Adu Kesaktian

Wiku Sanata Dharma yang kebetulan sedang berjalan-jalan di dekat pintu gerbang Pertapaan Patakan, langsung melangkah ke arah sumber suara.

"Kisanak ini siapa? Kenapa berteriak-teriak memanggil orang di depan tempat ku?", tanya Wiku Sanata Dharma dengan sopan.

" Aku Patih Indrakelana dari Kedaton Wuratan. Suruh Airlangga keluar!!, jangan cuma bersembunyi di belakang seorang biksu tua seperti mu", jawab Patih Indrakelana cepat.

"Amitabha...

Rupanya Patih Kerajaan Wuratan, tapi kenapa sikap mu seperti berandalan pasar yang tidak tahu tata krama? Jika ada urusan dengan Gusti Prabu Airlangga, sebaiknya bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini", Wiku Sanata Dharma tetap dengan nada suara lemah lembut meskipun suara keras Patih Indrakelana membuat panas kuping.

"Tutup mulut mu, biksu tua!! Aku tidak ada urusan dengan Pertapaan Patakan mu ini tapi jika kau berniat untuk melindungi Airlangga, aku tidak akan segan-segan untuk meratakan tempat terpencil mu ini dengan tanah!", hardik Patih Indrakelana segera.

" Buddha welas asih pada sesama makhluk Nya. Ini adalah tempat suci untuk beribadah kepada Nya, Gusti Patih.

Jika kau ingin merusak tempat ini, aku tidak akan tinggal diam begitu saja", ucap Wiku Sanata Dharma tetap nada suara yang lemah lembut.

"Banyak mulut kau, biksu tua!!

Baiklah jika kau keras kepala, maka jangan salahkan aku jika bertindak di luar batas. Prajurit, hancurkan tempat ini!! ", begitu perintah Patih Indrakelana ini diturunkan, para prajurit Kepatihan Wuratan langsung menerjang maju ke arah para prajurit Medang yang sudah bersiap siaga. Pertempuran sengit pun tak terhindarkan lagi.

Meskipun berat sebelah, para prajurit Medang di bawah pimpinan Tumenggung Renggopati dan Bekel Parahita langsung menyambut serangan mereka dengan sepenuh kekuatannya.

Prabu Airlangga yang sedikit terlambat datang, langsung ikut membaur dengan para prajurit Medang. Dua orang prajurit Kepatihan Wuratan langsung terjungkal saat dia mengibaskan tangannya.

Dua orang prajurit Kepatihan Wuratan langsung menusukkan tombak mereka masing-masing ke arah Sang Maharaja Medang. Prabu Airlangga dengan cepat berkelit lalu menjepit kedua tombak itu dengan lengan kiri nya. Setelah itu dia menyentakkan tombak dalam jepitan lengan kirinya. Akibatnya dua orang prajurit Kepatihan Wuratan ini langsung terhempas.

Begitu dua orang prajurit musuh ini terpental, Prabu Airlangga langsung melemparkan tombak itu ke arah dua orang prajurit yang menyerang dari arah berbeda.

Chhhrreeeeeeeeepppph chhhrreeeeeeeeepppph!

Dua prajurit Kepatihan Wuratan langsung tersungkur ke tanah dengan bersimbah darah dengan tubuh tertembus tombak. Melihat kawan-kawan tewas dengan mudah, sepuluh orang prajurit Kepatihan Wuratan mengepung Prabu Airlangga. Lalu mereka kompak menerjang maju sambil menusukkan pedang nya ke arah sang raja muda.

Prabu Airlangga dengan cepat melompat ke udara menghindari tusukan pedang musuh. Akibatnya serangan para prajurit Kepatihan Wuratan hanya mengenai udara kosong saja. Lalu sang raja Medang langsung meluncur turun dan melayangkan tendangan keras ke arah para prajurit yang mengepungnya.

Dhhaaaassssshhh dhhaaaassssshhh..

Aaaauuuuggghhh aauuugghhh!!

Sepuluh orang prajurit Kepatihan Wuratan ini langsung terjungkal begitu menerima tendangan cepat dari raja muda ini.

Dewi Krepi yang dendam kesumat pada Prabu Airlangga, dengan cepat melesat ke arah sang raja dari arah belakang. Namun Parahita yang melihat itu tak membiarkannya begitu saja. Bekel prajurit pengawal pribadi raja yang juga merupakan kekasih sang raja langsung memutar kedua telapak tangan nya sebelum memapak pergerakan Dewi Krepi.

Whhhhhuuuuuuugggghhh...

