Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )

Pergerakan pasukan Medang di bawah pimpinan langsung Prabu Airlangga benar-benar membuat ciut nyali semua penduduk Kerajaan Wuratan. Perintah dari Senopati Kanirih sebelum nya untuk sebisanya menghadang pergerakan mereka dengan iming-iming hadiah besar pun tak mampu menaikkan semangat penduduk Kerajaan Wuratan.

Kecepatan pergerakan dan jumlahnya yang mencapai puluhan ribu orang prajurit, tentu menjadi bahan pertimbangan bagi penduduk Kerajaan Wuratan. Di samping itu, puluhan perwira berkemampuan beladiri tinggi berikut beberapa penasehat perang yang handal dalam bersiasat tentu saja bukan lawan mereka.

Usai menaklukkan Kadipaten Widang tanpa pertumpahan darah, pasukan Medang terus bergerak ke utara menuju Kotaraja Kambang Putih.

Pagi itu Prabu Wisnuprabhawa masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Semalam suntuk ia menenggak minuman keras di temani oleh tiga selirnya yang masih muda-muda. Untung saja tenaga nya masih mampu untuk menghadapi pergulatan nafsu dengan tiga selir muda ini walaupun dia sendiri terkapar usai menggilir selir ketiga.

Tiba-tiba...

Thhoookkkkk thhoookkkkk thhoookkkkk!

"Gusti gusti Prabu, katiwasan gusti.. Katiwasan... ", terdengar suara panik dan ketukan pintu kamar tidur terus-menerus. Ini tentu saja membuat Prabu Wisnuprabhawa langsung bangun dari tidur nya. Kekagetan ini langsung membuat nya marah besar.

" Kurang ajar!!! Siapa yang sudah lancang mengganggu tidur ku hah?!! ", teriak Prabu Wisnuprabhawa sembari bangkit dari peraduan nya. Tiga selir muda nya yang masih telanjang bulat tanpa sehelai benang pun ini langsung ikut bangun. Sedikit terburu-buru, ketiganya cepat meraih jarit yang berserakan di lantai untuk menutup tubuh. Dengan cepat ketiganya berlari dan keluar dari pintu tembusan karena takut kena murka raja.

"Katiwasan Gusti Prabu, Katiwasan.. Ada berita penting yang harus Gusti Prabu ketahui", ucap suara itu dari luar pintu.

Prabu Wisnuprabhawa dengan murka cepat melangkah ke arah pintu dan membuka pintu kamar tidur pribadi nya. Seorang perwira prajurit berpangkat bekel bersimpuh di sana.

"Lekas katakan, berita apa yang kau bawa? Kalau tidak penting, aku pasti akan memenggal kepala mu.. ", hardik Prabu Wisnuprabhawa segera.

" Pa-Pasukan Me-Medang sudah mengepung Kotaraja Kambang Putih, Gusti Prabu..! ", lapor bekel prajurit itu dengan penuh ketakutan.

APPAAAAAAAAAAAA??!!!!!!

"B-bagaimana mungkin mereka sudah sampai disini? Bukankah kemarin mereka masih di Widang? ", Prabu Wisnuprabhawa tak bisa menutupi rasa keterkejutannya.

" Hamba juga kurang tahu, Gusti Prabu..

Tetapi para punggawa dan perwira prajurit sudah menunggu di Balairung Istana. Berharap Gusti Prabu cepat kesana ", ucap bekel prajurit itu cepat.

" Huhhhh, dasar tidak berguna.. ", gerutu Prabu Wisnuprabhawa seraya melangkah ke arah Balairung Istana Kambang Putih diikuti oleh sang bekel prajurit.

Suasana Balairung Istana Kambang Putih benar-benar riuh oleh obrolan para punggawa kerajaan Wuratan. Kesemuanya mengemukakan pendapat tentang cara terbaik untuk menghadapi ancaman dari pasukan Medang yang telah mengepung Kotaraja Kambang Putih. Begitu Prabu Wisnuprabhawa masuk ke balairung, suara mereka langsung hilang. Kesemuanya langsung berjongkok dan menyembah.

Begitu Prabu Wisnuprabhawa duduk di singgasana, para punggawa dan perwira tinggi Kerajaan Wuratan langsung duduk kembali ke tempat mereka masing-masing.

"Aku ingin tahu situasi kita saat ini", Prabu Wisnuprabhawa mengangkat tangan nya sebagai isyarat kepada para punggawa kerajaan Wuratan untuk bicara.

Satu persatu mulai melaporkan apa yang mereka ketahui. Rata-rata melaporkan bahwa setiap sudut tembok besar pelindung kota telah di kepung oleh para prajurit Medang.

Hemmmmmmm..

Terdengar suara dengusan nafas Prabu Wisnuprabhawa mendengar laporan masing-masing punggawa kerajaan. Dia berpikir keras, akan tetapi tidak juga menemukan cara terbaik untuk masalah ini.

