Pagi hari aku menatap lihat alarm yang sudah tak hancur gara gara aku kesal tidur
dibangung olehnya.
Buru buru memakai seragamnya karena
beberapa menit lagi sudah mau bel.
Aku turun melihat mereka yang sedang sarapan tanpa menunggu dirinya sebenarnya mereka ada ajak aku tadi tetapi aku menolaknya karena kejadian kemarin itu membuatku marah.
Melewati mereka begitu saja tanpa bertegur sapa dengan ayah Eliza dan ibu 'barunya'.
Tetapi suara lemah lembut ucapannya menyindirku membuatku memberhentikan
langkahku menatap remaja perempuan itu.
"Maksud kamu apa?"ucapku menaikkan satu oktaf.
"Eliza jangan menggertak Mika!"Bela Melvin.
"Gak ikut campur kamu, Melvin"
Aku menunjuk Melvin yang selalu ikut campur soal wanita kesayangannya itu.
"Mika aku tanya maksud kamu apa bilang aku lebay?"
"Maaf kak bukan itu maksudku, aku hanya bilang kalau kakak kemarin terlalu berlebihan dan tidak mau makan bersama kita hari ini"ucap Mikayla mengeluarkan air mata.
"Sama aja kalau kamu itu bilang aku lebay, kamu tau gak kalau orang memiliki alergi terhadap sesuatu terus orang itu melakukannya bisa berakibat fatal bahkan ada yang meninggal"
"Tapi kata temanku yang memiliki alergi yang sama seperti kakak gak apa apa kalau makan itu"
"Itu kalau alerginya masih ringan kalau sudah parah bukan dagingnya aja tetapi kaldunya mata"
"Sama aja kalau kamu itu bilang aku lebay, kamu tau gak kalau orang memiliki alergi terhadap sesuatu terus orang itu melakukannya bisa berakibat fatal bahkan ada yang meninggal"
"Tapi kata temanku yang memiliki alergi yang sama seperti kakak gak apa apa kalau makan itu"
"Itu kalau alerginya masih ringan kalau sudah parah bukan dagingnya aja tetapi kaldunya juga yang bisa menimbulkan efeknya"
"Tapi..."
"Kamu mau masih membantah, hah? Katakan apa alergimu itu?"
"Eliza cukup!"
"Diam! Cepat katakan apa alergimu? Ah aku tau, ambil satu botol susu!"Pintaku kepada pelayanku.
"Gak usah"
"Kenapa? Bukannya kamu bilang kalau seseorang punya alergi itu berlebihan? Jadi sekarang aku ingin lihat kamu minum susu itu dan jadi apa dengan kulit mulusmu?"
Aku tau kalau Mikayla alergi terhadap susu semua tertulis didalam novel saat itu Eliza tidak sengaja memberikan Mikayla sebuah susu dan berakibat Mikayla harus dirawat di rumah sakit.
"Aku tinggalkan disini karena aku harus berangkat sekolah"
Aku menaruh sebotol susu di tasnya Mikayla, aku menyeringai melihat tas Mikayla yang mereknya sama dengannya A&B.
*****
"Eliza!"
"Jess kenapa belum masuk juga padahal sudah jamnya?"tanyaku pada Jessica yang sedang merangkulku.
"Lo lupa kalau hari ini ada pertandingan basket? Jadi hari ini sekolah tidak melaksanakan aktivitas belajar tetapi wajib datang melihat pertandingan basketnya"jawab Jessica.
Aku mengangguk.
"Woi Eliza lo dipanggil sama Mr Fian"ucap Karen menghampiri kami.
"Ngapain dia panggil aku?"
Mr Fian adalah guru olahraga kelas 11 IPA dan 10 IPS sekaligus pelatih tim basket.
"Mana gue tau. Udah sana nanti dia marah kalau low gak datang, nanti gue sama Jessica akan jagain tempat lo kok"
"Hm, iya iya."
*****
Melihat Mr Fian sedang marah kepada Gilla yang sedang menunduk sambil memegang kakinya yang sedang dibalut
dengan perban.
Tetapi darahnya tetap mengalir, entah apa yang terjadi sampai darah Gilla masih mengalir saat sudah diperban.
"Mr Fian"
"APA?"
Gila baru aja manggil dirinya kena semprot padahal dia yang manggil aku kesini bukannya ngomong dengan baik tetapi malah kena semprot.
Nasib nasib.
"Oh itu kamu si Eliza."Mr Fian menepuk nepuk pundakku.
