Pasti kalah!
Tebak para penonton.
Gilla tersenyum sinis menatap lawan mainnya yang hanya diam dengan tatapan
malas.
Gilla senang dengan para penonton yang mendukungnya dari pada Eliza dan Gilla akan menghancurkan harga diri seorang Elizabeth Annabelle Britania.
Budak selama sebulan?
Tidak buruk juga. Pikir Gilla dengan hati gembira.
Aku melirik raut wajah puas dan bahagia dari wajah Gilla, aku bisa menebak kalau Gilla sedang bahagia banyak pendukungnya sedangkan dirinya hanya beberapa orang saja itupun bisa dihitung pakai jari.
"Berapa ronde?"
"Tiga dan three points"jawab Gilla melempar bola basket kepada Eliza.
"Lo dulu yang mulai!"
"Pasti Eliza kalah!"ujar salah satu murid yang dianggukan oleh temannya.
Aku mendribble bola melewati Gilla yang tercengang melihatnya dengan cepat memasukkan bola basket kedalam ring.
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
"Sial! Kenapa dia bisa dengan cepat dan jago main basket?"kesal Gilla didalam hati.
Ronde pertama dimenangkan oleh Eliza banyak sorakan dari penonton yang terkejut dengan permainan Eliza.
Pandangan mereka berubah menjadi mendukung Eliza setelah ronde pertama
dimenangkan olehnya.
Aku menyeringai kecil menatap Gilla seperti sudah kebakaran jenggot.
Ronde kedua aku sengaja membiarkan Gilla menang untuk membiarkan Gilla merasa senang dan sombong.
"Pasti itu hanya keberuntungan lo saja bisa menang di ronde pertama"ujarnya.
Aku mengambil bola yang sedang di dribble oleh Gilla dengan cepat melempar bola kedalam ring.
Gilla lagi dan lagi tercengang melihat kehebatan lawan mainnya.
Gilla berusaha mengambil bola basket tetapi gagal, bola basket seakan gak mau
melepaskan dari Eliza.
"I win!"
Seruku membasuh keringat yang mulai basah mengernai seragam sekolahku.
Para pria memalingkan wajahnya tidak sanggup melihat keimutan dan keseksian Eliza yang tengah tersenyum sambil mengelap keringatnya sendiri.
Wajah memerah ingin maju dan memeluk Eliza tetapi tidak bisa karena diujung sana ada beberapa pria yang menatap mereka dengan dingin.
"Kamu harus menepati janji kamu."
"Gak mau!"tolak Gilla yang tidak mau melakukannya.
Sudah kuduga kalau dia gak mau melakukannya, aku mengeluarkan handphoneku memutar rekaman kesempatan beberapa menit yang lalu.
"Bagaimana kalau kita bertanding? kalau lo bisa menang gue akan minta maaf sambil berlutut kepada lo dan akan memberikan hak ketua gue, tetapi kalau gue yang menang lo harus menjadi budak
gue selama satu bulan."
"Bagaimana masih gak mau melakukannya?"
BRUK
"Gue minta maaf!"
Wajah memerah karena malu terpaksa berlutut meminta maaf kepada Eliza.
"Eliza, gue mohon jangan mengeluarkan gue dari tim basket."
Aku memutar bola mataku dengan malas, siapa juga yang mau menjadi ketua tim basket?
Yang ada nanti malah terbengkalai karena terlalu malas untuk memimpin tim yang sebentar lagi akan ikut lomba.
Cih cih itu merepotkannya.
"Aku gak mau menggantikanmu menjadi ketua, jadi ambilah kembali jabatanmu itu"
Aku meninggalkan lapangan pergi ke kantin karena sekarang aku sangat lapar setelah aktivitas yang merepotkan itu.
"Kak, aku pesan nasi ayam bakar sama es teh."
"Oke, silahkan duduk aja dulu nanti ada orang akan antar ke meja."
Aku mengangguk.
Aku duduk di tempat biasa kedua temanku duduk menunggu pesananku datang.
