Tanpa Pertumpahan Darah

"Maksud mu bagaimana Pacirara? Aku sama sekali tidak mengerti", Rara Anteng mengernyit heran.

" Kau lihat saja nanti.. ", balas Parahita singkat. Rombongan kereta kuda yang mereka tumpangi terus bergerak mengikuti pasukan Medang yang bergerak cepat.

Munculnya puluhan ribu orang prajurit Medang di Kota Pakuwon Babat, langsung menimbulkan kepanikan dan ketakutan di kalangan penduduk kota kecil ini. Para kepala keluarga cepat menarik masuk anggota keluarga dan mengunci pintu dan jendela, takut menjadi korban serangan mereka. Kota yang biasanya ramai dengan lalu lintas kendaraan dan para penduduk yang berlalu-lalang seketika senyap seperti kota mati.

Mpu Danu selaku akuwu Babat yang menerima laporan dari prajurit nya, bergegas memapak pergerakan pasukan besar ini. Di temani oleh Bekel Mandura selaku pimpinan prajurit Pakuwon Babat, Mpu Danu pun segera menemui Tumenggung Sakri yang bertugas sebagai ujung tombak pasukan.

"Gusti Tumenggung, mohon tidak membuat kerusakan di kota kami. Rakyat Babat sudah cukup lelah dengan sikap angkuh para pembesar istana Wuratan. Jadi kami akan sangat menghargai jika kalian lewat tanpa merusak suasana kota kecil ini", ucap Mpu Danu sambil menghormat pada Tumenggung Sakri.

"Jika kalian tunduk pada Kanjeng Sinuwun Prabu Airlangga, maka hal yang tidak perlu juga tidak akan terjadi disini Akuwu..

Bagaimana cara mu menjaga kota ini, itu tergantung pada kebijaksanaan mu sendiri", tegas Tumenggung Sakri segera. Bekel Mandura yang gampang naik darah, merasa di rendahkan oleh jawaban perwira Medang itu.

" Jangan kira karena jumlah kalian lebih banyak, bisa bertindak semaunya disini, Perwira Medang. Aku Bekel Mandura bukan orang yang mudah kalian tindas seenaknya! ", sahut Bekel Mandura sedikit keras.

"Bekel Mandura, apa yang sedang kamu lakukan hah? Kau ingin membumihanguskan Kota Babat ini ya?! Besar sekali nyali mu bicara seperti itu!

Gusti Tumenggung, jangan dengarkan ocehan nya. Kami penduduk Kota Pakuwon Babat tidak ingin ada pertumpahan darah disini", ucap Akuwu Mpu Danu segera.

"Ku hargai niat baik mu, Ki Kuwu..

Tapi bukan aku pimpinan prajurit ini. Kalau kamu punya keinginan, sampaikan saja pada pimpinan kami", Tumenggung Sakri segera mengarahkan tangannya sebagai penunjuk jalan ke tengah pasukan Medang. Tak ingin berlama-lama lagi, Akuwu Mpu Danu beserta para pengikutnya segera melangkah mengikuti Tumenggung Sakri ke arah tengah pasukan Medang dimana sang pimpinan prajurit berada.

Rara Anteng yang melihat Akuwu Mpu Danu datang bersama dengan Bekel Mandura dan beberapa orang prajurit Pakuwon Babat langsung bergegas menghampiri mereka.

"Kanjeng Romo, kau kemari? ", ucap Rara Anteng begitu sampai di dekat ayahnya.

"Rara Anteng putri ku. Syukurlah kau masih hidup. Kau berhasil mengalahkan pimpinan pasukan Medang ini? ", tanya Akuwu Mpu Danu segera. Rara Anteng menggeleng pelan.

" Aku kalah, Kanjeng Romo. Dia bukan tandingan ku. Ilmu kedigdayaan nya sungguh luar biasa", puji Rara Anteng kemudian. Bekel Mandura yang semula sangat yakin akan kemampuan beladiri nya seketika bergidik ngeri.

'Gusti Putri saja bukan tandingan nya. Aku yang pernah hampir mampus di hajar nya, pasti tidak akan hidup setelah ia keluar 3 jurus. Hiiiii... ', batin Bekel Mandura.