"Iya, mr. Saya Eliza."
"Bagus karena kamu datang lebih cepat setelah saya suruh teman kamu panggil kamu"ucap Mr Fian.
Aku tersenyum saja, "Jadi ada apa mr panggil aku kesini?"tanyaku to the point.
"Ekmm Jadi gini tolong gantikan Gilla menjadi kapten tim basket putri, kamu mau kan?"
"Hah? Kok saya Mr?"
Aku melirik Gilla yang tatapannya sama seperti Mr Fian yang menatapnya dengan penuh harap.
Apa ini sekarang bukannya Gilla seorang perempuan yang terobsesi menjadi kapten tim basket putri?
Saat itu saja dia berani menjatuhkan harga dirinya yang memohon untuk tetap menjadi kapten tim basket, jadi kenapa sekarang dia menatapnya penuh harap?
"Saya kemarin lihat kamu main bersama Gilla, kemampuan kamu bagus sangat bagus. Dan kebetulan Gilla tadi kakinya kena paku makanya sekarang kaki Gilla menjadi seperti itu"
"Eliza gue mohon gantikan posisi gue hanya sementara aja"pinta Gilla.
"Maaf nih Mr Fian dan Gilla, saya gak mau bertanding"tolakku sambil tersenyum tipis.
"Kenapa?"
Mr Fian dengan raut wajah kecewa.
"Pertama, saya tidak punya baju untuk bertanding. Kedua, saya tidak tau strategi yang sudah dibuat beberapa hari nanti saya kalah bagaimana. Ketiga dan paling penting adalah-"
"Adalah?"
Beo Mr Rian dan Gilla bingung.
"Saya malas"cengirku dengan santai menjawab.
TUK
"Ishh kenapa Mr menyentil dahiku yang mulus ini?"
Aku menatap Mr Fian dengan sebal sambil mengelus dahiku yang disentil olehnya.
"Saya kesal. Dan pokoknya kamu harus menggantikan Gilla hari ini!"tegas Mr Fian.
"Oh tidak bisa, Mr. Saya hari ini sedang malas dan badmood, jadi hari ini saya tidak mau menggantikan Gilla!"
"Kamu mau apa supaya bisa ikut bertanding?"tanya Mr Fian dengan pasrah.
"Nilai praktekku yang kosong tolong beri nilai supaya tidak merah."
Aku menatap Mr Fian penuh harap.
"Baiklah, sana ganti baju kamu dengan itu."
"Oke."
*****
Setelah Mr Fian memberitahukan strategi untuk melawan tim sekolah lawan dan memperkenalkan diriku kepada teman satu timku.
Aku dan timku keluar setelah nama sekolah kami dipanggil, terus bagaimana reaksi dengan orang aku kenal? Tentu saja terkejut melihatku berada di arena lapangan dengan belakang punggungku tertulis nama KAPTEN diatasnya ada no 1.
Aku melambaikan tanganku kepada Jessica dan Karen yang ikut membalas
lambaian tangan.
Mereka juga sama sama terkejut dengan kehadiranku disana.
"TIM BASKET DARI INTERNASIONAL
MEGANTARA SCHOOL SILAHKAN MASUK!"
Seorang wasit keluar membawa bola basket didalam genggamannya dan melemparkannya yang diambil oleh Lini anggota tim basketku.
"Lini!"
Lini melempar bola basket kepadaku, aku menangkapnya dan melempar dengan melakukan lay up.
"Yes!"
"Sial!"
Risya - kapten tim basket Internasional Megantara School terlihat kesal melihat
lawannya telah mencetak satu point.
Bola kedua kembali aku rebut dari tim lawan melemparkannya kepada perempuan yang sedang menunggu disana karena sekarang aku gak bisa pergi mereka sadar kalau aku adalah ancaman jadi ada tiga perempuan yang menghalangiku.
Ronde pertama selesai dimenangkan oleh timku, aku mengambil air putih dan meminumnya terlihat seksi karena ada tetes keringat berjatuhan mengenai lehernya yang putih jenjang.
Aku memiringkan kepala melihat banyak siswa dan siswi wajah mereka memerah bahkan ada juga yang pingsan, apa mereka sakit?
Waktu istirahat selesai, aku kembali ke timku setelah memberitahukan strategi kali ini mungkin ada sedikit berbeda dari strategi Mr Fian tetapi aku yakin dengan strategi yang aku buat bisa menang berturut-turut.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments