"Ini bukan salah Mikayla tapi salah lo yang gak bangun bangun saat Mikayla bangunin lo sampai tangannya merah."
Melvin mengelus tangan Mikayla yang sedikit merah.
Aku memutar bola mataku malas melihatnya,
"To the point aja deh, Jadi ada apa kalian
menggedor kamarku?"
"Daddy menyuruh lo turun makan malam."
Melvin tanpa disengaja meremas tangan
Mikayla melihat Elizabeth pergi berlalu saja turun kebawah tanpa menjawab ucapannya.
"Eh sorry Kayla gue gak sengaja."
"Ya gak apa apa kok kak."
Mikayla memberikan senyum membuat Melvin salah tingkah.
*****
"Jadi kenapa Mikayla ada disini?"tanyaku melihat Mikayla duduk disamping Melvin sedangkan aku duduk disampingnya Marvin.
"Emang kenapa kalau Mikayla boleh makan disini? Biasanya juga Mikayla selalu makan dengan kita"jawab Melvin menatapku dengan tatapan benci dan menatap Mikayla dengan tatapan yang
hangat.
"Kalau gitu panggil semua pelayan kesini!" Aku menyeringai kecil.
"Ngapain lo suruh semua pelayan kesini? Lo kan tau kalau kita sedang makan, kalau ingin membuat masalah mending jangan sekarang deh"ucap Melvin menatap sinis Elizabeth.
Melvin kesal tidak ada jawaban apapun dari gadis yang sedang makan steak itu.
Tak lama kemudian semua pelayan
termasuk koki berkumpul di ruang makan total semuanya ada 15 pelayan termasuk ibu Mikayla.
Pelayan menatap was was gadis yang memakai piyama katun menatap mereka semua dengan tatapan yang sulit dipahami oleh para pelayan.
"Nona ada apa memanggil kami semua disini?"
Aku memandang lekat semua pelayan mengangkat sudut bibirku.
"Duduk dan makan!"
Aku bisa melihat jelas raut terkejut mereka semua termasuk ayah Elizabeth dan si
kembar.
Aku dengan tenang memakan kembali steak yang masih tersisa separuh.
"Apa maksud lo menyuruh mereka duduk dan makan bersama kita? Lo gila!"Melvin berdiri menunjuk Elizabeth.
"Benar apa kata Melvin. Pelayan memiliki tempat makan tersendiri di bagian belakang"ucap Andika dengan lembut tapi tegas.
Sedangkan Marvin? Dia hanya diam tidak membuka Suaranya sama sekali, dia hanya menatap adiknya saja tanpa
menoleh kearah lain.
"Kenapa kalian begitu marahnya saat aku menyuruh semua pelayan duduk dan makan disini?"
"Status kita berbeda dengan mereka!"
"Kalau begitu bagaimana dengan Mikayla anak dari seorang pelayan yang artinya
statusnya juga sama seperti pelayan."
BRAK
"Itu berbeda!"
Melvin menggebrak meja makan menatap Elizabeth dengan marah.
Aku menyenderkan tubuhku melipat kedua tanganku didada tersenyum melihat Melvin sudah terbakar emosi.
Aku tau kalau Melvin menyukai Mikayla dan ingin dekat dengannya menggunakan
kata adik.
Melvin yang marah karena aku menyebutkan statusnya dan dipandang
rendah olehku.
Sebenarnya aku ingin menguji seberapa benci keluarga Elizabeth yang asli dan aku ingin melihat ayah dari Elizabeth apa dia akan membela anak gadisnya atau anak dari seorang pelayan.
"Mikayla sudah gue anggap sebagai adik gue sendiri begitu juga Marvin dan Daddy pasti sudah mengganggap Mikayla sebagai anak perempuannya"ujarnya.
Aku melihat mereka berdua mengganguk, "Kalau begitu bagaimana jika Daddy menikah saja dengan Bi Mila?"
Bibi Mila ibu Mikayla.
"Apa maksud kamu, Eliza? Daddy gak akan pernah menikah lagi dan akan tetap setia dengan mommy kamu"ucap Andika membantah perkataan putrinya.
Aku tertawa kecil melihatnya, "Kalau begitu aku menolak menganggap Mikayla
sebagai saudariku selamanya akan begitu. Aku sudah selesai"
Aku bangkit berdiri beranjak ke kamarku.
*****
Aku keluar dari toilet dengan kesal karena stok pembalut milik Elizabeth habis.
