"Kami ada perjanjian pernikahan salah satu anaknya."
Aku membulatkan mata mendengar perkataan mommy Jessica, yang benar aja
perjanjian pernikahan?
Siapa yang menikah? Aku atau si kembar? Punya tunangan satu saja sudah repot yah walaupun bentar lagi menjadi mantan tapi
kalau langsung punya cowok lagi itu semakin merepotkan.
'Aku gak butuh pria!'
Sedangkan Jessica menatap Mommynya dengan pandangan mengerikan berpikir kalau ia akan dijodohkan dengan kakaknya Eliza karenakan Eliza sudah punya tunangan, jadi kemungkinan besar dirinya
yang akan dijodohkan.
"ih, mana mau gue sama kakaknya Eliza yang sifatnya kayak binatang!"
"Mommy, jangan jodohkan Jessica! Jessica masih muda dan masih laku!"
Jessica memohon kepada sang ibu yang sedang duduk.
Aliya tersenyum tipis,"Tenanglah perjanjian itu khusus kakakmu, karena perjanjian kami siapa yang melahirkan anak laki-laki
terlebih dahulu dia yang akan dijodohkan dengan anak perempuannya"
"Tapi tante, Eliza sudah punya tunangan."
"Tunangan? Kamu beneran sudah punya tunangan?"tanya Aliya dengan nada kecewa.
Aliya cemberut melihat pertanyaannya di angguk oleh Eliza, "Siapa nama tunangan
kamu?"
"Alaska Brylee Dalbert."
"Kok bisa jadi tunangan kamu?"
Aku hanya tersenyum saja tidak menjawab memilih pamit untuk pulang, sempat ditawari ikut ke pesta tetapi aku menolak
karena aku sudah sangat lelah seharian ini apalagi seragam yang sudah bau karena menggunakan seharian.
Dinovel pertunangan antara Alaska Brylee Dalbert dan Elizabeth Annabelle Britania dikarenakan ada perjanjian pernikahan yang dilakukan oleh kepala keluarga Dalbert atau ayah dari Alaska dan kepala keluarga Britania atau ayah dari Eliza.
Eliza menyetujui pertunangannya sementara Alaska tidak, tetapi karena sang ibu memohon untuk menyetujui pertunangan mereka dan menyuruhnya untuk menjaga Eliza, akhirnya Alaska pasrah menyetujui pertunangannya.
Pernikahan? Dinovel akan dilaksanakan pernikahan setelah Alaska dan Eliza lulus sarjana, tetapi saat Eliza tau kalau Mikayla kekasih rahasianya Alaska.
Eliza semakin marah dan mulai menyakiti Mikayla sampai Eliza harus ditangkap dikarenakan Eliza mendorong Mikayla dari
tangga yang mengakibatkan bayi yang ada didalam kandungan Mikayla meninggal.
Eliza ditangkap atas pencobaan pembunuhan kepada Mikayla dan bayinya dan hukumannya adalah hukuman mati.
Yang membunuhnya adalah Xavier Archie Leonhard, yang menyamar menjadi petugas hukuman matinya.
Miris nasib Eliza yang asli!
Tetapi jika dibaca teliti ada kejanggalan dalam kasus Eliza mendorong Mikayla, lantai yang licin karena baru saja di
bersihkan oleh Mikayla.
Apalagi CCTV tidak ada yang mau memeriksanya padahal Eliza sudah menyuruh mereka memeriksa CCTV, tetapi tepat saja tidak ada yang mau memeriksanya sampai pada saat Eliza harus mati ditembak oleh malaikat mautnya, Xavier Archie Leonhard.
Novelnya memang happy ending tapi Xavier yang tidak bisa melihat pernikahan
perempuan yang dicintainya, memilih membunuh diri dengan rasa kecewa.
Antagonis menderita, protagonis bahagia.
*****
"Nona anda sudah pulang?"
Aku menatap perempuan yang membuka pintu, aku mengangguk sebagai jawaban.
Melewatinya masuk kedalam lift.
"Nona, tadi tuan menitipkan pesan kepada saya. Nona jangan tidur dulu karena tuan mau bertanya kepada anda"ucap kepala pelayan, Mia.
"Bilang padanya aku capek ingin istirahat, kalau ingin bertanya besok saja!"
Pintu lift tertutup membawa Eliza ke
kamarnya.
Mia sedikit terkejut ternyata benar apa yang dibilang para pelayan kalau nona mudanya sudah berubah dan semakin berani melawan tuan Andika.