Blllaaaaaaaaaaaaammmmm!!

Sama sekali tidak ada kesempatan untuk merubah serangan nya, Dewi Krepi terpaksa beradu ilmu kesaktiannya dengan Parahita. Ledakan keras membuat keduanya terpental mundur ke belakang. Namun keduanya cepat merubah gerakan tubuhnya hingga masih sanggup berdiri tegak.

"Perempuan tengik, minggir!! Aku tidak ada urusan dengan mu!! ", bentak Dewi Krepi sambil mengusap darah yang meleleh keluar dari sudut bibirnya.

" Lawan mu adalah aku, iblis betina.. Aku adalah pengawal Sinuwun Prabu Airlangga, aku akan melindunginya meskipun harus kehilangan nyawa", ucap Parahita tanpa gentar sedikitpun dengan ancaman Dewi Krepi.

"Wanita jalang!! Akan ku hancurkan tubuh mu hingga jadi makanan anjing hutan!! ", usai memaki-maki Parahita, Dewi Krepi langsung melompat ke arah Parahita dengan mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri yang ia miliki.

Keduanya lantas bertarung dengan sengit. Masing-masing tak mau kalah dengan menggunakan ilmu kanuragan yang mereka punya.

Di sisi lain pertarungan, Tumenggung Renggopati mengamuk dengan gada wesi kuning nya. Dia benar-benar buas, membantai para prajurit Kepatihan Wuratan. Setiap prajurit Kepatihan Wuratan yang mencoba untuk menghentikan nya harus tewas dengan tulang patah atau kepala remuk terkena gebukan gada wesi kuning.

"Hayo sini maju kalian, Orangorang Wuratan!

Aku Tumenggung Renggopati akan senang hati mengepruk kepala kalian semuanya", tantang Tumenggung Renggopati sambil menggenggam erat gagang gada wesi kuning yang sudah berlumuran darah.

Melihat keganasan sang perwira tinggi prajurit Medang ini, tentu saja para prajurit Kepatihan Wuratan gentar dalam hati. Tak satupun dari mereka berani maju ke arah sang perwira bertubuh tinggi besar.

Dua orang pendekar sewaan Dewi Krepi, melangkah maju dengan pongah ke arah Tumenggung Renggos sambil menenteng senjata mereka.

"Kau boleh juga, anjing Airlangga!

Tapi jangan jumawa di hadapan Dua Pendekar Bukit Lawa. Bersiaplah untuk mati! ", bual seorang lelaki bertubuh gempal bersenjatakan gada bergerigi tajam segera.

" Eits jangan kan cuma pendekar dari kawanan lawa ( kelelawar), yang dari sekelas kawanan kalong ( kelelawar besar ) aku tidak takut. Maju saja sini, biar tak pecahkan kepala mu yang kosong itu! ", Tumenggung Renggos menggerakkan jemari tangannya sebagai isyarat kepada dua jagoan ini untuk maju. Dua Pendekar Bukit Lawa mendengus keras lalu meloncat ke arah perwira tinggi prajurit Medang ini dengan mengayunkan senjata mereka.

Tumenggung Renggopati mundur selangkah mempersiapkan diri sebelum bertarung melawan dua jagoan sewaan Dewi Krepi ini. Mereka bertarung dengan sengit.

Patih Indrakelana yang melihat Prabu Airlangga dengan mudah membantai para prajurit Kepatihan Wuratan, mengepelkan tangannya penuh amarah. Dia segera melakukan kembangan ilmu silatnya dan melompat ke arah Prabu Airlangga. Dia dengan cepat menendang punggung raja Medang ini sekuat tenaga.

Dhhiiieeeeeesshhhh!!!

Serangan bokongan ini membuat Prabu Airlangga terjungkal ke depan namun ia segera bangkit dari tempat jatuhnya sembari menatap ke arah penyerang nya sambil mengusap darah yang keluar dari sudut mulut.

"Inikah sikap dari seorang ksatria Kerajaan Wuratan? Membokong dari belakang? Benar-benar hina! ", Prabu Airlangga mengusap sisa darah di mulutnya dan meludahkan nya ke tanah.

" Peduli setan dengan sikap ksatria!! Pokoknya hari ini aku harus membunuh mu dengan segala cara!", lepas bicara demikian, Patih Indrakelana langsung menerjang maju ke arah Prabu Airlangga dengan tendangan cepat nya. Sang raja Medang langsung mengelak, dan pertarungan antara dua bangsawan ini langsung terjadi.

Menggunakan ilmu silat yang ia pelajari dari Padepokan Padas Putih, Prabu Airlangga melayani serangan demi serangan yang di lancarkan oleh Patih Indrakelana. Dia begitu lincah dalam bertahan dan menyerang hingga semua serangan mematikan Patih Indrakelana mentah begitu saja.

Whhhuuuuuttttt whhhuuuuuttttt..

Pllaaakkkk pllaaakkkk dhhaaaassssshhh!!!

Patih Indrakelana nyaris terjungkal andai tidak cepat menguasai diri setelah dua pukulan dan satu tendangan keras di pinggang telak menghajar nya. Dia meringis kesakitan sembari mencabut keris pusaka di pinggangnya.

Keris berlekuk 3 ini langsung di letakkan pada dahi nya. Sembari mendengus keras, Patih Indrakelana melompat ke arah Prabu Airlangga. Dengan cepat ia mengayunkan keris nya ke arah leher sang raja muda.

Shhrrreeeeeettthhh!!

Prabu Airlangga merendahkan tubuhnya sembari berguling ke tanah. Sabetan keris Patih Indrakelana hanya menyambar angin kosong sejengkal diatas kepala Sang Maharaja Medang. Dengan cepat ia mencabut Keris Pulanggeni di pinggangnya dan menyambut serangan berikutnya dari Patih Indrakelana dengan pusaka itu.

Thhhrrrraaaaaaaannnngggg!!!!

Thhhrrrraaaaaaaannnngggg..!!!

Adu keris pusaka pun langsung terjadi. Namun setiap kali dua senjata merekaberbenturan, tangan Patih Indrakelana bergetar dan terasa ngilu. Ini membuat Patih Indrakelana menyadari bahwa senjata pusaka lawan lebih ampuh di banding miliknya.

Dia melompat mundur dan cepat menyarungkan keris pusaka ke pinggangnya. Segera ia mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada kedua tangan sambil komat-kamit merapal mantra Ajian Guntur Geni. Seketika itu juga, tubuhnya mengeluarkan cahaya merah bercampur kebiruan.

Begitu ilmu kanuragan nya rampung di rapal, Patih Indrakelana segera menghantamkan kepalan tangannya ke arah Prabu Airlangga. Gumpalan cahaya merah bercampur kebiruan langsung menerabas cepat ke arah Prabu Airlangga disertai angin panas yang bergulung-gulung.

Melihat hal ini, Prabu Airlangga cepat melompat tinggi-tinggi ke udara untuk menghindar.

Blllaaaaaaaaaaaaammmmm!!!

Prabu Airlangga lolos dari maut dan mendarat 4 tombak jauhnya dari tempat nya semula. Tak ingin lawannya lolos begitu saja, Patih Indrakelana langsung mengejar dengan kembali menghantamkan kepalan tangannya ke arah raja Medang ini.

Ledakan demi ledakan dahsyat terus terdengar. Sedangkan Prabu Airlangga berjumpalitan kesana kemari menghindari serangan mematikan dari warangka praja Kerajaan Wuratan. Dia lolos dari serangan musuh akan tetapi beberapa bangunan dan pepohonan di sekitar Pertapaan Patakan menjadi korban dari serangan membabibuta dari Patih Indrakelana.

Tak ingin Pertapaan Patakan rusak karena ulah Patih Indrakelana, Prabu Airlangga memilih untuk diam saat serangan Patih Indrakelana datang. Dan..

Blllaaaaaaaaaaaaammmmm!!!

Ledakan dahsyat langsung terdengar kala Ajian Guntur Geni milik Patih Indrakelana menghantam tubuh Prabu Airlangga. Debu beterbangan dan asap tebal langsung membumbung tinggi ke udara. Melihat itu, Patih Indrakelana menyeringai lebar.

"Mampus kau Raja Medang..!! "

Namun seiring menghilangnya asap tebal yang menyelimuti tubuh Prabu Airlangga, senyum lebar penuh kemenangan di wajah Patih Indrakelana pun turut menghilang. Raja Medang itu masih berdiri kokok di tempat nya semula bahkan tersenyum lebar menatap ke arah nya.

"Hahhhh bajingan tengik ini.... ", geram Patih Indrakelana segera. Ia cepat merapal mantra ajian nya yang lain, Ajian Cakar Pelebur Sukma. Seketika cahaya merah kehijauan memancar dari telapak tangan nya. Melihat hal itu, Prabu Airlangga memejamkan matanya sebentar dan cahaya kuning keemasan cepat menyelimuti seluruh tubuh penguasa Kerajaan Medang ini.

