Mapanji Garasakan

Tangan kanan Prabu Airlangga langsung bergerak cepat menusukkan Keris Pulanggeni ke batang leher Patih Indrakelana.

Chhhrreeeeeeeeppphh!

Aaaauuuuggghhh....!!!

Mata Patih Indrakelana melotot lebar. Darah muncrat dari mulutnya. Dia yang sudah sekarat hanya bisa mendelik seolah mengutuk tindakan Prabu Airlangga.

"Kau sudah cukup membuat keributan di tempat suci ini, Patih Indrakelana! Sudah selayaknya kau di hukum berat oleh Dewa Yamadipati.. ", Prabu Airlangga mencabut keris pusaka nya dan Patih Indrakelana pun roboh bersimbah darah. Dia mengejang sebentar sebelum diam untuk selamanya.

Dewi Krepi yang melihat saudara nya terbunuh, berniat untuk segera melarikan diri. Dengan licik dia menancapkan ujung kaki nya ke tanah dan melemparkan debu ke arah Parahita yang menjadi lawannya. Namun tindakan licik pengalih perhatian ini di sadari oleh Parahita yang segera melompat tinggi untuk menghindari rencana jahat Dewi Krepi.

Begitu berhasil membuat gerakan ini, Dewi Krepi cepat berlari menjauh. Namun Parahita yang waspada langsung mencabut tusuk konde nya dan melemparkan ke arah punggung Dewi Krepi sekuat tenaga.

Whhhuuuuuttttt chhhrreeeeeeeeppphh...

Aaaauuuuggghhh..!!!

Lemparan tusuk konde yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi ini seketika membuat Dewi Krepi terjungkal mencium tanah.

Segera ia berusaha untuk secepatnya melarikan diri. Namun belum sempat ia berdiri tegak, Parahita yang baru saja mendarat langsung menyambar sebuah tombak milik prajurit Kepatihan Wuratan dan melemparkan nya tanpa ampun ke arah pinggang perempuan cantik berbaju hitam ini.

Whhhhhuuuuuuugggghhh...

Jllleeeeeeeeeppppphhh Aaaarrrrrrggggghhhh!!!

Dewi Krepi menjerit keras saat tombak yang dilemparkan oleh Parahita menembus pinggang nya. Dia mengerang sebentar sebelum tewas dengan tombak menancap di pinggang.

Begitu para pimpinan prajurit Kepatihan Wuratan terbunuh satu persatu, para prajurit pun seketika kacau balau seperti ayam kehilangan induk. Apalagi amukan para perwira prajurit Medang dan para murid Pertapaan Patakan di bawah pimpinan Prabu Airlangga dan Wiku Sanata Dharma membuat mereka semakin terdesak. Tak butuh waktu lama, para prajurit Kepatihan Wuratan pun semburat mundur dari tempat itu.

Para prajurit Medang yang sangat kelelahan akibat pertarungan tidak seimbang itu, langsung berteriak kegirangan. Mereka langsung mengelu-elukan Prabu Airlangga.

"Hidup Gusti Prabu Airlangga... "

"Hidup Dewaraja ring Medang.. "

Dewi Citrawati yang sedang hamil tua menyeka keringat di dahinya dengan selendang sutra biru yang menjadi senjata andalannya. Sementara Ratu Galuh Sekar menenteng pedang nya sambil menggendong Nararya Sanggramawijaya Tunggadewi sambil ngos-ngosan mengatur nafas. Kedua istri Prabu Airlangga ini ikut bertarung melawan pasukan Kepatihan Wuratan.

"Kau hebat sekali Dinda Citrawati. Hamil besar begitu masih mampu membantai musuh.. ", ucap Ratu Galuh Sekar sembari mendekati madu nya itu.

" Sebagai istri Kangmas Prabu Airlangga, kita harus tetap bisa membela diri meskipun dalam keadaan apapun. Kau juga hebat Kangmbok Ratu, sambil menggendong anak bertarung seperti macan betina.. ", balas Dewi Citrawati sembari tersenyum tipis.

Prabu Airlangga, Parahita, Tumenggung Renggopati dan Wiku Sanata Dharma berjalan mendekati kedua istri Prabu Airlangga ini.

" Yayi sekalian, kalian baik-baik saja?", Prabu Airlangga menatap ke arah kedua istri nya itu.

"Aku baik-baik saja, Kangmas Prabu. Nararya Sanggramawijaya Tunggadewi juga bisa membantu ku melawan musuh. Hanya aku khawatir dengan keadaan Dinda Citrawati sekarang", Ratu Galuh Sekar menoleh ke arah Dewi Citrawati yang masih meringis memegang perutnya yang buncit. Nampak jarit nya nampak basah.

"Mohon ampun Gusti Prabu..

Kalau diijinkan, hamba ingin memeriksa keadaan Gusti Selir. Sepertinya beliau mau melahirkan", sahut Parahita sembari menghormat pada Prabu Airlangga.

" Benarkah? Cepat periksa Yayi Citrawati sekarang.... ", mendengar jawaban dari sang raja Medang, Parahita segera mendekati Selir Dewi Citrawati. Perempuan cantik yang juga merupakan bekel prajurit pengawal pribadi raja ini segera memegang pergelangan tangan perempuan cantik yang sedang hamil tua itu sembari memperhatikan tanda-tanda di wajah dan tubuh Dewi Citrawati.

"Gusti Selir mau melahirkan, Gusti Prabu. Kita harus segera mempersiapkan tempat persalinan", tukas Parahita segera.

Mendengar kabar ini, wajah Prabu Airlangga sumringah. Dia segera memerintahkan agar para dayang istana untuk mempersiapkan diri untuk membantu persalinan Dewi Citrawati. Kesibukan pun segera terjadi di balai peristirahatan Pertapaan Patakan.

Sementara itu, Tumenggung Renggopati ditugaskan untuk membersihkan mayat-mayat prajurit Kepatihan Wuratan juga para prajurit Medang yang gugur dalam pertempuran ini. Seluruh prajurit Medang di kuburkan sedangkan para prajurit Kepatihan Wuratan di kumpulkan menjadi satu dan di bakar untuk menghindari masalah di kemudian hari.

Prabu Airlangga mondar-mandir di depan kamar tidur yang menjadi tempat persalinan Dewi Citrawati. Penguasa Kerajaan Medang ini terlihat tidak tenang menunggu kelahiran anaknya.

"Tenang saja Kangmas Prabu..

Kita berdoa saja pada Hyang Akarya Jagad semoga Dinda Citrawati melahirkan dengan selamat bersama dengan putra mu", ucap Ratu Galuh Sekar sambil tersenyum mencoba untuk menenangkan hati sang raja.

"Dia baru saja bertarung melawan musuh, Yayi Ratu.. Jelas tenaganya sudah habis terkuras. Inilah yang menjadi penyebab kekhawatiran ku", balas Prabu Airlangga dengan panik.

" Ada Parahita yang membantu, sudah barang tentu ia akan baik-baik saja. Aku percaya pada kemampuan pengobatan yang Parahita miliki, dia pasti akan melakukan yang terbaik untuk menolong nya", kembali Ratu Galuh Sekar tersenyum. Prabu Airlangga menghela nafas panjang untuk meredakan rasa khawatir nya.

Tak lama setelah itu...

Ooooeeeeeekkkkkk ooooeeeeeekkkkkk..

Ooooeeeeeekkkkkk!!

Terdengar suara tangis bayi dari dalam kamar persalinan. Wajah Prabu Airlangga yang semula tegang langsung berangsur-angsur menjadi lega.

Seorang dayang istana berlari keluar dari dalam kamar persalinan dengan terburu-buru. Di depan pintu kamar persalinan dia langsung menghormat pada Prabu Airlangga dan Ratu Galuh Sekar.

"Selamat Gusti Prabu, Gusti Ratu..

Gusti Selir Citrawati melahirkan seorang pangeran untuk Kerajaan Medang", lapor sang dayang istana sambil menghormat.

