Keresahan Istana Lewa

Sepekan lamanya, Prabu Airlangga tinggal di Istana Siluman Gunung Lawu. Sepekan pula, Prabu Airlangga dan Nyai Ratu Dewi Selasih memadu kasih untuk memenuhi perjanjian keramat antara mereka. Tak ingin membuang waktu percuma, mereka terus bercinta agar secepatnya buah hati yang diinginkan segera hadir.

Namun yang tidak di ketahui oleh Sang Maharaja Medang, sepekan di dunia siluman hanya sama dengan waktu sepenanak nasi di dunia manusia. Bancak dan Doyok setia menemani majikan mereka sedangkan Mpu Barada memilih untuk bersemedi menghabiskan waktu di dunia siluman Gunung Lawu.

"Sudah waktunya aku meneruskan perjalanan ku untuk mengembalikan kejayaan Kerajaan Medang, Yayi Ratu. Aku mohon pamit.. ", ucap Prabu Airlangga sembari memegang tangan Nyai Ratu Dewi Selasih. Sebuah cincin dari emas bermata batu mulia warna biru yang indah pemberian sang Raja Medang kini ada dalam genggaman Nyai Ratu Dewi Selasih.

"Hati-hatilah dalam perjalanan. Aku akan selalu merindukan mu dari sini. Saat anak kita nanti lahir, aku akan menyuruhnya untuk menemui mu di Kahuripan", balas Nyai Ratu Dewi Selasih segera. Bagaimanapun juga, perasaan nya sebagai perempuan juga tak bisa di atur begitu saja. Rasa sakit karena di tinggal pergi oleh kekasihnya, membuat air mata perempuan cantik berbaju hijau muda ini perlahan membasahi pipi.

Prabu Airlangga menghela nafas panjang. Dia langsung mengecup dahi dan bibir perempuan cantik itu untuk meredam rasa sedihnya sesaat sebelum ia melangkah meninggalkan Istana Siluman Gunung Lawu bersama dengan Bancak, Doyok dan Mpu Barada. Nyai Ratu Dewi Selasih terus menatap kepergian lelaki yang kini telah bertahta di hatinya dengan segudang rasa sedih. Akan tetapi, dia juga telah tahu bahwa ia dan Prabu Airlangga tak bisa bersatu karena mereka berasal dari dunia yang berbeda.

"Suatu saat, aku akan menemui mu Kangmas Prabu.. Meskipun kita tidak bisa bersama setiap waktu, akan tetapi aku masih bisa mencari kesempatan untuk berjumpa dengan mu.. ", gumam Nyai Ratu Dewi Selasih seraya terus menatap ke arah Prabu Airlangga dan kawan-kawan yang semakin hilang dari pandangan mata nya.

Zzzzzrrrrrrrrrttttttthhhhh!!!

Ki Bungkuk yang sedang terkantuk-kantuk duduk di depan pintu masuk ke dunia siluman Gunung Lawu. Namun cuping telinga nya yang peka, mendengar suara aneh mendekat. Ki Bungkuk alias Senopati Bagus Rajamala langsung terbangun dan menoleh ke sumber suara.

Lelaki tua ini tersenyum lebar kala melihat apa yang sedang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.

"Gusti Prabu Airlangga akhirnya keluar juga... ", sambut Ki Bungkuk sembari tersenyum ramah.

" Apa yang kami inginkan sudah terlaksana, Senopati Bagus Rajamala. Sekarang tinggal mengurus apa yang sudah menjadi kehendak para dewa ", sahut Mpu Barada segera.

" Akhirnya, selesai sudah tugas hamba sebagai penjaga pintu gerbang Kerajaan Siluman Gunung Lawu. Kelak di kemudian hari akan muncul pengganti hamba untuk melakukan tugas ini.

Gusti Prabu Airlangga, Pandhita Agung Mpu Barada, titip dua keturunan hamba. Saatnya kembali bersatu dengan Sang Maha Sampurna ", selepas berkata demikian, perlahan tubuh Ki Bungkuk mulai hancur menjadi butiran-butiran cahaya kuning keemasan.

