mikayla.
"Gak apa apa kok, Alaska."
Mikayla melepaskan tangan pria yang bernama Alaska.
*****
"Mana sih nih bibi nya? Lama amat."gerutuku kesal karena dari tadi teriak tapi belum ada yang datang.
"BI-"
"Eliza."
Aku melihat perempuan itu tadinya berada dibawah bersama pria remaja itu, melirik
para pengawal muda yang berada dibelakang perempuan
"Ada apa Eliza?"tanya Mikayla menampilkan wajah yang polos.
Sepertinya perempuan ini adalah protagonis wanitanya, tapi aku gak perduli dengan itu.
Sekali dilihat saja perempuan ini seorang ular kepala dua didepan baik belakang busuk, sekarang karena ia terlalu malas meladeninya.
"Ganti semua interior yang ada dikamar ini warnanya harus warna gelap."
Pintaku mencari kamar untukku tidur sementara.
"Tapi kenapa dengan kamar ini? Bagus kok"tanya Mikayla lagi.
"Oh kalau gitu buat kamu aja"
Aku membuka pintu kamar yang menarik perhatianku, kamar sangat indah dan besar yang jendelanya bisa melihat lingkungan luarnya.
Memiliki kamar mandi didalamnya, ranjang dengan ukuran king size bed, ada ruang baca tersendiri, dan yang lebih penting kamar ini kedap suara dibandingkan kamar pemilik asli tidak ada kedap suaranya.
"Aku ingin kamar ini. Pindahkan semua barang barangku dan pakaianku disini!"
"Gak boleh!"
Aku membalikan badanku menatap dingin si pemilik suara yang membantahnya.
Siapa dia beraninya membantah ucapanku?
Ah ayolah hari ini aku sedang sangat malas ingin cepat tidur di ranjang baruku.
"Why?"
"Kamar ini milik Kayla. Jadi kembalilah ke kamar lo"ucap melvin.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Marwiyah Ningsih S
ceritanya gak menarik. tulisan nya gak rapi, banyak jarak nya, mengecewakan sampe sini aja dulu, penjelasannya gak terlalu paham tidak dituliskan reaksi percakapan
2024-07-23
0