Aku segera mengambil jaketku berwarna hitam, mengambil kunci mobil yang ada diatas nakas setelah itu turun dan menaik mobil.
Ditengah perjalanan menuju minimarket, aku terkejut melihat seorang pria tergeletak di tengah jalan dengan darah di dadanya.
Aku memberhentikan mobilku turun melihat keadaan pria itu.
Melihat sekeliling ternyata tempatnya sangat sepi sepertinya aku harus mengangkat tubuh pria ini.
Tubuhnya sangat berat membuatku hampir terjatuh.
"Cih tubuhnya berat amat nih cowok! Ah aku lupa kalau aku mau beli pembalut"
Aku melirik pria yang sedang pingsan didalam mobilnya.
Aku melihat sekeliling mencari sebuah toko kelontongan ternyata ada toko kecil.
"Mau beli apa kak?"tanya anak perempuan berumur 12 tahun.
"Ada pembalut?"
Anak itu mengganguk.
"Beli masing masing dua yang malam dan siang terus yang ada sayapnya"ucapku.
Anak itu mengambil barang yang aku inginkan dan aku memberikan uang saat anak itu menyebutkan harganya.
"Gak apa apa kali yah cowok itu, kalau aku ke toilet dulu. Semoga kamu bisa bertahan yah sampai aku selesai dari toilet"Batinku masuk kedalam toilet umum dekat toko kecil itu.
*****
"Bagaimana dok keadaannya?"tanyaku melihat dokter yang sama saat aku masuk rumah sakit.
"Keadaannya gak apa apa, lukanya sudah saya jahit untuk sekarang jangan melakukan yang membuat lukanya terbuka karena luka sayatannya cukup
lebar dan ada benturan di kepalanya akibat tabrakan. Jadi saya sarankan untuk rawat inap disini"jawab Dokternya.
Aku mengangguk masuk kedalam ruang ICU, kembali mencium bau obat-obatan yang membuatku mau muntah.
Tapi apa boleh buat aku harus menunggu pria itu sadar karena diriku tidak ingin berurusan dengan pihak kepolisian gara gara menabrak orang apalagi aku membiarkan pria itu di dalam mobil selama sepuluh menit sebelum aku menjalankan mobilku menuju rumah sakit.
Beberapa pesan masuk dari grup yang dibuat oleh Jessica untuknya dan Karen.
Ada juga pesan dari grup keluarga yang
pesannya penuh yang kebanyakan diketik oleh Marvin sisanya Ayahnya dan Melvin isinya menanyakan dimana dirinya.
Aku mengabaikan pesan mereka memilih membuka tv yang ada diruang ICU sambil memakan buah yang ada sudah disediakan diatas meja dan cemilan yang sudah aku bawa.
"ugh...."
Aku melirik sekilas pria yang tengah membuka matanya kembali menonton drama China tentang kerajaan.
Sedangkan pria itu melihat sekeliling ruang yang putih dengan bau obat obatan dan suara berisik dari tv dan remahan cemilan yang mengganggunya.
Pria itu menatap tajam perempuan yang sedang duduk menonton drama China di tv itu.
Sekali dilihat pria itu tau siapa perempuan itu, Elizabeth Annabelle Britania.
Nama perempuan yang sering kali dia dengar dari adik perempuannya dan lagi wajahnya selalu di beritakan oleh asistennya yang katanya membuat sekolahan miliknya memilik image buruk.
Sadar akan tatapan tajam dari pria itu,
"Apa?"tanyaku tanpa mengalihkan
pandanganku dari drama yang ada ditampilkan di telivisi.
"Pergilah!"ucap pria itu dengan dingin.
Aku menatap pria itu, "Kamu gak akan laporin aku karena aku menabrak kamu
kan?"tanyaku dengan senyum mengembang.
"Tidak"
Aku berdiri mendekati pria itu, "Siapa namamu?"
Wajahnya sangat tampan tanpa celah tapi sayang wajahnya dingin dan datar membuatku kesal.
"Xavier."
"Hah?"
Aku terkejut mendengar namanya Xavier? Apa Xavier kakak dari Jessica, pria yang nantinya akan membunuhku, dan seorang antagonis pria? Semoga aja bukan.
"Apa kamu Xavier Archie Leonhard?"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Ririn Santi
lho Aliza yg nabrak Xavier kah? bukan menemukannya tergeletak ditengah jln?
2024-08-23
0