Bancak dan Doyok tak mampu menyembunyikan rasa sedih di hati mereka, karena ditinggal sang ayah yang telah membimbing mereka selama beberapa dasawarsa terakhir. Saat butiran cahaya kuning keemasan terakhir dari tubuh Ki Bungkuk meluruh ke tanah, Bancak dan Doyok langsung berlutut dan bersujud di tanah sembari menangis tersedu-sedu. Itu adalah bentuk penghormatan terakhir mereka untuk ayahanda mereka.

Selepas itu, menggunakan Ajian Halimun, rombongan Prabu Airlangga pun kembali ke Istana Kambang Putih. Tentu saja kedatangan nya disambut suka cita oleh para perwira prajurit Medang.

Satu persatu mulai melaporkan hasil kerja mereka. Yang pertama, Senopati Mapanji Tumanggala berhasil membuat para penguasa kota-kota pelabuhan di wilayah pesisir utara Pulau Jawa yang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Wuratan bersedia untuk tunduk dan mengakui kedaulatan Kerajaan Medang atas wilayah mereka.

Tumenggung Renggos bersama dengan Tumenggung Sakri dan para prajurit Medang juga berhasil menundukkan Adipati Leran berikut para penyokong nya yang terdiri dari para pendekar golongan hitam yang dipimpin oleh Pangeran Lembah Hantu. Bahkan Tumenggung Sakri membuat Pangeran Lembah Hantu mesti kabur dengan luka dalam parah setelah terkena Ajian Tapak Dewa Api.

Lain halnya dengan para prajurit Medang di bawah pimpinan Tumenggung Wanabhaya dan Parahita. Mereka berhasil mengusir penguasa wilayah barat Wuratan hingga mereka kabur ke wilayah Kerajaan Lwaram. Sedangkan Tumenggung Bratamanggala yang ditugaskan untuk mengumpulkan harta rampasan perang dari Istana Kambang Putih pun sudah merampungkan tugasnya dengan baik. Tak cuma harta benda maupun emas permata, mereka juga berhasil menangkap para anggota keluarga Istana Kambang Putih yang selanjutnya akan dijadikan sebagai wanita boyongan ke Kahuripan.

"Tidak salah aku mempercayakan tugas-tugas penting ini kepada kalian semua. Dengan begini, seluruh wilayah Kerajaan Wuratan telah menjadi bagian dari Kerajaan Medang.

Kakang Tumenggung Wanabhaya, aku mengutus mu memimpin 2 ribu orang prajurit untuk kembali ke Kahuripan dengan membawa harta rampasan perang dari Wuratan. Begitu kau selesai melaksanakan tugas ini, segera susul aku ke Lewa", mendengar perintah dari adik seperguruan nya, sang murid tertua Padepokan Padas Putih ini tak berkata apa-apa selain menghormat pada Raja Medang ini.

"Sedangkan yang lainnya kita siapkan diri untuk menggempur Kerajaan Lewa. Prabu Panuda harus segera kita taklukkan agar Lwaram bisa bersikap bijaksana jika tidak ingin bernasib sama seperti Tanggulangin dan Wuratan", lanjut Prabu Airlangga segera.

"Sendiko dawuh Gusti Prabu... ", ucap seluruh hadirin yang ada di tempat ini.

"Nakmas Prabu Airlangga...

Aku juga ingin pamit ke Pertapaan Pawitra. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya sebagai sarana pendukung mu untuk melawan Ratu Nyai Calon Arang. Lanjutkan perjalanan mu untuk menyatukan kembali Kerajaan Medang. Orang tua ini mohon undur diri.. ", Mpu Barada membungkuk hormat kepada Prabu Airlangga sebelum menghilang dari pandangan mata semua orang. Bahkan Prabu Airlangga pun tak sempat mengucapkan selamat jalan pada sang guru.

