Perawan Pakuwon Babat

Kepanikan langsung melanda hati para punggawa Istana Kambang Putih mendengar laporan dari telik sandi itu. Mereka sadar bahwa kekuatan Kerajaan Wuratan saat ini sedang melemah.

Sibuknya Kerajaan Sriwijaya yang menjadi penopang utama kerajaan kerajaan kecil boneka nya di Pulau Jawa dalam menanggulangi masalah penyerbuan dari Kerajaan Chola dari Jambudwipa membuat mereka menarik sejumlah besar pasukan yang disiagakan untuk mempertahankan negeri induk nya. Ini tentu saja membuat pertahanan kerajaan kerajaan kecil seperti Wuratan, Lewa, Wengker dan Lwaram hanya memiliki sejumlah kecil prajurit yang siap untuk berperang.

Rata-rata kerajaan kerajaan kecil seperti Wengker, Lewa dan Wuratan mengandalkan pasukan dari Kerajaan Sriwijaya untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Akan tetapi, di tariknya para prajurit Sriwijaya jelas saja membuat mereka melemah karena sedikitnya prajurit yang mereka miliki.

Selama ini mereka terlalu nyaman dengan perlindungan dari Kerajaan Sriwijaya hingga tak menyadari kalau bahaya besar dari Kerajaan Medang sedang mengintai keamanan mereka. Para pembesar kerajaan hanya berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta benda di bawah kenyamanan perlindungan prajurit Sriwijaya.

Selain Tanggulangin yang telah ditaklukkan dan Lwaram, nyaris tak satupun kerajaan kecil merdeka ini memiliki angkatan perang sekuat Kerajaan Medang saat ini. Dan jika pasukan Medang menyerbu bisa dipastikan bahwa kekalahan mereka sudah ada di depan mata.

Prabu Wisnuprabhawa langsung bangkit dari singgasana dan muram seketika mendengar laporan Wadang dan Lodang yang ditugaskan sebagai mata-mata untuk Kerajaan Medang. Otaknya pun langsung berpikir keras tentang apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan Kerajaan Wuratan.

"Patih Jayadrata, katakan apa kau punya cara untuk mengatasi masalah ini? ", raja bertubuh gempal ini menoleh ke arah Patih Jayadrata yang baru saja diangkat sebagai pengganti Patih Indrakelana yang terbunuh dalam penyerbuan ke Pertapaan Patakan tempo hari. Pria bertubuh kekar dengan kumis tebal itu langsung menghormat pada Prabu Wisnuprabhawa.

"Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu..

Kekuatan Wuratan saat ini hanya 20 ribu orang prajurit. Jika di paksa untuk melawan serangan dari pasukan Medang, mungkin kita hanya bisa bertahan di dalam benteng istana saja. Cara terbaik yang bisa kita lakukan untuk saat ini adalah dengan memerintahkan pada para akuwu dan Adipati untuk menahan serangan musuh. Jika tidak mampu mengalahkan, setidaknya mereka bisa mengurangi jumlah musuh hingga kita punya kemungkinan untuk mengalahkan mereka ", ucap Patih Jayadrata segera.

" Bukankah itu sama saja dengan kita mengorbankan nyawa rakyat, Gusti Patih?", ujar Mahamantri Marawijaya dengan nada kurang setuju dengan pendapat Patih Jayadrata.

"Kita tidak ada pilihan lain selain itu, Paman Mahamantri Marawijaya. Jika nanti kita bisa mengusir pasukan Medang, kita juga akan memberikan hadiah kepada mereka mereka yang sudah turut membantu kerajaan melawan musuh. Tidak ada yang dirugikan, bukan?", senyum licik terukir jelas pada wajah Patih Jayadrata. Mendengar jawaban itu, Mahamantri Marawijaya hanya mendengus dingin sedangkan Prabu Wisnuprabhawa manggut-manggut setuju.

"Aku sependapat dengan usulan mu, Patih Jayadrata..

Senopati Kanirih, cepat utus orang untuk menghubungi para akuwu dan adipati di wilayah Kerajaan Wuratan. Umumkan pada mereka untuk membentuk pasukan guna menghadang pergerakan pasukan Medang. Setiap keberhasilan akan ku hadiahi daerah simha dan bebas upeti selama 2 warsa ", Senopati Kanirih langsung menghormat kala titah Prabu Wisnuprabhawa ia dapatkan.