"Tapi dia membiarkan mu hidup, apa ada hal yang telah lewat dari perkiraan ku? ", tukas Mpu Danu sembari mengernyit heran.

" Itu aku juga tidak mengerti. Tapi sesuai dengan kesepakatan kita sebelumnya, Babat akan mengakui kedaulatan Kerajaan Medang atas tanah ini jika aku kalah.

Kita harus melakukan nya supaya semua warga Babat tidak perlu ikut menderita dalam perang ini, Romo.. ", Rara Anteng menatap wajah sepuh Akuwu Mpu Danu penuh harap.

" Aku mengerti apa yang mesti aku lakukan, Anteng", jawab Mpu Danu sembari terus melangkah.

Tepat di depan kuda hitam gagah yang menjadi tunggangan Prabu Airlangga, Tumenggung Sakri langsung menghormat pada sang penguasa tertinggi Kerajaan Medang ini.

"Sembah bakti hamba Dhimas Prabu.. ", ucap Tumenggung Sakri dengan penuh hormat. Rara Anteng yang melihat itu langsung kaget setengah mati.

HAAAAAHHHHHHHHHH??!!

" D-dia d-dia a-adalah Gusti Prabu Airlangga?!!! ", ujar Rara Anteng setengah tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang ini.

Akuwu Mpu Danu, Bekel Mandura dan para pengikutnya langsung berlutut dan menyembah pada Prabu Airlangga. Melihat Rara Anteng masih bengong karena masih tidak percaya pada apa yang sudah terjadi, Akuwu Mpu Danu segera menepuk kaki Rara Anteng.

"Apa yang kau lakukan, Anteng? Cepat berlutut! ", teriak Akuwu Mpu Danu segera. Rara Anteng langsung sadar dari bengongnya dan ikut berlutut.

" Berdirilah, ini bukan istana... ", mendengar perintah dari sang penguasa Kerajaan Medang, semua orang langsung bangkit dan berdiri dengan penuh hormat.

" Mohon ampun beribu ampun Dhimas Prabu..

Ini adalah Akuwu Babat. Yang perempuan Dhimas Prabu pasti sudah tahu. Mereka ingin bertemu dengan Dhimas Prabu untuk menyampaikan sesuatu ", ucap Tumenggung Sakri segera.

Hemmmmmmm...

" Katakan apa yang kau inginkan, Akuwu Babat? Kami tidak punya banyak waktu.. ", ucap Prabu Airlangga sembari melompat turun dari kuda tunggangan nya.

" Seperti yang sudah dikatakan oleh putri hamba Rara Anteng sebelumnya, bahwa Pakuwon Babat akan menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Medang jika pimpinan pasukan Medang. Rara Anteng sudah kalah maka tampuk kepemimpinan Pakuwon Babat akan hamba serahkan pada Gusti Prabu Airlangga. Mohon diterima.. ", ujar Akuwu Mpu Danu penuh hormat.

" Karena kau tulus berkata seperti ini, tampuk kekuasaan di Pakuwon Babat tetap dalam tangan mu Akuwu..

Untuk selanjutnya, setiap setengah tahun sekali, kau di wajibkan untuk sowan ke Istana Kahuripan sebagai tanda bakti mu. Upeti dan pajak bumi menjadi separuh dari yang kau berikan pada Kotaraja Kambang Putih. Jika ini kau tepati, dalam 1 tahun, aku akan menghadiahkan pembangunan di wilayah mu ini dengan baik ", titah Prabu Airlangga.

" Terimakasih atas kebaikan hati Gusti Prabu Airlangga. Kami akan setia sepenuhnya pada Kotaraja Kahuripan.

Mengenai Rara Anteng, dia... ", Akuwu Mpu Danu tak jadi meneruskan omongan nya.

" Dia kenapa? ", tanya Prabu Airlangga kemudian.

" Dia punya keinginan bahwa siapapun yang bisa mengalahkan nya, akan dia abdikan hidupnya untuk orang itu. Mengenai ini, mohon Gusti Prabu Airlangga bersedia untuk memenuhi nya", memerah wajah Rara Anteng mendengar omongan ayahnya.

Sedangkan Parahita yang berdiri di belakang Prabu Airlangga hanya bisa memberengut kesal karena tidak berani untuk bicara.