Tak lama kemudian, pesananku datang bersamaan dengan kedua temanku datang membawa makanan.
"Gue gak nyangka lo bisa main basket, El? "tanya Jessica.
"Sejak kapan aku bilang gak bisa?"
Aku memakan makananku.
"Lo dulu kan memang gak bisa, nilai olahraga lo aja sampai merah gara gara gak ikut praktek."
Ya aku tau itu.
Nilai Eliza yang dulu bahkan hampir tidak
ketolong lagi, kalau saja Eliza bukan dari keluarga beranda pasti sekarang Eliza sudah dikeluarkan dari sekolah karena nilainya semua merah.
"Nanti lain kali aku ikut praktek untuk memperbaiki nilai"
"Yah memang itu seharusnya, bego!"
Dimeja lain, seorang perempuan memberikan surat kepada salah satu pria bernama Alaska.
Alaska tidak mengambil surat itu melainkan menatap perempuan itu dengan dingin karena mengganggu istirahatnya.
"Gue suka sama lo dari dulu, maukah kakak menjadi pacarku?"tanya perempuan itu dengan wajah yang memerah karena malu.
"Tidak."
"Tapi kenapa kak?"
"Gue sudah punya tunangan"ucap Alaska dengan lantang mengejutkan para penghuni kantin yang sedang makan termasuk Eliza dan kedua temannya yang sedang bercanda ria.
Mereka memang terkejut melihat Alaska yang sudah mengakui Eliza sebagai tunangannya.
Mereka pikir Eliza dan Alaska sudah gak ada hubungan lagi karena melihat Eliza yang tidak mendekati dan mencari perhatian Alaska seperti dulu.
Aku kesal kenapa dia mengaku sudah punya dengan suara yang lantang yang bisa didengar oleh orang lain.
Aku berdiri melangkah mendekati meja Alaska dan menariknya keluar dari kantin.
Alaska terkejut dirinya ditarik tetapi dia tidak menolak saat melihat siapa yang menarik tangannya.
Walau kasar tetapi dia merindukannya.
*****
ROOFTOP
"Apa maksud kamu bilang didepan semua orang kalau kamu sudah punya tunangan?"
Aku menghempaskan tangannya memberikan tatapan tajam kepada Alaska.
"Gue memang sudah punya tunangan bahkan para siswa juga tau kalau gue sama lo sudah tunangan"jawab Alaska dengan santai.
"Kalau gitu batalkan pertunangan kita!"
Alaska membulatkan matanya menggelengkan kepalanya tidak terima dan tidak suka dengan perkataan Eliza.
"Apa maksud lo?"
Rahangnya mengeras tidak terima maksud perkataan Eliza.
"Kamu itu sudah mempunyai seorang tunangan tetapi kamu juga mempunyai
seorang kekasih yang kamu sembunyikan. Dan aku tau kamu sudah melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan oleh suami istri saat Sudah menikah"jelasku tersenyum puas melihat pria itu yang terkejut kalau aku mengetahui semua yang dia lakukan selama ini.
Dan aku masih kesal bukti yang mau aku tunjukkan kepada keluarga pria itu sudah menghilang.
"Tidak, gue tetap tidak ingin membatalkan
pertunangan kita!"tegasnya.
"Heh aku tau alasan kamu masih kukuh tidak membatalkan pertunangan ini dari dulu karena nyokap kamu"
"Tetapi Alaska, apa kamu tidak memikirkan perasaan ketiga wanita yang masih memiliki hubungan dengan kamu? Aku, Mikayla, dan nyokap kamu."
"Jangan egois, Alaska. Nyokap kamu tidak akan setuju jika melihat kamu menyakiti
hati wanita yang dia percayakan kepada kamu, Alaska."
"Aku akan bilang kepada keluarga kita, tenang aja disini aku yang akan menjadi korban tetapi jika kamu menolak jangan salahkan aku membuat kamu menjadi korban."
Aku pergi meninggalkan Alaska yang terdiam mencerna perkataanku yang panjang.