"Patih Jayadrata, apa kau punya pemecahan masalah ini? Biasanya kau selalu punya pendapat pendapat yang bagus. Lekas katakan, apa pendapat mu? ", Prabu Wisnuprabhawa menoleh ke arah Patih Jayadrata yang duduk di sebelah kanan bawah nya.

" Kehormatan dari sebuah istana adalah putri putri nya, Gusti Prabu..

Menurut hamba, lebih baik kita cari cara untuk para putri dari keputren mengungsi secepatnya. Setelah itu, kita baru pikirkan cara untuk menghadapi Prabu Airlangga dan pasukannya ", ucap Patih Jayadrata sembari menghormat.

Belum sempat Prabu Wisnuprabhawa menanggapi, seorang prajurit berlari cepat ke arah Balairung Istana Kambang Putih. Tubuhnya berlumuran darah dari sebuah luka yang ada di pelipis kanan.

" Gusti Prabu Gusti Prabu...

Celaka Gusti Prabu celaka. Para prajurit Medang sudah berhasil menjebol pintu gerbang kota sebelah barat. Mereka mulai memasuki Kotaraja Kambang Putih. Kami tidak berdaya untuk menghentikannya ", lapor sang prajurit Wuratan sembari ngos-ngosan mengatur napas.

" Bangsat Airlangga!!!

Tumenggung Wilaga, atur para prajurit pemanah di atas tembok istana. Jangan biarkan prajurit Medang masuk ke istana ku! ", perintah Prabu Wisnuprabhawa segera.

" Baik Gusti Prabu.. ", usai berkata demikian, Tumenggung Wilaga cepat meninggalkan tempat itu.

" Demung Gempang, kau kawal Permaisuri dan para anak-anak ku ke dalam tempat persembunyian. Jaga mereka dengan nyawa mu", mendengar perintah dari sang raja, Demung Gempang langsung menghormat dan bergegas ke keputren.

"Kalian semua ikut aku, kita semua bertarung melawan Airlangga sampai titik darah penghabisan. Ayo berangkat.. ", segera setelah bicara seperti itu, Prabu Wisnuprabhawa segera bergerak menuju ke arah gapura Istana Kambang Putih diikuti oleh para punggawa.

Pagi hari itu suasana Kotaraja Kambang Putih benar-benar kacau balau. Ratusan rumah di bakar. Asap hitam membumbung tinggi ke udara, mengikuti kobaran si jago merah melalap bangunan bangunan yang menjadi korban nya.

Ribuan mayat prajurit prajurit baik dari pihak Wuratan yang menjadi korban terbesar maupun Medang bergelimpangan tak tentu arah. Darah menggenang dimana-mana, menebarkan aroma anyir yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

Jerit tangis dan erangan serta erangan kesakitan terdengar hampir di setiap sudut kota. Baik itu dari pihak prajurit maupun warga Kotaraja Kambang Putih yang turut menjadi korban dari peperangan. Ya perang memang membawa kesengsaraan bagi rakyat, mematikan perdagangan dan menghancurkan segala sendi kehidupan. Ini yang sedang terjadi di Kotaraja Kambang Putih.

Mungkin tak pernah terpikirkan oleh para penghuni Kotaraja Kambang Putih sebelumnya bahwa tempat tinggal mereka akan mengalami musibah seperti ini. Beberapa orang mulai menyesali sikap Prabu Wisnuprabhawa yang memilih untuk memerdekakan diri setelah runtuhnya Kerajaan Medang. Kutukan dan sumpah serapah pada Prabu Wisnuprabhawa pun mulai terdengar dari mulut para rakyat yang kehilangan anggota keluarga nya.

Puluhan ribu orang prajurit Medang seketika membentuk pagar betis untuk mengepung Istana Kambang Putih. Di bawah arahan Prabu Airlangga, mereka berhenti di jarak terjauh kekuatan tembak anak panah. Rupanya penempatan para prajurit pemanah diatas tembok Istana Kambang Putih sudah masuk hitungan Prabu Airlangga.

Di salah satu tempat tinggi dekat tembok istana, Prabu Wisnuprabhawa dapat melihat puluhan ribu orang prajurit Medang mengepung seluruh istana nya. Meskipun sebersit kekhawatiran melanda hati, namun raja ini meyakinkan diri bahwa para prajurit Medang takkan berani mendekati Istana Kambang Putih karena takut akan anak panah.

"Wisnuprabhawa, menyerahlah!!

Kau tak akan pernah punya kesempatan untuk mengalahkan pasukan ku. Jika kamu menyerah, mungkin aku masih bisa mengampuni mu dan tetap menjadi penguasa Wuratan sebagai raja bawahan ku", ucap lantang Prabu Airlangga.

" Airlangga Airlangga, besar sekali omongan mu! Jangan kan untuk mengalahkan ku, mendekati tembok istana ku saja kau tak berani. Masih menyuruh ku untuk menyerah?

Phhhuuuuuiiihhhhhhh...

