Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )

Tumenggung Renggopati alias Tumenggung Renggos yang sudah mengikuti kiprah hebat Prabu Airlangga sejak awal mulanya, mengangguk cepat. Dia segera menoleh ke arah para prajurit yang membawa tameng besi.

"Prajurit tameng besi, saatnya kalian beraksi!! ", perintah Tumenggung Renggos segera.

Para prajurit tameng besi langsung menyatukan tameng besi yang berbentuk persegi panjang menjadi satu kesatuan. Sebuah lempengan besi selebar dua depa dengan panjang 8 depa pun tercipta dengan 32 orang prajurit memegangnya. Tak hanya satu, tapi ada 4 kelompok prajurit tameng besi melakukan hal senada.

Masing-masing lempengan besi di satukan. Terbentuklah dua tameng besi besar yang di pegang oleh 128 orang prajurit yang bertubuh kekar.

"Maju...!! Hancurkan gapura Istana Kambang Putih!! ", aba-aba dari pimpinan prajurit tameng besi terdengar. Dua tameng besi besar ini langsung bergerak maju.

Melihat hal ini, para prajurit pemanah Wuratan langsung melepaskan anak panah mereka ke arah tameng besi besar itu.

Shhhrrrrriiiiiiinnngggg shhhrrrrriiiiiiinnngggg..

Thhhrraaaaaaannnggggg thhhrraaaaaaannnggggg!

Hujan anak panah dari para prajurit pemanah Wuratan itu tak mampu menembus tameng besi yang digunakan sebagai perlindungan. Dua puluh lelaki bertubuh besar yang memanggul kayu gelondongan besar pun langsung menjalankan tugas mereka untuk menjebol gapura istana.

"Satu dua tiga... Bhhuuuummmmm!!

Satu dua tiga... Bhhuuuummmmm..!!! "

Pintu gerbang istana yang terbuat dari papan kayu tebal berguncang hebat terkena hantaman kayu gelondongan besar itu. Meskipun palang kayu penahan masih belum bertahan, ini tinggal menunggu waktu saja.

Ratusan prajurit istana Kambang Putih berusaha keras mempertahankan pintu gerbang istana yang terus menerus di gempur dari luar.

"Tetap tahan gempuran! Jangan biarkan orang-orang Medang itu masuk ke dalam istana kita!! ", teriak Demung Mpu Kuru memberi semangat para prajurit nya.

Meskipun hujan anak panah terus menghujani tameng besi besar itu, tapi sama sekali tak berguna. Ini memang salah satu rencana Prabu Airlangga untuk mengurangi jumlah anak panah milik para prajurit Wuratan.

Begitu, anak panah dalam persiapan mereka habis, Prabu Airlangga melihat ini sebagai sebuah kesempatan. Dia langsung menoleh ke arah Senopati Mapanji Tumanggala sembari mengayunkan tangan kanan nya. Senopati Mapanji Tumanggala mengangguk mengerti.

"Pasukan yang membawa tangga! Majuuu...!! ", begitu aba-aba Senopati Mapanji Tumanggala terdengar, ratusan prajurit berlari maju sembari menenteng tangga, memanfaatkan jeda sejenak dari para prajurit pemanah Wuratan yang menunggu kedatangan anak panah dari bawah tembok istana.

Perang pun langsung berkecamuk dengan sengit usai satu persatu prajurit Medang memanjat tembok istana Kambang Putih. Meskipun para prajurit Wuratan berusaha keras untuk menghalangi dengan melemparkan tombak, namun ini tidak mengendurkan semangat para prajurit Medang untuk secepatnya menaklukkan Istana Kambang Putih.

Suara denting senjata tajam beradu di sertai jerit jerit kesakitan dari mulut para prajurit yang menemui ajalnya mulai terdengar di seluruh tembok istana. Dalam waktu sebentar saja, tembok istana Kambang Putih telah mandi darah para prajurit.

"Satu dua tiga Bhhuuuummmmm... "

Kkkrrrraatttaaakkkk brrruuuuaaaaakkkk!!!

Terdengar suara sesuatu roboh dan itu adalah pintu gerbang barat Istana Kambang Putih. Begitu pintu gerbang istana ini roboh, gelombang prajurit Medang pun meluruk masuk ke dalam Istana Kambang Putih. Pertempuran hebat pun langsung terjadi di dalam istana.

Melihat prajurit Medang berhasil menjebol pertahanan Istana Kambang Putih, Prabu Airlangga langsung menepak punggung kuda tunggangan nya, menjadikannya sebagai tumpuan untuk melesat cepat ke arah bangunan tinggi dimana Prabu Wisnuprabhawa berada. Parahita, Tumenggung Sakri dan Tumenggung Wanabhaya pun segera mengikuti langkah sang raja. Dalam satu tarikan napas, empat orang pembesar istana Kahuripan ini mendarat di tempat tinggi ini.

Melihat itu, Prabu Wisnuprabhawa cepat memberi isyarat pada para bawahannya untuk menyerang Prabu Airlangga, Parahita, Tumenggung Sakri dan Tumenggung Wanabhaya.

Dua orang prajurit cepat menusukkan tombak nya ke arah Prabu Airlangga.

Whhhuuuuuggghhhh whhhuuuuuggghhhh!!

Mudah saja Prabu Airlangga berkelit menghindari serangan mereka. Dia dengan cepat melesakkan dua kepalan tangannya ke arah punggung dua orang prajurit Wuratan ini.

Dhhhaaaaaasssssshhh dhhhaaaaaasssssshhh..

Aaauuuuugggghhhh...!!!

Dua orang prajurit bersenjatakan tombak itu langsung meraung kesakitan. Tubuhnya pun langsung meluncur ke bawah dan menghantam tanah dengan keras.

Di sisi lain, Parahita dan dua tumenggung saudara seperguruan juga mengalami hal yang sama. Beberapa orang prajurit langsung menyerang mereka dengan senjata mereka masing-masing akan tetapi mereka bukanlah lawan seimbang untuk ketiga orang ini. Tak butuh waktu lama, masing-masing prajurit Wuratan telah terkapar bersimbah darah tak bernyawa.

Melihat Prabu Airlangga mampu menumbangkan lawan dengan mudah, Patih Jayadrata langsung mencabut keris nya dan menerjang ke arah Prabu Airlangga. Secepat kilat ia mengayunkan keris berlekuk tujuh itu ke arah leher Sang penguasa Kerajaan Medang.

Shhrrrreeeeeeeeeeetttttt. ..

Prabu Airlangga dengan renang hanya menggeser sedikit tubuhnya ke belakang hingga tebasan keris pusaka milik Patih Jayadrata hanya menyambar angin sejengkal di depan lehernya. Tak ingin buruannya lolos begitu saja, Patih Jayadrata kembali mengayunkan keris nya ke arah sang raja muda dari Medang. Pertarungan jarak dekat antara mereka berlangsung seru dan menegangkan.

Dari jarak yang agak jauh, Prabu Wisnuprabhawa terus mengamati jalannya pertarungan terutama pada pertarungan Patih Jayadrata melawan Prabu Airlangga.

Jlllleeeeeeppphhhhh....

Aaaaarrrrrgggggghhhhh!!!

Suara lengguhan tertahan terdengar dari mulut Tumenggung Wilaga kala pedang Tumenggung Sakri menembus dada kanannya. Meskipun tidak terlalu dalam, luka menganga lebar itu langsung mengeluarkan darah segar usai murid Padepokan Padas Putih itu mencabut senjata nya.

Thhuuukkk thhuuukkk!!

Tumenggung Wilaga cepat menotok jalan darahnya sambil sempoyongan mundur. Pertarungan nya dengan Sakri yang merupakan salah satu perwira tinggi prajurit Medang telah berlangsung puluhan jurus. Dan selama ini dia yang selalu menjadi pemenang dalam setiap pertarungan, harus mengakui keunggulan musuh yang jauh lebih muda darinya.

"He-hebat kau, Wong Medang!!

Baru kali ada orang yang mampu melukai ku hingga seperti ini. Tapi jangan jumawa dulu. Aku masih belum kalah! Jika kau benar-benar ksatria, ayo adu ilmu kanuragan.. ", teriak Tumenggung Wilaga sambil menyarungkan pedangnya. Dia mulai merapal mantra ajian andalannya.

" Akan ku layani semua permintaan mu, Perwira Wuratan!!", ucap Tumenggung Sakri seraya tersenyum tipis. Segera ia menyarungkan senjata ke pinggang dan mulai merapal mantra Ajian Jari Api yang merupakan ilmu turunan dari Ajian Tapak Dewa Api yang merupakan ciri khas dari Padepokan Padas Putih.

Perlahan ia mengumpulkan tenaga dalam nya pada ujung jemari tangan. Cahaya merah kekuningan seperti bara api yang sangat panas sebesar biji keluwih tercipta di ujung kedua telunjuk tangan sang murid Begawan Bagaspati.

Tumenggung Wilaga dengan cepat menghentakkan kedua tangannya yang berselimut cahaya biru ke arah Tumenggung Sakri. Dua gumpalan cahaya biru berhawa panas ini langsung menerabas cepat ke arah lawannya.

Whhhuuuuuggghhhh...

Menghadapi hal ini, Tumenggung Sakri cuma tersenyum saja dan dengan cepat mengayunkan dua jari telunjuk nya ke arah gumpalan cahaya biru itu. Dua bulatan kecil cahaya berwarna merah kekuningan langsung melesat ke arah yang dimaksud. Hebatnya, dua cahaya ini mampu menembus gumpalan cahaya biru dan terus menerabas ke arah Tumenggung Wilaga.

"BANGSAAAAT!!!! ", umpat keras Tumenggung Wilaga sembari melompat menghindari dua cahaya kecil mirip dengan mata anak panah ini.

Dia lolos dari maut akan tetapi itu bukanlah akhir dari serangan cepat Tumenggung Sakri. Belum sempat ia mendarat, dua cahaya kecil merah kekuningan kembali menderu cepat ke arah nya dan kali ini dia tidak bisa menghindar lagi.

Clllaaaassshhh clllaaaassshhh..

Aaaaaarrrrrrrrrggggggghhhhh!!!

Tubuh Tumenggung Wilaga jatuh ke tanah dengan dua luka di dada kanan dan pinggang kiri. Darah segar langsung memancar keluar dari dua luka yang menembus tubuh perwira tinggi prajurit Wuratan ini.

"K-k-kau terku-tukkk..!! ", hanya itu yang keluar dari mulut Tumenggung Wilaga sesaat sebelum kematiannya. Dia tewas bersimbah darah.

Usai berhasil menghabisi nyawa Tumenggung Wilaga, Tumenggung Sakri langsung menerjang ke arah musuh yang sedang mengeroyok Parahita dan Tumenggung Wanabhaya. Pertarungan diatas tembok Istana Kambang Putih ini berlangsung sangat menegangkan.

Sementara di sisi lainnya, Patih Jayadrata yang semula tersenyum penuh kemenangan setelah keris pusaka nya berhasil menembus dada Prabu Airlangga, langsung pucat seketika kala melihat Prabu Airlangga justru malah tersenyum lebar menatapnya.

"B-b-bagaimana mungkin...??!!! ", ucap Patih Jayadrata tanpa sadar. Ketakutan pun seketika memenuhi hati sang warangka praja Wuratan ini.

Belum hilang rasa keterkejutannya, tangan kanan Prabu Airlangga cepat menyambar lehernya dan mencengkeram nya dengan erat seraya mengangkat tubuhnya ke udara. Tentu saja Patih Jayadrata kesulitan bernafas dengan cekikan itu. Seketika itu juga, dia berupaya untuk melepaskan diri dari cekikan tangan kanan Prabu Airlangga dengan meronta-ronta sebisa mungkin.

"Le-lepas le-lepas kan aku ba-ji-ngan... Hekkkk kekkkh hekkkk le-lepaskan a-aku.. ", ucap Patih Jayadrata sembari terus meronta-ronta.

" Melepaskan mu? Huhhh, baiklah kalau itu yang kau inginkan.. ", ucap Prabu Airlangga sembari meremas batang leher Patih Jayadrata.

Krrreeeeeeekkkkkkhhh..!

Terdengar suara seperti tulang patah dalam cekikan tangan Prabu Airlangga. Kejap berikutnya, Prabu Airlangga melemparkan tubuh Patih Jayadrata yang telah lemas ke arah arca dwarapala di pintu gerbang Istana Kambang Putih. Tubuh perwira tinggi ini telak menghantam arca dan tak bergerak lagi.

Prabu Airlangga lalu mencabut keris pusaka milik Patih Jayadrata dan melemparkan nya ke arah Prabu Wisnuprabhawa yang terus menonton jalannya pertarungan. Penguasa Kerajaan Wuratan ini dengan sigap menepis nya hingga keris pusaka itu mencelat entah kemana.

Sembari menyeka keringat di dada nya yang bidang, Prabu Airlangga menunjuk ke arah Prabu Wisnuprabhawa sambil berkata,

"Wisnuprabhawa, sekarang giliran mu.. "

Terpopuler

Comments

LD. RAHMAT IKBAL

LD. RAHMAT IKBAL

mantap prabu semangat eee hahaha

2024-06-15

1

anggita

anggita

sehat selalu cak ebez... 😊

2024-06-05

1

andymartyn

andymartyn

dilewat

2024-05-26

2

lihat semua
Episodes
1 Iblis Gunung Andong
2 Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3 Pertapaan Patakan
4 Adu Kesaktian
5 Mapanji Garasakan
6 Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7 Perawan Pakuwon Babat
8 Menuju Utara
9 Tanpa Pertumpahan Darah
10 Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11 Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12 Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13 Nyai Carang Aking
14 Perjanjian Keramat
15 Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16 Bancak dan Doyok
17 Kerjasama
18 Keresahan Istana Lewa
19 Kawan Lama
20 Menggempur Lewa
21 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24 Tantangan dari Prabu Panuda
25 Akhir Hayat Prabu Panuda
26 Urusan Perempuan
27 Menyamar
28 Gerombolan Siluman Gadungan
29 Di Perbatasan Tanggulangin
30 Istana Tanggulangin
31 Tujuh Setan Pembunuh
32 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34 Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35 Masalah
36 Pilihan
37 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40 Keputusan Prabu Wijayawarma
41 Sekutu
42 Ajian Pancasona
43 Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44 Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45 Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46 Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47 Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48 Biksu Dari Tibet
49 Tujuan Sebenarnya
50 Istri Ketiga
51 Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52 Orang Misterius
53 Bidadari Penebar Maut
54 Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55 Diatas Langit Masih Ada Langit
56 Terompet Shangkya Panchajanya
57 Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58 Ajian Tapak Dewa Api
59 Tantangan dari Seorang Biksu
60 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62 Masalah di Perbatasan
63 Malam Mencekam
64 Malam Mencekam ( bagian 2 )
65 Rajah Kala Cakra
66 Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67 Maling
68 Saatnya Telah Tiba
69 Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75 Tanah Perdikan Lodaya
76 Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77 Mapanji Samarawijaya
78 Berburu
79 Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80 Kisruh Padepokan Padas Putih
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Iblis Gunung Andong
2
Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3
Pertapaan Patakan
4
Adu Kesaktian
5
Mapanji Garasakan
6
Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7
Perawan Pakuwon Babat
8
Menuju Utara
9
Tanpa Pertumpahan Darah
10
Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11
Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12
Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13
Nyai Carang Aking
14
Perjanjian Keramat
15
Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16
Bancak dan Doyok
17
Kerjasama
18
Keresahan Istana Lewa
19
Kawan Lama
20
Menggempur Lewa
21
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24
Tantangan dari Prabu Panuda
25
Akhir Hayat Prabu Panuda
26
Urusan Perempuan
27
Menyamar
28
Gerombolan Siluman Gadungan
29
Di Perbatasan Tanggulangin
30
Istana Tanggulangin
31
Tujuh Setan Pembunuh
32
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34
Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35
Masalah
36
Pilihan
37
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40
Keputusan Prabu Wijayawarma
41
Sekutu
42
Ajian Pancasona
43
Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44
Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45
Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46
Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47
Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48
Biksu Dari Tibet
49
Tujuan Sebenarnya
50
Istri Ketiga
51
Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52
Orang Misterius
53
Bidadari Penebar Maut
54
Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55
Diatas Langit Masih Ada Langit
56
Terompet Shangkya Panchajanya
57
Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58
Ajian Tapak Dewa Api
59
Tantangan dari Seorang Biksu
60
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62
Masalah di Perbatasan
63
Malam Mencekam
64
Malam Mencekam ( bagian 2 )
65
Rajah Kala Cakra
66
Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67
Maling
68
Saatnya Telah Tiba
69
Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75
Tanah Perdikan Lodaya
76
Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77
Mapanji Samarawijaya
78
Berburu
79
Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80
Kisruh Padepokan Padas Putih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!