Patih Indrakelana segera melompat ke arah Prabu Airlangga dan cepat mengayunkan cakar tangannya yang sudah di lambari Ajian Cakar Pelebur Sukma.

Shhhrrrraaaaaaaaaakkkkkk!

Betapa terkejutnya Patih Indrakelana kala melihat ilmu kesaktiannya tak mampu merobek kulit dada sang raja muda. Sekeras apapun ia mencoba, tetap saja Ajian Cakar Pelebur Sukma miliknya belum mampu melukai tubuh Prabu Airlangga.

Sembari tersenyum, Prabu Airlangga langsung berkata,

"Sekarang giliran ku... "

Terpopuler

Comments

LD. RAHMAT IKBAL

LD. RAHMAT IKBAL

prabu jgn diajak main dong pak tua kashan uda tua hehehe

2024-06-14

1

arumazam

arumazam

hajar

2024-06-06

2

Umar Muhdhar

Umar Muhdhar

4

2024-05-21

1

lihat semua
Episodes
1 Iblis Gunung Andong
2 Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3 Pertapaan Patakan
4 Adu Kesaktian
5 Mapanji Garasakan
6 Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7 Perawan Pakuwon Babat
8 Menuju Utara
9 Tanpa Pertumpahan Darah
10 Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11 Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12 Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13 Nyai Carang Aking
14 Perjanjian Keramat
15 Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16 Bancak dan Doyok
17 Kerjasama
18 Keresahan Istana Lewa
19 Kawan Lama
20 Menggempur Lewa
21 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24 Tantangan dari Prabu Panuda
25 Akhir Hayat Prabu Panuda
26 Urusan Perempuan
27 Menyamar
28 Gerombolan Siluman Gadungan
29 Di Perbatasan Tanggulangin
30 Istana Tanggulangin
31 Tujuh Setan Pembunuh
32 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34 Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35 Masalah
36 Pilihan
37 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40 Keputusan Prabu Wijayawarma
41 Sekutu
42 Ajian Pancasona
43 Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44 Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45 Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46 Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47 Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48 Biksu Dari Tibet
49 Tujuan Sebenarnya
50 Istri Ketiga
51 Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52 Orang Misterius
53 Bidadari Penebar Maut
54 Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55 Diatas Langit Masih Ada Langit
56 Terompet Shangkya Panchajanya
57 Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58 Ajian Tapak Dewa Api
59 Tantangan dari Seorang Biksu
60 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62 Masalah di Perbatasan
63 Malam Mencekam
64 Malam Mencekam ( bagian 2 )
65 Rajah Kala Cakra
66 Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67 Maling
68 Saatnya Telah Tiba
69 Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75 Tanah Perdikan Lodaya
76 Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77 Mapanji Samarawijaya
78 Berburu
79 Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80 Kisruh Padepokan Padas Putih
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Iblis Gunung Andong
2
Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3
Pertapaan Patakan
4
Adu Kesaktian
5
Mapanji Garasakan
6
Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7
Perawan Pakuwon Babat
8
Menuju Utara
9
Tanpa Pertumpahan Darah
10
Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11
Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12
Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13
Nyai Carang Aking
14
Perjanjian Keramat
15
Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16
Bancak dan Doyok
17
Kerjasama
18
Keresahan Istana Lewa
19
Kawan Lama
20
Menggempur Lewa
21
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24
Tantangan dari Prabu Panuda
25
Akhir Hayat Prabu Panuda
26
Urusan Perempuan
27
Menyamar
28
Gerombolan Siluman Gadungan
29
Di Perbatasan Tanggulangin
30
Istana Tanggulangin
31
Tujuh Setan Pembunuh
32
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34
Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35
Masalah
36
Pilihan
37
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40
Keputusan Prabu Wijayawarma
41
Sekutu
42
Ajian Pancasona
43
Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44
Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45
Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46
Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47
Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48
Biksu Dari Tibet
49
Tujuan Sebenarnya
50
Istri Ketiga
51
Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52
Orang Misterius
53
Bidadari Penebar Maut
54
Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55
Diatas Langit Masih Ada Langit
56
Terompet Shangkya Panchajanya
57
Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58
Ajian Tapak Dewa Api
59
Tantangan dari Seorang Biksu
60
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62
Masalah di Perbatasan
63
Malam Mencekam
64
Malam Mencekam ( bagian 2 )
65
Rajah Kala Cakra
66
Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67
Maling
68
Saatnya Telah Tiba
69
Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75
Tanah Perdikan Lodaya
76
Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77
Mapanji Samarawijaya
78
Berburu
79
Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80
Kisruh Padepokan Padas Putih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!