" Baik Gusti Prabu.. ", jawab Senopati Kanirih kemudian.

Setelah pisowanan itu rampung, Senopati Kanirih cepat mengirimkan utusan ke daerah-daerah bawahan Kerajaan Wuratan seperti Pakuwon Babat dan Kadipaten Widang yang bisa dipastikan akan menjadi jalan pergerakan pasukan Medang untuk segera mempersiapkan diri menghadapi pasukan Medang.

*****

Akuwu Babat, Mpu Danu, pagi itu duduk termenung di singgasana Pakuwon Babat. Hampir semalam suntuk ia tidak dapat memicingkan mata. Nampak beban pikiran berat sedang ia rasakan setelah menerima perintah dari Senopati Kanirih. Lelaki sepuh yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan ini nampak beberapa kali menghela nafas panjang seolah-olah ingin melepaskan beban hatinya.

Ini tak luput dari perhatian Rara Anteng, putri sulungnya yang juga merupakan anak kesayangan nya. Putri yang juga merupakan salah satu prajurit Pakuwon Babat ini begitu paham dengan perubahan air muka sang penguasa Pakuwon Babat.

Rara Anteng adalah seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Selain parasnya yang cantik rupawan, dia juga merupakan calon penerus dari Pakuwon Babat karena keempat anak Akuwu Mpu Danu semuanya perempuan dan Rara Anteng adalah anak sulung.

Sudah banyak jejaka maupun putra bangsawan yang ingin menjadikan Rara Anteng sebagai istri namun perempuan cantik yang telah menginjak usia 2 setengah dasawarsa ini masih belum berniat untuk berumah tangga. Alasannya selalu dia ingin bersuamikan seorang pendekar yang mampu mengalahkan nya untuk dia jadikan sebagai pelindung kala nanti ia mewarisi tahta Pakuwon Babat.

"Ada apa Kanjeng Romo? Kenapa setelah menerima utusan dari Kedaton Kambang Putih kau seperti punya beban yang teramat sangat berat?", tanya Rara Anteng segera.

" Ada perintah dari Istana Kambang Putih untuk menahan pasukan Medang, Putri ku...

Meskipun ada hadiah besar yang dijanjikan, akan tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Ini sama dengan bunuh diri", suara Akuwu Babat Mpu Danu terasa sangat berat. Putri Rara Anteng pun langsung mengerti apa yang tengah dirasakan oleh ayahnya.

"Aku mengerti Kanjeng Romo. Kalau itu sudah menjadi kewajiban Romo maka ijinkan saya untuk menantang pimpinan pasukan Medang dalam adu ilmu beladiri. Saya akan bertarung satu lawan satu dengan nya.

Jika saya menang, saya akan meminta mereka untuk mundur. Akan tetapi jika saya kalah maka Kanjeng Romo harus mengakui kedaulatan Medang atas tanah Babat juga bebas memperlakukan saya sesuai dengan keinginannya.

Ini semata-mata saya lakukan hanya untuk menghindari pertumpahan darah yang akan menghilangkan banyak nyawa orang yang tidak bersalah. Perang ini adalah simbol dari nafsu angkara para penguasa yang ingin melanggengkan kekuasaan di atas penderitaan rakyat. Bagaimana menurut Kanjeng Romo?", Rara Anteng menatap wajah sepuh Akuwu Mpu Danu lekat-lekat.

Hemmmmm...

Akuwu Mpu Danu menghela nafas berat seolah-olah ingin melepaskan beban berat di hatinya. Di satu sisi, ia ingin menyelamatkan para prajurit Pakuwon Babat yang tak mungkin menang melawan pasukan Medang sedangkan di sisi lainnya ia juga tidak ingin putri kesayangannya terluka. Namun sebuah keputusan harus ia ambil untuk kebaikan semua.

"Kalau itu yang menjadi keputusan mu, Romo Kuwu tidak bisa berkata apa-apa lagi..

Satu yang harus kamu ingat Ngger Cah Ayu, jika kamu sudah tidak mampu mengalahkan pimpinan pasukan Medang, maka cukup sudah jangan memaksakan diri. Ingat pesan Romo baik-baik", Akuwu Mpu Danu bangkit dari singgasana nya dan mengusap kepala Rara Anteng.