Alaska terduduk menatap kosong pintu yang sudah ditutup kembali
Apa dia bisa mendapat kesempatan kedua
untuk tetap bersama perempuan yang saat ini masih menjadi tunangannya? Apakah bisa?
Dua Hari Kemudian
Saat ini aku dan kedua temanku sedang berada di kantin menatap datar
perempuan yang sedang tersungkur dibawah kakiku.
Perempuan itu adalah Mikayla dan tak lama kemudian datanglah para antek anteknya yang memandang mereka dengan marah dan tajam apalagi gadis yang berada ditengah.
"ELIZA!"
Aku menangkap tangan yang hampir menamparku, enak aja wajahku dijadiin sasaran empuk para anteknya si Mikayla ini
Sudah cukup wajahku sudah banyak bekas tamparan dan memar, aku gak salah malah ditampar. Enak aja!
"Apa? Mau nampar? Jangan berpikir bisa menamparku, para banciii."
"Apa maksud lo bilang kita banci hah?"jelas marah cowok normal dikatain banci oleh seorang perempuan.
"Mana ada seorang pria menampar seorang wanita kalau ada yang melakukannya berarti dia BANCII."
"Hahaha benar apa kata Eliza, mending pakai rok aja kayak kita biar gak dikatain
B-A-N-C-I!"ucap Jessica tertawa kecil.
"Hiks hiks Eliza aku minta maaf kalau aku ada salah tetapi jangan membullyku"ucap
Mikayla menangis.
"Eliza lo keterlaluan tau! Lo kalau mau caper sama kita, gak usah pakai bully Mikayla segala!"ucap Alaska.
"Memang siapa dia sampai kamu membelanya?"
"Dia pac... Gak ada siapa siapa"
Alaska sadar kalau itu pertanyaan jebakan dan buru buru mencari jawaban.
"Oh kalau gak ada siapa siapa, bukannya aku boleh melakukannya lagi pula pihak sekolah bahkan kalian tidak sama sekali membela murid yang menjadi korban bullying"
Aku melirik beberapa guru yang sudah datang kekantin yang baru mendengar ucapanku menjadi kesal.
Bodo amat melihat guru yang akan kesal
dengannya karena aku juga jengah melihat beberapa murid yang setiap hari pasti ada yang penampilannya sangat berantakan seperti habis dibully.
"Eliza lo gak boleh menyakiti Mikayla karena dia pacar gue!"
Suasana dikantin makin gempar setelah pernyataan langsung dari bibir Alaska.
Mikayla pacar Alaska? Terus bagaimana dengan Eliza yang notabenenya adalah tunangan Alaska? Apa mereka sudah
putus tetapi gak konfirmasinya sama sekali?
Pikir para penonton yang menonton drama korea selatan langsung didepan kedua mata mereka.
Well ini yang aku tunggu tunggu, Alaska mengakui Mikayla sebagai pacarnya.
Hahaha sekarang aku bisa membatalkan pertunangan dengan bukti dan saksi kalau Alaska berselingkuh selama mereka masih bertunangan.
Dan yang paling penting mereka memandang buruk kedua pasangan biadab ini dengan caption
'Pria berselingkuh dan wanita pelakor'.
Senangnya hatiku. Sekarang adalah bagianku untuk masuk kedalam alur drama ini.
Mengubah mimik wajah menjadi sedih
mengeluarkan beberapa tetes air mata seperti saat seorang wanita yang mengetahui kekasihnya menduakannya.
"Alaska kamu berselingkuh? Padahal kita masih bertunangan, kenapa kamu berselingkuh dariku? Apa kurangnya aku?"
Bisa nih aku mendapat piala oscar karena akting ku yang sempurna bahkan beberapa manusia yang menonton ikut merasakan apa yang dirasakan Eliza.
Sedangkan Karen dan Jessica? Hanya tersenyum kikuk saja melihat aku yang
sedang akting.
Mereka berdua akan masuk kalau kebagian alurnya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments