Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )

Mendengar ancaman Prabu Airlangga, Sang Penguasa Kerajaan Wuratan langsung memberikan isyarat kepada para prajurit dan perwira nya untuk mengepung Prabu Airlangga.

Sepuluh perwira Wuratan bersama dengan beberapa orang prajurit nya langsung melompat ke arah Prabu Airlangga. Kesemuanya langsung mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri nya karena tahu bahwa lawan yang bisa menghabisi nyawa Patih Jayadrata bukanlah lawan sembarangan.

Sementara para prajurit dan perwira tinggi Wuratan menerjang maju ke arah Sang Penguasa Kerajaan Medang, Prabu Wisnuprabhawa langsung melompat turun dari tempat tinggi itu ke arah dalam istana. Sepertinya ia ingin melarikan diri.

Whhhuuuuuggghhhh whhhuuuuuggghhhh...

Melihat itu, Prabu Airlangga memutar telapak tangan nya. Kilatan cahaya putih kebiruan laksana warna petir menyambar-nyambar tercipta di kedua telapak tangan sang raja.

"Kesetiaan yang buta. Kalian layak untuk ku antar ke neraka..! ", teriak Prabu Airlangga sembari menghentakkan kedua telapak tangan nya ke arah mereka.

Dua larik cahaya putih kebiruan seperti cahaya petir dari Ajian Guntur Saketi yang di lepaskan oleh Prabu Airlangga, menerabas cepat ke arah para perwira tinggi dan prajurit Wuratan yang mengepung suami Ratu Galuh Sekar ini. Angin dingin bersliweran cepat mengikuti dua cahaya menakutkan ini. Dan..

Blllaaaaaaaammmmmm blllaaaaaaaammmmmm!!

Aaaaaarrrrrrrrrggggggghhhhh...!!!

Dua ledakan dahsyat terdengar kala cahaya putih kebiruan itu menghantam tubuh kesepuluh perwira tinggi dan prajurit Wuratan, menciptakan gelombang kejut besar yang menyapu ke segala arah. Tubuh kelimabelas orang Wuratan itu mencelat ke berbagai arah. Ada yang menghantam tanah, ada yang menabrak pohon dan ada pula yang menghantam dinding bangunan di dalam Istana Kambang Putih. Mereka tewas dengan tubuh hangus seperti baru tersambar petir.

Parahita yang baru saja menebas batang leher seorang prajurit Wuratan yang menghalangi nya, cepat mendekati Prabu Airlangga.

"Bajingan Wisnuprabhawa itu lari ke dalam Pendopo Agung Gusti Prabu, kita sebaiknya lekas mengejar sebelum ia berhasil kabur.. ", ucap Parahita segera.

" Ayo tunggu apa lagi...?? ", Prabu Airlangga segera melompat ke arah Pendopo Agung diikuti oleh Parahita. Keduanya menggunakan ilmu meringankan tubuh hingga dalam satu tarikan nafas sudah sampai di Balairung Istana Wuratan.

Prabu Wisnuprabhawa yang hendak lari, langsung menghentikan gerakan nya. Namun Prabu Airlangga yang tiba-tiba muncul di hadapannya, membuat dia cepat berbalik arah. Namun di sisi lainnya, Parahita juga muncul dengan menenteng pedangnya yang berlumuran darah.

"Mau lari kemana kau, Wisnuprabhawa?!!

Tinggalkan nyawa mu disini... ", teriak kencang Parahita sembari mengayunkan pedangnya ke arah Prabu Wisnuprabhawa.

Shhrrrreeeeeeeeeeetttttt...

Prabu Wisnuprabhawa cepat jatuhkan tubuhnya ke lantai Pendopo Agung Istana untuk menghindari sabetan pedang Parahita. Dia lolos dari sergapan cepat putri Mpu Cakrajaya. Dengan cepat ia mencabut keris pusaka di pinggangnya dan mengayunkan nya ke arah kaki Parahita.

Shhhhuuuuuuttttth...

Sadar bahaya mengancam, gadis cantik berbaju kuning kehijauan ini lekas menjejak lantai hingga tubuh nya melenting tinggi hingga ke atap Pendopo Agung Istana Kotaraja Kambang Putih. Dia dengan cepat hinggap di salah satu kayu penyangga atap lalu meluncur turun dengan memutar tubuhnya dan menusukkan pedangnya ke arah Prabu Wisnuprabhawa.

Raja Kerajaan Wuratan yang baru saja bangkit dari tempatnya semula, cepat angkat keris pusaka berlekuk 7 di tangannya untuk menahan tusukan cepat Parahita.

Thhhrraaaaaaannnggggg!!

Begitu berhasil menahan serangan bekel prajurit Medang ini, Prabu Wisnuprabhawa langsung menghantamkan tapak tangan kirinya yang berlapis tenaga dalam ke arah Parahita. Sedikit kaget, Parahita yang tak ingin menjadi korban serangan ini lekas memapaknya dengan tapak tangan kiri nya.

Blllaaaaaaaaaarrrrr!!

Tubuh Parahita terpental ke belakang. Prabu Airlangga yang sedari tadi terus mengamati jalannya pertarungan, cepat melesat menyambar tubuh Parahita yang hampir menabrak tiang penyangga atap Balairung Istana.

Hoooooeeeeggggh..

Seteguk darah muncrat keluar dari mulut Parahita begitu Prabu Airlangga mendaratkan nya di dekat singgasana Kerajaan Wuratan. Melihat ini, Prabu Airlangga sedikit khawatir dengan keselamatan bekel prajurit pengawal pribadi raja yang juga merupakan kekasihnya itu.

"Kau baik-baik saja, Hita? ", nada khawatir jelas kentara di pertanyaan sang raja.

" Hamba baik-baik saja, Gusti Prabu uhukkk uhhuukk...

Tak hamba sangka, penampilan nya yang seperti orang tak memiliki kemampuan beladiri mampu mengecoh saya. Tapi hamba masih sanggup untuk menghadapinya, bajingan itu adalah orang yang membunuh ibu hamba di Mahapralaya Wuwatan. Hamba harus membalas dendam..", balas Parahita sembari bersiap-siap untuk maju lagi.

"Cukup Hita...

Biar aku saja yang menghadapinya. Wisnuprabhawa sengaja menyembunyikan kemampuan beladiri nya untuk memperdaya musuh. Saat ini, kau bukan lawan yang sepadan untuk nya", ucap Prabu Airlangga segera. Mendengar ini, Parahita langsung menganggukkan kepalanya.

"Hamba mengerti.. "

Setelah mendengar jawaban itu, Prabu Airlangga melepaskan pegangan tangan nya pada Parahita dan bersiap untuk memulai pertarungan terakhir di Wuratan ini.

Setelah cukup melakukan kembangan ilmu silat nya, Prabu Airlangga segera menerjang ke arah Prabu Wisnuprabhawa dengan ilmu silat Padepokan Padas Putih nya. Penguasa Kerajaan Wuratan ini pun tak mau kalah dengan mengayunkan keris pusaka di tangannya.

Pertarungan antara dua penguasa kerajaan di Pulau Jawadwipa ini pun segera terjadi.

Whhhuuuuuggghhhh shhrrrreeeeeeeeeeetttttt..

Plllaaaaaaaaakkk dhhaaassshhh dhhaaassshhh!!

Kedua raja ini menampilkan gaya pertarungan yang sangat berbeda. Prabu Wisnuprabhawa mengayunkan keris nya, mencari titik titik kematian di tubuh Prabu Airlangga, dengan gerakan kaku dan cenderung kikuk. Sedangkan Raja Medang sendiri malah terlihat luwes dalam bertarung menghadapi lawan yang bersenjata tajam. Bahkan dia sudah mendaratkan beberapa puluh pukulan dan tendangan ke tubuh Prabu Wisnuprabhawa, sedangkan raja Wuratan ini baru 3 kali mengenai tubuh sang penguasa Kerajaan Medang. Itupun dengan tenaga yang lemah.

Dua puluh jurus berlalu dengan cepat dan terlihat perbedaan mencolok pada kedua raja yang sedang bertarung ini. Prabu Airlangga masih baik-baik saja sedangkan Prabu Wisnuprabhawa telah menderita beberapa memar di wajahnya bahkan bibir bawahnya telah pecah dan mengeluarkan darah usai kena pukul sang raja Medang.

Blllaaaaaaaammmmmm!!!

Ledakan dahsyat terdengar setelah Prabu Airlangga dan Prabu Wisnuprabhawa adu pukulan. Tubuh keduanya terdorong mundur beberapa langkah hingga jarak mereka sekarang sekitar 3 tombak jauhnya.