'Sialan, bersaing dengan Gusti Ratu Galuh Sekar dan Gusti Selir saja aku tidak mampu. Sekarang tambah lagi ada perempuan ini. Menyesal aku menyelamatkan nya.. ', batin Parahita.

"Mengenai itu, aku bisa mengijinkan nya untuk mengikuti ku selama perang ini. Perkara nanti akan seperti apa, biar Hyang Tunggal yang menentukan.

Malam ini aku akan bermalam di Pakuwon Babat. Bantu aku untuk mengurus pasukan ku", ucap Prabu Airlangga kemudian.

Akuwu Mpu Danu langsung tersenyum lebar mendengar jawaban itu. Begitu juga dengan Rara Anteng yang langsung berbunga-bunga. Malam itu, pasukan Medang bermalam di Kota Pakuwon Babat. Kota terkuat di wilayah selatan Kerajaan Wuratan ini di taklukkan tanpa pertumpahan darah.

Keesokan paginya, setelah menghabiskan malam yang tenang di Babat, pasukan Medang menyeberangi Sungai Wulayu. Tujuan mereka langsung menuju ke arah Kota Kadipaten Widang.

Di ibukota Kadipaten Widang, Adipati Dharmajati yang ketakutan melihat jumlah pasukan Medang yang mencapai puluhan ribu orang, menyerah tanpa syarat setelah Kota Kadipaten Widang di kepung dari segala penjuru. Widang menjadi wilayah Kerajaan Wuratan pertama yang takluk kepada Prabu Airlangga dalam perang ini.

Sebagai upeti dan tanda takluk Kadipaten Widang, dua orang putri cantik dari Istana Kadipaten di berikan kepada Prabu Airlangga. Namun sang raja justru memberikan mereka pada Tumenggung Renggopati dan Senopati Mapanji Tumanggala. Tentu saja mereka berdua langsung bersukacita atas hadiah yang mereka terima.

"Lumayan, bisa jadi pengganti saat si mbok e thole lagi datang bulan hehehe.. ", kata Tumenggung Renggopati.

Berita penaklukan Kadipaten Widang cepat sampai di telinga Prabu Wisnuprabhawa. Raja Wuratan ini langsung marah besar mendengar bahwa Widang ditaklukkan dengan mudah. Wajah lelaki bertubuh gempal ini merah padam menahan marah.

Dengan penuh murka, dia membanting cawan emas nya ke lantai ruang pribadi raja.

"Dasar tidak berguna! Kenapa Widang mudah sekali dikalahkan oleh Airlangga? Apa saja kerja Adipati Dharmajati hah? Memalukan...!! ", maki Prabu Wisnuprabhawa keras.

" Lantas apa yang harus kita lakukan kemudian, Gusti Prabu? ", tanya Senopati Kanirih sembari menghormat. Prabu Wisnuprabhawa mengepal erat sambil berkata,

" Kita tunggu saja Airlangga dan pasukan nya di sini, Senopati.

Tempat ini akan menjadi kuburan nya! "

Terpopuler

Comments

Elmo noor

Elmo noor

Kuburan Kau lah, jgn terlalu tinggi hayalan paduka....🤣🤣🤣🤣

2024-11-13

0

anggita

anggita

like👍+2iklan☝☝ utk airlangga.