Maka hari itu juga, Prabu Airlangga mempersiapkan bala tentara untuk persiapan menyerbu ke arah Kerajaan Lewa yang terletak di antara Gunung Wilis dan Gunung Lawu. Untuk menata tata pemerintahan bekas wilayah Kerajaan Wuratan, Prabu Airlangga menetapkan Tumenggung Bratamanggala sebagai pucuk pimpinan sementara pemerintahan bekas wilayah kerajaan Wuratan. Juga dia diminta untuk mempersiapkan pemecahan wilayah bekas kerajaan Wuratan menjadi beberapa wilayah kadipaten agar lebih mudah dalam pengawasan nya.

5 hari kemudian, pasukan besar Medang berangkat menuju ke arah Kerajaan Lewa.

*****

Berita runtuhnya Kerajaan Wuratan di bawah serbuan pasukan Medang menggegerkan seluruh penjuru Tanah Jawadwipa. Tak hanya bekas wilayah kerajaan Medang yang ketar-ketir dengan keperkasaan para prajurit pimpinan Prabu Airlangga, tetapi juga beberapa bekas wilayah kerajaan yang merdeka seperti Kalingga dan Paguhan. Beberapa pucuk pimpinan mereka telah memikirkan segala kemungkinan dan cara untuk mendapatkan hubungan yang baik dengan Istana Kahuripan.

Sedangkan beberapa bekas wilayah bawahan Medang seperti Wengker, Lewa dan Lwaram yang pernah ikut andil dalam meruntuhkan kerajaan Medang pada masa pemerintahan Prabu Dharmawangsa inipun kelimpungan mencari cara untuk dapat menahan serangan yang cepat atau lambat pasti akan datang ke kerajaan mereka.

Di istana Kerajaan Lewa, yang mendirikan ibukota di sebelah barat bekas kotaraja Wuwatan, sedang terjadi adu pendapat tentang apa yang mesti mereka lakukan untuk menghadapi ancaman dari pasukan Medang yang sedang bergerak ke arah mereka. Ini di ketahui dari laporan telik sandi negara yang melihat pergerakan pasukan Medang.

"35 ribu orang prajurit?!!!

Mustahil kita bisa menahan serangan mereka, Gusti Prabu. Kekuatan tempur kita telah berkurang banyak setelah prajurit Sriwijaya meninggalkan Lewa. Setidaknya kita butuh waktu satu tahun untuk bisa mengumpulkan puluhan ribu orang prajurit seperti itu?", Mpu Lodra sang patih Kerajaan Lewa benar-benar kehabisan akal menghadapi peristiwa yang sebentar lagi akan datang.

"Jumlah pasukan kita hanya 25 ribu orang prajurit. Itupun sudah termasuk prajurit penjaga istana. Jika di keluarkan seluruhnya, paling banyak hanya 22 ribu orang karena tidak mungkin membuat istana kosong tanpa prajurit.

Prabu Airlangga benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk menggempur Lewa saat pasukan Sriwijaya pergi. Dia benar-benar licik! ", sahut salah seorang mahamantri yang bernama Mpu Rimbu.

" Batas antara licik dan cerdas memang tipis, Kakang Mahamantri. Tapi aku tidak menduga bahwa Prabu Airlangga akan bertindak secepat ini. Kita harus benar-benar membuat cara untuk menahan serangan pasukan Medang ini. Setidaknya untuk membuat sekutu kita di Lwaram dan Wengker mau membantu. Cuma aku masih bingung mau menggunakan cara yang bagaimana untuk menahan pasukan Medang?", jawab Mpu Lodra sang patih Kerajaan Lewa sembari mengernyit.

Mendengar kekhawatiran ini, Prabu Panuda terdiam beberapa saat lamanya. Tiba-tiba sebersit pemikiran melintas di dalam otak sang penguasa Kerajaan Lewa ini. Sambil mengelus jenggot nya dia berkata,

"Sepertinya kita cuma bisa menggunakan cara itu.."