Sementara di luar Balairung Istana Kambang Putih, para prajurit Medang telah berhasil membuat para prajurit Wuratan keteteran. Mereka kini telah terpojok di sekitar Balairung Istana. Dan ini di ketahui pasti oleh Prabu Wisnuprabhawa. Dan satu hal yang di sadar ioleh Prabu Wisnuprabhawa adalah satu-satunya cara untuk memenangkan pertempuran ini adalah dengan mengalahkan Prabu Airlangga.

"Ku akui kau memang hebat, Airlangga..

Tapi aku Prabu Wisnuprabhawa dari Wuratan masih belum kalah! ", teriak Prabu Wisnuprabhawa dengan lantang. Dia melemparkan kerisnya dan cepat merentangkan kedua tangannya ke samping. Sembari mulut terus berkomat-kamit merapal mantra ajian andalannya, Prabu Wisnuprabhawa segera menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan dada.

Cahaya hijau kebiruan muncul di kedua bahu Prabu Wisnuprabhawa yang cepat menjalar ke arah telapak tangan. Menciptakan hawa panas aneh yang menyelimuti kedua telapak tangan Raja Wuratan ini. Ya, ini adalah Ajian Pelebur Langit yang menjadi ilmu pamungkas nya. Konon ilmu kesaktian ini sanggup menghancurkan sebuah bukit dengan sekali hantam.

"Ajian Pelebur Langit?!!

Rupanya kau punya ilmu pamungkas yang luar biasa, Wisnuprabhawa. Tapi aku juga tidak akan kalah dari mu!! "

Prabu Airlangga pun segera menangkupkan kedua telapak tangan nya ke depan dada. Matanya terpejam sebentar dan manik mata sang raja berubah warna menjadi kuning keemasan. Dari punggung kanan atasnya, muncul sebuah cahaya berbentuk huruf huruf Jawa Kuno yang terangkai menjadi sebuah roda keemasan bergerigi tajam.

Inilah salah satu hasil pertapaan Prabu Airlangga di Pertapaan Vanagiri selama 3 tahun lamanya. Sebuah benda pusaka dari dunia kedewaan yang bernama Cakra Bhaswara atau yang memiliki nama lain yakni Cakra Sudarsana. Benda Pusaka ini adalah salah satu ciri dari Dewa Wisnu yang akan dimiliki oleh setiap avatar nya.

Roda emas bergerigi tajam ini membesar di atas kepala Prabu Airlangga, berputar perlahan-lahan namun semakin cepat dan terus bertambah cepat. Menciptakan kesan bahwa tak ada yang mampu menandingi.

"Matilah kau, Airlangga...

Ajian Pelebur Langit hiiiyyyyaaaaattttt.. !!! "

Prabu Wisnuprabhawa langsung menghempaskan cahaya hijau kebiruan berhawa panas itu ke arah Prabu Airlangga. Cahaya itu langsung berputar cepat bergulung-gulung ke arah sang raja Medang. Prabu Airlangga dengan tenang tersenyum sambil menggerakkan jari telunjuknya maju. Cakra Bhaswara dengan cepat melesat maju menyongsong Ajian Pelebur Langit.

Chhhrrrrrraaaaaaassshhhhh...

Blllaaaaaaaaaaaaammmmmm!!!!

Cakra Bhaswara memotong cahaya hijau kebiruan Ajian Pelebur Langit dan langsung melesat cepat ke arah Prabu Wisnuprabhawa yang tidak siap dengan hal ini. Tajamnya Cakra Bhaswara seketika memenggal kepala Prabu Wisnuprabhawa hingga potongan kepalanya terpental ke atas singgasana Kerajaan Wuratan. Sedangkan tubuhnya roboh dengan darah menyembur kencang membasahi lantai Balairung Istana Kambang Putih.

Wisnuprabhawa menjadi raja pertama sekaligus raja terakhir Kerajaan Wuratan, sebuah kerajaan kecil boneka dari Kerajaan Sriwijaya di Tanah Jawa. Dia menggenapi kutukan Rakai Pikatan terhadap Balaputradewa setelah mengalahkan dan mengusir nya ke Bumi Suwarnadwipa.

Usai membunuh Prabu Wisnuprabhawa, Cakra Bhaswara memudar dan menghilang di tempat itu. Sedangkan Prabu Airlangga langsung limbung dan hampir jatuh. Parahita dengan cepat memapah tubuh sang raja Medang yang kelelahan setelah mengeluarkan tenaga banyak.

Perang antara Wuratan dan Medang berakhir dengan tewasnya Prabu Wisnuprabhawa di tangan Sang Raja Medang.