Mia menghela nafas panjang sepertinya nanti dia harus memberikan alasan tidak bisa menuruti perintah tuannya.
*****
Keesokan paginya hari ini hari libur membuat seorang gadis cantik yang tengah tertidur pulas tidak ingin membuka matanya sama sekali.
Matanya seakan tertutup tidak merasa terusik oleh cahaya matahari masuk lewat celah jendela kamarnya.
Pagi hari ini gadis cantik itu tidak ingin beranjak dari ranjangnya, tidur dengan damai hingga besok paginya kalau bisa karena dia juga perlu makan untuk kembali tidur menyusul mimpinya lagi.
Suara ketukan pintu serta suara teriakan membuatnya tuli juga tidak ingin sama sekali membuka mata, turun, dan membuka pintu untuk melihat orang.
Makin kencang lah pintu kamarnya diketuk bukan diketuk lagi tapi digedor dan teriakan amarah semakin keras.
Gadis itu terbangun dengan rasa kekesalan yang menumpuk didalam benaknya.
Ini masih pagi gadis itu ingin tidur lebih
lama lagi tapi suara pintu itu mengganggu paginya yang harusnya damai dan tentram
menjadi berantakan gara gara gedoran pintu kamarnya.
Satu kata saat melihat manusia yang didepan pintunya.
Ramai!
PLAKKK
Tamparan keras mengenai pipi gadis cantik yang baru bangun dari tidurnya.
Panas dan perih sudut bibirnya terkelupas mengeluarkan cairan darah.
Gadis itu mengelap darahnya menggunakan ujung jarinya, menatap tajam si pelaku yang menampar pipinya.
PLAKKKK
Tamparan mengenai pipi sebelahnya, kali ini lebih keras.
Si pelaku menampar pipi sebelahnya lagi tetapi tertahan oleh tangan gadis itu.
KRAKK...PLAKKKK
Gadis cantik itu memelintir tangan si pelaku dan menamparnya dengan sangat
keras hingga sudut bibirnya terkelupas besar dan bengkak di pipi melebihi milik gadis itu.
"Kamu pikir aku akan membiarkan kamu
menamparku tiga kali."
Si pemilik mata hazel itu melihat sekeliling banyak orang yang berkerumun di kamarnya, pandangannya tertuju pada satu perempuan yang sedang menangis dipelukan seorang pria remaja yang berpakaian kaos hitam yang dibalut dengan jaket kulit.
Tampilan perempuan itu sangat kacau, mata bengkak, pakaian yang seperti tidak
terbentuk lagi tapi sudah ditutup dengan jaket tebal berwarna abu-abu, dan lehernya banyak titik merah yang hampir biru mirip seperti cupang.
Perempuan itu seperti diperkosa.
"JANGAN MENATAPNYA DENGAN TATAPAN SEPERTI ITU, ANJING!"
"Jadi ada apa?"
"JANGAN PURA PURA GAK TAU LO, BITCH!"
"Oh, kalau begitu jelaskan biar aku gak pura pura gak tau."
"Kak udah gak apa apa"ucap perempuan yang masih dalam pelukan pria remaja itu.
"Gak bisa gitu, Kayla. Perempuan jahat itu sudah membuat kamu seperti ini."
Perempuan yang masih menangis itu adalah Mikayla Sahsa yang masih dipelukan seorang pria remaja bernama Alaska Brylee Dalbert.
Gadis cantik si pemilik mata hazel itu adalah Elizabeth Annabelle Britania.
Yang memarahinya dari tadi adalah Melvin Loye Britania.
Para pelayan berkerumun dikamar Eliza, para pelayan ada yang mulai bergosip tentang si pemilik kamar ini kecuali ibunya Mikayla yang menenangkan putrinya juga ada rasa ingin marah kepada majikannya yang membuat putrinya seperti ini tetapi ibu Mikayla menahannya memilih menenangkan putrinya.
"Kalau lo gak suka sama Kayla yang dekat sama gue dan kakak lo, mending bilang
jangan menyuruh orang untuk memperkosa Kayla!"ucap Alaska dengan nada marah tetapi tertahan karena tidak ingin Mikayla mendengar amarahnya.
Aku tertawa kecil, sekarang aku paham apa masalahnya. Jadi disini aku adalah 'pelaku' yang membuat si 'korban' menjadi seperti ini.
'Pelaku' yang menyuruh orang untuk
memperkosa si korban'.
Yang membuat si 'korban' menjadi seperti ini. 'Pelaku' yang menyuruh orang untuk
memperkosa si 'korban'.
