Malam Hari
Terlihat lima pemuda sedang duduk di sebuah warung langgan mereka sambil
menghisap rokok dan membicarakan perubahan sikap Eliza yang mulai aneh apalagi kejadian di kantin berberapa
waktu yang lalu.
Awalnya mereka topiknya tentang balapan motor tapi kelamaan topiknya berubah menjadi topik Eliza.
"Marvin, Melvin lo pada gak rasain apa apa gitu sama adik kalian?"tanya Calvin mencomot gorengan bakwan masuk kedalam mulutnya.
"Eliza?"
"Ya iyalah! masa Mikayla"kesal Calvin.
"Mikayla adik gue juga yah bukan Eliza doang!"protes Melvin yang tidak terima Calvin tidak menganggap Mikayla adiknya.
"Lah sejak kapan Mikayla adik kalian?"
Calvin tersenyum kecil melihat Melvin yang sudah terpancing dengan kata katanya.
"Itu-"
"Gue juga rasain perbedaan sikap Eliza yang menurut gue sudah menjadi positif walau terkadang gue lihat dia malas"potong Marvin.
"Gimana Alaska sepertinya tunangan lo udah gak mau sama lo dan lo pun begitu kan? Jadi bagaimana jika lo batalin
pertunangan lo terus gue bisa goda calon pacar gue?"Vincent menaikkan satu alisnya.
Alaska berdiri mengambil helm miliknya melongok pergi dengan kecepatan tinggi.
Sedangkan keempat temannya menatap bingung dengan Alaska, memandang satu sama lain yang dijawab dengan gelengan kepala.
*****
Sedangkan disisi lain aku berhenti disalah satu warung makan, memilih sayur yang
ingin ia makan dan makan setelah diberikan oleh si pemilik warung.
Selesai makan, aku pergi setelah membayar menaik motornya pergi dari sana.
DOR...
Aku berhenti didepan gang, merindukan suara tembakan pistol yang sering aku dengar saat saat masih menjadi Elisabeth.
Aku ingin segera pergi dari sana tetapi aku
melihat di jam angka empat tepatnya di sebuah gedung tua ada seorang pria memegang senapan mengarahkan kepadaku.
Cahaya merah kecil di kepalaku. Tentu itu adalah ancaman dan aku tidak bawa apa apa seperti pistol untuk menembaknya.
"Jadi ada tikus kecil?"
Aku menatap pria dengan pakaian yang serba hitam dibalut dengan jas panjang
berwarna hitam juga.
Kacamata berwarna hitam terlepas dan
aku tau siapa dia dan lagi ini adalah pertemuan keduanya dengan malaikat mautnya.
Sial!
Aku ingin segera pergi tetapi aku juga tidak bisa pergi begitu saja karena ada pasang mata dan suara pistol yang siap menembus tubuhku.
"Xavier Archie Leonhard"Nama pria itu yang membuat para bawahannya menatapku bahkan siap membunuhku.
"Apakah kamu takut, malaikat penolongku?"
"Apakah kamu akan membunuhku setelah aku menjadi malaikat penolongmu Aku bisa merasakan senyum tipis dari wajah Xavier.
Entah senyum apa itu yang penting sekarang aku bisa bernafas lega karena pria yang bernama Xavier itu menyuruh
mereka menurunkan senjatanya.
"Kalau begitu aku pergi"
Siap pergi dari tempat ini tapi, DOR...DOR
Aku terkejut melihat ban mobil ditembak alhasil ban menjadi bocor.
Aku melirik ketua mereka yang memasang wajah dingin nan datar.
"Maaf tuan sudah membuat ban mobil tuan bocor"
Para bawahan Xavier menunduk merasa bersalah.
"Kalian bodoh sekali! Tuan Xavier ada acara dan acara itu tuan Xavier harus pulang ke mansion terlebih dahulu untuk
mengganti pakaian!"ucap Roy tangan kanan Xavier memarahi para bawahan.
"Maaf tuan, tadi saya pikir ada musuh ternyata ada disana cuma anak kucing"
Aku melihat anak kucing yang sepertinya sudah pergi karena ketakutan akibat
tembakan itu.
"Jadi bagaimana dengan tuan Xavier? Tuan harus segera menghadiri acara itu karena itu sangat penting!"
DRTTT
Aku meringis melihat semua mata tertuju padaku, aku menatap layar ponsel tertera
nama Daddy.
Aku mengangkat panggilan itu karena panggilan dengan nama Daddy sudah banyak sekali panggilan yang tidak aku jawab karena terlalu malas.
"Apa?"
"Kenapa baru jawab sekarang? Dimana kamu? kenapa belum pulang juga dari
sekolah?"