Nun jauh di barat daya, di kaki Gunung Wilis sebelah barat, seorang wanita tua dengan pakaian compang camping menatap murka pada air di kuali besar berisi air kembang. Dalam air kembang ini, nampak jelas bahwa Prabu Wisnuprabhawa tewas di tangan Prabu Airlangga.

Dengan penuh amarah, dia mengetukkan tongkat berkepala naga di tangan kanannya. Bumi berguncang seketika akibat tindakannya ini. Dengan penuh rasa marah, ia pun berkata,

"Dendam ini akan ku balas berkali-kali lipat..!! "

Terpopuler

Comments

andymartyn

andymartyn

lanjut

2024-05-26

2

Eddy Airborne

Eddy Airborne

hancurkan semua

2024-05-23

1

Doest

Doest

lanjutken kang ebez...

2024-05-22

2

lihat semua
Episodes
1 Iblis Gunung Andong
2 Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3 Pertapaan Patakan
4 Adu Kesaktian
5 Mapanji Garasakan
6 Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7 Perawan Pakuwon Babat
8 Menuju Utara
9 Tanpa Pertumpahan Darah
10 Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11 Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12 Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13 Nyai Carang Aking
14 Perjanjian Keramat
15 Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16 Bancak dan Doyok
17 Kerjasama
18 Keresahan Istana Lewa
19 Kawan Lama
20 Menggempur Lewa
21 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24 Tantangan dari Prabu Panuda
25 Akhir Hayat Prabu Panuda
26 Urusan Perempuan
27 Menyamar
28 Gerombolan Siluman Gadungan
29 Di Perbatasan Tanggulangin
30 Istana Tanggulangin
31 Tujuh Setan Pembunuh
32 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34 Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35 Masalah
36 Pilihan
37 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40 Keputusan Prabu Wijayawarma
41 Sekutu
42 Ajian Pancasona
43 Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44 Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45 Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46 Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47 Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48 Biksu Dari Tibet
49 Tujuan Sebenarnya
50 Istri Ketiga
51 Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52 Orang Misterius
53 Bidadari Penebar Maut
54 Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55 Diatas Langit Masih Ada Langit
56 Terompet Shangkya Panchajanya
57 Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58 Ajian Tapak Dewa Api
59 Tantangan dari Seorang Biksu
60 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62 Masalah di Perbatasan
63 Malam Mencekam
64 Malam Mencekam ( bagian 2 )
65 Rajah Kala Cakra
66 Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67 Maling
68 Saatnya Telah Tiba
69 Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75 Tanah Perdikan Lodaya
76 Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77 Mapanji Samarawijaya
78 Berburu
79 Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80 Kisruh Padepokan Padas Putih
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Iblis Gunung Andong
2
Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3
Pertapaan Patakan
4
Adu Kesaktian
5
Mapanji Garasakan
6
Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7
Perawan Pakuwon Babat
8
Menuju Utara
9
Tanpa Pertumpahan Darah
10
Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11
Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12
Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13
Nyai Carang Aking
14
Perjanjian Keramat
15
Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16
Bancak dan Doyok
17
Kerjasama
18
Keresahan Istana Lewa
19
Kawan Lama
20
Menggempur Lewa
21
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24
Tantangan dari Prabu Panuda
25
Akhir Hayat Prabu Panuda
26
Urusan Perempuan
27
Menyamar
28
Gerombolan Siluman Gadungan
29
Di Perbatasan Tanggulangin
30
Istana Tanggulangin
31
Tujuh Setan Pembunuh
32
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34
Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35
Masalah
36
Pilihan
37
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40
Keputusan Prabu Wijayawarma
41
Sekutu
42
Ajian Pancasona
43
Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44
Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45
Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46
Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47
Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48
Biksu Dari Tibet
49
Tujuan Sebenarnya
50
Istri Ketiga
51
Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52
Orang Misterius
53
Bidadari Penebar Maut
54
Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55
Diatas Langit Masih Ada Langit
56
Terompet Shangkya Panchajanya
57
Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58
Ajian Tapak Dewa Api
59
Tantangan dari Seorang Biksu
60
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62
Masalah di Perbatasan
63
Malam Mencekam
64
Malam Mencekam ( bagian 2 )
65
Rajah Kala Cakra
66
Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67
Maling
68
Saatnya Telah Tiba
69
Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75
Tanah Perdikan Lodaya
76
Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77
Mapanji Samarawijaya
78
Berburu
79
Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80
Kisruh Padepokan Padas Putih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!