" Seorang putra?!

Hahahaha, Jagad Dewa Batara sungguh-sungguh sayang pada ku. Akhirnya aku juga punya seorang putra juga", Prabu Airlangga terlihat begitu senang.

"Selamat Kangmas Prabu..

Kini telah lengkap putra putri yang Kangmas Prabu Airlangga miliki. Kau akan memberi nama siapa padanya?" , tanya Ratu Galuh Sekar segera.

Hemmmmmmm..

Mendengar pertanyaan ini, Prabu Airlangga langsung terdiam sejenak. Dia terlihat menatap ke arah para prajurit Medang yang sibuk membersihkan halaman Pertapaan Patakan yang porak poranda penuh dengan pecahan batu dan kerakal. Ia pun tersenyum kemudian.

"Dia lahir di tengah perjuangan ku yang penuh dengan aral yang melintang seperti batu-batu tajam di halaman Pertapaan Patakan ini.

Maka dia akan ku beri nama Mapanji Garasakan", ucap Prabu Airlangga penuh dengan keyakinan. Mendengar jawaban itu, Ratu Galuh Sekar tersenyum penuh arti.

*****

Sementara itu, di wilayah Alas Trenggulun ribuan orang prajurit di bawah pimpinan Mapatih Mpu Narotama membangun sebuah benteng pertahanan. Sudah hampir satu purnama babat alas ini dilakukan oleh para prajurit Medang juga para penduduk Kotaraja Wuwatan Mas yang ikut mengungsi setelah ibukota Kerajaan Medang itu dikuasai oleh Ratu Lodaya.

Para bekas penduduk Kotaraja Wuwatan Mas membangun rumah di sekitar benteng pertahanan ini. Mereka tahu bahwa daerah inilah yang kelak akan menjadi tempat tinggal Prabu Airlangga dan keluarganya jadi bisa dipastikan bahwa tempat inilah yang akan menjadi ibukota Kerajaan Medang selanjutnya.

Di tengah-tengah benteng pertahanan seluas istana Kotaraja Wuwatan Mas ini, berdiri sebuah bangunan besar yang menjadi bangunan induk benteng pertahanan itu.

Beberapa orang tukang kayu nampak sibuk memasang ijuk dan alang-alang kering pada atap bangunan besar ini. Sedangkan beberapa lainnya nampak memasang papan kayu di sekeliling bangunan besar untuk dindingnya. Kesemuanya nampak bekerja dengan giat dan bersemangat.

Sementara dua orang pengukir batu, sibuk membentuk sebuah arca dwarapala di depan bangunan besar ini. Yang lainnya mempersiapkan petirtaan untuk tempat mandi tak jauh dari bangunan yang berdiri kokoh di tengah benteng yang terbuat dari kayu gelondongan sebesar betis kaki orang dewasa.

Demung Wirabraja, salah satu petinggi prajurit Medang yang selamat dalam pralaya Kotaraja Wuwatan Mas, di tunjuk sebagai pengawas utama pembangunan yang bertanggungjawab langsung pada Mapatih Mpu Narotama.

Siang itu mereka berkeliling untuk memeriksa hasil kerja para pekerja yang telah bekerja hampir satu purnama lamanya. Mapatih Mpu Narotama dan Demung Wirabraja berbincang-bincang sambil berjalan ke dekat para pekerja yang sibuk.

"Kalau tidak ada halangan, setengah purnama lagi, bangunan ini akan rampung sepenuhnya Gusti Mapatih", lapor Demung Wirabraja segera. Mendengar kabar itu, Mapatih Mpu Narotama manggut-manggut senang.

" Kau memang hebat, Wirabraja..

