Kawan Lama

"Cara apa yang paduka Prabu Panuda maksudkan?", tanya Patih Mpu Lodra segera.

" Aku punya hubungan baik dengan Pangeran Alas Larangan, Paman Patih...

Dia dan aku punya hutang budi dan akan mengabulkan satu permintaan ku, apapun itu. Dan seperti nya cuma ini satu-satunya harapan kita untuk bisa menahan gempuran pasukan Medang ", urai Prabu Panuda segera.

Hemmmm...

" Ya iya iya... Alas Larangan memiliki banyak pesilat pesilat tangguh lagi mumpuni beladiri. Tak hanya Pangeran Alas Larangan saja yang memiliki kemampuan beladiri luar biasa, bahkan sesepuh maupun para anggotanya konon kabarnya merupakan pendekar tangguh yang sanggup menghabisi satu regu prajurit dengan mudah. Kalau mereka bersedia untuk membantu kita, kemungkinan untuk mengalahkan pasukan Medang akan sangat besar Gusti Prabu.. ", semangat Patih Mpu Lodra pun langsung meninggi setelah mendengar jawaban sang raja Lewa.

" Tapi mereka tergolong sebagai kelompok aliran sesat, Gusti Prabu..

Jika mereka bersedia turun tangan, apa nama baik kerajaan kita tidak akan rusak karena bersekutu dengan mereka? ", kembali Mahamantri Mpu Rimbu ikut bersuara.

" Nama baik itu tidak penting, Kakang Mahamantri. Apa gunanya kita punya nama baik sedangkan kerajaan kita dibumihanguskan oleh Prabu Airlangga dan pasukannya hah?!

Yang terpenting sekarang adalah mempertahankan diri. Baik atau buruk itu kita pikir belakangan saja", bentak Prabu Panuda sedikit keras. Ini langsung membuat Mahamantri Mpu Rimbu diam seketika.

"Senopati Jaludara, tangkap ini..!! ", Prabu Panuda melemparkan sebuah lencana dari emas bergambar kepala harimau dengan mulut menganga ke arah Senopati Jaludara, pimpinan prajurit Kerajaan Lewa. Sang perwira tinggi bertubuh kekar itu dengan cekatan menangkapnya.

" Pergilah ke Alas Larangan dan tunjukkan lencana itu pada Mpu Mulalurung Sang Pangeran Alas Larangan. Katakan pada nya, aku Prabu Panuda, membutuhkan bantuan dari Alas Larangan untuk menahan serbuan pasukan Medang. Dalam waktu dua hari ini, orang-orang Alas Larangan harus sudah sampai dekat perbatasan Kotaraja Lewa untuk membantu pasukan Lewa menghadapi para prajurit Medang.

Berangkatlah sekarang juga.. ", titah Prabu Panuda segera.

" Sendiko dawuh Gusti Prabu.. ", Senopati Jaludara menghormat pada Sang Penguasa Istana Lewa sebelum mundur dari tempat duduknya untuk melakukan tugas yang telah ia terima.

" Dengan bantuan dari Pangeran Alas Larangan, Airlangga tidak akan punya kesempatan untuk menginjakkan kakinya di Bumi Lewa ini! ", ucap Prabu Panuda setelah Senopati Jaludara meninggalkan tempat itu. Sebuah keyakinan besar bahwa kemenangan mereka melawan pasukan Medang kini menjadi penyemangat setelah keresahan melanda hati sang raja.

*****

Rombongan besar pasukan Medang terus bergerak meninggalkan Istana Kambang Putih yang porak poranda akibat perang. Jumlah prajurit yang mencapai puluhan ribu orang, serta merta menimbulkan ketakutan akan kehancuran wilayah yang di lalui nya. Untung saja, para penduduk bekas wilayah kerajaan Wuratan telah takluk kepada nya hingga mereka tidak perlu takut lagi akan hal ini.

