Prabu Airlangga, Mpu Barada dan dua punakawan baru sang raja Bancak dan Doyok terus menapaki jalan raya menuju ke arah Istana Siluman Gunung Lawu. Dari awal masuk, Mpu Barada telah memperingatkan kepada mereka semua agar jangan pernah menoleh ke belakang.
Empat orang penjaga pintu gerbang Istana Siluman Gunung Lawu langsung menghentikan Prabu Airlangga dan para pengikutnya begitu mereka mendekati pintu gerbang.
"Berhenti! Siapapun dilarang masuk ke Istana Siluman Gunung Lawu. Kembalilah ke tempat kalian, jangan mengacau disini", ucap salah seorang penjaga dengan tegas.
" Kami ada perlu dengan Ratu Siluman Gunung Lawu. Mohon kalian memberi kami jalan ", tutur Mpu Barada dengan sopan.
" Sudah di bilang kalau kami tidak menerima tamu, masih juga keras kepala! Jangan memaksa masuk atau kami akan berbuat kasar pada kalian! ", bentak salah seorang penjaga gerbang lainnya dengan galak.
" Eh eh eh, mulutnya kog keras sekali ya...
Sinuwun Prabu Airlangga ada perlu dengan ratu gusti mu, buka pintu gerbang nya sekarang juga. Kalau ngeyel, tak hajar kalian semua.. ", Bancak angkat bicara. Sepertinya sifat punakawan baru Prabu Airlangga ini begitu polos dan ceplas-ceplos sedikit kurang memgerti tatakrama.
Mendengar jawaban Bancak ini, para penjaga gerbang Istana Siluman langsung geram setengah mati. Tanpa menunggu lama, mereka langsung mencabut pedang mereka masing-masing dan langsung menerjang ke arah Prabu Airlangga dan pengikutnya.
Prabu Airlangga dan Mpu Barada melangkah mundur sedang Bancak dan Doyok malah melesat maju dengan menggunakan kepalan tangan mereka. Dua orang langsung menghadapi Bancak sedangkan sisanya mengepung Doyok.
Whhhuuuuuuggggghhhh...
Pllllaaaaaaakkkk dhhhaaaaaasssshhh!!!
Dua orang prajurit penjaga gerbang Istana Siluman Gunung Lawu terjungkal setelah bogem mentah Bancak mendarat di wajah mereka. Meskipun gerakan nya terlihat kaku, tapi Bancak terlihat handal dalam berkelahi.
Setelah jatuh, kedua orang penjaga gerbang Istana Siluman ini langsung bangkit lagi sambil membabatkan pedang nya ke arah kepala lawannya.
Shhhrreeeettttt shhhrreeeettttt...
Bancak sedikit merunduk dan tebasan pedang mereka berdua hanya menyambar angin kosong sejengkal diatas kepala. Lalu dengan cepat ia memutar tubuh nya dan kembali melayangkan tendangan keras ke arah salah satu dari mereka.
Sementara di sisi lain nya, Doyok yang bertubuh kurus malah memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni. Meskipun tubuhnya seperti tinggal kulit dan tulang saja, Doyok mampu membuat salah seorang penjaga gerbang istana jatuh tersungkur sekali hantam.
Melihat kawannya dijatuhkan dengan mudah, sang penjaga gerbang Istana Siluman lainnya menggeram dan melompat sambil mengayunkan pedang di tangan kanannya.
Shhhrreeeettttt!!!
Doyok dengan lincah berkelit menghindari sabetan pedang lawan dan dengan cepat melayangkan tendangan keras ke arah pinggang musuh sekuat tenaga.
Dhhhiiiiiiieeeeeeesshhhhh...
Aaauuuuuuuuggghhhhhh!!!
Penjaga gerbang Istana Siluman Gunung Lawu ini pun seketika terjungkal menyusruk tanah dengan keras. Namun ia cepat bangkit dan kembali menyerang ke arah Doyok bersama dengan seorang kawan nya. Pertarungan mereka berlangsung sengit namun keunggulan jelas di tangan Bancak dan Doyok.
"Sungguh diluar dugaan. Dua orang yang terlihat seperti orang biasa malah punya kemampuan beladiri yang mumpuni. Tak kalah dengan perwira tinggi prajurit Medang.. ", ucap Prabu Airlangga yang menonton pertarungan mereka.
" Maka dari itu Nakmas Prabu, jangan menilai sesuatu dari luarnya saja. Sebenarnya dua orang anak Senopati Bagus Rajamala ini bukan manusia biasa", balas Mpu Barada sambil tersenyum.
"Maksud guru? ", Prabu Airlangga menoleh ke arah Mpu Barada, tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh gurunya,
" Mereka telah mendapatkan pelatihan yang luar biasa dari Senopati Bagus Rajamala. Selain itu, mereka bukan manusia seutuhnya melainkan manusia setengah siluman. Mereka telah hidup ratusan tahun bahkan sebelum saya ada di dunia ini, setidaknya mereka sudah setua ayah mertua mu Prabu Dharmawangsa..", kaget Prabu Airlangga mendengar jawaban Mpu Barada.
"Mereka setua itu? Tapi penampilan mereka masih terlihat seperti berusia 3 dasawarsa..", Prabu Airlangga seolah-olah tak percaya dengan omongan sang guru.
" Jangan tertipu dengan penampilan luar, Nakmas Prabu..
Menerima suwita mereka sebagai abdi mu adalah keberuntungan mu. Selain untuk menjadi abdi mu, mereka juga mampu membantu mu menyelesaikan sesuatu yang tak bisa kau selesaikan sendiri ", ucap Mpu Barada segera. Prabu Airlangga manggut-manggut mengerti.
Blllaaaaaarrrrrr blllaaaaaarrrrrr!!!
Empat orang penjaga gerbang Istana Siluman Gunung Lawu terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah di depan pintu gerbang istana setelah menerima hantaman Bancak dan Doyok. Mereka masih belum juga menyerah dan berusaha bangkit meskipun dengan sempoyongan.
"HENTIKAN!!! "
Teriakan keras dari dalam pintu gerbang Istana Siluman Gunung Lawu seketika membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara. Dari arah dalam, seorang lelaki tua berjanggut putih pendek dengan pakaian seperti seorang pembesar istana melangkah keluar. Sekilas penampilannya mirip dengan manusia biasa akan tetapi cuping telinga nya mencuat ke atas seperti telinga seekor macan kumbang lengkap dengan kumis jarang nya. Sorot matanya tajam menatap seperti tatapan mata seekor hewan buas hendak memangsa.
Keempat prajurit penjaga gerbang Istana Siluman Gunung Lawu itu segera menghormatinya.
"Berani-beraninya kalian tidak sopan pada seorang pendeta besar seperti Maharesi Mpu Barada. Bodoh semuanya!! ", bentak lelaki tua sembari menampar salah satu prajurit penjaga di samping kanan nya. Sang prajurit langsung jatuh tersungkur. Tiga orang prajurit lainnya mundur ketakutan.
Selesai memarahi para prajurit penjaga gerbang istana, lelaki tua berkulit gelap ini langsung mendekati Mpu Barada, Prabu Airlangga dan Bancak serta Doyok.
"Mohon maaf untuk ketidaknyamanannya, Pendeta Agung.. Saya kurang bisa mengatur anak buah saya dengan baik", lanjut lelaki tua itu dengan penuh hormat pada Mpu Barada.
"Senopati Macan Kumbang..
Tak perlu bersikap seperti itu. Mereka hanya menjalankan tugas. Kedatangan ku kali ini ingin bertemu dengan Nyai Ratu Dewi Selasih. Mohon Senopati Macan Kumbang bersedia untuk mengantarkan", balas Mpu Barada segera.
" Silahkan ikuti saya, Pendeta Agung... ", mereka pun segera bergegas mengikuti langkah lelaki tua berwajah galak itu masuk ke dalam Istana Siluman Gunung Lawu.
Seorang perempuan cantik dengan rambut hitam legam panjang mengenakan baju berwarna hijau muda serta sebuah mahkota emas bertabur permata nampak sedang rebahan santai diatas singgasana yang terbuat dari emas. Dandanannya sungguh mengundang birahi setiap mata lelaki yang melihatnya baik tua maupun muda. Tatapan matanya sanggup membuat setiap orang tertunduk hingga membuatnya menjadi wanita paling dihormati oleh seluruh penghuni Istana Siluman Gunung Lawu.
Ya, dia lah Nyai Ratu Dewi Selasih, penguasa Istana Siluman Gunung Lawu yang merupakan salah satu dari sekian banyak kerajaan siluman di Tanah Jawadwipa. Meskipun bukan yang paling kuat diantara penguasa kerajaan siluman di Tanah Jawadwipa, namun dia tetap di segani sebagai penguasa siluman di sekitarnya.
Bersama dengan Kerajaan Siluman Alas Roban, Istana Siluman Alas Purwo serta Kerajaan Siluman Gunung Ciremai, Kerajaan Siluman Gunung Lawu mengatur wilayah dari Gunung Mahameru hingga ke Gunung Mandrageni. Meskipun masih ada raja siluman kecil seperti Iblis Gunung Kawi ataupun Dedemit Alas Wengker, tapi mereka semuanya masih tunduk pada perintah Nyai Ratu Dewi Selasih.