Terpopuler

Comments

LD. RAHMAT IKBAL

LD. RAHMAT IKBAL

cara licik lgi tuh hehe

2024-06-15

1

Windy Veriyanti

Windy Veriyanti

Mas Author...
Lewa itu sekarang masuk daerah dari kota atau kabupaten mana ya?

2024-05-31

3

Umar Muhdhar

Umar Muhdhar

1

2024-05-31

2

lihat semua
Episodes
1 Iblis Gunung Andong
2 Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3 Pertapaan Patakan
4 Adu Kesaktian
5 Mapanji Garasakan
6 Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7 Perawan Pakuwon Babat
8 Menuju Utara
9 Tanpa Pertumpahan Darah
10 Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11 Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12 Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13 Nyai Carang Aking
14 Perjanjian Keramat
15 Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16 Bancak dan Doyok
17 Kerjasama
18 Keresahan Istana Lewa
19 Kawan Lama
20 Menggempur Lewa
21 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24 Tantangan dari Prabu Panuda
25 Akhir Hayat Prabu Panuda
26 Urusan Perempuan
27 Menyamar
28 Gerombolan Siluman Gadungan
29 Di Perbatasan Tanggulangin
30 Istana Tanggulangin
31 Tujuh Setan Pembunuh
32 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34 Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35 Masalah
36 Pilihan
37 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40 Keputusan Prabu Wijayawarma
41 Sekutu
42 Ajian Pancasona
43 Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44 Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45 Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46 Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47 Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48 Biksu Dari Tibet
49 Tujuan Sebenarnya
50 Istri Ketiga
51 Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52 Orang Misterius
53 Bidadari Penebar Maut
54 Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55 Diatas Langit Masih Ada Langit
56 Terompet Shangkya Panchajanya
57 Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58 Ajian Tapak Dewa Api
59 Tantangan dari Seorang Biksu
60 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62 Masalah di Perbatasan
63 Malam Mencekam
64 Malam Mencekam ( bagian 2 )
65 Rajah Kala Cakra
66 Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67 Maling
68 Saatnya Telah Tiba
69 Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75 Tanah Perdikan Lodaya
76 Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77 Mapanji Samarawijaya
78 Berburu
79 Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80 Kisruh Padepokan Padas Putih
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Iblis Gunung Andong
2
Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3
Pertapaan Patakan
4
Adu Kesaktian
5
Mapanji Garasakan
6
Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7
Perawan Pakuwon Babat
8
Menuju Utara
9
Tanpa Pertumpahan Darah
10
Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11
Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12
Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13
Nyai Carang Aking
14
Perjanjian Keramat
15
Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16
Bancak dan Doyok
17
Kerjasama
18
Keresahan Istana Lewa
19
Kawan Lama
20
Menggempur Lewa
21
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24
Tantangan dari Prabu Panuda
25
Akhir Hayat Prabu Panuda
26
Urusan Perempuan
27
Menyamar
28
Gerombolan Siluman Gadungan
29
Di Perbatasan Tanggulangin
30
Istana Tanggulangin
31
Tujuh Setan Pembunuh
32
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34
Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35
Masalah
36
Pilihan
37
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40
Keputusan Prabu Wijayawarma
41
Sekutu
42
Ajian Pancasona
43
Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44
Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45
Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46
Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47
Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48
Biksu Dari Tibet
49
Tujuan Sebenarnya
50
Istri Ketiga
51
Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52
Orang Misterius
53
Bidadari Penebar Maut
54
Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55
Diatas Langit Masih Ada Langit
56
Terompet Shangkya Panchajanya
57
Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58
Ajian Tapak Dewa Api
59
Tantangan dari Seorang Biksu
60
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62
Masalah di Perbatasan
63
Malam Mencekam
64
Malam Mencekam ( bagian 2 )
65
Rajah Kala Cakra
66
Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67
Maling
68
Saatnya Telah Tiba
69
Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75
Tanah Perdikan Lodaya
76
Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77
Mapanji Samarawijaya
78
Berburu
79
Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80
Kisruh Padepokan Padas Putih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!