Bisa menyelesaikan beberapa bangunan besar dengan waktu singkat. Gusti Prabu Airlangga pasti akan menganugerahi hadiah dan jabatan yang layak untuk kerja keras mu ini", ujar Mapatih Mpu Narotama sembari mengelus kumisnya. Setelah itu dia kemudian berkata,

"Setengah purnama lagi, orang-orang yang sudah berani merongrong kewibawaan Kerajaan Medang,

Akan menerima akibatnya.. "

Terpopuler

Comments

Mely Kanzafaiz

Mely Kanzafaiz

ak suka bgt karya mu Thor, tpi jika bersambung dn upx lama kdng qta lupa kmbli jlan ceritax 🙏🙏

2024-12-10

0

arumazam

arumazam

ayo balaskan

2024-06-06

2

anggita

anggita

bayine... mbrojol, eh lahir👏👶

2024-06-05

1

lihat semua
Episodes
1 Iblis Gunung Andong
2 Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3 Pertapaan Patakan
4 Adu Kesaktian
5 Mapanji Garasakan
6 Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7 Perawan Pakuwon Babat
8 Menuju Utara
9 Tanpa Pertumpahan Darah
10 Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11 Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12 Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13 Nyai Carang Aking
14 Perjanjian Keramat
15 Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16 Bancak dan Doyok
17 Kerjasama
18 Keresahan Istana Lewa
19 Kawan Lama
20 Menggempur Lewa
21 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24 Tantangan dari Prabu Panuda
25 Akhir Hayat Prabu Panuda
26 Urusan Perempuan
27 Menyamar
28 Gerombolan Siluman Gadungan
29 Di Perbatasan Tanggulangin
30 Istana Tanggulangin
31 Tujuh Setan Pembunuh
32 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34 Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35 Masalah
36 Pilihan
37 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40 Keputusan Prabu Wijayawarma
41 Sekutu
42 Ajian Pancasona
43 Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44 Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45 Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46 Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47 Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48 Biksu Dari Tibet
49 Tujuan Sebenarnya
50 Istri Ketiga
51 Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52 Orang Misterius
53 Bidadari Penebar Maut
54 Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55 Diatas Langit Masih Ada Langit
56 Terompet Shangkya Panchajanya
57 Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58 Ajian Tapak Dewa Api
59 Tantangan dari Seorang Biksu
60 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62 Masalah di Perbatasan
63 Malam Mencekam
64 Malam Mencekam ( bagian 2 )
65 Rajah Kala Cakra
66 Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67 Maling
68 Saatnya Telah Tiba
69 Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75 Tanah Perdikan Lodaya
76 Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77 Mapanji Samarawijaya
78 Berburu
79 Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80 Kisruh Padepokan Padas Putih
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Iblis Gunung Andong
2
Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3
Pertapaan Patakan
4
Adu Kesaktian
5
Mapanji Garasakan
6
Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7
Perawan Pakuwon Babat
8
Menuju Utara
9
Tanpa Pertumpahan Darah
10
Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11
Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12
Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13
Nyai Carang Aking
14
Perjanjian Keramat
15
Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16
Bancak dan Doyok
17
Kerjasama
18
Keresahan Istana Lewa
19
Kawan Lama
20
Menggempur Lewa
21
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24
Tantangan dari Prabu Panuda
25
Akhir Hayat Prabu Panuda
26
Urusan Perempuan
27
Menyamar
28
Gerombolan Siluman Gadungan
29
Di Perbatasan Tanggulangin
30
Istana Tanggulangin
31
Tujuh Setan Pembunuh
32
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34
Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35
Masalah
36
Pilihan
37
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40
Keputusan Prabu Wijayawarma
41
Sekutu
42
Ajian Pancasona
43
Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44
Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45
Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46
Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47
Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48
Biksu Dari Tibet
49
Tujuan Sebenarnya
50
Istri Ketiga
51
Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52
Orang Misterius
53
Bidadari Penebar Maut
54
Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55
Diatas Langit Masih Ada Langit
56
Terompet Shangkya Panchajanya
57
Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58
Ajian Tapak Dewa Api
59
Tantangan dari Seorang Biksu
60
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62
Masalah di Perbatasan
63
Malam Mencekam
64
Malam Mencekam ( bagian 2 )
65
Rajah Kala Cakra
66
Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67
Maling
68
Saatnya Telah Tiba
69
Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75
Tanah Perdikan Lodaya
76
Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77
Mapanji Samarawijaya
78
Berburu
79
Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80
Kisruh Padepokan Padas Putih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!