Dua hari perjalanan, pasukan Medang telah mencapai perbatasan wilayah kerajaan Lewa tepat nya di tapal batas wilayah Pakuwon Bojonegoro dengan wilayah Kadipaten Caruban yang masuk dalam wilayah kerajaan Lewa setelah menyusuri sisi selatan Sungai Wulayu. Mereka kini telah hampir mendekati Kali Sembung yang merupakan batas alam antara Bojonegoro dan Caruban.

"Matahari mulai condong ke arah barat Gusti Prabu. Di depan adalah Kali Sembung, batas wilayah dengan Kerajaan Lewa. Sebaiknya kita beristirahat disini saja", usul Senopati Mapanji Tumanggala yang berkuda di samping Prabu Airlangga.

" Benar itu usulnya Gusti Senopati Tumanggala, Sinuwun Prabu..

Sebentar lagi malam loh, tidak baik melakukan perjalanan apalagi di wilayah musuh. Sebaiknya kita bermalam di sini saja", timpal Bancak yang ikut berkuda di belakang sang raja.

"Alasan saja, bilang saja kau sudah lapar Cak. Padahal baru saja makan ubi bakar sudah minta berhenti lagi.

Sinuwun Prabu Airlangga, jangan dengarkan dia. Gusti Prabu tidak perlu terpengaruh dengan omongan si Bancak itu, semua keputusan ada di tangan Gusti Prabu Airlangga ", sanggah si Doyok segera.

" Kalian ini ribut terus. Berisik di telinga ku tahu. Jangan banyak bicara kalau tidak mau kena masalah", Tumenggung Renggos mendelik kereng pada mereka.

"Mentang-mentang badannya paling besar, sedikit-sedikit main ancam saja. Coba kalau badan ku sebesar dia, sudah ku ajak berkelahi dari kemarin-kemarin.. ", gerutu Si Bancak lirih namun masih bisa di dengar Tumenggung Renggos meskipun tidak jelas.

" Kau bilang apa???! ", Tumenggung Renggopati alias Renggos menggembor keras.

" Sudah cukup jangan ribut sendiri.. Kita berhenti disini untuk bermalam. Kakang Renggos, tata para prajurit perbekalan untuk menyiapkan tenda untuk bermalam.

Senopati Mapanji Tumanggala, atur patroli jaga di sekitar tempat ini. Jangan sampai ada mata-mata dari Lewa yang bisa masuk ke perkemahan ", perintah Prabu Airlangga segera.

"Sendiko dawuh Gusti Prabu.. ", jawab semua perwira yang bertugas bersamaan.

Segera para prajurit perbekalan bekerja cepat membangun tenda tenda perkemahan untuk para prajurit Medang. Sementara 4 kelompok prajurit berpatroli di sekitar tepian Kali Sembung untuk berjaga-jaga.

Prabu Airlangga baru saja melepaskan jirah pakaian perang nya di bantu oleh Parahita saat telinganya yang peka mendengar suara pertarungan.

"Kau tunggu disini. Aku perlu memeriksa sesuatu..", ucap Prabu Airlangga yang segera melesat cepat meninggalkan tenda besar perkemahan nya menuju ke arah utara. Parahita yang hendak menahan niat sang raja, sama sekali tidak sempat bicara. Dia cepat berlari ke arah Bancak dan Doyok yang sedang berjaga di luar tenda.

"Kakang Bancak, Kakang Doyok...

Susul Gusti Prabu ke arah utara. Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi disana", perintah Parahita segera. Bancak cepat melemparkan potongan singkong bakar nya dan langsung melesat ke arah yang ditunjuk oleh Parahita. Doyok pun segera mengikuti nya. Lagi-lagi, Parahita dibuat tercengang dengan kemampuan ilmu meringankan tubuh dua orang punakawan Prabu Airlangga ini.