"Aku sibuk. Nanti aku pulang!"
Aku mematikan panggilan itu.
Aku merasa merinding melihat tatapan binar dari mata mereka seperti ketemu uang berwarna merah dengan wajah insinyur Soekarno dan wakilnya dijalanan.
"Nona bagaimana jika anda membantu kami mengantar tuan saya ke mansionnya?"tanya Roy dengan tatapan berharap.
"Hah?"
"Tuan Xavier harus segera pergi ke acara itu nona, Saya mohon tolong antar tuan Xavier ke mansionnya!"Roy menunduk.
Aku menghela nafas, "Okay, naiklah!" Pintaku dengan malas.
Xavier naik di bangku belakang motor, Xavier ingin memegang dan memeluk tubuh gadis didepannya.
"Jangan memelukku, tuan Xavier!"
Aku menjalankan motorku melesat pergi dari tempat itu.
*****
Aku melihat mansion milik keluarga Leonhard, mansion itu sangat besar dan luas.
Halaman depan masuknya harus mengunakan buggy car golf karena terlalu luasnya halamannya.
Jika dibandingkan dengan mansion keluargaku yang asli, mansion ini jauh lebih besar.
Aku berjalan masuk kedalam mansion karena dipaksa oleh sahabatku yah siapa lagi si Jessica Delcy Leonhard.
Aku kagum dengan interior dan desain di mansion ini apalagi lukisan besar bergambar naga sungguh terlihat seperti asli.
Aku mengeyit melihat pakaian yang digunakan oleh Jessica.
Dress pesta berwarna putih dengan pita di rambut, sungguh terlihat sangat cantik.
Tapi pertanyaannya Jessica mau kemana?
Aku melirik jam tanganku yang sudah mau setengah sepuluh sepertinya aku harus pulang, aku butuh istirahat walaupun besok hari libur.
"Jess, kayaknya aku harus pulang sekarang"ucapku.
"Yah kok gitu! Bagaimana kalau lo ikut kita pergi ke acara malam ini? Nanti disana juga ada Karen."
"Acara?"
"Hari ini sepupuku ada resepsi pernikahan jadi semua keluarga terkenal pasti diundang sepertinya keluarga lo juga diundang deh."
"Jadi mau gak, Eliza?"
"Gak mau, malas"tolakku.
Pesta?
Mendengarnya saja membuatku merasa lelah karena pastinya disana sangat berisik dan menggangu, mending di rumah tidur dengan damai dan tenang.
"ih ayolah Eliza! Sekalian lo ganti pakaian sekolah lo itu!"
Jessica melirik seragam sekolah yang masih melekat ditubuhku.
Yah dari pulang sekolah sampai sekarang aku belum mengganti pakaian sama sekali.
"Gak, aku lelah mau istirahat!"Tolakku dengan tegas.
Seorang wanita turun dengan anggun mendekati kedua remaja yang sedang
berbicara.
Wanita itu menepuk pundak Jessica dengan pelan.
"Mom?"
"Kenapa kamu gak mau pakai pakaian yang mommy pilihkan?"tanya Aliya Tiffany,
mommy Xavier dan Jessica.
"Dress itu terlalu terbuka, Jessica gak suka"jawab Jessica.
"Kamu ini! Oh ini siapa?"Aliya menunjuk Eliza yang tampak diam.
"Selamat malam, nyonya Leonhard. Saya Elizabeth Annabelle Britnnia, temannya
Jessica"ucapku.
"Oh jangan jangan kamu anaknya Elena Wiranata?"tanya Aliya sambil mengelus rambut Jessica.
Aku mengangguk, "Iya, saya anaknya"
"Astaga gak nyangka aku bisa ketemu sama anaknya, bagaimana dengan keadaan mommy kamu?"
"Mommy sudah meninggal sejak melahirkan saya dan adik kembaran saya, nyonya Leonhard"jawabku dengan tersenyum singkat.
Tetapi aku tidak tau siapa wanita ini apalagi apa hubungan mommy Eliza dengan mommy Jessica?
"Panggil aja Tante. Maafkan Tante yah sudah membuat kamu sedih! Tapi Tante gak nyangka Elena bisa pergi secepat itu."
"Kalau boleh tau, tante siapanya mommy?"tanyaku.
Aliya tersenyum tipis mengingat masa masa dulu bersama Elena.
Aliya, Elena, dan Karin adalah sahabat karib yang berpisah karena ketiganya sudah menikah dan mempunyai anak masing masing.
"Kami ada janji menikahkan salah satu
anaknya."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Airana
Semangat thour, novel kelima yg kusuka di noveltoon
2024-05-20
5