2024-06-05

1

andymartyn

andymartyn

lanjut

2024-05-24

2

lihat semua
Episodes
1 Iblis Gunung Andong
2 Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3 Pertapaan Patakan
4 Adu Kesaktian
5 Mapanji Garasakan
6 Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7 Perawan Pakuwon Babat
8 Menuju Utara
9 Tanpa Pertumpahan Darah
10 Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11 Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12 Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13 Nyai Carang Aking
14 Perjanjian Keramat
15 Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16 Bancak dan Doyok
17 Kerjasama
18 Keresahan Istana Lewa
19 Kawan Lama
20 Menggempur Lewa
21 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23 Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24 Tantangan dari Prabu Panuda
25 Akhir Hayat Prabu Panuda
26 Urusan Perempuan
27 Menyamar
28 Gerombolan Siluman Gadungan
29 Di Perbatasan Tanggulangin
30 Istana Tanggulangin
31 Tujuh Setan Pembunuh
32 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33 Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34 Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35 Masalah
36 Pilihan
37 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39 Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40 Keputusan Prabu Wijayawarma
41 Sekutu
42 Ajian Pancasona
43 Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44 Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45 Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46 Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47 Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48 Biksu Dari Tibet
49 Tujuan Sebenarnya
50 Istri Ketiga
51 Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52 Orang Misterius
53 Bidadari Penebar Maut
54 Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55 Diatas Langit Masih Ada Langit
56 Terompet Shangkya Panchajanya
57 Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58 Ajian Tapak Dewa Api
59 Tantangan dari Seorang Biksu
60 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61 Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62 Masalah di Perbatasan
63 Malam Mencekam
64 Malam Mencekam ( bagian 2 )
65 Rajah Kala Cakra
66 Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67 Maling
68 Saatnya Telah Tiba
69 Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74 Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75 Tanah Perdikan Lodaya
76 Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77 Mapanji Samarawijaya
78 Berburu
79 Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80 Kisruh Padepokan Padas Putih
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Iblis Gunung Andong
2
Pedang Naga Api melawan Cambuk Api Angin
3
Pertapaan Patakan
4
Adu Kesaktian
5
Mapanji Garasakan
6
Menyerbu Wilayah Kerajaan Wuratan
7
Perawan Pakuwon Babat
8
Menuju Utara
9
Tanpa Pertumpahan Darah
10
Penaklukan Wuratan ( bagian 1 )
11
Penaklukan Wuratan ( bagian 2 )
12
Penaklukan Wuratan ( bagian 3 )
13
Nyai Carang Aking
14
Perjanjian Keramat
15
Kerajaan Siluman Gunung Lawu
16
Bancak dan Doyok
17
Kerjasama
18
Keresahan Istana Lewa
19
Kawan Lama
20
Menggempur Lewa
21
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 1 )
22
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 2 )
23
Pertempuran di Bekas Kotaraja ( bagian 3 )
24
Tantangan dari Prabu Panuda
25
Akhir Hayat Prabu Panuda
26
Urusan Perempuan
27
Menyamar
28
Gerombolan Siluman Gadungan
29
Di Perbatasan Tanggulangin
30
Istana Tanggulangin
31
Tujuh Setan Pembunuh
32
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 2 )
33
Tujuh Setan Pembunuh ( bagian 3 )
34
Dua Pemuda dari Wanua Pulung
35
Masalah
36
Pilihan
37
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker
38
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 2 )
39
Benteng Pertahanan Prajurit Wengker ( bagian 3 )
40
Keputusan Prabu Wijayawarma
41
Sekutu
42
Ajian Pancasona
43
Kotaraja Wengker ( bagian 1 )
44
Kotaraja Wengker ( bagian 2 )
45
Kotaraja Wengker ( bagian 3 )
46
Kotaraja Wengker ( bagian 4 )
47
Kotaraja Wengker ( bagian 5 )
48
Biksu Dari Tibet
49
Tujuan Sebenarnya
50
Istri Ketiga
51
Desahan dari Kolam Pemandian Istana Kahuripan
52
Orang Misterius
53
Bidadari Penebar Maut
54
Bidadari Penebar Maut ( bagian 2 )
55
Diatas Langit Masih Ada Langit
56
Terompet Shangkya Panchajanya
57
Halaman Pendopo Agung Istana Kahuripan
58
Ajian Tapak Dewa Api
59
Tantangan dari Seorang Biksu
60
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 1 )
61
Melawan Biksu Tenzin Gyaltso ( bagian 2 )
62
Masalah di Perbatasan
63
Malam Mencekam
64
Malam Mencekam ( bagian 2 )
65
Rajah Kala Cakra
66
Rencana Penyerbuan ke Lodaya
67
Maling
68
Saatnya Telah Tiba
69
Kepercayaan Diri Nyai Ratu Calon Arang
70
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 1 )
71
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 2 )
72
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 3 )
73
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 4 )
74
Perang Kedua Medang - Lodaya ( bagian 5 )
75
Tanah Perdikan Lodaya
76
Ki Ragahusada dan Nyai Kemangi
77
Mapanji Samarawijaya
78
Berburu
79
Dua Bidadari Lembah Kali Bogowonto
80
Kisruh Padepokan Padas Putih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!