"Kanjeng Romo tidak perlu khawatir, Rara Anteng tahu apa yang harus dilakukan", usai berkata demikian, Rara Anteng menghormat pada ayahnya sebelum bergegas menuju keluar dari Pendopo Istana Pakuwon Babat.

Mengenakan kemben berwarna merah dengan selendang berwarna kuning di dada, Rara Anteng menyelipkan pedang di pinggang. Sepasang pedang pusaka yang cukup punya nama kondang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa, Pedang Emas dan Pedang Perak. Begitu persiapan nya rampung, Rara Anteng segera bergegas naik ke atas kuda nya. Dia pun sekencang-kencangnya memacu kuda coklat itu ke arah selatan.

Saat matahari hampir sepenggal naik ke langit timur, Rara Anteng sampai di tapal batas wilayah Kadipaten Hujung Galuh yang masuk ke dalam Kerajaan Medang yakni Alas Ngimbang. Di padang rumput luas yang merupakan tapal batas wilayah, Rara Anteng melihat puluhan ribu orang prajurit Medang sedang bergerak menuju ke arah utara.

Terbayang apa yang akan dialami oleh para prajurit Pakuwon Babat jika mereka nekat menantang pasukan Medang, mereka akan lebur tanpa sisa. Bulu kuduk perawan Pakuwon Babat ini berdiri jika mengingat nya.

Dia segera menjalankan kudanya ke depan pimpinan pasukan Medang yang paling depan. Melihat seorang perempuan menghadang di tengah jalan mereka, Tumenggung Sakri yang menjadi ujung tombak pasukan Medang langsung mengangkat tangannya sebagai isyarat kepada para prajurit untuk berhenti.

Thhhhuuuuuuuuuttthhhhh!!

Bunyi terompet tanduk kerbau terdengar nyaring dan seketika itu juga seluruh pergerakan pasukan Medang berhenti seketika. Prabu Airlangga yang berkuda di tengah-tengah pasukannya langsung bertanya pada salah seorang perwira yang ada di dekatnya.

"Ada apa Juru Kanduruwan? Kenapa tiba-tiba pasukan berhenti disini?", tanya Prabu Airlangga segera.

" Hamba kurang tahu Gusti Prabu. Mohon izin untuk memeriksa.. ", Juru Kanduruwan menghormat sebelum bergegas menuju ke arah ujung pasukan. Dia langsung mendekati Tumenggung Sakri.

" Ada apa Gusti Tumenggung? Kenapa pasukan dihentikan disini?", mendengar pertanyaan itu, Tumenggung Sakri menunjuk ke arah seorang perempuan yang berdiri dengan pedang terhunus di tengah jalan.

"Itu penyebab nya, Ki Juru Kanduruwan. Ayo kita periksa", mendengar ajakan Tumenggung Sakri, Juru Kanduruwan segera mengangguk setuju. Sesampainya di depan perempuan cantik yang tidak lain adalah Rara Anteng, keduanya segera melompat turun dari kuda mereka masing-masing dan berjalan mendekati Rara Anteng.

"Heh perempuan, apa maksud mu berdiri di tengah jalan seperti ini hah? Minggir, jangan halangi kami", bentak Ki Juru Kanduruwan garang.

" Apa kau pimpinan pasukan Medang ini?", tak ada nada gentar sedikitpun pada suara Rara Anteng.

"Aku bukan pimpinan pasukan Medang, aku hanya seorang perwira berpangkat Juru. Namaku Ki Juru Ka...... ", belum sempat Ki Juru Kanduruwan selesai bicara, Rara Anteng langsung mengangkat tangan kanan nya.

" Cukup bicara mu. Aku hanya akan bicara dengan pimpinan pasukan Medang. Bukan dengan perwira rendahan seperti mu", potong Rara Anteng dengan ketus.

"Kurang ajar kau setan betina... ", Ki Juru Kanduruwan hendak menerjang ke Rara Anteng tapi langsung ditahan oleh Tumenggung Sakri.

" Jangan terpancing emosi, Ki Juru. Dinginkan kepala mu.

Heh perempuan berbaju merah, apa mau mu sebenarnya? Katakan saja terus terang ", Tumenggung Sakri menatap tajam ke arah Rara Anteng.