Mimpi kau anak kemarin sore. Majulah kalau berani, aku akan melawan mu sampai mati", balas Prabu Wisnuprabhawa segera. Dia begitu percaya diri dengan para prajurit pemanah yang menjadi senjata pamungkas nya.

"Hahahaha, boleh juga sifat ksatria mu, Wisnuprabhawa! Tapi aku kemari bukan datang untuk memuji sikap ksatria mu yang sempit itu, tapi juga untuk menghitung dendam lama antara kita.

Wuratan bersekutu dengan Lwaram dan Sriwijaya untuk menggempur Kotaraja Wuwatan. Ini juga merupakan pemberontakan atas kekuasaan Dinasti Isyana yang merupakan penerus Wangsa Syailendra dan Sanjaya, pemegang kekuasaan sah di Tanah Jawadwipa.

Karena itu, aku akan menjatuhkan hukuman mati atas pengkhianatan mu!", Prabu Airlangga menarik napas panjang sebelum menoleh ke arah Tumenggung Renggopati yang berkuda di samping nya. Dengan tenang ia berkata,

"Kakang Renggos, saatnya rencana kedua.. "

Terpopuler

Comments

Irfan Cha'oelz

Irfan Cha'oelz

Zaman dulu pada kuat kuat ya🤭🙈,,, sudah mah menggilir 3 orang, masih muda muda lagi 💪🏿😛😁

2024-08-08

0

andymartyn

andymartyn

lanjut,,,,,,,

2024-05-24

1

andymartyn

andymartyn

ditunggu rencana keduanya

2024-05-24

1

lihat semua
Episodes
1 Iblis Gunung Andong
2 Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3 Pertapaan Patakan
4 Adu Kesaktian
5 Mapanji Garasakan
6 Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7 Perawan Pakuwon Babat
8 Menuju Utara
9 Tanpa Pertumpahan Darah
10 Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11 Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12 Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13 Nyai Carang Aking
14 Perjanjian Keramat
15 Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16 Bancak dan Doyok
17 Kerjasama
18 Keresahan Istana Lewa
19 Kawan Lama
20 Menggempur Lewa
21 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24 Tantangan dari Prabu Panuda
25 Akhir Hayat Prabu Panuda
26 Urusan Perempuan
27 Menyamar
28 Gerombolan Siluman Gadungan
29 Di Perbatasan Tanggulangin
30 Istana Tanggulangin
31 Tujuh Setan Pembunuh
32 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34 Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35 Masalah
36 Pilihan
37 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40 Keputusan Prabu Wijayawarma
41 Sekutu
42 Ajian Pancasona
43 Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44 Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45 Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46 Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47 Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48 Biksu Dari Tibet
49 Tujuan Sebenarnya
50 Istri Ketiga
51 Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52 Orang Misterius
53 Bidadari Penebar Maut
54 Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55 Diatas Langit Masih Ada Langit
56 Terompet Shangkya Panchajanya
57 Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58 Ajian Tapak Dewa Api
59 Tantangan dari Seorang Biksu
60 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62 Masalah di Perbatasan
63 Malam Mencekam
64 Malam Mencekam ( bagian 2 )
65 Rajah Kala Cakra
66 Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67 Maling
68 Saatnya Telah Tiba
69 Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75 Tanah Perdikan Lodaya
76 Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77 Mapanji Samarawijaya
78 Berburu
79 Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80 Kisruh Padepokan Padas Putih
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Iblis Gunung Andong
2
Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3
Pertapaan Patakan
4
Adu Kesaktian
5
Mapanji Garasakan
6
Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7
Perawan Pakuwon Babat
8
Menuju Utara
9
Tanpa Pertumpahan Darah
10
Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11
Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12
Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13
Nyai Carang Aking
14
Perjanjian Keramat
15
Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16
Bancak dan Doyok
17
Kerjasama
18
Keresahan Istana Lewa
19
Kawan Lama
20
Menggempur Lewa
21
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24
Tantangan dari Prabu Panuda
25
Akhir Hayat Prabu Panuda
26
Urusan Perempuan
27
Menyamar
28
Gerombolan Siluman Gadungan
29
Di Perbatasan Tanggulangin
30
Istana Tanggulangin
31
Tujuh Setan Pembunuh
32
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34
Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35
Masalah
36
Pilihan
37
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40
Keputusan Prabu Wijayawarma
41
Sekutu
42
Ajian Pancasona
43
Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44
Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45
Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46
Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47
Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48
Biksu Dari Tibet
49
Tujuan Sebenarnya
50
Istri Ketiga
51
Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52
Orang Misterius
53
Bidadari Penebar Maut
54
Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55
Diatas Langit Masih Ada Langit
56
Terompet Shangkya Panchajanya
57
Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58
Ajian Tapak Dewa Api
59
Tantangan dari Seorang Biksu
60
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62
Masalah di Perbatasan
63
Malam Mencekam
64
Malam Mencekam ( bagian 2 )
65
Rajah Kala Cakra
66
Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67
Maling
68
Saatnya Telah Tiba
69
Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75
Tanah Perdikan Lodaya
76
Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77
Mapanji Samarawijaya
78
Berburu
79
Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80
Kisruh Padepokan Padas Putih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!