"Eliza, apa benar kamu yang menyuruh orang untuk memperkosa Kayla?"tanya Andika.
"Bukannya daddy sudah lihat video CCTV yang ada di dalam gedung tua itu kalau
ketua preman ada menelepon seseorang yang mereka sebut sebagai 'Bos Eliza'. Dan Kayla juga dengar kalau Eliza yang menyuruh orangnya"ucap Melvin menatap tajam Eliza.
"Wah gue pikir lo itu udah berubah ternyata belum yah malah lebih parah keliatannya"ucap Vincent menatap sinis
Eliza.
"Jangan jangan lo cuma mau narik perhatian kita? Sia sia kita membahas tentang Eliza kemarin yang katanya sudah berubah ternyata malah belum"ujar Calvin.
"Eliza, lo tau kalau perbuatan lo kali ini bisa membuat lo masuk penjara. Jadi mending lo ngaku terus kita gak akan melaporkan
perbuatan lo ke kantor polisi"ucap Alaska menatap dingin sang tunangan.
"Eliza, lo gak akan masuk penjara kok setelah lo mengaku perbuatan lo dan minta maaf sama Kayla"ucap Marvin dengan nada lembut menatap adiknya yang tampak diam menyenderkan tubuh ke dinding dengan tangan dilipat di dada.
Aku menyeringai kecil, miris sekali nasib pemilik tubuh ini tidak ada yang membelanya sama sekali termasuk
keluarganya.
Aku menatap tajam mereka yang mulai
berbisik tentangku.
"Buat apa aku minta maaf kalau aku tidak bersalah?"
"Lo sadar gak sih perbuatan lo itu menyakiti hati seorang perempuan yang menjaga kesuciannya apalagi bi Mila ibu
Kayla. Dan sekarang lo gak mau minta maaf?"ucap Vincent membantah Eliza yang tidak mengakui kesalahannya.
"Nona, jika nona benci kami kami akan keluar kok, gak perlu sampai menyakiti anak bibi"tangis Bi Mila pecah memeluk putrinya.
"Sudah cukup dramanya?"Aku mulai jengah dan risih mendengar tuduhan yang tidak pernah aku lakukan.
"LO BILANG INI DRAMA? LO GAK LIHAT PENAMPILAN KAYLA HAH!"Teriak Alaska
membentak tunangannya.
Aku menatap malas mereka,
"Nama Eliza bukan aku doang. Bukti rekaman CCTV gak harus menunjukkan kalau aku yang melakukannya."
"Kalian menuduhku tanpa bukti yang sempurna, aku bisa melaporkan polisi atas
pencemaran nama baik."
BRAKKK
"BUBAR!"ucap Andika melirik para pelayan yang berkerumun di kamar Eliza.
"Kalian kalau ingin membuat keributan atau masalah dalam kasus ini lain kali harus punya bukti, jangan hanya terpaku dalam CCTV!"
Andika meninggalkan kamar Eliza dengan perasaan tidak nyaman dihatinya.
"Kayla jangan sedih yah, nanti gue akan cari preman itu untuk menunjukkan kalau Eliza pelakunya"ucap Melvin mengelus pucuk kepala Mikayla.
*****
Didalam kamar, aku sudah selesai menyelesaikan ritual dikamar mandi dan memakai kaos putih polos dan celana panjang berwarna abu abu dibalut dengan sweater berwarna coklat.
Aku akan pergi menemui orang yang memerkosa Mikayla dengan alat pelacak di ponsel preman yang aku retas karena
untuk bisa tidur dengan tenang aku harus menyelesaikan masalah yang nantinya akan merepotkanku.
Aku membuka jendela melihat ada pohon yang lumayan besar, aku melompat turun menggunakan dahan pohon itu mengambil motor yang kebetulan kemarin aku belum memasukkannya kedalam garasi.
Sepertinya aku harus mampir ke salah satu tempat makan karena sekarang aku lapar.
Aku memberhentikan motorku disalah satu restoran terdekat, aku masuk kedalam restoran.
Aku duduk tak lama kemudian waiters datang menyerahkan buku menu kepadaku.
"Spaghetti bolognese and orange juice."
"Baik, tolong tunggu sebentar."
Aku melihat sekeliling menemukan sosok yang membuatku menaikkan alisku.
Sosok yang aku kenali yang aku antar pulang gara gara ban mobil pecah, Xavier Archie Leonhard.
"Astaga ternyata semua pria itu sama saja." Aku menggelengkan kepalaku.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Simehate Peanut
semangat thour
2024-05-27
0