Mendengar pertanyaan Tumenggung Sakri, Rara Anteng menghela napas panjang sebelum berkata,

" Aku ingin menantang pimpinan pasukan Medang,

Satu lawan satu.. "

Terpopuler

Comments

Elmo noor

Elmo noor

jadi Akewe dong ..kalu Akuwu kan buat laki2...🤣🙏

2024-11-13

0

baca yg gue suka

baca yg gue suka

rugi banget klo gak baca cerita bagus kayak gini.
lanjut terus

2024-08-01

0

LD. RAHMAT IKBAL

LD. RAHMAT IKBAL

sehat kang

2024-06-15

1

lihat semua
Episodes
1 Iblis Gunung Andong
2 Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3 Pertapaan Patakan
4 Adu Kesaktian
5 Mapanji Garasakan
6 Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7 Perawan Pakuwon Babat
8 Menuju Utara
9 Tanpa Pertumpahan Darah
10 Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11 Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12 Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13 Nyai Carang Aking
14 Perjanjian Keramat
15 Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16 Bancak dan Doyok
17 Kerjasama
18 Keresahan Istana Lewa
19 Kawan Lama
20 Menggempur Lewa
21 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24 Tantangan dari Prabu Panuda
25 Akhir Hayat Prabu Panuda
26 Urusan Perempuan
27 Menyamar
28 Gerombolan Siluman Gadungan
29 Di Perbatasan Tanggulangin
30 Istana Tanggulangin
31 Tujuh Setan Pembunuh
32 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34 Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35 Masalah
36 Pilihan
37 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40 Keputusan Prabu Wijayawarma
41 Sekutu
42 Ajian Pancasona
43 Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44 Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45 Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46 Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47 Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48 Biksu Dari Tibet
49 Tujuan Sebenarnya
50 Istri Ketiga
51 Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52 Orang Misterius
53 Bidadari Penebar Maut
54 Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55 Diatas Langit Masih Ada Langit
56 Terompet Shangkya Panchajanya
57 Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58 Ajian Tapak Dewa Api
59 Tantangan dari Seorang Biksu
60 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62 Masalah di Perbatasan
63 Malam Mencekam
64 Malam Mencekam ( bagian 2 )
65 Rajah Kala Cakra
66 Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67 Maling
68 Saatnya Telah Tiba
69 Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75 Tanah Perdikan Lodaya
76 Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77 Mapanji Samarawijaya
78 Berburu
79 Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80 Kisruh Padepokan Padas Putih
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Iblis Gunung Andong
2
Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3
Pertapaan Patakan
4
Adu Kesaktian
5
Mapanji Garasakan
6
Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7
Perawan Pakuwon Babat
8
Menuju Utara
9
Tanpa Pertumpahan Darah
10
Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11
Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12
Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13
Nyai Carang Aking
14
Perjanjian Keramat
15
Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16
Bancak dan Doyok
17
Kerjasama
18
Keresahan Istana Lewa
19
Kawan Lama
20
Menggempur Lewa
21
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24
Tantangan dari Prabu Panuda
25
Akhir Hayat Prabu Panuda
26
Urusan Perempuan
27
Menyamar
28
Gerombolan Siluman Gadungan
29
Di Perbatasan Tanggulangin
30
Istana Tanggulangin
31
Tujuh Setan Pembunuh
32
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34
Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35
Masalah
36
Pilihan
37
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40
Keputusan Prabu Wijayawarma
41
Sekutu
42
Ajian Pancasona
43
Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44
Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45
Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46
Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47
Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48
Biksu Dari Tibet
49
Tujuan Sebenarnya
50
Istri Ketiga
51
Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52
Orang Misterius
53
Bidadari Penebar Maut
54
Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55
Diatas Langit Masih Ada Langit
56
Terompet Shangkya Panchajanya
57
Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58
Ajian Tapak Dewa Api
59
Tantangan dari Seorang Biksu
60
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62
Masalah di Perbatasan
63
Malam Mencekam
64
Malam Mencekam ( bagian 2 )
65
Rajah Kala Cakra
66
Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67
Maling
68
Saatnya Telah Tiba
69
Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75
Tanah Perdikan Lodaya
76
Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77
Mapanji Samarawijaya
78
Berburu
79
Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80
Kisruh Padepokan Padas Putih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!