Waktu itu, Nyai Ratu Dewi Selasih masih mendengar omongan seorang perempuan tua berpakaian serba hitam compang camping yang sedang berlutut memohon perlindungan dari nya. Perempuan tua yang tak lain adalah Nyai Carang Aking Sang Penyihir Hitam dari Gunung Wilis ini terus memohon kepada Nyai Ratu Dewi Selasih saat Mpu Barada bersama dengan Prabu Airlangga dan juga Bancak serta Doyok masuk ke dalam istana. Tentu saja kedatangan mereka sangat mengejutkan bagi perempuan tua itu.
"Mpu Barada, bagaimana bisa kau kemari hah?!! ", Nyai Carang Aking berdiri dari tempat berlutut nya.
" Penyihir Hitam dari Gunung Wilis...
Kau rupanya pelaku percobaan pembunuhan pada Nakmas Prabu Airlangga. Kau harus bertanggungjawab untuk perbuatan mu", ucap Mpu Barada segera.
Ehehehehe...
"Memangnya kenapa jika aku adalah orang yang mengirim teluh pada Raja Medang itu hah? Dia sudah membunuh murid ku Prabu Wisnuprabhawa maka dia harus mati di tangan ku", balas Nyai Carang Aking penuh kedengkian.
"Setan betina laknat!!!
Wisnuprabhawa ikut terlibat dalam penghancuran Kotaraja Wuwatan, sudah selayaknya dia ikut bertanggungjawab atas kematian para penduduk dan seluruh penghuni istana. Kematian hanya satu-satunya hal yang pantas untuk nya", Mpu Barada tak mau kalah.
"Aku tidak peduli, yang membunuhnya harus mati. Kau juga harus menerima hukuman dari Gusti Ratu Dewi Selasih, Mpu Barada..
Kau sudah membunuh Kalamara dan Kalasruti, abdi setia Istana Siluman Gunung Lawu. Jangan kira kau bisa lolos begitu saja disini, Barada. Kau pasti akan mati hehehehe... ", ucap Nyai Carang Aking sembari tersenyum penuh kemenangan.
Blllaaaaaarrrrrr!!!
Meja kecil di samping singgasana Istana Siluman Gunung Lawu meledak dan hancur lebur berantakan usai Nyai Ratu Dewi Selasih menepuknya dengan keras. Ini tentu saja membuat semua yang ada di tempat itu kaget bukan main.
"Siapa yang memberi mu kepercayaan untuk bertingkah liar di istana ku, Carang Aking?!!"
Bentakan keras dari Nyai Ratu Dewi Selasih langsung membuat Nyai Carang Aking kaget bukan main. Dia langsung berlutut dan menghormat pada penguasa Istana Siluman Gunung Lawu itu.
"Tidak berani Nyai Ratu Dewi Selasih, hamba tidak berani..
Tapi Nyai Ratu Dewi Selasih tidak boleh membiarkan pendeta busuk ini bertingkah semaunya. Dia sudah membunuh Kalamara dan Kalasruti, abdi setia Istana Siluman Gunung Lawu yang Gusti Ratu tetapkan sebagai pelindung hamba. Mohon keadilan nya Nyai Ratu.. ", Nyai Carang Aking membungkukkan tubuh nya dalam sembari melirik ke arah Mpu Barada dan menyeringai lebar.
Akan tetapi...
Whhhhhuuuuuuuuggggghhhh...
Nyai Ratu Dewi Selasih mendengus keras sambil mengibaskan tangannya ke arah Nyai Carang Aking. Kibasan angin kencang itu langsung membuat tubuh perempuan tua itu terpental dan menyusruk lantai pendopo agung Istana Siluman Gunung Lawu. Perempuan tua langsung muntah darah segar.
"Ny-nyai R-ratu... K-kenapa??? ", Nyai Carang Aking kembali muntah darah segar setelah bicara demikian.
Mendengar pertanyaan ini, Nyai Ratu Dewi Selasih bangkit dari singgasana dan menghentakkan tongkat emas nya ke lantai. Seketika tempat itu terguncang seperti gempa bumi. Usai getaran ini berhenti, Nyai Ratu Dewi Selasih langsung menunjuk ke arah Nyai Carang Aking sambil berkata,
"Apa kau pikir aku bodoh hingga bisa kau manfaatkan untuk berselisih dengan Mpu Barada, Carang Aking?
Kau terlalu percaya diri.. "
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Roni Sakroni
ratu siluman yang cerdas dan bijaksana
2024-06-15
1
GOTZ
Cepat sembuh om Ebez. Semangat!
2024-05-28
1
ruswandi jayanegara
mampus mati anjing kau carang aking
2024-05-28
1