Dalam beberapa tarikan nafas, Prabu Airlangga melihat seseorang sedang bertarung sekitar 1000 depa dari tempat para prajurit Medang berkemah. Dengan memanfaatkan kegelapan malam, dia berhenti di balik pohon besar yang ada di tempat itu dan mengamati apa yang sedang terjadi.

Meskipun hanya dengan penerangan dari cahaya bulan purnama, namun Prabu Airlangga dapat melihat jelas bahwa ada dua orang perempuan berbaju putih sedang bertarung melawan 2 orang berpakaian merah. Meskipun tidak begitu jelas, namun bisa dilihat bahwa dua orang perempuan itu masih berusia muda.

Thhrrraaaaannngggg thhrrraaaaannngggg...

Blllaaaaaarrrrrr....!!!!

Dua orang perempuan muda ini tersurut mundur beberapa tombak ke belakang. Jelas mereka berdua kalah tenaga dalam usai beradu senjata dengan dua orang tua berpakaian merah ini.

"Murid murid Perguruan Bukit Kembang!!

Tidak ada gunanya kalian melawan kami. Menyerah saja dan menuruti apa mau kami. Kami akan memperlakukan kalian berdua dengan baik hahahaha.. ", ucap salah seorang berpakaian merah ini sembari tertawa terbahak-bahak.

" Kakak seperguruan kalian, Si Kembang Wengi, sudah merasakan keperkasaan Kakang Kalajati, heh para murid Perguruan Bukit Kembang..

Apa salahnya jika salah satu dari kalian juga ikut menikmati keperkasaan pendekar kondang dari Alas Larangan, Sang Dewa Angin, ini? Hehehe.. ", timpal seorang laki-laki berpakaian merah lainnya tak kalah menyebalkan.

Phhuuuuuuiiiihhhhhhh....

" Bajingan cabul seperti kalian, lebih baik mampus saja. Dendam Dewi Kembang Wengi kami pasti akan membalasnya... ", balas salah seorang perempuan berbaju putih itu dengan keras.

" Mulut mu benar-benar keras rupanya...

Kakang Kalajati, tidak perlu banyak bicara. Ayo kita cepat tangkap mereka berdua. Rasanya tubuh ku sudah gatal ingin bercinta dengan mereka ", ucap seorang lelaki yang sepertinya lebih muda dari lelaki satunya. Si lelaki satunya mengangguk cepat dan keduanya langsung mempersiapkan kuda-kuda ilmu kanuragan nya.

Setelah cukup, dua orang dari Alas Larangan ini langsung melesat cepat ke arah dua perempuan muda itu dengan menggunakan ilmu beladiri nya. Saat genting itu, dua bayangan cepat berkelebat menghadang keduanya dengan ilmu beladiri tingkat tinggi. Dan...

Bllllllaaaaaaaaaaaaaammmmmmm!!!

Ledakan dahsyat terdengar saat mereka beradu ilmu kanuragan. Dua orang berbaju merah ini terlempar jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Akibatnya keduanya langsung muntah darah segar.

"Ka-kakang Kalajati, ada yang ikut campur tangan disini. Sepertinya mereka para pendekar berilmu tinggi. Sebaiknya kita pergi saja sebelum semuanya terlambat. Ayo... ", si baju merah ini langsung melemparkan sesuatu dan asap hitam pun mengepul menghalangi pandangan mata.

Si lelaki yang di panggil dengan nama Kalajati ini pun cepat menarik lengan kawannya dan mereka pun segera menghilang di kegelapan malam.

Saat itulah Prabu Airlangga muncul mendekati dua orang yang tak lain adalah Bancak dan Doyok. Begitu juga dengan dua orang perempuan muda itu. Setelah dekat barulah Prabu Airlangga bisa dengan jelas melihat wajah dua orang perempuan muda ini. Dengan sedikit kaget ia bertanya,

"Sekar Melati, Puspa Mawar...

Kenapa kalian ada disini??!! "

Terpopuler

Comments

Eddy Airborne

Eddy Airborne

lanjutkan

2024-06-03

1

Nuno Devilito

Nuno Devilito

sehat thor

2024-06-02

1

Umar Muhdhar

Umar Muhdhar

1

2024-06-02

1

lihat semua
Episodes
1 Iblis Gunung Andong
2 Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3 Pertapaan Patakan
4 Adu Kesaktian
5 Mapanji Garasakan
6 Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7 Perawan Pakuwon Babat
8 Menuju Utara
9 Tanpa Pertumpahan Darah
10 Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11 Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12 Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13 Nyai Carang Aking
14 Perjanjian Keramat
15 Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16 Bancak dan Doyok
17 Kerjasama
18 Keresahan Istana Lewa
19 Kawan Lama
20 Menggempur Lewa
21 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24 Tantangan dari Prabu Panuda
25 Akhir Hayat Prabu Panuda
26 Urusan Perempuan
27 Menyamar
28 Gerombolan Siluman Gadungan
29 Di Perbatasan Tanggulangin
30 Istana Tanggulangin
31 Tujuh Setan Pembunuh
32 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34 Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35 Masalah
36 Pilihan
37 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40 Keputusan Prabu Wijayawarma
41 Sekutu
42 Ajian Pancasona
43 Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44 Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45 Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46 Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47 Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48 Biksu Dari Tibet
49 Tujuan Sebenarnya
50 Istri Ketiga
51 Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52 Orang Misterius
53 Bidadari Penebar Maut
54 Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55 Diatas Langit Masih Ada Langit
56 Terompet Shangkya Panchajanya
57 Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58 Ajian Tapak Dewa Api
59 Tantangan dari Seorang Biksu
60 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62 Masalah di Perbatasan
63 Malam Mencekam
64 Malam Mencekam ( bagian 2 )
65 Rajah Kala Cakra
66 Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67 Maling
68 Saatnya Telah Tiba
69 Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75 Tanah Perdikan Lodaya
76 Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77 Mapanji Samarawijaya
78 Berburu
79 Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80 Kisruh Padepokan Padas Putih
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Iblis Gunung Andong
2
Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3
Pertapaan Patakan
4
Adu Kesaktian
5
Mapanji Garasakan
6
Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7
Perawan Pakuwon Babat
8
Menuju Utara
9
Tanpa Pertumpahan Darah
10
Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11
Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12
Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13
Nyai Carang Aking
14
Perjanjian Keramat
15
Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16
Bancak dan Doyok
17
Kerjasama
18
Keresahan Istana Lewa
19
Kawan Lama
20
Menggempur Lewa
21
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24
Tantangan dari Prabu Panuda
25
Akhir Hayat Prabu Panuda
26
Urusan Perempuan
27
Menyamar
28
Gerombolan Siluman Gadungan
29
Di Perbatasan Tanggulangin
30
Istana Tanggulangin
31
Tujuh Setan Pembunuh
32
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34
Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35
Masalah
36
Pilihan
37
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40
Keputusan Prabu Wijayawarma
41
Sekutu
42
Ajian Pancasona
43
Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44
Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45
Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46
Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47
Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48
Biksu Dari Tibet
49
Tujuan Sebenarnya
50
Istri Ketiga
51
Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52
Orang Misterius
53
Bidadari Penebar Maut
54
Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55
Diatas Langit Masih Ada Langit
56
Terompet Shangkya Panchajanya
57
Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58
Ajian Tapak Dewa Api
59
Tantangan dari Seorang Biksu
60
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62
Masalah di Perbatasan
63
Malam Mencekam
64
Malam Mencekam ( bagian 2 )
65
Rajah Kala Cakra
66
Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67
Maling
68
Saatnya Telah Tiba
69
Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75
Tanah Perdikan Lodaya
76
Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77
Mapanji Samarawijaya
78
Berburu
79
Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80
Kisruh Padepokan Padas Putih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!